"Katanya mereka sedang mencari dua orang prajurit dari kerajaan Saloka."
"Saloka?"
"Benar sekali, Kek. Katanya desas desus para pedagang yang mampir telah terjadi peperangan di sana Kek. Masih katanya juga, Kerajaan Saloka telah hancur dan kalah!"
“Hancur dan kalah?”
Lelaki muda itu mengangguk lemah.
“Kenapa kamu memberitahukan aku tentang hal ini Kisanak?”
“Karena aku melihat mereka tadi pergi menuju ke arah sini, Kek. Ya, aku takut saja kalau mereka datang ke padepokan Kakek.”
“Ohhh … terima kasih sekali atas perhatian dan kebaikan kamu Kisanak.”
Lelaki muda itu tersenyum, sembari meninggalkan rumah Astageni. Sepeninggal lelaki itu, dengan cepat Langkah Astageni memasuki rumah.
“Apsari … Apsari!”
“I-iya, Kek. A-ada apa? Sepertinya ada hal yang genting?”
“Memang. Sekarang katakan padaku, apa lelaki ini memakai baju prajurit?”
Apsari mengatup rapat bibirnya sembari menggeleng.
“Apa ada pedang atau senjata lain yang kamu temukan?”
“Tidak juga Kakek. Aku menemukannya sudah dalam keadaan dia terluka dan tidak sadar.”
Astageni terdiam sesaat. Kembali dia melihat ke arah Asena yang masih pingsan.
“Kakek tapi aku menemukan ikan kain hitam di lengannya.”
“Ikatan kain hitam?”
Gadis itu mengangguk.
“Seperti apa?”
Apsari menarik pergelangan tangan sang kakek.
“Ini, Kek. Aku tadi yang mengikat kembali kain itu.”
Astageni mendekati Asena. Dia memandang wajahnya lekat.
‘Pasti dia bukan rakyat biasa,’ bisik Astageni dalam hati.
“Apa bekas panah kamu buang lagi ke sungai?”
Apsari semakin mengerutkan dahi. Dia tidak memahami semua pertanyaan kakeknya.
“Kakek, memang ada apa ini? Aku tak membuangnya di sungai. Aku biarkan saja di bebatuan itu.”
“Ehmmm … kalau begitu bersiap-siap ada yang datang. Sembunyikan dia!’
“Haaa … menyembunyikan dia? Ta-tapi, di mana Kakek?”
Lelaki tua itu pun berpikir sekian detik.
“Bawa dia ke ruang pengobatan!”
Gadis itu masih menatap Astageni dengan wajah polosnya. Dia tampak bingung dengan apa yang terjadi. Sedang Astageni yang masih penasaran dengan lelaki tampan di hadapannya. Mencoba untuk mmebuka ikatan kain hitam yang melingkar di bagian lengan atas.
Saat dirinya ingin menyentuh. Sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangan.
“A-ada … apa, Kek?”
Tiba-tiba Asena telah terbangun.
“Ka-kamu sudah siuman? Hemmm … ternyata ramuan aku cepat bereaksi.”
Asena mengerjapkan mata berulang laki. Dia terlihat bingung di mana posisinya saat ini.
“Di mana aku?”
Sepintas Asena mengingat wajah gadis itu. Dia ingat samar-samar kalau diajak menuju sebuah rumah.
“Kakang berada di rumah Kakek aku. Kakek Astageni!”
Asena pun berusaha untuk tersenyum walau sulit. Tenggorokannya terasa tercekat, kering. Begitu pula bibirnya yang pecah-pecah. Setiap dia bicara akan meneteskan darah.
“Berikan wedang uwuh itu, Nduk!”
“Baik, Kakek.”
Dengan sabar dan telaten, Apsari membantu Asena minum.
“Kamu harus bisa habiskan wedang ini, Kakang. Biar tenggorokan kamu tak lagi sakit. Sama badan kamu, tidak menggigil.”
“Maturnuwun.” Suara Asena masih terdengar lemah.
Setelah Apsari memberikan minuman pada Asena yang sadar. Astageni mendekatinya. Dia pun duduk di pinggiran ranjang bambu.
"Apa kamu seorang prajurit?"
Sebelum menjawab. Asena berusaha untuk duduk bersandar. Melihatnya Apsari dengan cekatan membantu.
"Bukan, Kek. Aku bukan prajurit."
“Tapi, kamu bukanlah seorang tanpa kemampuan kanuragan anak muda. Jangan mencoba membohongi aku. Reaksi kamu begitu cepat saat mencekal tangan aku tadi.”
“Maafkan aku, Kakek. Atas kelancangan sikap aku tadi. Itu semua gerakan spontan saja.”
Walau begitu Astageni tidak mendebatnya. Dia tahu bila lelaki yang ada di hadapannya ini tengah berbohong.
"Kamu berasal dari mana?"
"Aku dari kerajaan Saloka, Kek. Kerajaan kami diserang musuh. Jadi kami melarikan diri."
“Saloka? Asal kamu tahu, pasukan dari kerajaan yang menyerang Saloka tengah mencari dua orang prajurit. Aku yakin salah satunya itu kamu. Walau berbohong, aku bisa tahu anak muda.”
Mendengar apa yang baru saja dikatakan Astageni. Jantung Asena berdetak lebih kencang. Dia teringat akan Ranujaya, bagaimana nasibnya.
“Kenapa kamu diam anak muda? Apa ada yang salah?”
“Aku sedang memikirkan Ranujaya. Dia adikku yang juga terkena panah beracun pasukan mereka Kakek.”
Astageni menoleh pada cucunya.
“Apa kamu melihat orang lain lagi?”
“Tidak ada Kek. Hanya ada dia di pinggiran sungai. Tadi sih Apsari berniat mencarinya.”
“Jangan! Berbahaya sekali jika kamu sekarang berada di pinggiran sungai.”
Kakek Astageni mendekatkan wajahnya pada Asena. Hanya berjarak dua jengkal, dia menatap tajam pada lelaki tampan itu.
“Katakan yang sebenarnya siapa kamu, atau aku akan menyerahkan dirimu pada mereka!”
Pernyataan lelaki tua ini, membuat Asena kebingungan. Dia berusaha menyembunyikan kebimbangan hatinya.
‘Apa yang harus aku katakana yang sebenarnya? Apa aku harus mengaku sebagi putra mahkota Saloka? Atau—’
Tampak Asena terus berpikir keras.
“Kamu sepertinya berpikir berat sekali anak muda. Padahala pertanyaan aku begitu mudah kamu jawab!”
Astageni beranjak bangkit dari ranjang bambu tersebut.
“Tunggu Kakek!”
Lelaki tua itu pun berhenti.
“Apa yang ingin kamu katakan sekarang?” Astageni berucap tanpa berbalik sedikit pun.
“Kakek benar sekali, aku seorang prajuri elit pengawal raja Baga Sadendra dan Ratu Ratih Sadendra. Kami gagal menyelamatkan … mereka dan kerajaan Saloka.” Suara Asena sedikit terisak.
“Hemmmm ….”
Apsari yang mendengar perngakuan Asena turut terkejut. Dia tak menyangka telah menolong seorang prajurit yang gagah perkasa dan tampan.
“Apakah adik kamu juga seorang prajurit?”
“Bukan, Kek. Hanya saja dia tinggal bersamaku di istana.”
“Kenapa dia bisa terluka?”
“Kami melarikan diri dari kejaran mereka. Saat kami menuju gunung Raung, di situlah kami sama-sama terluka dan terjatuh dari tebing tinggi. Aku tidak menyangka bila terjatuh ke sungai, Kek.”
“Baiklah, setelah para prajurit Antapura pergi. Kita akan susuri sungai untuk mencari adik kamu.”
“Terima kasih banyak, Kek. Maturnuwun.”
Dari kejauhan mereka mendengar derap tapak kuda yang mulai mendekat.
“Sepertinya mereka datang. Apsari sembunyikan dia cepat!”
“Ba-baik, Kek.”
Segera lelaki itu keluar rumah dan duduk di tempat dia mengeringkan dedaunan obat-obatan. Seperti sedang tidak terjadi apa-apa.