7. Perjanjian Gila

1606 Words
*** "Hen-Hentikan!" Deya memberanikan diri untuk berteriak. Gadis itu menepis tangan nakal yang merayap di kulit putihnya. Jantungnya terasa semakin meledak, ia tidak tahu apakah pilihannya untuk berteriak pada Dhante Shie Widjaya adalah pilihan tepat atau justru sebaliknya. Dhante tersadar, iris matanya membesar sejenak. Ia mundur beberapa langkah, menyadari jika salah satu anggota tubuhnya tak bisa terkontrol. Menarik napas sejenak, Dhante mensugesti diri bahwa gadis di hadapannya bukanlah Davia. Sialan! Minuman alkohol yang ia teguk mengaburkan pandangannya dan juga ingatannya. "Lupakan! Aku sedang tidak enak badan," ucap Dhante berbalik badan. Pria itu sedikit terhuyung dan berusaha berjalan menuju ke kursi singgasananya. Deya menata napas, berciuman untuk yang kedua kali dengan pria yang sama dan gaya yang sama. Deya merasa gila dan frustrasi ketika memikirkan bagaimana bisa pria ini melabuhkan ciuman pada dirinya yang sama sekali tidak memiliki ikatan batin dengannya. "Duduklah! Aku ingin membicarakan mengenai perjanjian," ucap Dhante ketika pria itu telah duduk di kursinya. Tangan kanannya membuka sebuah laci dan mengeluarkan sebuah kertas HVS yang sudah diketik rapi beberapa tulisan yang entah Deya sendiri tak bisa menebaknya. "Perjanjian?" desis Deya tak mengerti. Gadis berkulit putih bersih memberanikan diri untuk duduk di hadapan Dhante. "Ya, perjanjian. Aku rasa sudah waktunya kita terikat janji. Ah, panas sekali." Dhante mulai tidak fokus dengan ucapannya, pria itu bersandar di kursi lalu membuka kancing jas hitam yang ia pakai guna membebaskan tubuhnya dari rasa gerah. Deya tak menanggapi, bola matanya melirik sejenak ke arah Dhante sebelum akhirnya ia meraih kertas itu dan berusaha untuk membacanya. "Kau harus tanda tangan dulu sebelum kau membacanya. Aku baru saja menghabiskan empat gelas bir berkualitas tinggi, apa kau tidak takut jika aku menerkammu tiba-tiba?" ucap Dhante terdengar serak. Pria berahang tegas kini mulai membuka beberapa kancing kemeja putih yang ia kenakan. Wajah Dhante terlihat kepayahan, memerah seolah sedang menahan— Deya mengerti kondisi Dhante, ia tidak mau menjadi korban Dhante. Deya yang masih gadis masih ingin memiliki umur panjang dan bahagia sentosa, ia tidak ingin Dhante memakannya malam ini. Dengan terburu Deya meraih pulpen di meja, ia lantas menandatangani dua berkas perjanjian tanpa bertanya itu perjanjian yang seperti apa. Seusai menandatangani kertas tersebut, Deya beranjak berdiri dan pergi. Pikiran negatifnya terus membayang, ia tidak ingin bencana tsunami itu menerjangnya malam ini. Saking buru-burunya pun Deya tanpa sengaja harus menabrak kursi yang ia duduki. Duh, kenapa harus pakai acara jatuh juga! Sakit sih tidak, malunya yang besar. Dhante menyeringai ketika gadis itu buru-buru pergi dari ruangannya. Rasa pusing masih menguasai kepala, membuat Dhante sejenak harus menarik napas dalam-dalam guna mengusir rasa panas yang kini menyakiti tubuhnya. Sialan! Dulu dalam keadaan seperti ini masih ada Davia yang masih bisa ia makan dan sekarang— Dhante memukul meja pelan, ia merasa tidak bisa ketika harus memakan Deya sebagai gantinya Davia. Tunggu! Apa ini? Kenapa Dhante harus memikirkan acara makan-memakan? Ah, pikiran Dhante semakin kacau. Mungkin karena terlalu lama 'berpuasa' Dhante tak sadar jika sesuatu di dalam tubuhnya meminta pelampiasan. "Tunggu waktunya, aku pasti akan memakanmu." **** Deya mendadak merasa bodoh ketika ia keluar dari ruangan milik Dhante. Hanya karena takut melihat Dhante bertelanjang d**a, ia harus rela lari kalang kabut dari ruangan tersebut. Sekarang tinggallah Deya yang memukuli kepalanya sedikit keras. Duduk di salah satu kursi barista seraya menunggu pesanan, Deya mencoba membaca kertas perjanjian tersebut. Pada awalnya ia biasa-biasa saja ketika membaca isinya yang menyebutkan bahwa Dhante akan mempekerjakan Deya membuat kopi Vanilla Latte kesukaannya di rumah kapanpun kecuali di jam-jam sekolah. Ia akan mendapatkan upah seperti perjanjian, satu cangkir kopi satu kali gaji. Kedengarannya memang enak dan menguntungkan. Namun pada detik berikutnya bola mata Deya seakan mau lepas dari tempatnya. Kenapa? Ya, Deya tidak menyangka jika Dhante akan menambah daftar perjanjiannya dengan coretan pena basah di bagian akhir perjanjian. Deya mendadak resah, ia tidak terima dengan apa yang dituliskan Dhante di kertas itu. Semula apa yang Deya katakan menguntungkan kini berbalik menjadi sangat merugikan. Karena kesal, Deya memberanikan diri untuk datang kembali ke ruangan Dhante. Gadis berwajah ayu itu berharap Dhante bisa bermain adil padanya. Mengetuk pintu sedikit keras, Deya berusaha mencari keadilan. Kini ia tidak takut jika Dhante akan bertelanjang d**a di hadapannya. Rupanya pria itu benar-benar licik, ia menggunakan tipuan itu agar Deya tidak membaca tulisan dengan teliti sehingga Dhante dengan mudah menindasnya. "Masuk!" Suara Dhante terdengar serak. Pria itu kini hanya memakai kemeja putih dengan beberapa kancing yang tak terkait. Pandangan pria itu menyayu, terlihat mengantuk, dan lelah. Deya membuka pintu, ia mengerutkan dahi melihat penampilan Dhante yang begitu buruk. Mengenyahkan pemandangan ganjil, Deya mendekat lalu menggebrak meja dengan kertas perjanjian yang ia bawa. "Tolong jelaskan padaku kenapa di point akhir perjanjian kau menambahkan perjanjian dengan tulisan tangan? Apa kau ingin menipuku?" tegas Deya merasa kesal. Dhante mencoba menegakkan tubuh, dengan susah payah ia berdiri di hadapan Deya. Pria itu berjalan lambat ke samping meja lalu duduk di atasnya. "Menjadi kekasihku itu juga menguntungkan. Kau tidak perlu bekerja tapi kau bisa menikmati akses uangku tanpa batas. Jadi bersyukurlah jika aku menambahkan perjanjian bahwa kau bersedia menjadi kekasih Dhante Shie Widjaya." "Tidak! Aku tidak mau! Hapus perjanjian itu sekarang juga," pinta Deya menuntut membuat Dhante menyeringai. "Aku yang membuat perjanjian itu dan kau sudah menandatanganinya jadi apa lagi? Aku tidak akan menghapusnya," jelas Dhante pelan lalu tersenyum menang. Deya menatap Dhante dengan tatapan kesal, napasnya naik turun karena menahan emosi yang bergejolak. Karena tak ada pilihan lain, Deya hanya bisa menggebrak meja sekali lagi lalu berbalik pergi. Dhante tersenyum, dengan cepat ia menaut pergelangan tangan Deya. "Apakah aku terlalu tua untuk menjadi kekasihmu sehingga kamu begitu mati-matian untuk menolakku? Jahat sekali," timpal Dhante pelan dan setengah berbisik. Deya mengerutkan dahi, ia tak sanggup untuk menjawab. Pada akhirnya Deya memilih mengempaskan tangan Dhante tapi sial lagi-lagi pria itu mencekal tangannya dengan erat. Dhante menarik tubuh Deya, membuat gadis itu terpental dan jatuh dalam pelukan Dhante Shie Widjaya. Keduanya bertatapan cukup dekat, membuat Deya kembali kelimpungan karena tak sanggup untuk melawan. "Sayang, aku ingin sekali." Dhante berbisik, membuat Deya merasa ketakutan. Deya memukul-mukul d**a Dhante, mencoba melepaskan kedua tangan pria itu yang kini melingkar erat di pinggangnya. "Lepaskan aku! Aku harus bekerja," tukas Deya diantara rasa panik yang menyerang. "Ti-tidak!" Deya menolak ketika Dhante meraih kepalanya dan mulai menciumi ceruk lehernya yang jenjang. Deya menggigit bibirnya yang sakit, cengkeraman pria itu terlalu erat di tubuhnya. "Ja-jangan! Kau dengar perintahku? Ja-ngan!" Deya menolak ketika ciuman Dhante mulai turun. Gadis itu mencoba mengenyahkan kepala Dhante tapi lagi-lagi tangannya dicekal kuat-kuat. Deya meringis ketika rasa sakit terukir di dadanya, ia tak bisa bergerak ketika ciuman itu perlahan membuat jiwanya berdesir tak karuan. Pria itu—pria itu kini tahu seperti apa bentuk dua awan putih miliknya. Deya merasa malu, ia ingin menangis tetapi tidak bisa. Sesuatu yang aneh menguasai hatinya, sesuatu yang liar dan sedikit menantang. Entah apa itu namanya, Deya sungguh tidak mengerti. "Kau akan terbiasa karena seperti inilah orang dewasa berkomunikasi." Dhante berbisik pelan seusai memberi tanda cintanya untuk yang pertama kali. Deya tertunduk, ia memundurkan langkah ketika pegangan tangan Dhante mulai mengendur. Pria itu menghela napas, tubuhnya kembali tak terkontrol. Berdiri lalu mendekat, Dhante mencoba membenahi pakaian Deya yang sedikit berantakan. "Tenanglah, kau akan menjadi kekasihku mulai saat ini. Jangan takut karena seperti itulah orang dewasa menyampaikan kasih sayangnya." Deya tak menjawab, ia tak berani mengangkat wajah karena merasa malu pada Dhante. Entah apa yang merasuki jiwanya hingga ia hanya pasrah saja ketika pria itu— "Mulai sekarang kau akan belajar dewasa bersamaku jadi jangan takut untuk melakukannya denganku," bisik Dhante. Pria itu kembali melabuhkan ciumannya dengan lembut, kali ini ia akan mengambil hati Deya sepenuhnya. Ya, sepenuhnya. **** Jeritan Wulan dan Dipa membahana ketika melihat sosok lesu Deya di ambang pintu gerbang sekolah. Gadis-gadis itu menjerit histeris terutama si rambut keriting, Wulan. Mereka menyadari jika sesuatu yang aneh tengah terjadi pada sohibnya yang polos itu. "Ah, Deya sayang, siapa yang telah menggigit bibirmu? Lihat! Lihat!" Wulan meraih wajah Deya, menatap luka merah yang terdapat di bibir bawah Deya dengan tatapan seksama. "Apakah serigala jahat telah melakukannya?" tebak Dipa tak kalah histeris seraya menekan kedua pipinya dengan tatapan pura-pura panik. Deya mengenyahkan kedua tangan Wulan, ia tak bersuara dan memilih untuk melanjutkan langkah ke kelas. "Ah, serigala jahat memang jahat. Dia tidak hanya mencuri ciuman pertama Deya tapi ia menggigitnya juga. Aduh, Deya-ku yang malang, bibirmu begitu menggemaskan sehingga sang serigala jahat tega menggigit bi—" "Berhentilah membuat lelucon! Percayalah ini tidak seperti yang kalian duga. Tadi malam aku sangat ingin memakai lip balm tapi karena kantuk aku tidak bisa membedakan mana lip balm mana lem alteco. Jadi, kau tahu sendiri apa selanjutnya," cerita Deya dengan wajah dingin lalu pergi meninggalkan Wulan dan Dipa sendirian. "Apa kau yakin itu adalah sebuah insiden lem alteco?" tanya Dipa pada Wulan, wajahnya terlihat kecewa. "Padahal aku sangat ingin dia bisa merasakan apa itu ciuman pertama sebelum akhirnya ia meninggalkan bangku SMA." "Yah, aku tidak bisa memastikan. Tapi sepertinya iya. Kau tahu 'kan Deya adalah wanita suci yang tak tersentuh, dia tidak pernah pacaran, mana tahu dia rasanya ciuman," ucap Wulan dengan wajah serius. Keduanya terbungkam, saling memikirkan apa yang mereka pikirkan kali ini tentang Anandeya Permana. "Oh ya nanti malam aku ada acara pesta, bagaimana jika kita undang Deya? Aku rasa dia begitu sedih dengan insiden lem alteco itu?" sungut Dipa merasa bersalah. "Setuju! Ayo kita ajak dia minum. Kau tahu, masa SMA-mu tidak seru jika kamu tidak melanggar aturan." Wulan berseru dengan girang diikuti anggukan kepala Dipa. Mereka lantas berlari mengejar Deya yang berjalan cukup jauh. "Deya! Tunggu! Kami ingin bicara denganmu!" ***** Jangan lupa dukung terus cerita ini dengan tap love-mu. Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD