**** Deya memasuki kamarnya, lara hati akibat perlakuan sang nenek yang tak lagi lembut membuatnya menumpahkan air mata. Ia duduk di depan meja belajar, wajahnya sendu sesendu hatinya yang kelabu. Mata bening gadis itu memerah, siap menumpahkan segala beban melalui air mata. Ucapan sang nenek kembali terngiang, membuat dadanya terasa semakin sesak dan tak karuan. Bagaimana bisa dalam sehari saja neneknya berpihak dengan tantenya, padahal mereka sebelumnya tidak pernah seakrab itu. Perhatian Deya teralih saat ponselnya berdering. Ia melihat bagaimana si serigala jahat itu tengah menghubunginya. Perlahan Deya menghapus air mata yang telah membasahi pipi, ia tidak ingin Dhante kepikiran dan bisnisnya kacau hanya karena dirinya. Menggeser tombol hijau di layar, tampak terlihat gambar Dhante

