KEPERGIAN PRAJURIT ANTAPURA

1039 Words
“Sepertinya mereka datang. Apsari sembunyikan dia cepat!” “Ba-baik, Kek.” Segera lelaki itu keluar rumah dan duduk di tempat dia mengeringkan dedaunan obat-obatan. Seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Beberapa kuda berhenti tepat di depan pagar rumah yang terbentuk dari tanaman perdu yang lebat. Dua orang segera turun dari kuda, berjalan mendekati Astageni. "Hei, lelaki tua!" teriak salah seorang prajurit. Astageni terus melakukan kegiatannya, seperti tidak mendengar apa-apa. "Lelaki tua!" sentak salah seorang yang lain. "Mungkin dia tuli?" "Kita dekati saja." Braaakkk! Seorang prajurit menggebrak meja bambu tempat untuk menjemur dedaunan kering. Mmebuat Astageni tersentak. Lalu, menoleh ke arah mereka berdua dan tersenyum. "Ohhh, Tuan Prajurit. Apa tadi memanggil aku?" Kedua wajah itu, tampak geram. Namun salah seorang dari mereka mencegah temannya untuk tidak berbuat kasar. “Ingat! Kita bukan berada di wilayah Antapura. Hati-hati dalam bertindak.” “Terlalu lama kalau cara kita seperti ini.” Astageni berdiri dari duduknya. Dia mendekati mereka berdua tanpa rasa takut sama sekali. “Maaf, Tuan mencari atau sedang membutuhkan sesuatu?” Pembicaraan kedua prajurit terjeda. Mereka menoleh dan memperhatikan lelaki itu dari atas kepala hingga kaki. “Apakah kamu melihat seorang lelaki yang terluka kena panah?” “Tepatnya dua lelaki,” tegas prajurit yang berwajah garang. Astagani menggeleng pelan. “Sudah dua pekan ini, tak ku lihat seorang asing pun yang mendekati Kawasan ini Tuan.” “Jangan bohong, Pak Tua!” Derap tapak kaki kuda mendekat. Seorang dengan pakaian yang lebih bagus serta lencana di lengan menunjukkan dia pemimpin pasukan ini. “Aku tidak sedang berbohong, Tuan. Aku berkata yang sebenarnya.” “Kami mendapatkan patahan dua anak panah di pinggiran sungai. Dan, anak panah itu, senjata kami. Mana mungkin kamu tidak mengetahuinya!” Suara lelaki itu meninggi. “Di seberang kami, banyak perkampungan Tuan. Janganlah Tuan tuduhkan seperti ini.” “Iya, tapi yang masuk akal, adalah berjalan menuju rumah kamu, yang lebih dekat dari pada rumah warga di seberang sungai.” Sorot matanya tajam mengarah pada Astageni. Lalu, tangannya bergerak ke atas. “Geledah rumahnya! Cepat!!!” “Apa yang hendak kalian lakukan?!” Astageni mulai gerah melihat kelakuan mereka yang sombong dan seenaknya sendiri. Namun, pemimpin prajurit tetap mengangkat tangannya ke atas. “Tetap kalian geledah, jangan ada ruang yang tersisa!” Sepuluh orang prajurit yang kasar, mendorong Astageni yang mencoba menghalangi. Sampai dia jatuh tersungkur. Dari arah dalam rumah, terdengar beberapa perabot yang terjatuh dan teriakan Apsari yang marah terhadap mereka. Salah seorang menarik kasar lengannya dan melempar tubuh Apsari kasar, keluar rumah. Hingga berjajar dengan sang kakek. “Kek, aku tak bisa biarkan ini!” Astageni menahan lengan cucunya, sambal menggeleng pelan sekali. “Jangan pernah tunjukkan kemampuan bela diri kamu!” “Ta-tapi … dia bisa dalam bahaya besar, Kek.” “Dia tadi sadar ‘kan?” “I-iya, Kek. Memang kenapa?” “Kurasa dia tahu cara bertahan. Kamu tenang saja jangan menunjukkan gelagat aneh. Mereka akan semakin curiga.” Apsari hanya menghela napas Panjang. “Kalau kita membuat gara-gara sedikit saja pada mereka, esok hari akan datang jauh lebih besar bala prajurit ke daerah ini. Bukan hanya di sini saja, ke semua rumah penduduk lain,” bisik Astageni. Bughhh! “Aahhh … Kakek!” Sebuah pukulan bersarang di punggung sang kakek. Membuatnya jatuh terjerembab. Apsari memeluknya, sembari mendongak ke arah seseorang yang menunggang kuda. Apsari mendengkus kesal. Tidak terima dengan perlakuan lelaki yang berada di atas kuda. Apsari berdiri dan menantangnya dengan sorot mata penuh kemarahan. “Siapa kamu, berani sekali menendang Kakekku?” Lelaki berlencana itu terkekeh. “Perempuan pemberani, aku menyukainya!” Astageni langusng menarik pergelangan tangan Apsari. “Sudah … sudah, Nduk!” “Tidak bisa, Kek. Dia sudah bersikap kasar dan kurang ajar sama orang tua. Tidak seharusnya dia yang seorang prajurit berbuat hina dan serendah ini.” “Hei, perempuan! Mulut kamu lancing sekali. Minta aku tampar dengan pedang aku ini?!” Sebelum keributan bertambah parah. Astageni melerainya. Dia menarik pinggang Apsari dan menyembunyikan di balik tubuhnya sendiri. “Ikut apa yang aku katakan tadi, Apsari!” Astageni berbisik. “Tolong, maafkan cucu aku ini Tuan Prajurit. Tolong dimaklumi jiwa mudanya masih mudah terbakar.” Lelaki itu pun turun dari kuda. Dia berjalan mendekat. “Tapi, aku menyukainya. Bagaimana bila cucumu ini aku ajak ke kota Antapura dan tinggal bersamaku?” Cuihhh! Spontan Apsari meludah tepat diujung kaki prajurit berlencana. “Tak sudi!” Prajurit itu terpingkal-pingkal, mendapatkan sikap kasar tanpa takut dari Apsari. “Aku semakin menyukai gayamu Perempuan cantik. Pasti kamu akan aku boyong ke kota. Pasti itu!” Apsari mengepal kedua tangan geram. Namun dia masih teringat apa yang dikatakan oleh sang kakek. Dari arah dalam rumah, masih terdengar beberapa perabotan yang terjatuh. Suaranya cukup membuat gaduh rumah mereka. “Bagaimana?” teriak pimpinan prajurit. “Tidak ada orang sama sekali, Bekel Adiyaksa. Rumah ini hanya berisi obat-obatan semua.” “Huuuuhhh! Andai saja aku dapati kalian menyembunyikan orang asing, kamu—” Bekel Adiyaksa menunjuk ke arah Apsari, “Kamu … pasti sudah aku bawa ke kota Antapura bersamaku. Akan aku jadikan selirku.” Cuihhh! "Tetap saja aku tak sudi!" Apsari semakin muak dengan ulahnya. Bekel Adiyaksa tertawa lebar. "Aku snagat menyukai betina pemarah seperti kamu." Sembari melirik pada Astageni. "Bolehkah dia aku ambil menjadi selirku lelaki tua?" Astageni hanya diam. Ingin saja dia menampar dan menendang wajahnya yang seperti kolor ijo, bila melihat wanita cantik. "Untung saja urusan aku panjang. Jadi aku tak ingin berlama-lama di sini." Bekel Adiyaksa mengangkat tangannya ke atas, pertanda mereka harus meninggalkan rumah ini. Para prajurit mengikutinya pergi, seiring pandangan Astageni dan Apsari yang masih mengekor kepergian mereka. Teringat akan lelaki yang baru saja dia tolong. Apsari langsung berlari cepat masuk rumah. Dia menerobos masuk ruang pengobatan, yang sudah porak poranda. “Kakang … Kakang, di mana?” Gadis itu kebingungan. Dia tidak melihat seorang pun di sana. Bahkan gadis itu sampai menyibak semua perabot yang tumpah di atas ranjang bambu. Tetap saja dia tidak melihat sosok tampan itu. “Di mana dia?” “Kamu mencari siapa?” tegur sang Kakek yang sudah berada di belakang. “Kakang yang terluka tadi, Kek. Di mana dia?” Lelaki tua itu tersenyum lebar. “Lihatlah di atas itu siapa?” “Haaaaa ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD