SUARA TERIAKAN

1121 Words
"Asena, kondisi kamu sudah lebih baik sekarang. Hanya saja racun itu masih belum bisa hilang dalam jangka waktu yang cepat. Sekarang kamu harus pemulihan dulu anak muda. Jangan terburu untuk mencari adikmu." "Kakang yakin kalau Ranujaya memang belum mati?" "Entahlah, Apsari. Perasaanku yang bilang seperti ini." Sembari Apsari menyuguhkan wedang uwuh kesukaan Astageni. "Minumlah dulu Kakang." “Apa kamu masih ingin pergi ke padepokan Bulus Putih, Asena?” Asena tak langsung menjawab, dia terdiam sekian detik. “Juju ragu sangat bingung, Kek. Apakah pergi ke sana atau mencari Ranujaya. Karena aku telah berjanji pada kedua orang tua untuk selalu menjaganya. Tapi, sekarang …?” Mereka terdiam sejenak. Astageni menyesap minuman suguhan Apsari yang masih hangat. “Minumlah dulu, baru kamu bisa berpikir.” Asena pun melakukan apa yang dikatakan lelaki tua yang duduk di sampingnya. “Sebaiknya pulihkan dulu tenaga kamu. Aku sangat terbuka dengan kedatangan kamu ini, Asena.” “Terima kasih, Kek.” “Besok pagi, temanilah Apsari ke hutan, untuk mencari beberapa tanaman obat yang aku butuhkan. Sekaligus melatih otot kamu agar kembali seperti semula.” Tidak ada pilihan lain untuk Asena. Dia tahu bila lelaki tua ini mengetahui di mana padepokan Bulus Putih berada. “Apakah nanti Kakek akan mengatakan padakua, di mana Padepokan Bulus Putih itu?” Lelaki itu menyeringai dan terkekeh. “Aku tidak pernah mengatakan kalau tahu tempatnya anak muda.” Asena langsung tersenyum lebar. “Ahhh … Kakek. Tapi aku juga tahu kalau Kakek mengetahuinya.” Keduanya pun terkekeh. _Keesokan hari_ Apsari sudah menunggu Asena di halaman rumah. Dia membawa rinjing yang bisa dicangklong di bahu. “Ayo, Kakang!” “Tunggu, Apsari.” Astageni memberikan sebuah rinjing besar yang terbuat dari anyaman bambu pada Asena. Lelaki tampan itu terpaku, seumur hidupnya dia tidak pernah memegang benda ini. “Bisakah aku menitip sesuatu padamu anak muda?” Sembari memberikan rinjing itu pada Asena yang masih tertegun, tapi dengan cepat Asena menerimanya. “Bi-bisa, Kek. Apa?” "Kau lihat bukit itu?" "Iya, Kek." "Ke sanalah kamu akan menemani Apsari. Aku butuh tanah untuk menanam beberapa pohon obat. Ambilkan tanah dari sana dan usung ke sini!" "Tanah? Tapi bagian lenganku masih terasa sakit, Kek. Juga bagian paha." Terdengar tawa sang kakek. Yang seakan mengejek dirinya. "Bagaimana kamu bisa kuat dan kokoh, bila luka seperti ini saja membuat kamu mengeluh anak muda!” Teguran itu membuat Asena tersadar. Bahwa dirinya bukan lagi berada di istana. Tidak ada pelayan yang melayani, dan juga harus berjuang sendiri untuk mendapatkan apa pun. “Pergilah! Jadilah lelaki yang tidak mudah mengeluh dan cengeng!” Ucapan Astageni bagai tamparan halus dan menyadarkan dirinya, bahwa dia harus jauh lebih kuat dan tegar. Karena kehidupan di luar istana tidak semudah dalam bayangan Asena. Walau lebih nyata dari pada kehidupan dalam istana. Yang penuh kemunafikan dan intrik. Hanya untuk mendapatkan sebuah nama di depan baginda raja. Segera Asena yang menyadari kesalahannya. Langsung bangkit dan mengejar lelaki tua itu. "Baik, Kek. Apa pun yang Kakek suruh akan  kulakukan!" “Pergilah, ikuti Apsari!” “Baik, Kek.” Apsari menghampiri Asena dengan membawa rinjing dan obor. Mereka berdua berjalan menembus pekat pagi yang masih buta. Menerobos lebatnya hutan. Berjalan mendaki hingga mencapai bukit yang dimaksud Astageni. Tampak Asena membawa keranjang bambu yang diikat di pundaknya. Sesekali dia meringis menahan nyeri dan perih. "Kamu sudah terbiasa ke hutan ini?" Gadis itu mengangguk. Asena takjub dengan pergerakan