Benar kata Maura kalau sekarang dia tak mengungkapkan perasaannya, mungkin dia akan menyesal.
Tapi bagaimana dia memulai? Tentu saja dia harus bersiap diri untuk segala sesuatunya, kan? Termasuk mungkin di benci Azka.
Jika pria itu tak memiliki perasaan yang sama, mungkin juga mereka akan merasa canggung terlebih dirinya. Hubungannya dan Azka bisa tak sedekat dulu. Dan jika itu terjadi Nala harus siap dengan segala resikonya.
Nala meremas tangannya gelisah. Beberapa hari ini dia memikirkan ucapan Maura tentang mengungkapkan perasaannya sebelum terlambat. Di sebelahnya Nathan masih menyetir dengan fokus dalam perjalanan ke kampus pagi ini.
"Mas waktu kamu nembak Sandriana gimana caranya sampe kamu bisa di terima?" Sandriana adalah pacar Nathan yang pria itu tembak satu tahun lalu, dan hubungan mereka masih bertahan hingga sekarang.
Nathan yang awalnya fokus menyetir menoleh dengan mengenyit.
"Kenapa nanya itu?"
"Mau tahu aja." Nala memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Nathan yang menyelidik.
"Jangan bilang kamu mau nembak cowok?"
"Gak papa, kan? Aku udah gede." Jangan- jangan Nathan juga menganggapnya anak kecil seperti Azka.
Nathan menatap Nala dengan serius mencoba mencari kebohongan di wajah Nala, namun wajah serius Nala menunjukkan semuanya.
"Serius, Dek?" Beberapa saat Nala tak menjawab dan hanya cemberut.
"Aku cewek normal," ucapnya setelah menimbang.
Nathan mengangguk dengan ekspresi tenang.
Benar, ini harusnya ekspresi normal seorang kakak. Dan Nala melihatnya berbeda dari reaksi Azka tempo hari.
"Meskipun begitu, siapa cowoknya harus kasih tahu, Mas. Biar Mas liat cowoknya baik atau enggak." Nala melihat ekspresi Nathan tetap tenang, bahkan meski khawatir, Nathan tak menggebu-gebu seperti Azka.
Nala mengerjapkan matanya. Kalau yang ada di pikirannya benar, maka Azka memang tak suka dia dekat dengan pria lain.
Tapi kenapa?
"Mas, kalau nih ..." Nala menjeda ucapannya menatap Nathan dengan serius, lalu melanjutkan "kalau Sandriana jalan sama cowok lain, terus si cowok itu suka sama Sandriana, perasaan Mas gimana?"
"Ya marah lah, gila! Enak aja, gak rela Mas, cewek Mas jalan sama cowok lain."
Nala mengulum senyumnya saat melihat wajah Nathan cemberut dengan mata penuh kemarahan. Benar ini ekspresi cemburu.
Nala tiba-tiba teringat akan ucapan Maura beberapa hari lalu.
"Tapi ... ini cuma bentuk posesifnya seorang kakak ke adeknya, kan?"
"Maksud lo, apa?"
"Kakak lo udah kayak cowok yang lagi cemburu ngeliat ceweknya di deketin cowok lain."
Jika perkiraannya benar maka Azka juga sedang cemburu padanya saat Resa mendekatinya, dan yang Maura katakan tentang Azka benar.
Apakah Azka juga memiliki perasaan yang sama dengannya?
"Oh, oke. Jadi gimana cara Mas ungkapin perasaan?"
"Meskipun kamu udah gede dan normal merasakan perasaan itu. Masa kamu harus ungkapin duluan? Kamu cantik, pria mana yang gak akan jatuh cinta. Kenapa kamu harus repot harus menyatakannya duluan?"
"Emang kenapa? Cantik tuh relatif, Mas. Zaman sekarang cewek ungkapin duluan juga gak papa. Lagian kalau nunggu di tembak gimana kalau dia keburu di rebut orang?"
"Emang sekeren apa orangnya sampe kamu ngebet begitu?"
Nala tersenyum. "Yang pasti lebih keren dari Mas Nathan."
"Dasar!" Nathan tersenyum. "Terus siapa orangnya? Mas harus pastiin dulu orang itu baik atau enggak."
Nala menggeleng. "Aku gak yakin dia nerima aku, jadi aku gak akan bilang sampe dia bener- bener nerima aku." Kalau sampai Nathan tahu lebih dulu saudara kembarnya itu pasti akan melarangnya mengungkapkan perasaannya.
Nathan berdecak. "Emang siapa yang berani nolak kamu. Mas yang maju tenang aja."
Nala meringiskan kekehan. "Jadi gimana caranya Mas nembak Sandriana?"
"Hm, Mas bawain yang dia suka—"
....
Jadi saat pulang Nala mengambil pensil, kertas gambar lalu membuat sketsa. Garis yang awalnya dia buat samar semakin jelas saat dia terus mengukir apa yang menjadi imajinasinya.
Selama melakukannya, Nala tak bisa tak tersenyum. Garis melengkung itu seolah menunjukkan perasaannya.
Gambar yang dia buat sepenuh hati.
Berharap Azka akan menyukainya. Sejak dulu Azka selalu suka gambar yang dia buat. Pria itu bilang gambar buatannya adalah yang paling dia sukai, dan selalu akan dia sukai.
Jadi, Nala membuat yang terbaik yang dia bisa untuk dia tunjukkan pada Azka.
Ketukan pintu membuat Nala menghentikan gerakannya lalu menutup buku sketsa saat pintu terbuka.
"Dek, ayo makan." Suara Nathan terdengar membuat Nala mengangguk, lalu beranjak dari duduknya.
Usai makan malam Nala kembali menyelesaikan gambarnya, hingga tengah malam dia masih berusaha menyelesaikan gambarnya agar besok pagi Nala bisa memberikannya pada Azka.
Pagi harinya, Nala siap lebih pagi agar bisa berangkat bersama Azka, dia bahkan menunggu pria itu di depan mobilnya.
"Mas," panggil Nala saat melihat Azka keluar dari rumah. Wajahnya tersenyum secerah mentari membuatnya nampak cantik dan manis.
"Nala?" Azka mengerutkan keningnya saat melihat Nala berdiri di depan mobilnya.
"Mas aku numpang mobil kamu sampe ke kampus, ya?"
"Kamu udah sarapan?" Azka memasukan tas kerjanya kedalam mobil.
"Mas juga belum." Setelah bekerja Azka jarang sarapan di rumah. Alasannya selalu ada banyak pekerjaan yang tertunda terlebih dia baru saja masuk kantor, jadi banyak hal yang harus dia pelajari.
"Mas biasa makan di luar, atau sarapan roti di jalan. Kamu harus jaga kesehatan, jangan sampai sakit." Azka mengusak rambut Nala membuat Nala mencebik.
"Mas jangan rusak rambutku!" Nala tak suka. Dia bukan anak kecil atau bahkan adik Azka lagi.
"Kita sarapan di luar yuk, Mas?" Nala memberi ide seolah itu perkataan spontan, padahal dia sudah merencanakan akan mengajak Azka sarapan sambil mengungkapkan perasaannya.
Azka menghela nafasnya, "Oke, ayo masuk." Azka membuka pintu mobil untuk Nala membuat senyum Nala mengembang seketika.
Nala duduk dan menunggu Azka memasuki kemudi. Saat berjalan melihat Azka memutari mobil Nala tersenyum penuh kekaguman. Entah apa tanggapan Azka nanti yang pasti dia juga akan menerimanya.
Ini adalah keputusan besar yang Nala ambil. Nala tahu setelah ini hubungannya dan Azka tak akan sama lagi.
Entah Azka akan menerimanya atau tidak.
Nala menunduk murung membuat Azka mengerutkan keningnya. "Kenapa, ada masalah?"
Nala mendongak lalu menggeleng, bibirnya kembali tersenyum seolah tak terjadi apapun. "Kalau ada apa-apa bilang sama Mas. Jangan di pendam sendiri."
Nala mengangguk. "Mas makan disana." Nala menunjuk sebuah rumah makan.
"Boleh." Azka membawa mobilnya ke tepi lalu berhenti.
Setelah memesan makanan Azka dan Nala duduk di sebuah kursi. Duduk berhadapan dengan meja kecil di tengah-tengah. Hingga tak menunggu lama makanan mereka muncul dan tersaji di meja dan mereka pun makan dengan hening.
Nala menyuapkan beberapa sendok makanan meski sebenarnya dia tidak terlalu bernafsu karena rasa gugup yang semakin menyerang, hingga Azka selesai barulah Nala menyimpan sendoknya.
"Kok gak di abisin?" Azka melihat makanan di piring Nala masih banyak.
"Enggak ah, aku udah kenyang." Nala menghela nafasnya. "Sebenarnya ada hal yang mau aku omongin sama Mas Azka."
Azka mengangguk tersenyum, "Apa? Ngomong aja."
Nala tersenyum membuat senyum Azka semakin lebar, hingga perkataan Nala selanjutnya membuat Azka tertegun dan kehilangan senyumnya.
"Mas, Aku suka kamu."