Berharap Jadi Temanmu

1142 Words
“Kau mau pesan apa?” tanya Rafael. Aleah menelusuri buku menu di depannya. Ia bahkan tidak tahu apa makanan-makanan itu. Dari gambarnya saja Aleah sudah minder, ia tak pernah memakan makanan yang ditata sebagus itu. “Aleah?” Rafael memecah lamunan Aleah. “Ah, tidak, saya hanya ingin air mineral saja,” jawab Aleah. Rafael mengerutkan dahi melihat gerak-gerik Aleah. Ia tampak tak nyaman dan orang-orang di sekitar mereka bahkan mulai berbisik-bisik. Ia juga menoleh ke arah pelayan di sampingnya yang sudah tidak tahan lagi dengan tawa yang mungkin sudah mengepul di ujung bibirnya. “Kita pindah tempat saja,” putus Rafael. *** Mereka akhirnya duduk di depan sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Tampak sosis bakar dengan saus pedas dan minuman bersoda tersaji di meja. Semua itu Aleah yang memesan. “Kenapa Anda tidak memesan makanan?” tanya Aleah sambil membatin, tentu saja Rafael tidak akan memesan makanan jalanan yang bersentuhan langsung dengan debu dan asap kendaraan. “Untuk alasan kesehatan,” jawab Rafael. Aleah menghela napas. Ia ingat pertemuan pertama mereka di rumah sakit dan pria itu tampak sedang sangat sakit kala itu. “Apa sedikit saja tidak boleh? Itu tidak akan membuat Anda meninggal bukan?” Rafael mengangkat sebelah alisnya lalu terkekeh “kau ada benarnya juga,” katanya “baiklah, aku akan memesan makanan yang sama denganmu tapi dengan level pedas yang lebih rendah.” Aleah tersenyum lebar mendengarnya. Pun Rafael melihat Aleah yang jadi lebih santai. “Omong-omong Anda ingin berterima kasih untuk apa?” tanya Aleah. Rafael menelan sosis bakar yang cukup pedas di lidahnya “ah, jangan bicara formal seperti itu, bukankah ini sudah di luar area perusahaan sekaligus di luar jam kerja.” Aleah malah jadi merasa rikuh “mana bisa begitu, Anda seorang elite perusahaan dan saya hanya operator biasa.” “Lalu apa masalahnya?” “Em... .” “Jangan bersikap seperti itu,” kata Rafael lembut “aku berharap kita bisa jadi teman,” tambahnya. Hampir saja Aleah tersedak sosis bakar terakhirnya. Bumbu pedas di sosis itu pun menyebar dalam tenggorokan Aleah dan menyebabkan sensasi terbakar di sana. Cepat-cepat ia meminum minumannya supaya rasa terbakar itu segera menghilang. Tapi sayang sekali, minumannya mengandung soda dan soda malah akan menambah sensasi terbakar itu. Ia melirik minuman Rafael dan tanpa diminta Rafael mendorong gelas minumannya ke depan Aleah “minumlah,” suruhnya. Tanpa pikir panjang Aleah meminum jus melon yang manis dan segar dalam tenggorokannya. Rasa terbakar itu pun berangsur menghilang kemudian Aleah melanjutkan menyantap sosis bakar terakhirnya yang tinggal setengah. Rafael terkekeh geli melihat itu. Tampaknya perempuan itu benar-benar lapar setelah seharian mengejar target produksi di pabrik. “Aku berterima kasih karena kau menolongku di rumah sakit,” katanya. “Aku tidak sedang menolongmu,” sanggah Aleah dengan bahasanya yang tidak lagi formal “waktu itu kau tiba-tiba pingsan saat bertabrakan denganku jadi aku pikir itu salahku,” sambungnya. “Itu artinya kau sudah menolongku,” tegas Rafael dengan nada yang lembut “waktu itu aku sudah tidak bisa menahan rasa sakitku dan kebetulan saja kita bertabrakan jadi itu membuatku limbung dan akhirnya jatuh,” paparnya. “Memangnya apa penyakitmu?” tanya Aleah. Rafael diam sejenak, tampak ragu untuk berterus terang pada Aleah tetapi baru saja ia bilang ingin jadi teman perempuan itu. Ia pun menghela napas “penyakit jantung bawaan,” kata Rafael akhirnya. Muka Aleah jadi membentuk ekspresi simpati. “Tapi jangan kasihan padaku,” lanjut Rafael dengan senyumnya yang sangat mudah ia kembangkan. Aleah terkesiap, ia buru-buru menyembunyikan wajah mengasihaninya dan menggantinya dengan senyuman “sejak kapan penyakit itu ada?” tanyanya lagi. “Sejak aku kecil,” jawab Rafael “aku lahir prematur dan karena hal itu tubuhku jadi lemah dan, ya, seperti sekarang,” lanjutnya. Aleah tak bisa menyembunyikan rasa ibanya. Tak bisa ia bayangkan kalau ia harus berteman dengan penyakit mematikan sejak ia kecil. Entah bagaimana masa pertumbuhan Rafael hingga ia bisa jadi orang penting seperti sekarang. Walau perusahaan itu keluarganya yang mendirikan tetap saja ia butuh kemampuan khusus dan otak yang cerdas untuk memimpin salah satu perusahaan besar di negeri ini. *** Rafael mengantar Aleah sampai ke beranda rumahnya. Dilihatnya sebuah rumah kecil dengan pekarangan yang dipenuhi berbagai jenis tanaman hias dan sebuah pohon sawo yang buahnya kini sudah langka di pasaran. “Wow, kau punya pohon sawo!” seru Rafael sebelum Aleah turun dari mobil. “Ya, tapi buahnya belum matang, nanti aku akan beritahu kalau sudah matang,” kata Aleah. “Janji?” Aleah mengerutkan dahi, heran dengan nada bicara Rafael yang seperti tak punya waktu lagi. “Ah, aku hanya takut kita tidak bisa bertemu lagi,” kata Rafael. “Apa kau akan mati secepat itu?” Rafael terkekeh “aku hanya khawatir.” “Bersemangatlah!” seru Aleah dengan aura positifnya. Rafael tercenung melihat ekspresi ceria itu. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar kencang. Tapi kali ini lain. Ia tidak merasakan sakit. Yang ada hanya perasaan bahagia dan penuh harap. Ah, perasaan apa ini. Mana mungkin Rafael jatuh cinta pada istri orang. Ia bahkan sudah memiliki buah cintanya sendiri. Lamunan Rafael terpecah saat Aleah keluar dari mobil. Ia memandangi perempuan itu masuk ke dalam rumah dan bayangannya menghilang dibalik pintu. Tidak, ini tidak boleh. Ia tidak seharusnya menyukai seseorang yang sudah berkeluarga. *** Pagi-pagi Rafael meminta HRD untuk memberikan ia data tentang Aleah. Baru beberapa detik ia duduk di mejanya data tentang Aleah sudah bisa ia dapatkan. Rafael pun membaca data tentang Aleah, yang ternyata masih berstatus lajang. Rafael mengerutkan dahi mengetahuinya. Lalu, apakah Aleah tak pernah menikah? Apa mungkin pernikahannya tidak tercatat negara? Atau memang pernikahan itu sengaja disembunyikan? Saat bel tanda jam makan siang berdering, Rafael masih berada di ruang produksi, ia tidak sengaja mendengar dua orang operator jahit sedang menggunjingkan Aleah. “Kau tahu Aleah?” “Ya, ada apa?” “Waktu itu aku lihat bos kita yang baru tersenyum-senyum padanya seperti tertarik padanya.” “Yang benar, wah, dia beruntung sekali.” “Dia pasti menggunakan kecantikannya untuk menggoda bos kita yang tampan itu, dia kan punya anak tetapi tidak jelas siapa ayahnya.” “Aku baru tahu dia punya anak.” “Dia punya, tetapi tidak pernah terlihat siapa suaminya.” “Mungkin mereka harus terpisah karena suatu keadaan atau suaminya sudah meninggal.” “Mana mungkin, dilihat dari tampangnya bisa saja anaknya itu dihasilkan dari pergaulannya dan sekarang ia sedang mencari pria tampan dan kaya supaya bisa menumpang hidup.” “Apa Aleah orang seperti itu?” “Itu pasti, kau jangan tertipu dengan wajah cantiknya, justru wajah-wajah seperti itulah orang-orang munafik yang sebenarnya.” “Ya ampun, aku tidak menyangka perempuan yang tampak baik seperti itu ternyata aslinya sangat busuk dan rendahan.” Rafael mengerutkan dahi mendengar hal itu. Apa benar Aleah perempuan yang seperti itu? Tetapi rasa-rasanya tak mungkin melihat perangai Aleah yang tidak neko-neko. Tetapi ia akan mencari tahu yang sebenarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD