Hari Sabtu pagi terasa sepi tanpa ada tegur sapa Hans. Biasanya setelah salat Subuh Hans selalu telepon atau video call bahkan chatting via WA. Zara mulai merasakan rindu pada Hans.
“Ra ... kamu mau beli apa saja untuk seserahan?” tanya Bu Halimah.
Saat itu terlihat Zara sedang tidur-tiduran di kamarnya. Hans menyerahkan sepenuhnya pada Zara untuk belanja persiapan seserahan. Hans sudah menyerahkan sejumlah uanang untuk maskawin. Pengusaha muda itu juga sudah menyiapkan cincin, gelang dan kalung berlian serta seperangkat alat salat.
“Zara udah beli daster, Bu,” ujar Zara singkat.
“Kamu beli lingerie gak?” tanya Bu Halimah.
“Ihh aku ga suka lingerie, Mam … ngeriii terlalu seksi dan transparan.” Zara bergidik dengan gaya yang lucu.
“Ra … lingerie memang baju seksi. Tapi menyenangkan hati suami itu harus lho! Tampil beda dan lebih cantik depan suami kan sama seperti ngasih hadiah buat suami. Menikah itu kan udah halal. Jadi sah-sah aja dong kalo istri tampil seksi di depan suaminya. Istri harus membahagiakan suami biar mereka tambah sayang. Memberikan sesuatu yang manis untuk suami itu kan ibadah, Ra,” ujar Bu Halimah panjang lebar sambil tersenyum.
Zara terdiam tidak merespon. Dia tidak ingin berdebat. Bu Halimah menghela napas panjang, paham betul dengan sikap anak gadisnya yang keras. Akhirnya, Bu Halimah keluar kamar tanpa berkata-kata. Zara merasa bersalah tapi tetap hatinya berontak. Baginya lingerie bukan pakaian wajib untuk memasuki pernikahan. Zara lebih suka memakaikan piyama.
”Duh, masa sih hanya soal lingerie, aku sama Mama mesti berdebat,” keluh Zara dalam hati.
“Lagian ihhh malu banget pake baju tipis gitu di depan Hans.”
Diam-diam Bu Halimah menelepon Ovie di kamar nya.tak lama Bu Halimah bersuara. Ovie sudah terbiasa memanggil Bu Halimah dengan sebutan Mama.
“Vie ... maaf nih Mama ganggu sebentar,” sapa Bu Halimah.
“Ga papa Ma … ya Ma ada yang bisa Ovie bantu?” tanya Ovie santun.
“Mama tuh bingung mesti gimana ngadepin Zara. Ampun deh Mama sih!” keluh Bu Halimah.
“Zara kenapa Mam …?” tanya Ovie.
“Gini lho … Mama kan ngasih saran supaya Zara beli lingerie. Eh dia malah protes. Zara gak suka baju tipis lah, menerawang lah, tembus pandang lah. Padahal kan lingerie bagus buat nyenengin suaminya nanti,” ujar Bu Halimah panjang lebar.
“He he … ya Mam. Saya udah ngasih saran juga biar Zara beli lingerie. Tetep Zara gak mau beli,” ujar Ovie sambil tertawa pelan.
“Ohh Ovie udah ngasih tahu Zara juga? Duhh emang susah Zara sih. Gak bisa dikasih tahu.
Setelah selesai menelepon Ovie, Bu Halimah langsung ke dapur menyiapkan hidangan dan mencuci piring.
Selama masa pingitan itu, Zara dan Hans memutuskan hanya hari Senin saja masuk ke kantor. Itu pun tidak ada saling kontak. Mereka tidak ingin melanggar perintah kakek. Hari Selasa sampai mendekati hari H, mereka berada di rumah masing-masing. Hans memutuskan untuk bermain bersama keponakan di rumah baru yang nantinya Zara akan diboyong ke sana. Rumah mewah yang dilengkapi kolam renang, taman luas yang tertata rapi, penuh tanaman dan bunga-bunga cantik juga. Ada kolam ikan yang penuh ikan hias menggemaskan.
Zara dan Hans memilih cat putih untuk mewarnai dinding rumahnya. Dapur di desain menarik oleh Zara dengan melukis di tembok. Di dinding juga terpasang lukisan alat perkakas dapur seperti piring, sendok, dan yang lainnya untuk mempercantik dapur. Hans sampai berdecak kagum menatap hasil sentuhan tangan Zara yang piawai menyulap dapur menjadi cantik. Pemilihan sofa dan meja makan, mereka menggunakan warna-warna cerah agar terkesan lebih ceria.
Sementara Zara sibuk membuat cookies dan lainnya untuk semua undangan yang akan datang ke rumah nanti. Zara tidak ingin cuma mengurung diri terus di kamar yang ada nantinya terus ingin ketemu Hans dan itu akan membuat kepalanya terasa sakit. Bu Halimah sudah melarang Zara untuk tidak sibuk di dapur karena tidak ingin Zara kelelahan sampai menjelang hari pernikahannya. Tapi yang namanya Zara yang satu ini tetep keras kepala, daripada tampil sedih dan cemberut, akhirnya Zata diperbolehkan bersibuk-sibuk di dapur.
Hans terlihat menikmati kebersamaannya dengan para keponakan. Mulai dari berenang, memasak bersama juga main game di ruang keluarga. Siang itu semua keponakannya sudah tertidur pulas, Hans memutuskan untuk menelepon Ovie.
“Assallamualaikum,Vie … maaf ganggu nih,” sapa Hans.
“Waalaikumsalam, Mas … tumben nih telepon! Ada yang bisa aku bantu?” jawab Ovie ramah.
“Gini Vie … mo nanya nih. Zara suka baju lingerie gak ya?” tanya Hans.
“Ovie kan deket banget sama Zara, pasti tahu lah seleranya gimana?”
“Ha … ha … duhh kok ya sama nih sama Mamanya Zara pada bahas lingerie ke aku,” ujar Ovie tertawa lepas sambil mengecilkan volume TV di depannya.
“Kok Bu Halimah bahas lingerie, memangnya kenapa?” tanya Hans penasaran.
“Ya … Bu Halimah telepon aku tadi, Mama mengeluh soal Zara yang gak suka lingerie,”
“Ohhh jadi Zara gak suka lingerie ya? Tadinya saya mo ngasih kejutan ngasih lingerie,” ujar Hans.
“Zara memang gak suka baju yang seksi-seksi, Mas. Alergi dia … Bu Halimah kan ingin Zara tampil beda, biar lebih cantik untuk menyenangkan hatimu,” ujar Ovie panjang lebar sambil tertawa ringan.
“Kira-kira Zara bakalan marah gak ya kalo saya ngasih lingerie?” tanya Hans.
“Mmmm … kalo Mas ngasih lingerie, Zara kayaknya gak bakal marah. Paling dia kaget doang,” ujar Ovie sambil tertawa ringan.
“Tolong bantu saya buat beli lingerie ya, nanti saya transfer uang ke rekeningmu ya, Vie?” pinta Hans.
“Boleh … kebetulan adikku yang cewek buka butik yang juga menjual lingerie dan pakaian dalam,” ujar Ovie bersemangat.
“Nanti minta rekeningmu ya, Vie?”
“Siap … Mas. Model dan warnanya mau yang kayak gimana nih?” tanya Ovie.
“Saya serahkan semua ke Ovie. Terserah mau model dan warnanya apa. Ya, kalau bisa ada warna merahnya ya? Saya pesan 8 pieces lingerie ya?” pinta Hans.
“Saya tunggu rekeningmu ya, Vie?”
Setelah ngobrol panjang lebar, Hans menutup teleponnya dan berharap nanti Zara tidak marah.
Duhh bisa gagal nih momen malam pertamaku, keluh Hans dalam hati sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Besok paginya adik Ovie datang ke rumah Hans membawa lingerie pesanan. Ternyata lingerie-lingerie itu terlihat cantik dan seksi. Hans menggeleng-gelengkan kepalanya tidak ingin membayangkan Zara memakai lingerie ini. Pikirannya tidak ingin dikuasai nafsu sehingga setan merasuki jiwa dan raganya. Hans tidak ingin seperti itu.
Setelah adiknya Ovie pamit pulang, Hans merapikan dan menyimpan lingerie itu satu per satu ke dalam kotak besar berbentuk hati. Kotak itu sudah disiapkan seminggu yang lalu. Hans sengaja membelinya di mall tanpa sepengetahuan Zara. Ditambahkannya pita merah dan pada kotak itu diikat dengan cantik. Nanti di hari H nya, Hans ingin menambah setangkai bunga mawar segar di atas kotak itu. Senyuman puas tersungging di bibirnya karena bisa mewujudkan keinginannya.
Tak terasa hari berganti. Kamis malam ada pengajian bersama di rumah Zara untuk acara syukuran menyambut pernikahan, Begitu pula di rumah Hans menggelar acara yang sama. Doa-doa dipanjatkan agar semua dilancarkan untuk pernikahannya nanti. Hans berharap pernikahan yang dibina nantinya langgeng sampai maut memisahkan. Dan dikaruniai pernikahan yang sakinah, mawadah dan warohmah. Zara dan Hans diliputi rasa haru dan bahagia bisa sampai ke titik ini di mana akhirnya momen yang menyentuh pun tercipta. Peluk cium dan isak tangis bahagia pun pecah saat acara sungkeman berlangsung. Zara dan Hans ingin menutup acara pengajian dengan momen sungkeman kepada kedua orang tua keduanya. Seluruh keluarga, tetangga dan sahabat keduanya pun hadir untuk mendoakan. Acara berlangsung hikmat dan semuanya terlihat bahagia.
Zara terlihat begitu cantik dalam balutan gamis warna abu-abu dan kerudung warna biru dongker tampak mempercantik tampilannya. Zara berharap Hans kelak tidak akan menghalangi kariernya di kantor. Masih saja Zara memikirkan kariernya di tengah momen penting ini. Zara memang selalu ingin mewujudkan cita_citanya menjadi direktur perusahaan ternama. Baginya memiliki jabatan tertinggi adalah suatu prestasi yang membanggakan. Bisa bertemu dengan orang-orang profesional dan tampil elegan. Zara berusaha untuk menepiskan dulu soal jabatan yang ingin diraihnya. Zara ingin fokus ke pernikahan yang sebentar lagi akan membuatnya menjadi Nyonya Hans.