**** Di dalam waktu yang bersamaan, Dhante mengemudikan mobilnya dan berusaha memarkirnya dengan rapi tak jauh dari area sekolah. Dahinya berkerut saat melihat sosok teman Deya berjalan seorang diri keluar dari gerbang. Turun dari mobil yang ia kendalikan, Dhante berniat ingin menghampiri gadis yang beberapa waktu lalu ia jumpai tengah mabuk bersama gadis kecilnya yang nakal. "Hai," sapa Dhante maskulin. Suaranya yang serak lagi memesona membuat Dipa segera menoleh dan mendongak. Mereka bersitatap cukup lama, Dipa mencoba meraba-raba kira-kira siapa pria yang tengah menyapanya sekarang. "Oh, hai juga." Dipa terlihat gugup, ia masih lupa-lupa ingat akan sosok tersebut. Masih mencoba mengingat, Dipa akhirnya paham saat pria dewasa itu menyebut nama Deya di depannya. "Dimana Deya? Biasany

