KEJUTAN MANIS

817 Words
Hari Jum’at nya Hans berencana ingin memberikan kejutan manis untuk Zara. Dia ingin masak di rumah Zara khusus untuk dia  dan keluarganya. Hans memang piawai dalam masak-memasak. Dahulu neneknya banyak mengajari Hans memasak, ditambah belajar memasak dari temannya yang berprofesi sebagai chef di hotel ternama. Hans mengutarakan keinginannya pada Bu Halimah dan Hans memutuskan untuk memilih menu masakan seafood. Pertama Hans akan belanja bahan masakan nya di Supermarket. Sebelumya Hans juga meminta pada Bu Halimah untuk merahasiakan hal ini. Bu  Halimah menyetujuinya, nanti di hari H nya Bu Halimah yang akan membuat skenario. Maklum jika Zara larut dengan kesibukannya di kantor. Zara selalu menolak ajakan dari siapa pun. Sulit untuk janjian dengan Zara yang akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaannya. Hari Sabtu pun, Zara masuk kantor dan berlanjut mengunjungi panti asuhan yang dimilikinya. “Tenang Nak Hans … nanti Ibu akan merahasiakan hal ini dan Ibu nanti mo nyari alasan yang tepat supaya Zara mau menuruti kata-kata Ibu.” “Terimakasih ya, Bu …,” ujar Hans santun. “Sama-sama terima kasih ya, Nak Hans.Terima kasih lho Nak Hans udah mau repot-repot kasih kejutan untuk Zara,” ujar Bu Halimah lembut. “Sama-sama, terima kasih juga, Bu. Nanti tolong Ibu kasih tahu saya jam berapa baiknya harus datang ke rumah, hari Sabtu nanti.”  “Ya Nak Hans, nanti Ibu kasih tau ya?” balas Bu Halimah. “Siap … saya pamit, Bu. Assalamuallaikum.” “Waalaikumsalam,” balas Bu Halimah. Kliik Hans menutup Hpnya. Hans senang Bu Halimah menyambut baik niatnya untuk memberi kejutan. Hari yang dinanti pun tiba. Hans mulai bergerak ke supermarket dan memilih  ikan laut dan yang lainnya. Tak luap buah-buahan segar untuk dipadu dengan ikan laut. Hans ingin membuat bumbu rujak ikan laut dan menu seafood lainnya. Duhh mantap nih! Selesai belanja, Hans langsung ke area parkir. Baru saja duduk di mobil, dering HP berbunyi. Dilirik Hp-nya ternyata dari Bu Halimah. Singkat cerita, Hans segera melaju ke rumah Zara sesuai jam yang sudah ditentukan Bu Halimah. Sesampainya di rumah Zara, Hans disambut baik Bu Halimah dan Pak Imam. Beliau segera mengantar Hans menuju dapur. Dengan cekatan tunangan Zara itu memotong dan mencuci ikan laut hingga akhirnya mengolah menjadi menu spesial. Bu Halimah membantu meracik bumbu sambil memperhatikan langkah demi langkah yang dilakukan Hans. Decak kagum Bu Halimah memuji Hans dalam hatinya. Tak disangka calon menantunya ini bisa memasak ala chef di restoran ternama. Bu Halimah sudah meminta Zara untuk segera pulang dengan alasan ada tamu yang mau membeli villa di Bogor. Zara pernah meminta kalau tamu yang dimaksud itu datang, segera hubungi Zara. Sebentar lagi Hans merampungkan aksi masak-memasaknya. Tak lama hidangan masakan sudah tersaji di meja makan. Aroma masakannya begitu menggiurkan. Mmmm Bu Halimah tak sabar ingin mencicipi masakan Hans. Ayahnya Zara pun membantu merapikan piring, gelas dan sendok. Tiga puluh menit kemudian, Zara tiba di rumah. Dia merasa heran karena tidak terlihat mobil tamu yang diparkir di garasi rumahnya. Bu Halimah menyambut Zara dan menyuruhnya untuk langsung menuju ke dapur. Zara mengernyitkan dahi, terheran-heran, Kok di dapur sih? pikir Zara. Saat kaki Zara tiba di dapur, terlihat Hans lagi masak di dapur. Ternyata Hans masih sibuk membuat tomyam. Zara melongo melihatnya. “Hans …?  Kamu … kamu ngapain di dapur? Yaa ampuun kamu masak? Ini acara apa ya? Kok banyak banget masakannya.” Mata Zara terbelalak menatap masakan yang menggugah selera itu. Mulut Zara sampai terbuka karena merasa kaget melihat masakan ala restoran ada di meja makannya. “Sayaang … he he kaget kan liat masakannya? Kaget ya liat aku ada di sini?” kata Hans sambil tertawa ringan. Hans tambah gemas melihat Zara terpesona dengan masakannya. “Hans … aduhh kamu repot-repot gini deh! Ini kan seafood mahal?” ujar Zara sambil geleng-geleng kepala. Sambil menatap Hans dia berkata, ”Makasih ya, Hans,” ujar Zara seraya tersenyum. “Sama-sama … nih tomyamku udah jadi. Mmmm … mantap nih dimakan selagi masih panas nyam-nyam.” Hans berkata sambil tersenyum. Bu Halimah dan Pak Imam tertawa melihat gaya candaannya Hans. Zara hanya tertawa ringan. “Yuk kita makan bareng!” ajak Hans. “Heru mana ya ...?” Hans menanyakan adiknya Zara. “Heru tadi pamit ke Ibu, katanya sih dia mau main basket sama temennya. Abangnya Zara juga pergi sama temennya,” jawab Bu Halimah. Akhirnya mereka makan siang bersama. Hans merasa senang kejutannya berhasil dan membuat Zara terpesona. Hans mengunyah hidangan sambil sesekali menatap Zara. AAihhhh Zara tersipu dibuatnya. Tak terasa seminggu lagi pernikahan Zara dan Hans akan digelar di hotel mewah. Sesuai amanat dari kakek Zara, mereka harus menjalani prosesi pingitan. Karena aturan mereka tidak boleh saling menelepon, video call atau kontak lainnya. Termasuk chat di WA dan di media sosial lainnya. Jangankan berkirim kabar, saling mengirim foto pun tidak boleh. Dan mereka harus lakukan selama seminggu. Hans dan Zara menyetujui amanat kakek untuk menguji kekuatan cinta mereka. Menyerah atau berjuang sekuat tenaga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD