Windy mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merasa tengah berada di tempat yang asing. Perlahan tangan kanannya bergerak memijit kepala yang terasa sangat pening itu. Sesaat ia baru sadar kalau tangan kirinya terbalut kain perban. Gadis itu baru ingat kalau tadi ia sempat menyayat nadinya. Dan Windy menduga kalau detik ini ia tengah berada di rumah sakit. Windy merintih kesakitan saat ia mencoba untuk bangun. Saat itu pula Ririn baru sadar kalau sang adik rupanya sudah sadar. "Eh, Cah Ayu. Udah sadar to?" Ririn yang sejak tadi duduk di sebuah sofa yang posisinya agak jauh dengan ranjang yang ditiduri Windy, seketika berlari kecil menghampiri adiknya. "Jangan banyak gerak dulu, Sayang. Kamu belum pulih." Ririn melarang keras adiknya untuk bangun. Sedangkan Windy mau tak mau harus menuru

