Pagi-pagi Lucas tiba di depan rumah Aleah. Rachel membuka tirai jendela dan mengintip siapa tamu pagi ini. Tak berapa lama pintu diketuk dan Rachel membukanya. Lucas tersenyum lebar mencoba bersikap ramah pada anak itu meski sebenarnya ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi anak kecil.
“Siapa yang datang, sayang?” tanya Aleah sambil melangkah menuju ke ruang tamu “Lucas? Pagi-pagi datang ke sini ada apa?” tanyanya begitu matanya melihat Lucas.
“Siapa itu, nak?” pertanyaan datang lagi dari Thomas. Pria tua itu menghentikan langkah lemahnya saat melihat Lucas “ah, rupanya kau,” kata Thomas.
“Selamat pagi, pak,” sapa Lucas.
“Kalian sudah saling kenal?” Aleah mengerutkan dahi.
“Bukankah dia teman dekatmu? Dia juga tahu kau punya pekerjaan malam,” kata Thomas.
Aleah menghela napas lega, nyaris saja ia kehilangan pita suaranya karena ia harus menjelaskan siapa pria tampan yang pagi-pagi sudah tiba di rumahnya kecuali pria itu punya urusan penting dengannya.
“Aku ingin bicara dengan Aleah, apa aku bisa meminjamnya sebentar?” tanya Lucas.
“Paman ini siapa, mama?” timpal Rachel.
“Ini teman mama, sebentar ya,” kata Aleah sambil berangsur keluar dari pintu.
Aleah menjauh dari pintu sambil matanya mengawasi ke belakang takut ada yang akan mendengarnya. Dengan santai Lucas menyusulnya.
“Apa kau gila pagi-pagi sudah datang ke sini? Bagaimana kalau ayahku menanyakan banyak hal tentangmu?” omel Aleah.
“Jawab saja aku kekasihmu, mudah kan?” jawab Lucas santai.
Aleah menghela napas “itu tidak mungkin, aku tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun, bagaimana bisa tiba-tiba aku mengatakan aku kekasihmu.”
Lucas mengerutkan dahi “apa itu masalah? Memangnya kau tidak akan mengenal lelaki mana pun selain ayahmu? Kau pikir kau tidak akan bertemu seseorang untuk kau jadikan teman hidupmu?”
Aleah meraup seluruh mukanya “kau tidak akan memahami ini,” dengusnya “lalu, untuk apa kau datang sepagi ini?”
“Lusa aku ada turnamen, aku ingin kau mendukungku di sana,” kata Lucas berterus terang.
“Di mana?” tanya Aleah.
“Italia.”
“Apa! Apa kau sedang bercanda? Kau pikir berapa isi kantongku? Bagaimana bisa aku terbang ke Italia dengan pekerjaanku yang hanya seorang buruh pabrik?” Aleah terkejut setengah mati mendengar Lucas menyebut negara yang amat jauh dari rumahnya itu.
“Jangan pikirkan itu, Aleah, kau akan terbang bersamaku, aku yang akan membiayai semuanya.”
“Kalau aku pergi, bagaimana dengan Rachel? Aku tidak mungkin meninggalkannya dan lagi tidak mungkin aku hanya pergi sehari saja, bagaimana dengan pekerjaanku? Kau tahu bukan jika aku tidak hadir dua hari berturut-turut maka....”
“Aku bisa mengatasi itu untukmu,” potong Lucas “dan Rachel, kita akan mengajaknya” tambahnya.
“Mengajaknya ke mana?” tiba-tiba Thomas menimpali dari teras, ia lalu melangkah mendekati keduanya.
Aleah dan Lucas sama-sama diam sementara Thomas menatap mereka menunggu jawaban. Lucas menarik napas panjang “aku akan membawa putrimu ke Italia, pak, kuharap kau mengizinkannya pergi bersamaku,” jelas Lucas.
Aleah terperangah mendengar Lucas yang berkata jujur dengan begitu santainya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang seakan bersiap menghadapi amarah Thomas.
Thomas pun tersenyum penuh arti “kau pikir aku akan dengan mudah melepas putriku satu-satunya untuk pergi bersama pria asing? Dan lagi tempat tujuan kalian akan sangat jauh dari pantauanku.”
“Aku tahu kau tidak akan dengan mudah mengizinkanku membawa putrimu, tapi dengan meminta izinmu secara langsung seperti ini apa kau pikir aku bukan lelaki yang baik?”
Thomas tersenyum lagi “untuk apa kau mengajak anakku pergi sejauh itu?”
