Segera Asena berlari kencang meninggalkan tempat itu. Bersama Ranujaya yang dia gendong. Langkahnya terasa berat saat menaiki jalan terjal dan cukup licin. Sesekali Asena melihat ke belakang. Dari tempat dia berdiri saat ini. Prajurit setia itu, terlihat berlari ke arah utara. Mengecoh para prajurit musuh.
"Kita juga harus segera pergi, Ranujaya!”
"Sebaiknya aku turun saja Kakang."
"Diam dan jangan banyak bicara!"
Seketika Ranujaya terdiam dan memeluk leher Asena. Dia tidak berani membantah kakaknya. Teringat kematian ayah dan bunda, membuat hatinya perih bagai teriris sembilu. Hanya Asena satu-satunya seseorang yang dia miliki saat ini.
'Kita tak akan tak akan pernah berpisah Kakang. Kita harus bisa meerbut kembali kerajaan kita!' bisik Ranujaya dalam hati.
Anmgin berembus kencang mempermainkan rambut mereka. Asena kembali bergerak cepat. Menyelinap di antara pepohonan yang semakin rapat. Suhu udara bertambah dingin bagai menusuk hingga tembus ke tulang.
“Kita harus bisa menemukan padepokan Wilis Putih, Ranu!” Berkali-kali Asena meyakinkan dirinya. Dia tahu semua ini pasti akan sulit. Terlebih dia baru pertama kali keluar dari istana dengan jarak yang jauh.
“Semuanya pasti bisa kita lakukan. Harus!” teriak Asena berulang. Sembari terus menyemangati sang adik, yang masih syok dengan semua kejadian menimpa mereka.
"Iya, Kakang. Berjanjilah untuk selalu bersama aku!"
"Pasti adekku."
Tiba-tiba, terdengar suara berdesing. Seperti sesuatu yang bergerak kencang, meluncur dalam kecepatan yang sangat tinggi. Menembus dedaunan. Seakan tengah memburu diri mereka. Asena langsung menoleh. Ternyata deru anak panah yang mulai mereka lepaskan. Hingga sebuah anak panah menancap di beberapa pohon yang ada di samping kiri kanan langkahnya berlari.
"Merunduk Ranu!" tegas Asena.
"Iya, Kakang." Ranujaya semakin erat mengalungkan tangannya. Dia ingin turun dan tidak membenani Asena. Namun kakaknya selalu melarang.
“Gila! Panah ini beracun, Ranu! Mereka menyerang kita dengan panah beracun? Sialan kau Wikrama!” Asena berusaha berkelit. Gerakannya cukup lincah. Dalam menghindari serangan. Desingan anak panah itu semakin terdengar santer dan mereka seperti tengah dihujani panah.
Sesekali Asena menoleh ke belakang. Dari kejauhan, dia bisa melihat semak belukar bergerak-gerak. Seperti ada seseorang yang sedang menebasnya. Saat matanya mamandang sejenak. Muncul beberapa orang prajurit Antapura dari balik pohon.
“Edan, ternyata benar-benar mereka!”
Lamat-lamat mereka bisa mendengar teriakan yang memantul dari lembah yang berada di bawah Asena berlari.
“Itu diaaa … kejar!” teriak salah seorang dari mereka.
Jalur yang mereka lalui semakin terjal dan licin. Tampak Asena berusaha terus berlari walau medan tempuh yang teramat sulit. Berulangkali Ranujaya meminta untuk turun.
"Kakang, di anatara kita harus ada yang selamat. Biarkan aku turun dan menyerahkan diri pada mereka."
"Jangan edan!"
Hampir saja Asena lengah dan hampir terjerembab.
"Kakang aku turun saja. Aku bisa berlari lebih cepat dari anak panah itu. Percayalah padaku! Kecuali Kakang memilih kita matai bersama."
Seketika hati Asena bergetar hebat. Adik yang dia sangka masih kecil dan tidak tahu apa-apa, bisa bersikap dan bicara setegas ini. Terpaksa Asena mengabulkan permintaannya. Dia melihat wajah sang adik yang pucat memerah seperti menahan sakit.
"Ka-kamu ... badan kamu gemetaran, Ranu?"
"Ayo, Kakang kita jalan!"
Ranujaya hendak terus berjalan, sampai pandangan mata Asena melihat ujung anak panah dari belakang punggung sang adik. Tubuhnya bergetar hebat. Dia langsung menarik tubuhnya dan memeriksa bagian punggung. Mata Asena terbelalak.
"Tidak ... tidak Ranujaya. Ke-kenapa kamu tidak bilang jika panah ini berhasil melukai kamu? Kenapa?!" Manik matanya bergetar, melihat wajah Ranujaya yang mulai memucat.
"Ka-kang ... teruslah berjuang untuk kerajaan kita!" Dengan terbata Ranujaya mengucapkannya. Tetes air mata tak mampu lagi dia tahan. Berulangkali Asena mengusapnya dan mencium wajah sang adik.
"Jangan ... jangan pernah bilang seperti itu, Ranu! Jangan mati, kita harus berjuang bersama-sama. Jangan pergi tinggalkan aku sendirian!" teriak Asena terisak.
Namun, Ranujaya berusaha tersenyum. Dalam hatinya saat ini hanya ingin menyusul kedua orangtuanya.
"Ma-maafkan ... aku Ka--"
"Tidak ... tidak! Kamu jangan mati, Ranu! Jangan matiiii!"
Tak peduli atas permintaan adiknya. Asena kembali menggendong Ranujaya. Berulang kali dia terjerembab. Hampir jatuh terjungkal. Namun tak membuat dirinya putus asa. Dia hanya ingin segera menyelamatkan sang adik dan pergi menjauh dari kawanan prajurit musuh.
"Kita kuat Ranu!"
Walaupun Asena seorang putra mahkota, yang belum pernah melakukan perjalanan seperti ini. Raut wajahnya yang putih bersih, tak melambangkan ketakutan sedikit pun. Walau air mata membasahi wajah. Hatinya sudah bertekad bulat untuk membalas semua ini. Apalagi melihat sang adik yang tubuhnya semakin lemas. Asena bisa merasakan dari pegangan tangan Ranujaya yang semakin melemah.
“Panah dia lagiiii!”
Terdengar dari jauh teriakan yang menyuruh memanah dirinya. Membuat Asena harus mencari celah atau batu besar untuk tempat bersembunyi.
“Cepat cari dia!” teriak salah satu prajurit.
‘Aku harus bisa lari dari hutan ini! Aku harus bisa naik ke atas bukit yang lebih tinggi itu!’ bisik Asena dengan pandangan menatap arah puncak. Sesekali dia menepuk pipi Ranujaya yang sudah tak menanggapi pembicaraannya. "Kamu harus kuat Ranu. Kamu tidak boleh meninggalkan aku sendirian. Kita harus berjuang bersama-sama."
Asena kembali bergerak pelan sembari merunduk. Diam-diam mulai bergerak menjauh. Tanpa sepengetahuan mereka. Asena menyelinap di antara bebatuan besar yang berada di pinggiran tebing yang curam, dengan sangat berhati-hati.
Tak jauh dari tempat dia berdiri. Terdengar suara gemericik air. Asena mencoba menengok. Tepat di bawah kaki, terlihat sungai yang arusnya sangat deras. Dengan langkah yang berhati-hati Asena mencoba menyusuri jalan setapak. Jalan yang dilalui sangat licin dan udara di atas bertambah lembab serta dingin.
Tiba-tiba, dia mendengar lagi teriakan dari kejauhan. Sepertinya parta prajurit musuh tidak melepaskan dirinya. Benar-benar memburu sampai dapat.
“Itu diaaa! Panah sekarang!!!”
Saat ini Asena mulai panik dan bingung. Apalagi ada tubuh sang adik yang harus dijaganya. Tidak ada tempat untuk bisa menghindar dan bersembunyi lagi. Kecemasan mulai melanda Asena, saat melihat beberapa anak panah, mulai menyerang dirinya lagi.
Dan ….
Wusss!
Sebuah anak panah melesat kencang mengarah pada Asena. Belum sempat dia mengelak.
Jleb!
Ujung anak panah telah menembus paha kanannya. Seketika tubuh Asena limbung. Dia tak bisa lagi menahan keseimbangan dirinya.
"Ranujaya ... Ranu!" Hanya satu kata yang sempat terucap darinya. Asena masih berusaha mati-matian menggendong tubuh sang adik, tetapi kekuatannya mulai melemah.
Di atas tebing yang curam, dengan ketinggian yang bisa membuat seseorang langsung mati dengan kepala hancur bila terjatuh ke pinggiran sungai yang berbatu. Asena mulai kehilangan kendali. Napasnya menderu dan mulai terasa berat. Dia merasakan d**a yang mulai sesak.
"Maafkan aku ... Ranu." Suaranya terdengar lemah, sembari berusaha mengusap rambut sang adik. "Maafkan ... Kakang."
Kedua kakinya tak mampu lagi menahan licin tanah yang dia pijak. Bahkan tangan yang memegang erat ranting pohon mulai melemah.
"Aaaaarghhh ... Ranuuuu!"
Byurrr!
Tubuh mereka terhempas tepat ke tengah sungai, dan hanyut oleh derasnya arus. Perjuangan dan keberanian yang ditunjukkan oleh Asena dan Ranujaya ternyata tak mampu melawan takdir yang harus mereka lalui.