Byurrr!
Tubuh mereka terhempas tepat ke tengah sungai, dan hanyut oleh derasnya arus. Perjuangan dan keberanian yang ditunjukkan oleh Asena dan Ranujaya ternyata tak mampu melawan takdir yang harus mereka lalui.
Dari atas tebing, beberapa prajurit Antapura terlihat puas. Mereka berpikir telah berhasil membunuh sisa para prajurit kerajaan Saloka. Tidak pernah tahu, siapa sebenarnya yang telah mereka bunuh saat ini. Setelah memastikan tak ada lagi yang melarikan diri. Mereka pun pergi meninggalkan hutan Chandra Loka.
Arus sungai yang sangat deras, membawa tubuh Asena hingga ke hulu dan membawanya ke tepian. Sebuah batu besar membuat tubuhnya tersangkut. Dengan sebagian tubuh masih terendam air. Tetesan darah segar dari luka akibat anak panah membuat air di sekitar menjadi kemerahan.
Teriknya matahari siang, membuat tubuh atas Asena yang basah telah mengering. Busur panah masih melekat di paha, serta di bagian bahu. Terdapat darah yang masih menetes, membasahi sekitar batu dia terbaring. Wajahnya tertutupi oleh rambut yang sepanjang bahu terurai.
Sekian jam berlalu. Matikah dia? Kenapa masih belum ada pergerakan sama sekali?
Terdengar suara gemerisik bebatuan yang terinjak langkah seseorang. Berdiri seorang gadis, yang awal mulai ingin mengambil air di sungai langsung menghentikan niatnya.
"Apa ... aku tak salah melihat?" Sembari memicingkan mata. Walau ragu, dia memantabkan diri untuk mendekat.
Gadis manis menghampiri tubuh Asena. Langkahnya sangat berhati-hati, dengan pandangan yang awas ke sekitar sungai. Dia terpaku sesaat. Pandangan sang gadis tak bisa lepas dari sosok Asena yang tinggi tegap, sedikit berotot, dan berkulit kuning bersih. Membuat sang gadis mengerutkan dahi.
"Siapa dia ini? Dari perawakannya tak mungkin hanya seorang petani, atau rakyat biasa."
Kini sang gadis sudah berjongkok. Jemari tangannya maju mundur saat ingin menyibak rambut yang menutupi wajah Asena. Dia kembali termangu sekian detik. Dalam pikirannya saat ini, apakah lelaki ini mati?
Gadis menengok kiri kanan. Dia seperti mencari sesuatu. Sampai pandangannya tertumbuk pada sebuah ranting berukuran sedang dan tidak terlalu panajng. Segera gadis meraihnya. Dia menyibak rambut dari wajah Asena. Seketika tatap matanya tidak bisa berpaling, hanya tertuju pada wajah dengan kulit yang memerah. Hidung mancung, bermata sedikit meruncing, dan bibir kemerahan.
Wajah yang sangat tampan. Membuat hatinya tiba-tiba berdebar tidak karuan. Sampai gadis menekan dadanya sendiri, dan merasa aneh. Belum pernah dia seperti ini. Dia kembali mengamati sekujur tubuh Asena mulai dari ujung kepala hingga kaki. Tangan yang memegang ranting kembali bergerak mengarah pada tubuh Asena dan mengguncangnya.
"Hehhh! Bangun kamu!"
Gadis itu terus menyodok tubuh Asena yang terlentang di atas bebatuan. Namun tetap tidak ada gerakan sama sekali. Akhirnya dia putuskan memeriksa nadi Asena. Gadis langsung menyambar pergelangan tangannya. Menekan perlahan dan merasakan bahwa denyut nadi pemuda di hadapannya masih terasa.
Dia masih hidup," bisik sang gadis. "Sepertinya dia terluka parah. Dua anak panah masih tertancap kuat di paha sama bahu. Sepertinya aku harus beritahukan Kakek!" Pandangannya tak lepas dari wajah Asena yang benar-benar telah membuat dirinya terpukau.
"Dia tampan sekali. Seperti bukan pemuda biasa. Biar pun pakaian yang dia kenakan seperti umumnya rakyat biasa. Hqanya saja dia benar-benar berbeda,",gumam sang gadis terpesona.
Tanpa pikir panjang, dia yang semula ingin memanggil kakeknya. Mempunyai ide yang lain. Sang gadis mengambil air di sungai dan menyiram ke wajah Asena.
Byuuurrrr!
"Hehhh! Bangun kamu!"
Gadis itu mulai berani untuk mendekat. Wajahnya hanya berjarak beberapa inchi dari wajah tampan Asena. Dia juga memberanikan diri menepuk kedua pipi Asena bersamaan.
"Bangunlah! Biar aku bisa merawat luka kamu ini!" bisik gadis.
Tetap saja Asena masih belum bergerak sama sekali. Sambil menghela napas panjang, sang gadis tengah berpikir keras. Dia tidak ingin meninggalkan pemuda ini dalam keadaan terluka, tapi darah terus menetes dari luka tersebut.
"Sebaiknya panah ini aku cabut dulu. Selama ini 'kan Kakek sudah mengajari aku. Sekarang lah waktu yang tepat, aku melakukan pada orang lain."
Sang gadis mencoba mengangkat sedikit tubuh Asena. Sedikit demi sedikit, dia berhasil membuat Asena duduk bersandar di batu sungai yang besar.
"Baiklah, akan aku coba seperti Kakek mengajarkan padaku. Lumayan aku bisa berlatih."
Deru napasnya terdengar berat. Tampak dia menarik napas dalam-dalam. Sembari menahan bahu kiri Asena.
"Aku harus bisa mencabutnya dalam satu kali tarikan."
Setelah yakin dengan kemampuan dirinya. Gadis merobek celana Asena dengan belati. Setelah terlihat luka yang mulai membiru, sang gadis menarik cepat anak panah yang tertancap cukup dalam di bagian paha. Asena mulai bereaksi, menggeliat. Namun tetap saja dia masih juga belum sadar.
“Hemmm, sepertinya anak panah ini beracun. Luka di sekitar yang cepat membiru ini menunjukkan tingkatan racun ini, biar pun masih di tingkat tengah, tetap saja mematikan.”
Segera gadis mengambil air sungai dengan kedua tangan. Dia mengguyurkan kepada luka tersebut. Membersihkan dengan kain sisa sobekan celana Asena.
“Siapa yang melakukan ini? Kalau orang biasa sangat tidak mungkin. Apa … dia habis terlibat sebuah pertarungan?”
Gadis kembali memandag wajahnya sejenak. Lalu mengambil selendang miliknya, yang biasa dia pakai untuk menggendong tempayan berisi air.
“Kain ini tak cukup ternyata, aku harus pakai selendang itu!”
Geraknya sangat cepat. Dia langsung menarik paksa kain tersebut hingga sobek menjadi dua bagian.
Kraaakkk!
“Aku harus cepat membalutnya sebelum darah terus mengucur dari luka lelaki ini.”
Dari setiap Gerakan yang dilakukan gadis, sangat terlihat kalau memang dia mahir dan terlatih melakukannya. Tidak ada keraguan saat merawat luka bekas tanah. Bahkan dia bisa menilai kondisi luka dan racun yang bersarang di tubuh Asena.
“Sekarang bagian bahu. Tenang Apsari, kamu pasti bisa. Aku melihatnya di bagian bahu ini jauh lebih dalam dari yang paha,” bisiknya sambal menahan napas. Biar pun usaha pertama tidak ada kendala, tetap saja Apsari berdebar. Dia takut melakukan kesalahan.
Apsari meraih belati yang berada di ujung kaki. Dia langsung merobek baju Asena, dengan sekali Gerakan.
“Tahanlah, siapa pun kamu!” bisik Apsari. Dia menahan napas bersamaan dengan Gerakan tangan yang mencabut cepat anak panah dari bahu Asena. Seketika lelaki tampan itu menggeliat dan merintih kesakitan.
"Aaahhhh!"
Kedua matanya terbelalak. Spontan dia memegang bahu kiri yang kesakitan. Saat Asena sedikit mendongak. Seraut wajah sudah tersenyum lebar padanya.
“Tahan, aku akan membalut lukanya!”
Apsari segera mengambil sisa kain, dan mengikat pada luka di bahu yang terlihat lebih parah.
“Kamu telah banyak kehabisan darah. Jangan banyak bergerak.”
Apsari mengambil sesuatu dari balik pakaiannya. Lalu memberikan pada Asena. Minumlah!”
Asena memandang penuh curiga. Dia bahkan tidak bereaksi sama sekali saat Apsari memberikan dua butir obat padanya.
“Ini untuk meredakan nyeri dan mencegah racun itu menyebar. Minumlah!”
“Air … aku haus.” Suara Asena terdengar lemah. “Air!”
Apsari mengambil kendi yang dia letakkan berdekatan dengan tempayan.
“Minumlah bersama obat itu!”
Walau terlihat ragu, Asena tidak mempunyai pilihan lain. Dia segera meminumnya.
"Si-siapa Nyimas?"
"Panggil saja aku Apsari. Aku tadi lihat Kakang pingsan di pinggir sunyai."
Seperti teringat sesuatu. Asena ingin beranjak, tapi tubuhnya seperi kaku dan tak bisa dibuat bergerak cepat.
“Kakang … mau ke mana?”
“Di mana adek aku?”
“Haaaa … adek?” Apsari tidak mengerti dengan pertanyaannya. “Maksud Kakang?”
“Apa kamu melihat adekku, perempuan? Dia juga terkena panah.”
Asena terlihat sangat panik. Wajahnya berubah sangat tegang dan cemas.
“Ratna … Ratna Sekar,” desis Asena menahan perih pada tubuh dan hatinya.
Apsari bisa membaca perubahan itu pada wajah lelaki tampan yang terlihat sangat terpukul. Entah kejadian apa yang telah dia alami dan lalui. Gadis itu hanya menatap tajam, tanpa berniat sedikit pun untuk bertanya.