Prolog
"Stop eating, Isma!" teriak Isabel, "you will become more fat," lanjutnya.
"Who's care, if I'm fat," jawab Isma, sekenanya.
"I do." jawab Isabel tegas, "look, if you have something bothering your mind, you have to talk to me, there something you have to share. Not everything you keep it, a lone."
"Hadeh, mulai dech, dia ngedumel kayak emak-emak."
"What?!"
"Nothing!"
(Hadeh, starting dech, she is annoying same emak-emak)
Mata Isma membulat sempurna, saat Isabel memperdengarkan translate dari kalimat yang diucapkannya tadi. Dia mempergunakan goegle translate, "suara khas dari goegle translate bikin kepalaku tambah pusing,"
"Crazy! stop talking bahasa!"
"Emang gue pikirin, lho mau gila ya gila sendiri, nggak usah ajak-ajak."
Isma ngakak.
"Seriously, tell me who drive you crazy?" tanya Isabel, serius.
"Nothing!"
"Ok, Fine. Do one thing, stop eating! start write down something that you not able to share with. After that, you have to go to salon! Look, you never realize that you doesn't care for your outfit, your skin are peal, your eyes is seem don't have enough sleep.
Do massage and have good sleep, when you are well only, you may come back to office!"
Isma terpaku, mendengar ucapan Isabel yang panjang lebar. Isabel membuyarkan keterpakuannya dengan merapikan meja, memasukkan semua barang-brang ke dalam tas lalu memberikan tas itu ke dalam genggaman.
Detik berikutnya, Isabel membimbingnya untuk berdiri, menyelipkan sebuah voucher ke dalam genggaman. Voucher appoitment salon langganan. Lalu mengusirnya dari kantor. Isma masih sempat terpaku di depan pintu, wajahnya menatap Isabel penuh tanda tanya. Tanpa memperdulikan tatapan Isma, Isabel berteriak sambil memberinya isyarat untuk meninggalkan kantor.
"HAVE A GOOD DAY!"
Isma, membalikkan badan lalu melangkah malas meninggalkan kantor sambil memeriksa voucher di tangan. Voucher itu lengkap, untuk perawatan rambut, kulit, kuku tangan dan kaki juga spa.
"Sepertinya, si bawel itu akan mengurungku di salon seharian."
Beberapa bulan ini, dia memang sudah tidak pernah memperhatikan pemampilannya. Ia, benar-benar cuek bebek. Tubuhnya juga dibiarkan melar, perempuan yang biasanya selalu rajin olahraga, diet dan ke salon, hanya supaya bisa tampil perfect, tiba-tiba berubah sembilan puluh derajat.
Isma sudah berada di belakang kemudi, lalu mulai melajukan mobil meninggalkan basemant. Mobil melaju perlahan, mulai memasuki jalan utama. Jalan utama agak sepi, karena memang jam kantor.
"Kang Mas Hujan, sampai kapan kau akan mengabaikanku? Sebesar itukah kesalahanku? Hingga kau melakukan semua ini padaku?"
Pikiran Isma mengembara tentang kekasihnya sambil menyetir, tanpa dia sadari, airmatanya mulai menetes membasahi pipi. Rasa rindu di d**a, memang menyesakkan.
CIIIIIIT_______! GLODAK-GLODAK, GLOGAK, BRAAAAK!
Suara rem berdecit dari arah yang berlawanan, mobil itu berguling-guling beberapa kali sebelum akhirnya menghantam mobil yang sedang ia kemudikan.
Isma tergagab dari lamunan, tapi sudah tidak sempat menghindar. Mobilnya tertabrak dengan sangat keras. Bola matanya masih sempat merekam beberapa detik, sedan hitam mentalik warna hitam itu bernomor plat BH-752.
Mobilnya terpelanting menghantam pembatas jalan dan ringsek, Ia masih memegang kemudi saat mobilnya berhenti. Tapi kakinya terjepit, sedang dari pelipisnya keluar darah segar. Darah itu mulai mengalir membasahi wajah. Kepalanya memang sempat terangakt tinggi laku menghantam kemudi dengan sangat keras.
Perlahan ia mengusap darah dengan telapak tangan, gemetaran ia menatap darah yang membasahi telapak tangannya. Detik selanjutnya Ia melepas sit belt, lalu susah payah berusaha melepaskan kaki yang terjepit. Lama itu mencoba segala cara agar kakinya yang terjepit terbebas, tapi sia-sia. Ia mulai menangis, sambil terus berusaha melepas kakinya. Saat Ia sadar semua usahanya sia-sia, ia mulai histeris. Ia menangis meraung-raung, seperti anak kecil. Takut, bingung, ngeri campur aduk jadi satu. "bagaimana kalau aku nggak bisa keluar? lalu mobil ini meledak?" pikirannya mengembara kemana-mana, ke arah kematian.
"KNOCK, KNOCK, KNOCK!"
Ia menoleh, tersentak, dari balik kaca seseorang mengetuk kaca mobil, "Kang Mas Hujan?!" gumannya bingung, akal sehatnya berkata, "bagaimana mungkin, Kang Mas Hujan ada di sini, sekarang?"
Sementara, laki-laki di balik kaca mobilnya, berteriak memintanya untuk membuka pintu. "OPEN THE DOOR! OPEN IT RITGH NOW!"
Isma malah terpaku, memandangi wajahnya penuh cinta. Rona kebahagiaan tergambar jelas.
Panik, laki-laki itu berusaha menyadarkan Isma, tapi segala usahanya sia-sia. Matanya celingukan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memecahkan kaca mobil. Matanya tertuju pada pembatas jalan yang retak karena tertabrak mobil milik Isma. Tergesa Ia berlari ke arah pembatas jalan yang retak, ditendangnya berulang-rulang hingga retakan itu terlepas, pecahan retakan itu lalu di bawanya kembali ke mobil milik Isma. Kemudian dihamtamkan ke kaca mobil sekuat tenaga.
PRAAAK!
Kaca mobil pecah, menyadarkan Isma. Laki-laki itu, mengulurkan tangan, membuka pintu mobil yang terkunci. Lalu tergesa menolong Isma. Isma masih terisak dalam tangis.
"Relax please, I will keep you out," ucapnya sambil berusaha mengeluarkan kaki milik Isma yang terjepit. Setelah beberapa saat, "finally," ucapnya lega. Kaki milik Isma telah terlepas. Lalu, Ia membopong tubuhnya dan mengeluarkan dari mobil, dia melangkah tergesa menjauh menuju mobil ambulan yang baru datang di lokasi.
Wajah Isma terlihat linglung, karena sekarang ia menyadari bahwa laki-laki yang sedang membopongnya bukan Hujan, tapi orang lain, yang tidak ia kenal. Bukan hanya itu, keadaannya lebih mengerikan dari dirinya. Wajahnya berlumuran darah, ada luka dari kepala dan pelipis yang terus mengeluarkan darah. Beberapa bagian tubuhnya juga terluka, terlihat dari rembesan darah yang mulai membasahi baju. Isma, menatap lekat laki-laki yang membopongnya dengan tatapan ngeri bercampur bingung. Kira-kira dua meter langkah kaki-laki itu menjauh, tiba-tiba_______.
BOOOOM!
Laki-laki itu tersentak, pun Isma demikian. Reflek, Isma memeluknya, erat. Sementara, laki-laki itu, membalikkan tubuh ke arah suara. Ia jatuh terduduk, tubuh Isma menindihnya. Bola matanya terbelalak, tidak percaya, mobil milik Isma telah meledak.