Sementara Hans terlihat berbincang dengan kedua orang tuanya. Hans membicarakan rencana lamarannya dan kedua orang tuanya pun setuju. Mereka menyerahkan sepenuhnya pada Hans untuk menyiapkan hantaran lamaran dan perlengkapan lainnya. Mengenai tanggal pernikahan, Hans meminta orang tuanya untuk menentukan karena mereka yang berhak menentukan hari baik untuk momen penting dalam hidupnya.
Hans memang sangat menghormati dan menghargai orang tua. Dia tidak ingin egois dengan tidak memberikan ruang untuk mereka.
Waktu semakin cepat berlalu … tibalah hari yang dinantikan itu. Zara terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya warna merah bata yang dipadu kerudung berwarna senada. Kulit wajahnya yang putih dipadu dengan make up dan lipstik serasi. Sehingga gadis itu terlihat bak bidadari turun dari langit yang mampu membuat setiap mata tak berkedip. Aura kebahagiaan terpancar di wajahnya.
Hans dan keluarganya sudah tiba di rumah Zara. Hans tampil dengan pakaian batik berlengan panjang dan celana warna senada. Hans pun terlihat begitu tampan. Berderet-deret hantaran cantik menghiasi acara lamaran ini.
Hans terpana melihat tampilan Zara yang begitu cantik. Sehingga dia tak sabar ingin segera menikahi Zara. Namun mimpi Hans itu harus diawali acara lamaran ini. Langkah demi langkah harus dilewati agar pernikahan berjalan lancar. Karena ini merupakan tradisi budaya dan bisa semakin mendekatkan hubungan kedua keluarga.
Proses acara lamaran berjalan lancar. Tangis haru, bahagia menyatu di hati. Sahabat Zara dan Hans turut hadir di acara ini. Dibuka dan ditutup dengan doa yang dipandu Pak Haji Usman, kakak dari mamanya.
Tanggal pernikahan sudah disepakati bersama dan langsung menentukan lokasi acara pernikahannya. Jam akad nikah dan acara resepsi pun sudah. Hidangan pernikahan dan planning acara diserahkan pada Zara dan Hans. Mereka pun menyetujuinya. Setelah acara lamaran selesai, ditutup dengan acara makan bersama. Orang tua dan rombongan keluarga Hans pamit pulang. Hanya tinggal sahabat keduanya yang masih berada di rumah Zara. Gelak tawa seru memenuhi ruangan rumah Zara. Saling membuka bingkisan kado dan sesi foto.
Satu jam kemudian mereka baru pamit pulang. Hans dan Zara dibiarkan berdua di ruang tamu. Ketika Zara pamit ingin berganti pakaian, Hans mulai menggodanya.
“Saya boleh ikut ke kamar gak nih?” goda Hans sambil mengerlingkan mata.
“Huss … kita belum halal, Sayang,” bisik Zara pelan. Entah kenapa Zara merasa terbuai dengan kata-kata Hans.
Astaghfirulloh ucap Zara dan Hans dalam hatinya. Berulang kali menutup mata dan mengucap Astaghfirulloh memohon ampun pada Sang Pencipta karena merasa berdosa. Zara menutup pintu dan menguncinya. Dibukanya satu per satu pakaian yang membalut tubuh Zara. Di depan cermin terlihat jelas tubuh Zara begitu mulus dan putih. Zara memejamkan matanya membayangkan Hans yang akan menikmati tubuhnya nanti. Kembali Zara berucap, “Astaghfirulloh”. Napasnya naik turun. Langsung Zara berganti pakaian dan berkerudung.
Zara menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. Zara tidak ingin melakukan perbuatan nista sebelum pernikahannya. Zara kembali mengucap astaghfirulloh dan memohon ampun pada Sang Pencipta. Setelah itu langsung Zara keluar dari kamarnya.
Dilihatnya Hans sedang ngobrol dengan adiknya, Heru. Zara menarik napas lega ada Heru yang menemani Hans. Rasa takut mulai membayangi Zara … takut Hans nekad memeluk dan menciumnya. Untung ada Heru … Zara mengucap Syukur. Dan dia segera menuju dapur, tanpa dia sadari tiba-tiba Hans menegurnya
“Ra … mau kemana, Sayaang?” Hans tersenyum manis.
“Mau ke dapur, ambil minum dan kue” ujar Zara balik senyum.
“Ru ... ngobrol di dapur yuk!” ajak Hans.
“Ayoo … sambil main catur ya?” ajak Heru riang karena ini memang permainan kesukaannya.
“Ayoo main catur.” Hans senyum lebar.
Malam harinya Hans pamit pulang walaupun sebenarnya ada rasa enggan untuk meninggalkan rumah Zara. Karena sudah merasa betah dan nyaman berada di sana. Tapi Hans harus beristirahat karena badan nya sudah mulai letih dan rasa kantuk yang tak tertahankan. Besoknya Hans harus tampil bugar dan fresh karena ada jadwal rapat dari pagi sampai siang, banyak pekerjaan juga yang harus diselesaikan. Ditambah lagi malam harinya Hans ada meeting lagi dengan beberapa kliennya. Hans mengeluh dalam hati, besok seharian penuh berada di Kantor tanpa bertemu dengan Zara.
“Aku pulang dulu ya, Sayaang.” Hans mengedipkan matanya.
“Yee ... pake kedip-kedip mata segala ihh genit … yee hati-hati di jalan ya,” ujar Zara sambil sedikit manyun. Hans tertawa dalam hati, gemes liat Zara seperti itu.Hans menahan tawa dan hanya tersenyum manis di depan Zara.
Besok paginya Hans sudah berada di kantor. Dia mulai membuka laptop dan mengecek berkas yang menumpuk di mejanya. Ada keinginan untuk mendengar suara Zara namun diraihnya Hp yang ada di saku jas nya. Hans mulai klik panggilan video 2 detik kemudian terlihat jelas wajah Zara di layar HP.
“Assalamualaikum, Cantik,” Sapa Hans.
“Waalaikumsalam,” balas Zara sambil tersenyum.
“Kamu jam segini udah di kantor Hans? Ya ampun sesibuk itukah? ”Zara langsung menyambar.
“Ya Sayaang … miss you, Honey …,” bibir Hans manyun-manyun sambil senyum-senyum.“Ha ha … jam segini ya tolong masa udah merayu-rayu.” Zara terbahak.
“Gini aja deh! Hari ini aku lagi malas ke kantor, aku mau bantu kerjaan kamu ya? Nanti aku meluncur ke kantormu … gimana?? Kamu meeting aja, aku beresin deh tumpukan berkas-berkas di meja. Setelah itu aku bantu ngetik-ngetik laptopmu,” ujar Zara.
“Duhh jadi ngerepotin kamu Sayaang …,” ujar Hans padahal hatinya kegirangan.
Seneng banget mo dibantuin si cantik. Tambah semangat nih, tutur Hans dalam hati.
“Gak ... gak repot. Okeh aku siap-siap meluncur ke kantormu ya?” Zara melambaikan tangannya.
Zara menaruh pancake dan bubur menado ke tempat wadah plastik makanan. Zara ingin sarapan pagi dengan Hans. Diambilnya kunci mobil dan pamit ke Mamanya sambil memeluk dan menciumnya.
Sesampainya di kantor Hans yang berada di kawasan Senayan Jakarta, tepatnya di gedung lantai 15, Zara langsung mendekati staf resepsionis. Zara diantar ke ruangannya Hans. diketuknya pintu ruangan Hans perlahan.
“Ya masuk …,” suara Hans terdengar.
“Assalaamalaikum” sapa Zara sambil tersenyum.
“Wa’allaikumsalam, Sayaang, ” ujar Hans sambil bangkit berdiri dan menghampiri Zara sambil membentangkan tangannya seolah ingin memeluk tunangannya itu.
“Heyy … ga boleh peluk-peluk,” ujar Zara cemberut.
“Ini ada pancake dan bubur menado buatanku untukmu, Pak Bos,” kata Zara sambil menaruh wadah makanan di meja kerjanya Hans.
“Waduhh repot-repot … makasih ya Sayangku,” ujar Hans sumringah.
“Makan bareng yuk Hans … meeting jam berapa toh?” ujar Zara sambil memindahkan bubur ke mangkok, merapikan pancake dan meletakkannya di sendok.
“Aku meeting jam 10.00 masih ada waktu nih!” ujar Hans sambil terus mendekati Zara.
Aroma wewangian tubuh Hans begitu menggodanya. Zara langsung duduk dan berusaha tenang. Padahal gemuruh di dadanya begitu kencang. Zara tidak ingin terhanyut meskipun Hans terus mendekatinya dan menatap mesra.
“Hans … please, jangan begini. Duduk sana … gak boleh terlalu deket gini!” protes Zara sambil merengut.
Hans tersenyum geli melihat Zara yang salah tingkah. Hans akhirnya duduk. Zara berdiri dan melangkah menuju meja yang lain untuk mengambil tisu, tiba-tiba kakinya tersandung kursi dengan sigap Hans menghampiri Zara dan memeluknya erat, menahan Zara supaya tidak terjatuh. Mereka begitu dekat, debaran jantung mereka semakin kencang. Hans tak kuasa ingin mencium bibir Zara dengan tergesa namun gadis itu langsung berontak dan menutup bibir Hans dengan tangannya.
“Hans … istighfar please jangan, Hans.”
Zara menepis tubuh Hans, napasnya sudah naik turun.
“Astaghfirulloh … maaf ya Sayaang … hampir saja aku menciummu,” sesal Hans sambil menutup wajahnya. Napas Hans pun naik turun. Begitu kuatnya pesona Zara hingga Hans terbuai dan hampir lupa diri.
“Udah jangan bengong … yuk makan!” timpal Zara sambil menenangkan diri.
Hans langsung melangkah dan duduk di kursinya. Debaran jantungnya belum mereda. Ditatapnya Zara dengan mesra dihadapannya.
“Halo … ayo makan!” ajak Zara sambil senyum-senyum.
Hans dan Zara mulai menikmati bubur menado.
“Wahh enak banget nih bubur menadonya. Bumbunya ppas sambalnya pedas dan sayurannya juga seger,” puji Hans sambil menikmati bubur manado.
“Aku mo coba nyobain pancakemu ah …,” ujar Hans.
“Aduhhh ini pancake nikmat banget, Sayaang. Duh manis legit!” ujar Hans sambil menggigit sepotong pancake.
“Ini dibuatnya pasti dengan cinta sambil membayangkan senyuman manisku kan, Ra?” goda Hans sambil mengedipkan matanya. Padahal Hans masih agak sedikit grogi.
“Yee … gak lah, ngapain sambil bayangin kamu? ” ujar Zara sambil senyum-senyum.
Hans semakin gregetan liat senyum Zara. Semua perhatian yang dia Terima membuatnya semakin bersyukur telah menjadi tunangan gadis jelita itu. Selesai makan, Hans menjelaskan berkas-berkas yang ada di meja. Mana yang harus di rekap dan ditanda tangani Hans juga kliennya. Hans juga berkeluh kesah tentang masalahnya di kantor. Dia pun menunjukkan file-file yang memenuhi laptopnya dan menjelaskan bagian yang harus dikirim via email. Zara menyimaknya dengan serius, tentu hal ini tidak sulit bagi Zara.
Hans pamit hendak menuju ke ruang meeting. Zara mulai sibuk membantu pekerjaan Hans, dengan lincah jari-jemarinya mengetik di laptop dan menelusuri berkas-berkas yang tadi ditunjukkan oleh Hans. Zara baru paham sesibuk ini pekerjaan Hans, sama sibuknya dengan pekerjaannya. Sebenarnya Zara bukan malas masuk kantor, hanya saja dia ingin membantu Hans dan menambah wawasannya.
Tak terasa hari sudah berganti malam. Zara sudah mulai letih. Diliriknya jam yang sudah menunjukkan jam 18.00 dan Hans baru memulai meeting lagi jam 20.00. Hans sudah memesan makanan lewat go food. Dari mulai makan siang, sore dan malam ini, makanan untuk Zara disiapkan. Saat makanan sudah tiba, Hans mengajak Zara makan.
“Sayang … capek ya? Maaf ya? Makan di sini terus nih. Meeting bikin mager.” Hans buka suara, tak enak hati melihat Zara yang terlihat kelelahan.
“Maaf juga udah ngerepotin kamu. Duhh malah bantu aku kerja. Makasih ya udah bantu!” ujar Hans lagi.
“Ga papa Hans … sama-sama thank’s. Aku seneng kok bisa bantu. Bukannya malas masuk kerja. Aku ingin tahu aja pekerjaanmu seperti apa ya nambah-nambah wawasanlah,” ujar Zara sambil tersenyum.
Dering Hp Hans terdengar di seberang sana terdengar suara kliennya yang membatalkan meeting-nya malam ini. Sontak Hans kegirangan karena bisa mengantar Zara ke rumahnya dan tidak perlu pulang terlalu larut malam. Hans akan menyuruh Daung, supir pribadinya untuk membawa mobilnya. Sedangkan, Hans akan menyetir mobil Zara untuk mengantarnya pulang. Setelah selesai makan malam, Hans mengantar Zara pulang.
Aroma mobilnya Zara begitu harum, seharum yang gadis yang duduk di sampingku, puji Hans dalam hati. Ketika berhenti di lampu merah, Hans menatap Zara mesra.
“Sayang … thank’s ya, Gemessku!” ujar Hans gregetan. Zara hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke jalan.
Di lampu merah berikutnya Zara tertidur pulas. Hans ingin sekali memeluk Zara, laju mobil dihentikan dan Hans melepas jasnya untuk menutupi tubuh Zara. Lagi-lagi Hans terbuai dengan aroma tubuh Zara yang begitu menggodanya. Hans segera beristighfar dan menutup wajahnya dengan tangan.
Hamba begitu lemah iman Yaa Rabb ... tolong singkirkan rasa yang menggoda ini Yaa Rabb, keluh Hans dalam hati.
Sepuluh menit kemudian Zara terbangun dan kaget ada jas Hans berpindah ke tubuhnya. “Hans … kamu selimuti aku pake jasmu?” tanya Zara tampak gusar.
“Ya maaf kalau aku lancang mendekatimu. Aku cuma menyelimutimu pake jas kok, gagak lebih.” Hans mencoba menjelaskan dan menenangkan gelora rasa yang masih bergemuruh dalam dadanya.
“Thank’s Hans, kamu masih menjaga diriku dengan utuh. Tanpa menyentuh bagian tubuhku,” ujar Zara bergetar. Dia khawatir Hans berbuat di luar kendali tapi kepercayaannya pada Hans melunturkan semua prasangkanya.
“Aku akan menjaga kesetiaanku dan, akan menjaga mahkotamu baik-baik. Insyaallah aku akan meraih mahkotamu dan cintamu yang utuh, Ra,” ujar Hans sambil menatap jalan ke depan dan sesekali menatap Zara.
Tapi Zara kembali merasa was-was kala teringat Hans memeluk erat ketika hampir saja terjatuh karena kakinya tersandung kursi tadi pagi di kantor Hans. Bahkan tatapan mata dan bibir mereka begitu dekat. Membuat Zara kembali gusar.
“Ra, demi Allah aku gak ngelakuin macem-macem tadi saat kamu tertidur.” Hans bisa menangkap sinyal kegusaran yang nampak di wajah Zara.
“Makasih ya Hans ... kejadian tadi pagi membuatku merasa berdosa dan merasa kotor,” ujar Zara gusar.
“Maaf ya Ra … maksudku tadi hanya menolongmu supaya kamu gak jatuh. Dan aku tergerak aja ngeliat kamu tersandung kayak tadi.” Hans tersenyum.
“Ya Hans … he he … malu-maluin ya, masa gitu aja sampai mo jatuh.” Zara tersipu merasa malu.
“Gak papa … suka gak fokus ya kalo ditatap si ganteng kayak aku?” goda Hans sambil senyum-senyum.
“Apa sih Hans?” Wajah Zara merona merah tersipu dibuatnya.
Rumah Zara sudah terlihat. Mobilnya melaju masuk ke garasi rumah Zara yang sudah dibuka. Ternyata Daung, supir pribadinya sudah sampai di sana. Nanti Dia pulang dengan Daung.
“Alhamdulillah udah sampai di rumahmu, Sayaang …,” ujar Hans lembut.
Pintu mobil dibuka. Zara dan Hans turun dari mobil, nampak Bu Halimah dan Pak Imam sudah menyambutnya di area teras rumah. Hans menganggap mereka sudah seperti orang tua sendiri. Tiga puluh menit berlalu setelah berbincang santai, Hans pamit pulang.
Hans sudah tak sabar ingin segera melangsungkan pernikahan. Tiga bulan lagi Hans dan Zara akan berjanji sehidup semati dalam ikatan pernikahan. Terasa lama bagi Hans dan semuanya seperti mimpi tak menyangka Zara menyambut baik niat tulus dan cintanya.
Besok pagi nya Zara kembali sibuk dengan pekerjaan nya di kantor. Zara mempersiapkan meeting paginya dengan bos dan tamu Jepang. Sebelum meeting deretan chat dari Hans memenuhi layar Hp-nya. Zara tersenyum sendiri. Hans selalu berikan candaan yang menyemangatinya. Tak lama, Hans menghubunginya via video call. Tampilan Hans yang memikat membuat Zara semakin melambung tinggi ke angkasa.
Duhhh Hans, kamu makin gemesin deh! ujar Zara dalam hati.
“Assalamualaikum, halo Bidadariku, Gemessku. Met sibuk kerja ya!”sapa Hans.
“Mmm udah sarapan belum, Sayaang?” tanya Hans
“Waallaikumsalam … udah tadi di rumah. Kamu udah makan?” Zara tanya balik.
“Belum sarapan nih! Kangen bubur menado dan pancake-mu Sayaang,” ujar Hans manja.
“Iih manja deh kamu … nanti ya aku buatin lagi bubur sama pancake-nya,” timpal Zara sambil tersenyum.
“Ohhh jadi cuma kangen masakanku aja ya? Mmm … gitu ya!” Zara pura-pura sebal.
“Ha ha … jangan marah gitu dong, Sayaang. Aku lebih dan lebih kangen kamu mmmm gemesss,” goda Hans.
“Masa sihh lebih kangen aku? Bohong ah!” timpal Zara.
“Beneran deh Sayaaang! Kangennya … kangen banget.”
“Udah ah … kamu jadi gitu! Aku ga suka.” Zara kesal.
“Jangan marah gitu dong Sayaang! Oke next time mataku gak kedip-kedip deh!”
Zara tertawa geli dalam hatinya. Sebenarnya Zara suka lihat kemanjaan Hans yang lucu.
“Udah dulu ya Hans? Aku mau meeting”.
“Oke Sayangku, Met meeting ya? Assalamuallaikum .…” Hans mengakhiri video call-nya.