Lucas diam sejenak “aku akan mengikuti turnamen di sana dan aku butuh semangat dari putrimu, pak.”
“Lalu bagaimana dengan Rachel? Kau tahu bukan putriku adalah seorang ibu?”
“Aku akan membawanya juga,” jawab Lucas.
“Apa kehadiran Aleah sangat penting untukmu?” tanya Thomas dengan ekspresi tidak terbaca.
“Sangat penting,” jawab Lucas mantap dengan matanya yang berani menatap lurus ke mata Thomas.
Thomas tersenyum lagi penuh arti “bawalah anakku,” katanya.
Aleah terkesiap mendengarnya “ayah, kau serius?”
Thomas menganggukkan kepala “ya, pergilah,” jawab Thomas kemudian menatap Lucas yang tampak tersenyum lega “tapi jika terjadi sesuatu dengan anak dan cucuku aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan selamat,” lanjutnya dengan senyum yang mengancam.
“Terima kasih, pak, kau akan melihat anak dan cucumu pulang dengan selamat,” janji Lucas.
“Buktikan saja.”
***
Hari itu juga Lucas, Aleah dan Rachel terbang ke Italia menempuh jarak 11432 kilometer dari Indonesia. Mereka akan menuju Sirkuit Mugello (Autodromo Internazionale del Mugello) yang terletak di Scarperia e San Piero, Toskana, Italia.
Dari Jakarta mereka mendarat di Bandar Udara Internasional Malpensa, Milan. Bandara ini adalah salah satu dari dua yang terpenting di Italia selain Bandar Udara Leonardo da Vinci yang terletak di Roma. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai di Sirkuit Mugello menggunakan transportasi darat.
Mereka menginap di Hotel Poggio dei Medici Toscana. Hotel ini merupakan hotel kelas atas dengan harga check in lebih dari 21 juta rupiah untuk semalam. Hotel ini terletak di Lembah Mugello. Jaraknya 7 km dari kota abad pertengahan Scarperia e San Piero dan 6 km dari stasiun kereta San Piero a Sieve. Butuh waktu sekitar 17 menit untuk sampai di Sirkuit Mugello menggunakan mobil.
Hotel ini menampilkan teras taman, kamar dan suite berdekorasi hangat dilengkapi Wi-Fi gratis, TV layar datar, dan mini bar. Kamar di kelas yang lebih tinggi memiliki pemandangan lapangan golf. Kamarnya memiliki ruang tamu terpisah. Layanan kamar juga disediakan.
Sarapan prasmanan gratis ada di sini. Ada juga lapangan golf 18 lubang, spa, kolam renang outdoor, dan pusat kebugaran, serta restoran elegan dengan tempat duduk di teras dan pemandangan danau Mugello yang cantik.
Begitu sampai di kamar hotel mereka segera beristirahat setelah berjam-jam berada dalam pesawat. Terutama Rachel, mengingat kondisinya yang rapuh ia tidak boleh kekurangan jam tidurnya. Aleah membelai-belai rambut Rachel supaya gadis kecil itu lekas memejamkan mata. Mungkin karena lelah hanya dalam hitungan menit gadis kecil itu sudah terlelap menuju alam mimpi.
Ketiganya menginap dalam satu kamar yang sama dengan dua ranjang besar yang bersebelahan di dalamnya.
“Jadi, siapa yang akan tidur sendirian malam ini?” goda Lucas.
Aleah menoleh ke arah Lucas “tentu saja kau.”
Lucas terkekeh lalu menarik lengan Aleah membawa gadis itu dalam pelukannya “tidak bisakah kita yang seranjang?” bisik Lucas dengan nada sensual dan napas panas ditelinga Aleah.
Aleah meremang merasakan hawa panas yang seperti sengatan listrik itu. Ah, perasaan macam apa ini? Ia tak pernah semalu ini di depan seorang lelaki. Kenapa ia seakan bergetar dan bahkan ingin tenggelam dalam dekapan Lucas yang hangat.
Aleah mendorong Lucas dan berbalik menyembunyikan wajahnya yang memerah “aku gerah, mau mandi dulu,” katanya kemudian cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi yang berada beberapa langkah saja dari ranjang.
Lucas terkekeh melihat Aleah yang sangat malu dengan godaannya. Tetapi jujur saja. Di dalam kamar hotel dengan pemandangan danau di balkon di tambah hawa dingin gerimis yang turun, bukankah suasana ini sangat tepat untuk 'bercocok tanam'.