Pada suatu sore hari Hans datang ke rumah Zara. Dia berjanji dalam hati untuk mengurungkan niat mengungkapkan perasaan cinta pada Zara[112] . Hans berpikir saat ini bukan waktu yang untuk mengutarakan hasrat hatinya mengingat Bu Halimah baru sembuh dari sakit. Hans hanya akan fokus membicarakan soal kesehatan calon mertuanya dan bisnis pekerjaaan dengan Ayah Zara. Tidak ingin terburu-buru dan gegabah melakukan sesuatu, apalagi ini urusan soal hati kata Hans berdialog dengan dirinya sendiri[113] . Pengusaha tampan itu khawatir Zara akan marah besar padanya karena dia tak pandai melihat keadaan.
Intinya Hans tidak ingin suasana baik ini berubah jadi suasana yang berantakan. Sebenarnya kasian juga Hans harus menunda keinginan menyatakan cinta pada si cantik. Memang cinta itu butuh perjuangan dan Hans merasa Zara harus diperjuangkan juga harus dimenangkan. Aihh cinta memang selalu penuh warna ya ….
“Assallamualaikum,” sapa Hans ketika menatap Zara yang sudah berdiri di area teras. Zara terlihat begitu anggun memakai gamis motif bunga dan hijab warna biru yang membuat teduh hati. Mata Hans sekilas tertuju pada bunga mawar dan anggrek yang tertata rapi dalam pot-pot bunga di meja meja teras itu.
Hans seperti melihat bidadari di taman bunga. Nikmat mana yang akan kau dustakan, bisik Hans dalam hati seraya memuji kebesaran Sang Pencipta. Masyaallah … kebesaranmu Yaa Robb, bisik Hans lagi.
“Waallaikumsalam,” balas Zara sambil tersenyum.
“Ya ampun Hans ada angin apa lagi nih kamu datang kemari,” ujar Zara sambil sedikit manyun.
“Jadi aku gak boleh nengok lagi Mamamu nih,” balas Hans agak kesal dengan sikap Zara yang dingin itu. Hans tidak mengerti kenapa gadis itu selalu bersikap dingin dengannya.
Apa Zara ingin menjaga jarak? Apa dia memang tidak suka sama padaku? Atau Zara sedang bersandiwara? tanda tanya Hans dalam hati yang belum ada jawabannya.
“Boleh kok nengok Mama … makasih ya udah dateng,” ujar Zara melunak. Dia memaki dirinya dan menyesal sudah bersikap bodoh pada Hans. Padahal Hans begitu perhatian dan terlihat menyayangi Mamanya. Jahat sekali pikirnya jika kebaikan dibalas dengan keburukan, hati Zara semakin dibuat berkecamuk.
“Yuk, Hans masuk ke dalam!” ajak Zara sambil memperlihatkan senyum termanisnya.
Alhamdulillah Zara gak dingin lagi nih, bisik hati Hans.
Hans melangkah menuju ruang tamu dan mengucap assallamualaikum lalu langsung duduk di sofa berhadapan langsung dengan Zara. Dengan sedikit grogi Hans akhirnya membuka suara.
“Ramai sekali di dalam rumah, ada tamu ya, Ra?” ujar Hans sambil tersenyum.
“Om, Tante dan sepupu ada di ruang keluarga, Hans,” ujar Zara sambil menunduk. Zara tak kuasa melihat sinar mata Hans yang menatapnya lekat dan debaran jantungnya sudah mulai seperti takbir sebelum lebaran. Ternyata si cantik sudah terkena panah asmara dewa cinta.
“Yuk, aku kenalin ke Om,Tante dan sepupuku terus nanti aku antar ke kamar Mama,” ujar Zara sambil berdiri dan melangkah ke arah ruang keluarga.
Hans mengikuti Zara dari belakang. Sebenarnya Hans merasa malu berkenalan dengan keluarga Zara karena Hans merasa sering merepotkan mereka. Kalau waktunya makan siang saja Hans sering diajak Apih dan Mama Zara. Kalau sudah begitu Hans merasa baper serasa jadi menantu mereka. Rasanya Hans semakin ingin menikahi putri Pak Imam itu. Hans beharap jika Zara menjadi istrinya kelak, dia tidak menunjukkan sikap dinginnya lagi.
Hans berusaha memaklumi sikap dingin Zara itu. Dalam benaknya, mungkin Zara belum mau serius berhubungan dengan pria. Itu yang membuat Hans terus mencoba bersabar dan berpikir positif.
Insyaallah akan dimudahkan segala sesuatunya, hibur Hans dalam hati.
Sesampainya di ruang keluarga, terdengar tawa canda dan obrolan seru. Jantung Hans serasa ingin lompat dari tempatnya. Namun, dia berusaha untuk bersikap tenang dan selalu tersenyum.
”Assallamualaikum,” sapa Hans ramah dan menjabat tangan semua yang ada di ruangan itu.
“Guys ... kenalin ini temanku, Hans,” ujar Zara mulai memperkenalkan Hans.
“Teman dekat apa pacar nih,” Om mulai bercanda.
“Teman atuh, Om,” ujar Zara tersipu malu.
“Hans … saya Edi, adik bungsu Ibunya Zara,” ujar Omnya sambil tersenyum.
“Ya Om … senang bertemu dengan semua di sini,” ujar Hans sambil menatap keluarga Zara satu per satu.
“Silakan duduk, Hans,” ujar Omnya sambil menunjuk sofa di depan nya.
Setelah sekitar 1 jam asyik bercengkerama dengan keluarga Zara juga Bu Halimah, Hans pamit pulang. Sebenarnya dia ingin mengajak Zara hangout ke kafé dan mengungkapkan perasaan pada Zara. Tapi diurungkan lagi niat itu karena Zara masih terlihat sibuk merawat ibunya dan menyiapkan hidangan untuk om, tante dan sepupu-sepupunya itu. Meskipun Bu Halimah memiliki Mbok Darmi, sang Asisten rumah tangga, Zara selalu membantu selalu bersikap baik Zara dan membantu ART-nya itu. Ini yang membuat Hans semakin kagum pada Zara.
Mmmm … selain cerdas, Zara ternyata jago masak, puji Hans dalam hati. Bu Halimah bisa menangkap sinyal di sinar mata Hans. Sebagai Ibu, tentu sangat memahami tatapan kekaguman Hans pada buah hatinya itu.
”Mama sih ingin banget hangout ngopi-ngopi bareng temen … kalian gak kangen ya suasana di kafé?” tanya Bu Halimah sambil melirik Zara dan Hans.
”Kalo gak sakit nih, Mama sih udah ngajak temen buat ketemuan di kafé,”ujar Bu Halimah sambil menatap Hans yang dari tadi terlihat grogi. Hans tahu Bu Halimah sudah bisa membaca isi pikiran dan hatinya.
“Kan lebih nyaman kalau kalian ngobrol sambil ngopi-ngopi berdua di kafé.” Bu Halimah tersenyum.
“Apa sih Ma … Zara lagi gak mood ke kafé,” ujar Zara manyun.
“Lain waktu saja, Bu … saya pamit pulang dulu,” ujar Hans sambil tersenyum. Hans tidak ingin Zara merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.
Harus sabar … sabar sesabar-sabarnya, Hans menghibur dirinya sendiri dalam hati.
“Terimakasih ya Nak Hans, sudah repot-repot datang kemari. Maafkan atas sikap Zara ya?” ujar Bu Halimah lembut.
“Sama-sama. Zara gak salah apa-apa, Bu,” ujar Hans tersipu dan Zara terdiam. Namun tak lama Zara bersuara ….
“Makasih ya Hans udah datang, hati-hati di jalan!” pesan Zara.
Hans menghampiri Bu Halimah dan semua yang ada di sana satu per satu. Dengan santunnya bersalaman sambil mengucap kata pamit. Hans melangkahkan kaki menuju mobil yang di parkir di garasi rumah Zara.
Hati Hans sedikit sakit dengan sikap dinginya Zara. Namun, dia rasanya ingin berteriak “Aku cinta kamu Zara.” Tapi sayang tidak ada keberanian.
Ketika kaki Hans melangkah 5 ketukan … Zara memanggilnya.
”Tunggu Hans!” sergah Zara.
Bu Halimah berikan isyarat pada semua keluarganya di sana untuk masuk ke dalam. Bu Halimah ingin memberikan ruang pribadi bagi anaknya.
Zara menghampiri Hans,”Anter aku ke kafé ya?” pinta Zara sambil tersenyum. Hans kaget mendengarnya. Rasanya seperti mimpi. Ditepuk pipinya berulang kali untuk berusaha menyadarkan bahwa dia tidak sedang dalam mimpi indah.
“Hans … kok bengong? Halo … denger aku gak sih?” tanya Zara gemas dengan perilaku Hans.
“Itu pipi ngapain ditepuk-tepuk?” Zara mengernyitkan dahi sambil mulutnya sedikit manyun. Hans semakin greget liatnya.
Duh Zara … dadaku dag dig dug gini Ra! keluh Hans dalam hati. Hans mencoba untuk menepis rasa groginya.
”Ayo kita ke kafé!” ajak Hans mantap “tadi pipiku gatal, Ra,” ujar Hans tersipu sambil berusaha menyembunyikan salah tingkahnya.
“Tunggu di ruang tamu ya? Aku mau ganti baju dulu,” pinta Zara.
“Siap … aku tunggu,” ujar Hans sambil tersenyum.
Yes …! Akhirnya si nona cantik ini mau jalan denganku, teriak Hans dalam hati.
Hans mulai merancang kata-kata. Ra … I love you. Nikah yuk! ujar Hans dalam hati.
Tapi Hans berontak dalam hati. Hans tidak ingin terburu-buru mengajak Zara menikah. Dia tidak ingin Zara malah jadi bencinya.
Santai Hans … santai. Loe jangan bikin ulah ya? ujar Hans dalam hati.
Setelah Zara ganti pakaian dengan tampilan make up tipis dan lipstik warna merah muda membuat gadis muda itu semakin menawan. Hal itu membuat Hans semakin kagum dan tak henti-hentinya mengucap subhanallah dalam hati. Akhirnya Zara pun berpamitan pada keluarganya yang sedang bercengkerama di ruang tamu. Tiba-tiba BU Halimah menghampiri mereka ….
“Senang-senang ya di sana … hati-hati di jalan ya?” kata Bu Halimah sambil tersenyum.
“Saya izin pergi dengan Zara, Bu. Assalaamuallaikum …,” ujar Hans sambil menganggukan kepala dan tersenyum ke arah Bu Halimah.
Satu jam kemudian Zara dan Hans sudah berada di Peacock Lounge kawasan Gelora Jakarta. Sebelumnya Hans sudah pesan tempat dan masakan spesial di private room. Dia ingin memberikan kesan manis untuk gadis yang dicintainya. Hans memilih menu entrée (hidangan pembuka), main course dan dessert kesukaa nya Zara. Suasana private room yang romantis dihiasi bunga dan lilin di sekitar meja. Ditambah lagi kejutan alunan musik biola yang dipandu tim band kafé. Sungguh sangat manis dan romantis suasananya.
Zara sempat terpaku dan terkesima melihat private room yang begitu romantis. Hans tertawa geli dalam hatinya melihat ekspresi Zara dengan kejutan kecil ini.
Zara akhirnya buka suara.
“Hans … kamu siapkan ini untuk aku?” ujar Zara pelan.
“Iya … yuk duduk di sana!” ajak Hans sambil tersenyum.
“Ya ampun Hans … suasana di sini romantis banget. Wahh … bunganya cantik. Kamu ini ya? Bikin kejutan gini kan mahal, Hans. Thank you ya? Bener lho aku suka suasananya,” ujar Zara sambil mengelus buket bunga mawar yang cantik.
Hans merasa lega dengan antusias Zara. Tadinya Hans ragu untuk memberikan kejutan seperti ini. khawatir Zara ngambek dan tidak suka. Allhamdullilah … akhirnya sukses nih! seru Hans dalam hati.
“Gak mahal kok ... biasa aja Ra. Sama-sama, makasih. Syukur deh kalo Zara suka,” Hans tersenyum manis.
Zara yang ada di depannya begitu terlihat cantik. Ingin rasanya Hans meraih tangan Zara tapi ditepisnya dalam hati, dia tak ingin merusak suasana baik ini.
“Kejutan apa sih ini Hans? Hari ini kan bukan ulang tahunku?”Akhirnya Zara memulai pembicaraan itu.
“Hari ini memang bukan ulang tahunmu, Ra. Hari ini momen terpenting dalam hidupku. Aku … aku …,” Hans mulai gugup. Rasa takutnya mulai muncul.
Takut Zara menolak cinta nya, takut Zara marah. Yaa Allah … hilangkan rasa gugup ini, pinta Hans dalam hati.
“Hans … halo … kok gemetaran sih kamu? Kenapa sih?” tanya Zara sambil mengerutkan dahinya.
Hans menarik napas dalam-dalam ….
”Aku mencintaimu, Ra” ungkap Hans sambil menatap lekat mata Zara.
”Aku ingin menikah denganmu. Jadilah Ibu dari anak-anakku kelak, Ra!” pinta Hans dengan suara mantap tanpa rasa gugup.
”Kamu adalah wanita yang selama ini aku cari. Kamu cantik, cerdas, baik dan selalu menutup aurat,” ungkap Hans lagi.”Will You marry me,”ujar Hans pelan sambil tersenyum.
Zara kaget mendengar semua ungkapan cinta Hans. ternyata benar prediksi Zara selama ini. Zara bisa menebak isi hati Hans karena berulang kali dia selalu memberikan perhatian lebih padanya.
Dalam hitungan beberapa detik Zara terdiam
Sampai akhirnya Zara bersuara, “I am willing to marry You,” Zara tersipu dan menundukkan kepalanya. Zara tak sanggup menatap tatapan mata Hans.
Sebelumnya Zara sudah mempersiapkan kata-kata ini jika Hans mengajaknya menikah. Zara sudah memikirkan matang-matang tentang ini. Zara yakin Hans bisa menjadi imam yang baik untuknya, tidak akan menghalangi kariernya bahkan mendukung impian dan cita-citanya selama ini. Impian menggapai posisi tertinggi di kantornya.
Keyakinan itu berdasarkan penilaian bahwa Hans seorang profesional yang akan siap membantu jika ada permasalahan di kantornya. Bagi Zara Hans itu memiliki ide-ide cemerlang dan teman asyik diajak diskusi bahkan debat tentang masalah apa pun. Politik, sosial, ekonomi bahkan film-film ternama menjadi bahan perbincangan yang menarik.
Hans merogoh sesuatu di dalam saku jas nya. Sebuah kotak cantik berwarna merah berbentuk hati ditaruhnya di atas meja. Hans membuka kotak cantik itu dan seketika kilauan berlian cantik itu diambil Hans untuk perlahan dipasangkan di jari manis Zara.
“I love you, Sweety,” kata Hans lembut sampil senyum manis.
“Ya ampuun Hans … berliannya cantik banget. Ini pasti mahal harganya? Ini … ini … ini ….” Kini giliran Zara yang gugup.
“Ra … tenang Sayaaang. Gak usah gugup gitu,” ujar Hans sambil tersenyum geli.
“Makasih ya Hans … love you too,” ujar Zara sambil menundukkan kepalanya.
Tak lama hidangan makanan yang dipesan pun berdatangan. Zara kembali dibuat melongo dengan hidangan yang tersaji di meja. Ternyata semuanya makanan kesukaannya. Entah Zara harus bilang apalagi. Dia kehilangan kata-kata, dadanya berdegup kencang dan rasanya jiwanya serasa terbang ke angkasa. Zara sangat menikmati suasana romantis ini.
Ketika Mereka asyik menyantap makan, sesekali berbincang, tertawa dan bercanda. Datanglah tim band kafé mengiringi dengan lantunan musik klasik menggunakan sentuhan alat musik biola. Zara semakin terhanyut dengan suasana romantis ini.
Setelah selesai makan dan alunan musik berlalu. Hans kembali membuka suara, “Ra … 3 hari lagi aku mau mengajak kedua orang tuaku untuk melamarmu. Jadi nanti kami ke rumahmu ya Sayaang?” ujar Hans pelan.
Zara membuka suara.
“Oke Hans … sekali lagi makasih ya atas semua kejutan ini,” ujar Zara. “Oiya, kok kamu yakin sih aku bakal menerima cintamu?”
“Aku mencintaimu karena Allah, Ra … aku terus berdoa biar dimudahkan, dilancarkan, dan aku menjadi merasa yakin kamu akan balas cintaku bahkan mau jadi istriku,” ujar Hans tersenyum.
Singkat cerita mereka sudah sampai di rumah Zara. Hans langsung pamit pada semua keluarga Zara karena sudah terlalu larut. Dia tidak ingin menggangu suasana malam keluarga Zara.
“Aku pulang dulu ya sayaang? Sssst … aku ingin cium bibirmu, Ra. Tapi … kita belum sah. Belum halal,” bisik Hans pelan. Zara tersipu dibuatnya.
“Husss … main cium aja. Ga boleh tahu! Ya, kita belum halal,” ujar Zara dengan bibir manyun. Hans semakin gregetan liatnya.
“Okeh Hans … hati-hati di jalan ya?” ujar Zara pelan.
“Assalamualaikum, Cinta,” ujar Hans tersenyum.
“Waalaikumsalam, Beruang Madu …” ujar Zara terkekeh.
“What?? Beruang madu? Ha … ha … ha …aku gak gendut kayak Beruang ah!” protes Hans.
Zara cekikikan geli melihat sikap penolakan Hans yang dipanggil beruang. Hans kembali melangkah ke arah mobil. Dalam hitungan detik, mobil maju perlahan. Hans membunyikan klakson pelan dan melambaikan tangan ke arah Zara.
Alunan musik diputar di mobil dan membuat Hans senyum-senyum sendiri mengingat di kafé tadi. Hans tidak menyangka Zara akan menerima cintanya tanpa penolakan. Hati Hans langsung berbunga-bunga dan mulai merancang masa depan bersama Zara.
Sementara Zara sebelum tidur, Zara telepon Ovie, sahabatnya itu.
“Vie … Hans nembak aku terus dia melamar aku tadi di kafé,” ujar Zara singkat.
“What?? Ya ampuun … ini beneran kan? Waduhhh selamat ya, Ra!”
“Kamu balaskan cintanya Hans …”
“Ya, Vie aku menerima cinta dan lamarannya” ujar Zara riang.
“Alhamdullilah. Selamat ya! Semoga lancar sampai hari H,” harap Ovie.
“Nah gitu dong happy happy sama si ganteng kan jadi Romeo dan Juliet,” goda Ovie.
Besok paginya Zara berbicara berdua dengan Mamanya. Rumah kembali sepi karena om dan tantenya baru saja pamit pulang ke Bandung. Tak ada obrolan yang diselingi canda tawa lagi yang memenuhi ruang keluarga. Sedangkan, ayahnya sudah berangkat ke Bandung untuk urusan pekerjaan.
“Ma … tadi malem Hans nembak aku. Dia menyatakan cinta dan melamarku. Tiga hari lagi Hans mau datang ke sini dengan orang tuanya buat ngelamar aku,” tutur Zara panjang lebar.
“Alhamdulilah doa Mama terkabul, Sayaang.”
Bu Fatimah langsung memeluk dan mencium Zara.
“Selamat ya Sayaang. Mama yakin Hans adalah pria yang tepat untukmu. Orangnya baik, sopan dan rajin beribadah. Mama juga suka kepribadiannya.”
Mata Bu Halimah berkaca-kaca. Rasa haru dan bahagia menyelimuti hati Bu Halimah. Meskipun usia beliau telah menginjak 55 tahun tetapi masih tampak muda dan cantik. Berkulit putih seperti Zara dan hanya sedikit kerutan di wajahnya.
“Semoga dilancarkan dan dimudahkan sampai hari H ya, Sayang,” ujar Mamanya lagi sambil mengelus rambut Zara.
“Makasih, Ma. Atas doanya,” Zara memeluk erat dan mencium pipi Mama nya.
“Ra, cerita dong gimana sih Hans nembak kamu? Mama liat tadi malem kamu bawa buket bunga mawar ….
“Yaa Allah, cantik banget bunganya.” Mama nya mulai menggoda Zara.
“Ya seperti biasa pria nembak cewek gitu. Gak ada yang beda. Ma, ini cincin berlian dari Hans.” Zara mengangkat jari-jemarinya.
“Yaa Allah … indah sekali cincinnya, Ra. Kilauan berliannya! Duh mahal ini sih!” Mata Mama terpana melihatnya.
“Yuk Ra, kita bahas hidangan untuk acara lamaranmu. Nanti harus ada puding dan buah juga lho! Ra,” ujar Mamanya tersenyum.
Akhirnya Bu Halimah dan Zara diskusi soal hidangan, memilih menu masakan untuk hari lamarannya Zara.
***