"Sebenarnya Mas Azka bukan kakak kandung kalian."
Nala berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Perkataan Andra terus terngiang di telinganya. Setelah mengatakan itu Andra tak bicara lagi, menyisakan keterkejutan besar antara dia dan Nathan. Dan justru menyerahkan semuanya pada Azka yang akan menjelaskan semuanya.
Dan sekarang Azka sedang menjelaskan pada Nathan, sementara dia sedang menunggu gilirannya. Saat melewati kamar Nathan tadi Nala bahkan mendengar Nathan menangis. Apa semenyakitkan itu kehilangan kata kakak dalam status mereka?
Nala melangkah ke pagar balkon dimana sejak tadi dia menunggu. Dia menunggu Azka di balkon kamarnya. Entah kenapa ada sedikit perasaan lega dalam hati Nala. Sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan.
Meski nyatanya dia sedih dengan kenyataan itu, tapi tak dapat di pungkiri Nala juga sedikit merasa kelegaan dalam hatinya.
Karena ternyata perasaannya bukan perasaan terlarang dan tak seharusnya.
Dia tidak memiliki kelainan brother complex seperti kekhawatiranya.
Suara pintu di ketuk lalu terbuka menarik Nala dari lamunannya.
Nala menoleh pada pintu kaca yang menjadi penghalang antara balkon dan kamarnya dimana Azka berdiri menatapnya. Tak ada wajah lelah, atau sakit. Padahal dia baru saja mendengar pernyataan menyedihkan. Meski mungkin Azka sudah tahu, tapi tetap saja kenyataan dia bukan anak mama dan papanya membuatnya teringat luka masa lalu, kan?
Nala tersenyum, bagaimana bisa dia bahagia di atas kesedihan Azka. Dia hanya memikirkan perasaannya tanpa memikirkan kesedihan Azka selama ini.
Pria itu tahu sejak lama jika dia bukan anak orang tua yang selama ini mengasuhnya. Pria itu menyimpannya sejak kecil.
Azka melangkah dengan langkah tegap dan tangan yang di masukan ke dalam saku seolah dia begitu santai.
Nala mengerucutkan bibirnya menahan tangis, meski ada perasaan senang sebab Azka bukan kakak kandungnya. Tapi tetap saja rasa sedihnya juga besar, Nala mendekat lalu menghela nafasnya. "Mas udah tahu dari dulu?"
"Hm."
"Pantesan gak kaget." Nala merasakan setetes air mata mengalir begitu saja.
Benar, meski dia senang, tetap saja selama ini Azka adalah kakak terbaik untuknya.
Nala menoleh saat merasakan usapan di pipinya. Tangan besar Azka mengusap air matanya. "Mas tetap kakak kamu," ucapnya dengan lembut.
Nala menarik ingusnya yang hendak keluar, membiarkan tubuhnya di tarik dan di peluk Azka. Merasakan usapan di kepalanya seperti yang selalu pria itu lakukan saat menenangkannya.
"Gak ada yang berubah, kok. Kamu sama Nathan tetap adik Mas tersayang."
"Aku tahu." Nala memejamkan matanya membalas pelukan Azka. Pelukan terakhir sebagai seorang adik.
Setelah ini meski semua tetap sama, tapi kenyataan jika mereka bukan kakak adik akan memberi jarak tentang sebuah hubungan.
....
Nala melambaikan tangannya pada Maura yang menunggu di parkiran, sementara dia baru saja turun dari mobil Nathan.
Hari ini dia pergi bersama Nathan sebab katanya Azka harus mulai bekerja di kantor Andra.
Entah pukul berapa pria itu pergi, bahkan sejak pagi sudah tak ada di rumah dan tak sarapan bersama.
Suasana sarapan pagi ini diisi keheningan, bahkan Nathan pun mengunci mulutnya rapat. Ketegangan semalam masih menguasai hingga mereka hanya diam. Andra dan Kinan pun tak banyak bicara seolah membiarkan mereka berdamai dulu dengan kenyataan.
"Apa, apa?!" Maura menarik Nala untuk segera memasuki area kampus. Wajahnya nampak tak sabar mendengar apa yang akan Nala ceritakan padanya. Bahkan sejak semalam saat Nala mengatakan ada yang mau dia ceritakan Maura terus memaksa Nala untuk mengatakannya lewat ponsel saja. Namun Nala menolak dan mengatakan akan mengatakannya secara langsung di kampus. Karena itu Maura datang lebih pagi sampai menunggu Nala datang di parkiran kampus.
"Apa?" Nala pura-pura lupa membuat Maura berdecak.
"Mau amnesia beneran lo?" Nala terkekeh sementara Maura semakin kesal. "Lo tahu semalaman gue gak bisa tidur gara- gara lo. Gue gak bisa berhenti mikirin apa yang bisa buat lo sedih sekaligus seneng."
"Sepeduli itu lo sama gue?" Nala masih tersenyum.
"Kalau gue bilang nih, gue bakalan sedih kalau lo sedih. Gue bakal bahagia kalau lo bahagia." Maura memasang wajah melow dengan memegang dadanya.
"Gue percaya." Nala menggandeng tangan Maura dengan perasaannya menghangat. Dia tahu Maura setulus itu padanya. Meski mereka baru berteman dua tahun belakangan, namun saat bersama Maura dia sudah seperti dengan saudara. Bahkan saat dia merasa sedih karena Azka yang jarang memberi kabar, bersama Maura dia bisa sedikit melupakan kesedihannya.
"Jadi, apa masalah lo?" tanya Maura lagi.
"Tapi janji lo gak bakalan kasih tahu siapapun termasuk abang, mama, papa lo?" Maura mengangguk yakin.
"Ini masalah keluarga gue, dan kalau sampe bocor ini mungkin dari lo!" peringat Nala lagi. Maura menutup mulutnya menggerakkan tangannya seolah menutup resleting.
"Gue janji!" katanya dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
Nala menghentikan langkahnya membawa Maura untuk duduk di sebuah kursi. Sebelum benar-benar mengatakannya Nala melihat sekitarnya memastikan jika tak ada siapapun disana.
"Mas Azka bukan kakak kandung gue." Nala mengucapkannya dengan sekali helaan nafas. Baru setelahnya dia merasa lega.
"Apa?!" Maura berteriak membuat Nala berdecak lalu memukul lengannya.
"Jangan berisik!"
"Sorry," cicitnya, Maura menutup mulutnya dengan ekspresi syok. "Kok bisa? Gimana bisa? Gimana ceritanya? Terus sekarang kakak lo gimana?"
"Gak kenapa- napa. Yang di buat terkejut justru cuma gue dan Mas Nathan. Mas Azka justru udah tahu dari dulu."
Maura menatap sedih. "Gue pikir gimana perasaannya selama ini. Orang tuanya meninggal sejak dia usia lima tahun. Dan dia cuma mau sama Papa gue. Makanya pas mama sama papa menikah mereka angkat Mas Azka jadi anak."
Nala menghela nafasnya. "Gue jahat gak sih kalau gue juga seneng dengan kenyataan ini? Ya ... gue sedih tahu kenyataan Mas Azka bukan kakak kandung gue. Tapi gue juga seneng." Nala menunduk meremas tangannya. "Lo tahu kan perasaan gue sama dia." Nala menatap dengan berkaca- kaca.
Maura mengangguk. "Tapi dengan begitu lo gak perlu ngerasa bersalah lagi, kan?"
Nala tersenyum. "Gue bisa kejar dia kan?" tanyanya tak yakin, namun saat melihat Maura mengangguk pasti Nala semakin melebarkan senyumnya.
"Bisa. Pasti bisa!" Maura memberi semangat, tangannya dia kepalkan lalu mengangkatnya ke udara.
Namun bukannya bersemangat, senyum Nala justru hilang dan kembali murung. "Tapi meskipun bukan kakak kandung, dia kakak sepupu gue." Bahu Nala merosot lesu kedua tangannya saling meremas.
Maura terdiam, meringis, lalu menepuk pundak Nala. "Ini gak mudah. Bahkan meski gue bisa memenangkan hati Mas Azka dunia tetap menentang."
"Tapi mungkin lo harus berani ambil resiko? Bahkan nanti kalau emang seluruh dunia menentang lo, atau Mas Azka menolak, seenggaknya lo gak akan hidup dalam penyesalan karena gak pernah ngungkapin perasaan lo."