KEMATIAN RANUJAYA

1052 Words
"Apa tawaran kamu masih berlaku Apsari?" Pertanyaan itu membuat gadis cantik ini, terkesiap. Dia melihat tajam pada Asena. "Apa itu, Kakang?" "Bukannya tadi kamu ingin menyusuri sungai untuk mencari adikku?" "Iya, tapi aku harus meminta ijin dulu pada Kakek. Kalau tidak dia bisa menghukumku, Kakang." Asena mengangguk sembari tersenyum tipis. Tanpa ragu, Apsari berjalan keluar rumah mendatangi sang kakek yang sibuk mengeringkan daun untuk obat-obatan. "Apa kamu sudah membereskan semua perabot?" Belum sempat Apsari membuka mulutnya, lelaki tua itu sudah memberikan tugas baru. "Kalau--" Baru satu kata yang terucap, Astageni sudah menyela ucapan cucunya. "Tidak ada kata nanti, Nduk. Lakukan sekarang juga!" "Dari mana Kakek tahu kalau aku mau bilang nanti?" "Kakek sudah tahu kebiasaan kamu." "Ta-tapi, Kek. Tempayan aku pun masih ada di pinggir sungai. Sayang sekali, padahal itu Apsari membuatnya sendiri." "Hemmm." Astageni pura-pura tidak mendengar. Kalau sudah merengek manja seperti ini, hatinya pasti tidak kuat. "Apa Kakek tetap tidak mengijinkan? Padahal Apsari hanya sebentar saja Kek." "Ya sudahlah. Pergi jangan lama. Saat pohon itu bayangannya lurus sejajar, kamu harus sudah ada di sini. Mengerti?" "Sangat dimengerti sekali Kakek. Apsari pergi dulu!" “Tetap hati-hatai dan waspada, Nduk!” “Iya, Kakek. Akan kupastikan hal itu!” teriak Apsari dan menghilang di antara pepohonan yang begitu lebar di sekitar rumah Astageni. Gadis itu langsung berlari sekencang menjangan. Beberakali terlihat dia melompat di anatara semak belukar dan pepohonan yang ada di sekitarnya. Gerakannya cukup lincah untuk seorang gadis seperti Apsari. Tak butuh lama baginya, untuk bisa dengan cepat mencapai pinggiran sungai. Dia memperhatikan sekitar dia bersembunyi. Para prajurit Antapura tidak terlihat sama sekali. Apsari merasa keadaan sudah aman. Segera gadis itu keluar dari persembunyian. “Tempayanku, untung masih utuh tidak pecah. Berhari-hari aku harus membuatnya. kamu yang terbaik tempayan,” bisik Apsari. Pandangannya mengarah pada bekas di mana dia menemukan Asena. Bekas anak panah pun tidak ada batangnya lagi. “Sepertinya para prajurit telah mengambilnya. Hemmm … aku memang ceroboh sekali. Benar yang dikatakan Kakek, aku kurang menggunakan akalku” Saat Apsari termenung sejenak. Pandangannya yang liar menatap deras arus sungai dan tertuju pada sesuatu yang berwarna merah. Seperti sebuah selendang. Bergegas Apsari melompat dan melewati bebatuan. Dia terdiam sejenak sembari memperhatikan kain merah itu.  “Apa mungkin ini ada kegunaannya? Mungkin saja sebuiah petunjuk?” Cukup lama dia termenung dan hanya memandang. Sampai Apsari memutuskan untuk mengambil selendang tersebut. Dia menyentuhnya dan sangat takjub akan kelembutan kain itu. Belum pernah dia mempunyai kain selembut dan berwarna indah seperti ini. “Bagus sekali selendang ini. Seperti milik para putri raja. Halus, lembut, dan warnanya bisa terang sekali. Aku bawa saja, mungkin ini penting buat Kakang Asena.” Sang gadis kembali berlarian sembari mengenakan selendang merah di pinggangnya. Dia menyambar tempayan yang sudah berisi air. Lalu, menghilang di balik lebatnya pepohonan. “Kakeeeek! Bayangan pohon ketapi itu belum lurus sejajar ‘kan?” Lelaki tua yang sibuk memilah dedaunan dari rantingnya, tidak menoleh sedikit pun. Dia diam dan terus melakukan perkerjaannya. “Kakek kok diam saja?” Barulah lelaki itu mendongak dan melihat selendang yang terikat di pinggang Apsari. Astageni menyentuh selendang itu, pelan. Dia bisa merasakan halus dan kelembutannya.Namun, tak hanya itu yang membuat Astageni mengerutkan dahi. Dia malah memicingkan mata tertuju pada ujung selendang, membuat Apsari melakukan hal yang sama. “Kakek … melihat apa? Kenapa wajah Kakek sampai tegang seperti ini?” “Dari mana kamu mendapatkannya?” Apsari tidak langsung menjawab. Dia malah memandang wajah sang kakek yang berubah menjadi snagat serius. “Dari mana kamu dapatkan selendang ini, Apsariii?” “Da-dari sungai, Kek. Memangnya ada apa?” “Coba kamu lepas!” Apsari menurunkan tempayan terlebih dahulu. Lalu dia melepaskan selendang yang mengikat pinggang. “Kamu mengenalinya, Kakang?” “I-itu … memang milik adikku. Di mana Kakek mendapatkannya?” “Apsari menemukan selendang ini di sungai. Dan tidak semua orang bisa mempunyai selendang yang bergambar segel lambing kerajaan Saloka. Katakan siapa kamu anak muda?” “Sabar, Kek. Tunggu dulu biar aku jelaskan semua.” “Sebelum ada peperangan ini. Putri Ratna Sekar memang dekat dengan Ranujaya. Mereka sering bermain bersama, bahkan Putri Ratna Sekar sering sembunyi-sembunyi mengikuti latihan pedang, walau dia hanya main-main saja.  Jadi Putri Ratna yang memberikan pada adikku, Kakek.” “Ohhh … aku tidak menyangka sedekat itu kalian dengan keluarga raja. Maafkan aku anak muda!” Seraya Astageni memberikannya. Asena pun menerima dengan perasaan yang berkecamuk tapi dia tahan. “Kenapa telapak tangan kamu? Seperti luka yang masih baru.” Belum sampai Asena menjawab, Astageni sudah menangkap tangannya. Dia memperhatikan luka yang masih basah itu mulai mengeluarkan bau yang tidak sedap. “Siapa yang melakukan ini? Pasti bukanlah para prajurit musuh.” ‘Lelaki tua ini terlalu tahu banyak hal. Dia sepertinya sangat mengerti juga tentang seluk beluk kerajaan. Bahkan lambang kerajaan Saloka pun dia sangat paham.’ “Apa … Kakek pernah tinggal di Saloka?” Sengaja Asena menghindar dari pertanyaan yang terlontar. Dia mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain. Sepertinya lelaki tua itu mengerti jika Asena enggan untuk menjawab. “Pernah, semasa muda aku dulu.” “Ohhh, di manakah Kakek tinggal?” “Tidak perlu aku ceritakan anak muda. Karena aku ingin melupakan!” Asena langsung terdiam.   “Sini tangan kamu! Luka ini harus tetap diobati anak muda, kalau sampai membusuk dan melukai jaringan yang berada di pada tangan kamu, akan sangat bahaya.” “Lakukan yang terbaik menurut Kakek. Sebelumnya terima kasih sudah mau menerima dan mengobati aku.” “Sudahlah tidak perlu kamu pikirkan hal ini!” *** Dua malam sudah Asena tinggal di rumah Astageni. Tubuhnya mulai membaik. Selendang merah itu tak lepas dari genggamannya. Bila di hadapan Astageni dan Apsari, dia berusaha menyembunyikan kepiluan hatinya. Sungai yang membantang di hadapan, seakan ingin dia susuri dan masuk ke dalamnya. Mencari jasad adik tercinta. Namun di sisi hati yang lain, Asena mengingkari bila Ranujaya telah meninggal. “Dia jauh lebih kuat dari yang aku perkirakan. Dia Tangguh, dan tak mudah menyerah. Aku tak mempercayai jika dia telah meninggalkanku begitu saja. Ranujaya pasti belum mati. Hatiku ini, bisa merasaknnya.” Asena melompat di antara bebatuan. Dengan kedua tangan yang mengepal tinggai dan memegang kuat selendang yang pemberian ibunda mereka. Matanya mulai berkaca-kaca. “Ratnaaaaaaaa … jangan tinggalkan aku sendirian. Kamu pasti belum matiiii! Pasti kamu belum mati. Maafkan aku, ayah. Maafkan aku yang tak bisa menjaganya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD