***
"Deya, tunggu!" Wulan dan Dipa mengejar langkah Deya yang semakin cepat menuju ke kelas. Mereka nyaris menabrak beberapa siswa yang berjalan berlawanan arah hendak pergi ke kantin sekolah.
Setibanya di kelas, Deya seperti biasa ia melepas tas gendong warna hitam miliknya dan melepas jaket mini mouse kesayangannya. Ia tidak memperdulikan bagaimana Wulan dan Dipa yang terengah-engah mengejar langkahnya yang begitu cepat.
"Deya, maafkan kami. Kami tidak bermaksud untuk mengolok-olokmu, hanya saja jika benar itu adalah tanda ciuman, kami bisa menerima kok. Kamu sudaj dewasa dan—" ucapan Wulan terhenti ketika tatapan kurang suka Deya kembali menghunjam ke arah bola matanya. Dipa lantas segera meralat ucapan Wulan dan meraih tangan Deya.
"Deya, bagaimana jika nanti malam kau ikut pestaku? Aku mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan hari jadianku dengan Ivan. Rasanya aku perlu berbagi kebahagiaan dengan kalian," ucap Dipa dengan wajah berbinar dan ceria.
Deya menatap Dipa sejenak, "Aku takut aku tidak bisa. Aku harus kerja magang."
"Kenapa kau bekerja begitu keras? Magang cuma diselenggarakan selama dua minggu, itu pun sebagai syarat untuk mendapatkan nilai baik di bidang keriwausahaan. Ayolah Deya, jangan bekerja terlalu keras!" bujuk Dipa dengan dahi berkerut, bibirnya yang tipis kini mengerucut karena jawaban yang diberikan Deya padanya.
"Iya, kau bisa meminta ijin pada bosmu dengan alasan lain. Bukankah bosmu sangat baik? Aku rasa ia akan memberi ijin padamu," timpal Wulan turut membujuk.
Deya menghela napas, ia terdiam sejenak mencoba menimang-nimang keputusan apa yang akan ia perbuat. Sebenarnya ia ingin ikut pesta itu karena sudah lama ia tidak pernah berkumpul dengan teman-temannya namun di sisi lain ia harus tetap bekerja magang untuk menambah uang penghasilan terlebih neneknya belum pulih betul.
"Ayolah Deya, sekali ini saja." Dipa kembali membujuk dengan tangan menjura di d**a. Deya menatap Dipa dan Wulan bergantian, wajah mereka terlihat begitu memelas di hadapannya, membuat Deya tak mampu untuk menolak permintaan mereka.
"Baiklah, aku akan ikut berpesta denganmu malam ini." Deya memutuskan membuat kedua sohibnya nyaris melompat bersamaan dan berpelukan. Seperti itukah reaksi mereka? Sebenarnya itu terlalu berlebihan.
"Ada apa ini?" tanya Rheina dengan wajah polos ketika melihat Dipa dan Wulan berpelukan dengan girang. Rheina yang baru saja sampai di kelas merasa heran dengan kedua sahabatnya yang terlihat girang luar biasa.
"Rheina, nanti malam ikutlah berpesta denganku. Aku akan menyiapkan beberapa makanan dan minuman lezat untukmu," ucap Dipa dengan bahagia seraya menraih tangan Rheina.
"Pesta?" Rheina mengulang ucapannya ketika ia merasa heran dengan ucapan Dipa. "Dalam rangka apa?"
"Dipa dan Ivan sudah jadian, mereka akan merayakannya," sambung Wulan membuat tatapan heran Rheina semakin menjadi.
"Oh, memangnya harus dibuat pesta ya?" gumam Rheina dengan polos membuat Deya menahan rasa ingin tertawa. Sungguh Rheina jauh lebih polos daripada dirinya.
"Ah, ketika kau memiliki seorang kekasih, kau hanya ingin memperkenalkan dia pada semua orang. Itu semacam tanda klaim bahwa orang itu adalah milikmu sehingga temanmu tidak akan berani untuk merebutnya darimu," jelas Wulan dengan wajah terlihat begitu serius.
"Betul!" Dipa mengangguk, merasa jika Wulan benar-benar tahu apa maksud dari pesta yang ia adakan.
"Oh, begitu?! Baiklah, aku akan ikut dengan kalian," ucap Rheina memutuskan membuat Dipa dan Wulan kegirangan lalu menepukkan kedua tangan mereka di udara.
"Ah, kalian adalah sahabat-sahabatku yang manis. Terima kasih." Dipa merasa terharu, ia memeluk Rheina dan menyentuh pundak Deya bergantian. Baik Deya maupun Rheina saling tersenyum, turut berbahagia atas kebahagiaan Dipa kali ini. Semoga mereka langgeng sampai jadi kakek dan nenek. Hihihi.....
****
Ponsel Dhante siang itu berbunyi, mengalihkan perhatian si pemilik dari banyaknya laporan yang tertumpuk di meja. Dhante meraih ponselnya, membuka beberapa pesan penting yang dikirim Eros kepadanya.
"Bos, saya menemukan alamat apartemen Davia beserta kekasihnya. Apakah Anda ingin mengunjunginya sekarang?" Bunyi pesan dari Eros membuat perhatian Dhante benar-benar teralihkan.
Dhante terdiam, ia menimang-nimang kira-kira jawaban apa yang akan ia berikan pada Eros. Jika ia menjawab ya maka Dhante harus bersiap untuk terluka jauh lebih dalam lagi namun jika ia menjawab tidak, ada kerinduan yang tertanam cukup kuat di hatinya untuk bertemu sang pujaan hati. Tapi—
Ponsel kembali berbunyi, kembali menampilkan pesan Eros di layar ponsel milik Dhante.
"Sepertinya saya perlu mengirimkan alamatnya untuk Anda. Davia tinggal di Apartemen Dahlia, di jalan Euphorbia merah no.159. Silakan disimpan alamatnya, mungkin Anda membutuhkannya suatu saat."
Dhante melepas ponselnya, ia bersandar pada kursi sambil menggosok dagunya yang sama sekali tidak gatal. Kali ini apa? Haruskah ia berlari ke alamat itu untuk sekadar melihat Davia dari dekat? Apakah wanita itu masih mengingatnya setelah mencampakkannya dengan keji di detik-detik menjelang pernikahan mereka?
Menuruti kata hati, Dhante tak bisa mengelak untuk pergi bergegas ke alamat yang diberikan Eros padanya. Tubuhnya kini hanya ingin melihat keadaan Davia sekarang. Walaupun ia pernah dicampakkan tapi hatinya benar-benar tulus dalam mencintai.
Menyambar kunci mobil, Dhante segera meraih jas yang ia gantung di kursi. Berjalan cepat keluar dari kantor, Dhante tidak sabar untuk melihat Davia. Setelah dua tahun berlalu, seperti apakah dia? Masih ingatkah ia pada Dhante? Pria yang sangat mencintainya hingga rela bersujud dan mencium kakinya?
***
Setelah meminta ijin pada Tuan Dorry, Deya akhirnya bisa melewati malam indah dalam sebuah pesta meriah yang diadakan di rumah Dipa. Masih mengenakan seragam, Deya terlihat senang ketika melihat Dipa begitu bahagia tinggal di sisi Ivan, pria yang berusia empat tahun jauh lebih tua dari Dipa. Mereka terlihat serasi dan kompak.
"Ah, kalian pasangan yang begitu manis," puji Wulan dengan tatapan penuh memuja. Dipa dan Ivan saling bertatapan lalu tertawa bahagia. Ya, siapa yang tidak bahagia ketika orang lain mulai iri dengan apa yang kita punya.
"Terima kasih teman-teman tanpa kalian pestaku pasti berjalan sepi dan tidak semarak seperti sekarang," ucap Dipa dengan wajah terlihat begitu terharu.
"Sudahlah, kita adalah sahabat. Sudah sepantasnya kit merasakannya bersama-sama," tandas Wulan menyirnakan gelombang sedih yang Dipa ciptakan. Suasana kembali semarak ketika Ivan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas jinjingnya.
"Aku ada satu hadiah buat kalian. Tadaa!" ucap Ivan dengan bangga seraya menunjukkan sebuah botol berisi bir rasa anggur merah.
"Apa itu?" tanya Rheina tak mengerti seraya menoleh ke arah Deya. Gadis berambut sebahu mengendik, ia memilih untuk tidak berargumen sekarang.
"Ini adalah minuman surga. Minumlah sedikit untuk menghangatkan badan," ucap Ivan dengan bangga seraya membuka tutup botol dan menuangkan sedikit minuman itu pada gelas kosong yang tersedia.
"Kita masih pelajar, apa boleh meminum bir?" tanya Rheina sekali lagi. Rasa penasaran jelas terlihat di wajahnya yang begitu ayu.
"Sebenarnya tidak tapi untuk merayakan hari yang sangat berharga ini, aku harap kalian mau mencobanya walau seteguk saja." Ivan terlihat meminta, ia menatap Dipa seolah meminta pertolongan agar Dipa mau membujuk teman-temannya untuk mencoba bir yang ia bawa.
"Ah, Ivan benar. Selama kita tidak minum banyak-banyak, kita tidak akan mabuk. Ehm, bagaimana jika kita melakukan permainan batu, kertas, gunting? Siapa yang kalah maka ia wajib meminum bir yang dituangkan di dalam gelasnya?" usul Dipa lalu disetujui oleh Wulan dan Ivan.
Deya dan Rheina terdiam. Dipa kembali membujuk, memohon agar kedua sohibnya yang polos itu mau ikut berpartisipasi memeriahkan acara mereka. Akhirnya dengan segala jurus bujukan yang jitu, Deya dan Rheina mengikuti tantangan dan menerima bir di gelas mereka.
Acara pun dimulai, permainan batu, kertas, gunting mulai meriah ketika satu per satu anggotanya kalah dan harus meminum sedikit bir yang dituang di gelas mereka. Sial, Deya adalah orang yang paling bodoh dalam permainan itu. Di setiap permainan, ia bahkan tidak memiliki keberuntungan untuk menang. Hasilnya, Deya-lah yang paling mabuk dalam acara itu.
"Wah, Deya pingsan. Bagaimana ini?" tanya Dipa mulai panik ketika Deya tak sanggup untuk mengangkat kepalanya.
Semua terdiam hingga akhirnya ponsel Deya berbunyi. Dipa memberanikan diri untuk membuka ponsel tersebut dan membaca isi pesan yang ditujukan kepada Deya.
"Cepat datang ke rumahku di jalan bougenville no.87. Aku membutuhkan secangkir kopi."
Dahi Dipa mengerut, ia tidak mengerti dengan isi pesan si serigala jahat yang baru saja ia baca.
"Pesan dari siapa?" tanya Wulan dengan wajah kumal sedikit tidak sadar karena bir yang dibawa oleh Ivan.
"Serigala jahat," jawab Dipa pelan membuat Wulan terkekeh aneh.
"Kenapa kau tak hubungi dia saja untuk menjemput Deya. Aku tahu dia pasti pacarnya dan pacar sudah pasti tahu alamat rumah Deya," usul Wulan dengan nada suara mulai mennceracau tidak jelas.
"Kau benar, sebaiknya kau hubungi saja dia." Rheina yang sedikit mabuk memberi usul sembari memijit-mijit dahinya yang pusing.
Dipa menganggukkan kepala, ia lantas membalas pesan itu dengan hati-hati.
"Tuan, aku Dipa teman Deya. Bisakah kau datang ke alamatku di jalan Mangga no. 507? Deya sedang mabuk dan ia tidak bisa pulang."
Dipa meletakkan ponsel, ia berharap si serigala jahat mau datang dan membantu membawa Deya pulang.
"Aku penasaran seperti apa wajah si serigala jahat itu," timpal Wulan dalam igauannya.
Dipa menatap Wulan sedikit kabur, hanya dia dan Ivan yang tidak terlalu mabuk dalam pesta malam itu.
"Seganteng apa dia hingga Deya begitu merahasiakannya? Sungguh jahat bahkan sahabat sendiri tidak boleh melihatnya," gumam Wulan lirih sebelum ia tertidur dalam buaian mimpi.
"Dasar jahat!"
****
Dhante merasa resah ketika genap pukul 10 malam tapi Deya tak kunjung datang ke rumahnya. Sehabis mandi air hangat, Dhante kembali mengecek ponselnya dan menemui pesan singkat dari nomer Deya.
Mata pria itu membelalak, ia mendadak murka ketika tahu bahwa Deya tengah mabuk di rumah temannya. Jadi seperti ini? Ketika ia membutuhkan kopi justru Deya tengah mabuk di rumah orang. Sebenarnya, ia membutuhkan uang tidak sih?! Sungguh merepotkan!
Meraih jaket hoodie merah yang tergantung di sisi meja, Dhante bergegas pergi untuk menjemput Deya di alamat yang sudah tertera. Kali ini ia membutuhkan Pak Sofyan, sopir pribadinya untuk turut menjemput gadis sialan itu.
"Dasar bocah! Beraninya mabuk di tempat orang lain. Tunggu saja aku pasti akan memberi denda padamu," gumam Dhante lantas keluar dari dalam kamarnya guna menyusul Deya.
