“Siapa tadi yang Kakang cari?”
Sejenak Asena terdiam, sambil mengingat kejadian yang baru dia lewati. Lelaki itu masih ingat dengan benar setiap detik kejadian yang menimpa dirinya serta adiknya.
Asena tertunduk dalam-dalam. Seperti menahan kepedihan yang merajam hati. Tak bisa sedikit pun dia memaafkan dirinya sendiri, bila sampai terjadi sesuatu terhadap Ratna Sekar atau Ranujaya.
Apsari hanya memandang tanpa berani bertanya lagi. Dia membiarkan lelaki di hadapannya ini untuk berpikir sesaat. Sampai Asena kembali melihat ke arahnya.
“Apakah Nyimas melihat orang lain yang terluka di sini?”
Apsari menggeleng.
“Hanya ada Kakang di sini. Tak ada yang lain. Memangnya siapa yang Kakang cari?”
Asena mengembuskan napas Panjang, sembari kembali tertunduk. Dia tak langsung menjawab pertanyaan Apsari. Asena takut salah bicara lagi seperti sebelumnya.
“Kepalaku … sakit.”
"Gawat! Sepertinya obat yang baru saja aku berikan tidak mempan." Bergegas Apsari mendekati Asena. "Kakang harus ikut bersamaku. Biar nanti Kakek yang mengobati dan mengeluarkan racun dari badan Kakang."
Gadis itu menunggu isyarat dari Asena. Dia pun tak berani memaksa.
"Apa dengan kamu mengobati aku, tidak akan sembuh?"
"Kalau kamu mulai merasakan kepala sakit, perut mula dan muntah darah. Racun itu sudah mulai menyerang organ inti tubuh Kakang."
"Ta-tapi--"
Asena menatap nanar ke arah sungai yang cukup besar dengan arus yang deras.
"Bagaimana dengan saudara aku? Dia juga terluka."
"Siapa namanya dan ciri-ciri dia gimana? Setelah mengantar Kakang ke rumah Kakek, biar aku susuri sepanjang sungai."
Seketika Asena tercengang melihat Apsari.
"Nyimas ... benar-benar mau melakukannya buat mencari adikku?"
"Kenapa tidak?"
Selama ini dia hidup di lingkungan istana. Di mana semua orang bersikap manis dan baik karena melihat siapa dirinya. Namun belum tentu dalam hati mereka tulus dan ikhlas. Namun melihat Apsari yang begitu baik dengannya, membuat Asena benar-benar terperanjat. Bahwa selama ini dia menganggap kehidupan di luar istana sangat menakutkan, ternyata sebaliknya.
"Tapi, aku tidak punya apa-apa Nyimas. Bahkan baju pun aku hanya punya satu ini saja.'
"Ini apa?" Apsari mengangkat sebuah bungkusan dari kain hitam. "Aku menemukan terikat pada lengan bagian atas. Bahkan hampir menjerat leher Kakang tadinya."
'Segel yang diberikan Ibunda,' bisik Asena tanpa berkedip.
Lalu gadis itu menyerahkan bungkusan kain hitam tersebut pada Asena.
"Aku tadi melepasnya. Takut melukai nanti."
Asena yang belum sadar seratus persen. Hanya bisa mengangguk lemah. Apalagi lambat laun dia merasakan tubuhnya semakin dingin. Kepalanya berdenyut dan terasa jauh lebih sakit dari sebelumnya.
"Ru-rumah ... kamu di mana? Sepertinya aku sudah tak tahan lagi. Ini ... terasa sakit sekali."
Tanpa banyak bertanya lagi. Apsari langsung memapah Asena yang bertubuh lebih besar darinya. Walau cukup kesulitan, Apsari mampu membawa Asena sampai ke rumah. Dari luar pagar yang terbuat dari bambu, "Kakeeeek ... Kakeeeek Astageni!" Teriakan Apsari membuat seorang lelaki tua yang tengah menjemur beberapa daun untuk obat, langsung berlari ke arahnya.
"Tolong aku, Kek!"
Lelaki itu tercengang melihat seorang lelaki yang dibawa sang cucu, tengah tergeletak di tanah.
"Si-siapa dia, Apsari? BIsa-bisanya kamu membawa seorang lelaki yang tidak dikenal. Ini sangat bahaya!"
"Kek, lihatlah dulu. Dia ini terlukan di paha sama bahu. Kayaknya kena racun. Apsari ... juga sudah mengobati dia, hanya saja seperti tak mempan, Kek."
"Berapa kali Kakek bilang padamu, Apsari. Jangan pernah membawa orang asing ke rumah. Bahaya!"
Gadis itu langsung tertunduk. Dia menyadari kesalahannya.
"Apsari kasihan melihat dia, Kek. Aku temukan di pinggiran sungai."
"Kamu selalu bertindak ceroboh! Andai dia ingin bebruat jahat sama kamu bagaimana? Ilmu kanuragan yang kamu kuasai masih dasar, belum ada apa-apa untuk kehidupan di luar sana, Apsari."
Tampak lelaki tua itu benar-benar marah.
"Ma-maafkan aku, Kek."
Tidak pedulikan permintaan maaf sang cucu. Lelaki itu mencoba memapah Asena untuk masuk rumah, dibantu oleh Apsari. Mereka membaringkan tubuh Asena di sebuah ranjang yang terbuat dari bambu.
"Ambilkan daun obat kering yang ada di bumbung, bawa ke sini semuanya!"
"Baik, Kakek."
Gadis itu berlari kecil menuju ruang pengobatan milik sang kakek. Setelah mengambil semua bumbung (potongan bambu) yang diperlukan, segera Apsari kembali ke ruang tengah.
"Ini, Kek."
"Taruh di samping ranjang!"
Lelaki tua mulai memeriksa kondisi Asena yang kembali pingsan. Bibirnya terlihat kering kebiruan. Begitu juga dengan luka yang ada di paha dan bahu.
"Ini bukan jenis racun yang main-main," bisik Astageni. Pandangannya terus mengqamati wajah Asena. "Dari wajah serta perawakan kamu, seperti bukan dari kalanagan rakyat biasa. Kamu ini habis bertarung dengan siapa?"
Cukup lama Astageni memeriksa kondisinya. Sambil menggenggam telapak tangan dan kaki yang sedingin es batu.
"Apsari!"
Gadis itu mendekat.
"Buatkan wedang uwuh buat dia. Badannya sangat dingin sekali."
"Ba-baik, Kakek."
Bergegas Apsari lari ke arah dapur. Dia langsung mengambil beberapa rempah yang sudah kering dan dimasukkan ke dalam air yang mendidih, di atas tungku kayu. Setelah selesai gadis itu membawa nampan dengan berhati-hati. Gelas batok yang dibawa, masih menebarkan aroma rempah yang kuat.
Kakek Astageni pun, terlihat sibuk menempelkan sebuah daun keladi yang telah kering. Dia meletakkannya di atas luka pada bahu dan paha. Daun keladi mampu menyerap racun yang ada pada luka dan di dalam tubuh.
"Semoga dia cepat siuman."
"Apa racunnya ini benar-benar ganas, Kek?"
"Kalau melihat dari luka yang seperti terbakar, dan membirunya kulit di sekitar luka ini. Hanya ada satu racun yang aku tahu dari mana asalnya."
Apsari memandang tajam, bahkan dia sampai menggeser tempat duduknya.
"Bilang, Kek. Dari mana asal racun ini?"
Astageni menggeleng.
"Dari wilayah Antapura. Tepatnya di wilayah Wulut Ireng."
"Di mana itu Kakek?"
"Cukup jauh dari sini, Apsari. Aku jelaskan pun percuma saja."
Gadis itu mengatupkan rapat bibirnya.
"Dan Wulut Irenng berada di bawah kerajaan Antapura yang dipimpin Sora Lembu Omkara. Dengan Mahapatih yang sangat kejam dan tidak punya hati, Palguna."
"Palguna?"
"Aku sangat yakin, racun ini berasal dari tangannya. Ada kemungkinan lelaki yang kamu tolong ini, seorang prajurit atau pendekar yang habis bertarung dengan pasukan Antapura."
Baru saja Kakek Astageni selesai bicara. Terdengar suara derap langkah yang berlari ke arah rumah mereka.
"Kulonuwon! Kakek Astageni!" teriak seseorang di luar rumah.
"Seperti ada orang Kakek."
"Kamu tunggu dia di sini. Kalau dia bangun berikan minuman itu. Semisal dia belum bangun juga, berikan pelan-pelan di bibirnya. Biar suhu badannya bisa normal kembali."
"Baik, Kek."
Astageni berjalan cepat keluar rumah. Di halamannya yang luas, dia melihat seorang lelaki muda tanpa mengenakan pakaian, telrihat bersedih.
"Kamu 'kan penduduk desa seberang sungai?"
"Benar sekali, Kek. Saya yang dulu pernah ditolong Kakek saat terkena patokan ular berbisa."
"Iya, aku ingat. Ada apa kamu teriak-teriak seperti itu?"
"Banyak prajurit Antapura yang berkeliaran di sekitar sini, Kek."
Berita itu membuat Astageni mengernyit.
"Bagaimana bisa? Ini bukan wilayahnya? Apalagi desa kamu masih masuk wilayah kerajaan Gurun Wangi. Bagaimana mereka bisa menereobos masuk?"
"Katanya mereka sedang mencari dua orang prajurit dari kerajaan Saloka."
"Saloka?"
"Benar sekali, Kek. Katanya desas desus para pedagang yang mampir telah terjadi peperangan di sana Kek. Masih katanya juga, Kerajaan Saloka telah hancur dan kalah!"