kaki yang lincah. Sesekali dia melompat naik ke atas dahan pohon dan berjumpalitan, layaknya musang yang sedang mencari perhatian sang jantan. “Apa tingkahmu selalu seperti ini?” Apsari langsung menghentikan langkahnya. Dia berpaling pada Asena dan melotot. Asena bisa menangkap wajah Apsari yang semburat merah merona. Sepertinya dia malu dengan teguran Asena. “Maksud kamu apa?” “Ya Gerakan kamu sangat lincah dan sudah mahir. Andai adikku lihai seperti kamu, mungkin aku tidak terlalu khawatir.” “Bukannya di istana dia harus belajar kanuragan?” Asena sedikit bingung menjawab. “Seharusnya … iya. Dia saja yang malas.” Apsari manggut-manggut. “Apa Kakek Astageni juga seorang pendekar?” “Dulu, iya. Sewaktu tinggal di Saloka.” “Saloka? Dia sudah menceritakannya, tapi tidak detil.” “Pasti Kakang akan tahu sendiri nanti. Hanya saja Kakek sudah tidak ingin terlibat lagi dalam dunia persilatan. Baginya itu sudah menjadi masa lalu yang menyakitkan. Di saat orang yang kamu bela dan tulus ingin setia padanya, malah tidak mempercayainya.” Asena tercekat dengan cerita Apsari. “Sepertinya kisah Kakek sangat menarik, untuk pembelajaran kehidupan.” Apsari hanya tersungging manis. “Yuk, sebentar lagi kita sampai. Di atas sana aku menemukan tapak liman, tempuyung, banyak di sana.” “Aku tak mengenali semua yang kamu sebutkan tadi.” “Obat-obatan untuk pereda nyeri bisa buat obat orang yang terluka, dan juga buat penangkal racun.” “Hemmm … sepertinya kamu cocok sekali menggantikan Kakek.” “Belum, Kakang. Ilmuku masih secuil.” Sembari Apsari menjentikkan jarinya. Tak berapa lama mereka berjalan. Apsari menghentikan langkahnya. Dia menghentakkan kedua kaki dengan melompat beberapa kali. Sedang dari kejauhan sinar mentari pagi mulai menerobos masuk dari sela dedaunan dan ranting pohon. "Kenapa kamu melompat-lompat?" "Ini tanah yang harus Kakang usung ke rumah!" “Ini?” Tampak Asena kebingungan. Dia tidak tahu harus bagaimana melakukannya. Asena mengeluarkan belati yang terselip di pinggang. Lalu mulai mencongkel tanah yang cukup keras. "Pesan Kakek, Kakang tak boleh pakai alat apa pun. Hanya menggunakan tangan!" "Apa?!" Asena hanya mengangkat kedua tangannya, sejajar dengan bahu. "Baik, akan aku lakukan yang Kakek kamu minta." Gadis itu tersenyum lebar. Dia mencari sebuah pohon dan naik ke atasnya. Asena melirik sekilas. "Hemmm! Bukannya kamu mau mencari tanaman obat?" “Mudah itu Kakang, aku ingin makan dulu. Lapar.” Gadis itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari daun pisang yang berbentuk bulat memanjang. “Makan apa kamu?” “Nasi yang aku campur dengan kelapa?” “Apa kamu tidak membaginya denganku?” “Masih kata Kakek, Kakang boleh makan kalau keranjang bambu itu telah penuh. Kalau enggak, siap-siap di usir sama Kakek." "Jahat benar Kakek kamu." Apsari menengok ke arahnya sambal terkekeh. “Itu tanda kalau Kakek aku ada perhatian sama kamu, Kakang.” Dalam waktu yang bersamaan. Di pagi yang masih sejuk. Asena mendengar suara teriakan kencang, tak jauh dari mereka. Seperti suara seorang perempuan yang berteriak meminta pertolongan. “Aaaarghhh … tolong! Tolong … aku!” Sontak Asena menghentikan kediatannya. Dia menoleh pada Apsari. “Kamu dengar?” “Iya, Kakang.” “Kamu … diam saja?” “Terus?” Asena meletakkan tanah yang ada dalam genggaman ke dalam keranjang dan berlari menuju arah suara tersebut. Asena bergerak cukup cepat, melompat dan menyelinap di balik pepohonan. Menuruni kaki anak gunung untuk mencapai suara tersebut. Di belakangnya pun Apsari mengejar gerak Langkah Asena.  "Kakaaaang ... tunggu aku!"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD