“Lihatlah di atas itu siapa?”
“Haaaaa ….”
Apsari mendongak dan melihat Asena yang bersandar pada kuda-kuda kayu atap rumah. Gadis itu tersenyum lebar, terlihat senang melihatnya. Namun, Asena yang pucat masih tampak lemah.
"Bisakah kamu turun anak muda?"
"Bisa, Kek."
"Aku tadi sudah sangat khawatir Kakang. Takut mereka menemukanmu."
"Kalau dia tak naik ke atas, pasti mereka bisa menemukannya, Nduk."
"Kamu lihai juga Kakang. Pasti ilmu kanuragan kamu, tinggi juga."
Hanya sekali melompat, Asena sudah berdiri di depan mereka.
"Aku belum lihai Nyimas. Ini hanyalah ilmu dasar sebagai seorang prajurit saja."
Tiba-tiba, gadis cantik ini cemberut.
"Bisa tidak, Kakang menyebut namaku saja. Ap-sa-ri ...!"
Asena hanya manggut-manggut lemah. Kake Astageni langsung memapah tubuhnya, ke sebuah ranjang yang berada di ruang tengah.
"Pasti kamu masih merasakan sakit dan panas di bagian luka. Juga jantung kamu masih berdebar-debar, bagian ulu hati ini--"
Sembari menunjuk bagian ulu hati Asena. "Kamu pasti masih merasa sesak dan mual. Bahkan pandangan mata masih nanar belum jelas. Apa benar anak muda?"
"Benar sekali, Kakek. Itu yang aku rasakan sekarang."
"Memang karena pengobatan yang aku berikan padamu, belum tuntas. Siapa nama kamu?"
"Asena, Kek."
"Apa kamu asli Saloka?"
"Benar sekali, Kek. Ayah asli Saloka, sedang Ibu dari kerajaan Geringging."
"Ehmmmm, Geringging cukup jauh dari Saloka."
"Benar sekali, Kek."
"Sekarang berbaringlah, aku akan mengobati kamu lagi!"
Apsari yang sedari tadi terus memperhatikan percakapan mereka, memandang Asena lekat. Sepertinya gadis ini telah terpikat, walau dia ingin mengingkari.
"Kakek, apa Apsari rebuskan dedaunan yang tadi ada di dalam rinjing?"
"Iya, Nduk. Kamu rebus semuanya dalam kendil."
"Baik, Kek."
Apsari berlari ke belakang. Tidak bisa dipungkiri rona kemerahan di pipi kanan dan kiri. Dia terlihat sangat senang.
Sang kakek mengerutkan dahinya. Lalu menatap tajam ke arah Asena.
"Apa sebab kerajaan kalian diserang?" ulang lelaki tua itu.
Asena tidak langsung menjawab. Dia menghela napas panjang.
“Entahlah, Kek. Apa yang sebenarnya terjadi, aku kurang tahu. Yang jelas baru saja Baginda Raja menandatangani kesepakatan damai. Kami merasa sangat dipecundangi. Ternyata banyak orang-orang yang telah berkhianat di dalam kerajaan Saloka sendiri, Kek.”
“Hemmm, pastinya akan seperti itu. Para penjilat, pengkhianat, akan selalu mencari tempat di mana mereka bersembunyi atas kebencian mereka, tapi bisa memperlihatkan kebaikan di depan Kalian, para petinggi istana termasuk pada Raja. Orang seperti ini akan selalu ada di mana pun. Karenanya sulit bagi Raja sendiri bisa mempercayai siapa pun juga. Termasuk orang-orang yang selalu dekat dengannya.”
“Kakek benar sekali.”
“Bagaimana dengan orang tua kamu?”
Seketika hati Asena perih, teringat kembali saat Wikrama menikam sang ayahanda. Apalagi saat mahapatih mengacungkan tangannya untuk mengajak prajurit musuh menyerang. Tak terasa air matanya menetes. Sebelum Astageni menyadari, dengan cepat Asena mengusap kedua matanya.
“Orang tua saya gugur, Kakek. Saat peperangan kemarin. Amanah yang diberikan mereka padaku pun tak bisa aku jalankan dengan baik. Sampai membuat adikku terluka, dan terpisah seperti ini. Aku memang seorang kakak yang tak becus.”
Astageni menahan pertanyaannya. Sampai lelaki yang ada di hadapannya ini bisa menguasai pikiran dan hatinya. Dia tahu perasaan Asena yang berduka, karena kehilangan orang tua dan berpisah dari adik.
“Siapa nama adik kamu?”
“Ranujaya, Kek.”
“Nama yang bagus sekali, pastinya dia seorang lelaki tampan sepertimu juga.”
Asena hanya tertunduk seakan dia tak mendengar.
“Apakah menurut Kakek, aku bisa bertemu dengannya. Karena dalam hati, aku yakin Ranujaya masih hidup.”
“Aku menyukai apa yang kamu yakini ini. Aku hanya bisa mendoakan pada Sang Hyang Widhi, untuk kebaikan kamu, Asena.”
“Maturnuwun, atas semua kebaikan Kakek dan juga Apsari.”
"Sudah selayaknya sebagai manusia. Lalu, apa rencana kamu sekarang?"
Asena tertunduk dalam. Sebenarnya dia bingung untuk menjawab. Namun tatap mata Astageni yang penuh ketulusan tak sanggup Asena untuk membohongi kesekian kali.
"Apakah Kakek tahu di mana padepokan Bulus Putih?"
"Hemmm." Tak bisa dipungkiri, Astageni cukup terhenyak mendengar nama itu disebut oleh Asena. Karena kalangan orang biasa walau seorang prajurit sekali pun, tidak akan mengetahui nama ini, kecuali kalangan para bangsawan yang memiliki kekuatan olah kanuragan yang sudah mahir.
“Maaf, kenapa Kakek menjadi kaget?”
“Ehhh … ehhh tidak.”
"Apa Kakek tahu padepokan itu?"
"Apa kamu ingin menimba ilmu di sana?"
Dengan cepat Asena mengangguk.
"Kamu ingin balas dendam atas kematian orang tua kamu dan juga adik kamu?"
“Bukan hanya itu saja Kek. Aku ingin merebut kembali kerajaan Saloka dari tangan musuh!” Suara Asena bergetar hebat dengan sorot mata yang memerah menahan air mata yang hendak jatuh. Membuat Astageni semakin bertanya-tanya. Siapakah pemuda yang ada di hadapannya ini?
"Kamu mau melawan sebuah kerajaan, anak muda? Jangan berbuat hal konyol!"
"Tapi--"
"Sebaiknya kamu mencari rumah untuk tempat tinggal. Musnahkan pikiran untuk balas dendam."
Tampak Asenna kebingungan. Dia ragu untuk jujur pada lelaki tua yang ada di hadapannya ini. Sembari menahan rasa sakit Asena berpikir keras. Bagaimana cara untuk menjelaskan semuanya? Tanpa lelaki tua itu, tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
"Me-mereka menyiksa Ayah. Dan juga membuat Ibu mati dengan sebuah tombak."
“Apa … orang tua kamu juga tinggal di dalam istana?”
Saat itu Asena menyadari lagi kesalahannya.
“Ehhh … iya, Kek. Ibu sebagai pelayang dapur, sedang ayah hanya pembersih kandang kuda milik Raja.”
"Hemmm … pastinya kamu mengalami masa sulit yang akan selalu terkenang."
"Kek, aku ingin menjadi seorang pendekar yang hebat. Yang bisa menghancurkan Antapura dengan tangan aku sendiri!" Suara Asena terdengar berapi-api.
"Sebaiknya kamu sembuh dulu!"
“Ta-tapi … Kek?”
Terdengar derap langkah Apsari yang berjalan mendekat. Di kedua tangannya membawa nampan yang berisi gelas obat, dan semangkuk bubur yang masih panas.
“Ini obat untuk diminumnya, Kek. Dan yang ini, obat yang bisa dibalurkan pada luka Kakang Asena, Kek.”
“Hebat cucu, Kakek. Kamu sudah mulai paham dengan semua ini. Atau—“
Apsari melotot ke arahnya. “Atau … apa, Kek?”
“Kamu mempelajari karena … Asena”
“Ihhh, Kakek jangan begitu. Membuat Apsari jadinya malu.”
Lelaki tua itu langsung terkekeh.
“Minumlah obat ini! Setelahnya aku akan oleskan obat yang udah ditumbuk ini ke bahu kamu.”
“Baik, Kek.”
Setelah sang kakek selesai membalurkan obat, di bahu Asena. Apsari berjalan ke sisi ranjang. Dia mengambil semangkuk bubur yang sudah cukup dingin.
“Makanlah dulu, Kang!”
“Lidahku masih terasa pahit, Apsari. Nanti saja.”
“Kalau kamu tidak mau makan. Akan semakin lama untuk sembuh.”
Asena pun mengikuti apa yang dikatakn oleh Astageni. Dengan penuh kesabaran, Apsari menyuapi lelaki tampan yang duduk bersandar. Sesekali dia mengernyit menahan rasa sakit.
"Aku tinggal ke depan, untuk menjemur obat-obatan aku lagi. Kamu urus dia Apsari."
"Baik, Kek.
Apsari terlihat girang.
"Apa tawaran kamu masih berlaku Apsari?"
Pertanyaan itu membuat gadis cantik ini, terkesiap. Dia melihat tajam pada Asena.
"Apa itu Kakang?"