**** Bagi Davia pantang baginya untuk mundur dari apa yang ia inginkan. Entah, mungkin karena sudah menjadi sifatnya sedari kecil, ia selalu tidak suka jika ada orang lain yang bahagia dengan hidupnya. Pagi itu—bahkan ketika matahari belum juga muncul di ufuk timur—Davia sudah melangkahkan kakinya menuju ke apartemen Dhante. Wajah wanita itu terlihat kusut, dengan langkah terburu ia mencoba menekan tombol pintu apartemen milik Dhante. Tak peduli jika tidak ada sahutan, wanita itu terus mencoba membangunkan si pemilik apartemen. Dhante yang tertidur pulas merasa terganggu dengan tamu dini hari tersebut. Menyalakan lampu yang berada di samping meja, Dhante beringsut bangun lalu mengerjapkan mata. Diliriknya jarum jam di dinding, pukul 04.15 pagi. Bunyi bel kembali mengalihkan perhatian