***
Setelah mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, akhirnya Dhante sampai pada alamat yang tercantum dalam pesan singkat yang dikirim oleh temannya Deya. Dhante membuka pintu pagar yang tidak terkunci lalu menghampiri sekelompok pelajar yang tengah mabuk di teras rumah.
"Apa kau yang mengirim pesan singkat dari nomer Deya?" tanya Dhante pada Dipa yang masih memijit dahinya. Hanya Dipa yang terlihat sedikit waras di tempat itu.
Dipa mendongak, ia mengangguk berat. Sejenak ia bisa melihat sosok tampan berwajah dewasa di hadapannya. Jadi ini pria yang dijuluki serigala jahat oleh Deya? Benar-benar jahat! Bagaimana bisa Deya memiliki mata rabun dan menjuluki pria tampan sebagai serigala jahat?!
"Tunggu! Apa kau pacarnya?" tanya Dipa diambang ketidaksadaran. Dhante mendengkus, ia lalu meraih tubuh Deya yang sudah tak sadarkan diri dan membopongnya.
"Jika iya memangnya kenapa? Aku tidak suka melihat kalian seperti ini. Berhenti bergaul dengan Deya jika pada akhirnya kalian hanya meracuninya saja." Dhante menyalurkan kemurkaannya lantas berbalik pergi membawa Deya yang menceracau tidak jelas.
Dipa terdiam, ia menatap kepergian Dhante dengan mata terlihat begitu terharu. "Dia sangat tampan dan dewasa. Deya pasti memiliki mata yang juling."
***
Sesampainya di mobil, Dhante meletakkan tubuh Deya dengan hati-hati di jok belakang. Ia duduk di samping Deya, tak bisa menghindar ketika gadis itu menyandarkan kepalanya di lengan Dhante.
"Tuan, kita akan pergi kemana?" tanya Pak Sofyan menyela ketika Dhante tak kunjung memberi perintah padanya.
Dhante tersadar, ia sibuk menatapi wajah Deya yang memerah akibat meminum alkohol.
"Ke rumah saja Pak, aku tidak tahu rumah dia dimana." Dhante menjawab tanpa menatap Pak Sofyan. Sopir pribadi itu mengangguk, ia lantas menjalankan mobil menuju ke kediaman pribadi milik Dhante Shie Widjaya.
Selama perjalanan Dhante mendekap tubuh Deya, gadis berambut sebahu itu terus mengerang kepanasan dan menceracau tidak jelas.
"Hei Tuan, mau pergi kemana? Ah, pesta mereka sangat bagus, aku begitu iri pada pasangan Dipa dan Ivan," gumam Deya dengan mata masih terpejam.
"Kenapa iri?" tanya Dhante menyahut ucapan Deya seraya menatap keluar jendela mobil.
Deya tertawa lirih. "Dipa memiliki kekasih yang tampan dan muda."
"Menurutmu apa aku kurang tampan?" tanya Dhante penasaran, kali ini ia mengalihkan pandang pada gadis mabuk di sisinya.
"Kau? Ah, kau sangat jelek dan tua. Bagaimana bisa aku memperkenalkanmu pada teman-temanku?!" dengkus Deya lalu kembali tertawa lirih.
Dhante mengembuskan napas kesal, ia lalu menegakkan tubuh Deya dan tidak mendekapnya lagi. "Duduklah sendiri, aku tidak mau menjagamu."
"Ah, jangan begitu. Tubuhmu sangat hangat, aku menyukainya." Deya kembali menempel pada Dhante, meletakkan kepalanya di d**a pria itu lalu mengelus-eluskan kepalanya mirip seekor kucing yang meminta belaian dari sang majikan.
"Aku pasti akan menghukummu besok!" gumam Dhante penuh kesal. Deya kembali terkekeh, matanya terus terpejam karena efek minuman yang ia minum.
"Hukuman apa? Apa kau ingin melihat isi bajuku lagi? Iya? Lihat sekarang, aku sama sekali tak keberatan." Deya dengan nekat mulai membuka kancing baju seragam yang ia pakai. Hal ini membuat Dhante panik luar biasa terlebih ada Pak Sofyan yang sesekali melirik mereka dari kaca spion depan.
"Hei ... Hei tunggu! Awas kamu kalau nekat! Aku benar-benar akan menghukummu!"
*****
Jangan lupa tap love ya jika kamu suka sama cerita ini.
Thank you.