Aleah lalu membuka kulkas dan menemukan makaroni, keju, telur, makanan kaleng, bawang bombai, saus, daun seledri, wortel, buah apel, dua botol wine dan sirup rasa jeruk yang tinggal setengah botol. Aleah mengambil semuanya kecuali dua botol wine, telur, makanan kaleng dan buah apel.
Aleah meletakkan bahan-bahan masakannya di meja dan mulai mengeksekusi semua bahan makanan itu. Awalnya ia merebus makaroni dalam air mendidih sampai melunak. Ia lalu memotong bawang bombai, mencincang wortel dan daun seledri.
Setelah itu ia menyiapkan wajan, memberinya sedikit minyak lalu menumis bawang bombai, makaroni, wortel dan daun seledri. Tak lupa ia memberikan garam, lada, dan terakhir menaburkan parutan keju. Entahlah apa yang ia buat. Ia mengaduk semuanya sampai keju meleleh dan menjadi seperti karet lengket dan melekat di antara makaroni-makaroni dalam wajan.
Aleah memindahkan makanan tak bernama itu ke piring dan segera memberikannya pada si tukang suruh di sofa sana. Tak lupa ia juga membuat segelas es sirup rasa jeruk yang tampak segar dalam gelas bening.
Begitu makanan sampai di meja Lucas mengerutkan dahi “apa ini?”
“Namanya tak penting tapi itu bisa mengganjal perutmu yang lapar,” jawab Aleah.
Lucas mengangguk-anggukkan kepala sambil mengambil sendok dan mencicipi makanan antah berantah itu “lumayan,” simpulnya setelah mencecap setiap rasa dalam makanannya “akan kuberi nama makanan ini...makaroni Aurora,” lanjutnya.
Aleah terkekeh geli “makaroni Aurora?”
“Ya, karena ini makaroni dan yang membuat adalah Aurora,” jelasnya “omong-omong aku ingin tahu kenapa kau memilih nama Aurora?”
Aleah menghela napas “aku suka Aurora, dulu waktu aku kecil ibuku sering menceritakan dongeng tentang putri yang dikutuk agar ia tidur selama 100 tahun dan hanya bisa dibangunkan oleh cinta sejatinya,” papar Aleah sambil matanya mengenang dan bibirnya tersenyum “dari kisah itu aku jadi berharap setelah segala kesusahan yang kualami akan ada cinta sejati yang menghilangkan semua kesusahanku.”
Lucas terkekeh geli.
“Kenapa?” Aleah mengerutkan dahi.
“Apa kau sedang terobsesi dengan dongeng putri tidur itu?”
“Itu hanya harapan kecil saja,” kata Aleah kemudian mengambil tas “aku pulang sekarang.”
“Kau bisa pulang sendiri?”
“Tentu saja.”
“Kau memang perempuan yang berani.”
“Bukan berani, aku hanya terbiasa.”
Mendengar itu hati Lucas jadi tercubit. Di depannya ada seorang wanita dengan seorang putri yang sekarat. Tetapi tak ada lelaki mana pun yang bisa menjadi tempatnya bergantung. Hanya ada seorang ayah yang usianya semakin habis dimakan waktu. Ia pun juga menggantungkan hidupnya pada Aleah.
Dengan masih terpincang-pincang Lucas mengantar Aleah sampai di teras untuk melepas perempuan itu pergi. Ia menaiki sebuah angkutan kota dan benar-benar berlalu dari rumah Lucas.
***
Esok hari Aleah bekerja seperti biasa. Hari ini banyak yang harus ia kerjakan. Pakaian-pakaian setengah jadi di pabrik sudah menumpuk dalam keranjang menunggu untuk ia jahit menggunakan mesin bartek.
Saat jam kerja baru saja dimulai Aleah sudah duduk menyalakan mesin dan mulai bergerak cepat membabat habis pekerjaannya. Tetapi ditengah-tengah kesibukannya tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seseorang.
“Hai, kau tampak sibuk,” sapa Rafael.
Aleah mendongak ke arah orang di depannya. Betapa terkejutnya ia melihat pria itu lagi “k-kau...” Aleah terbata-bata.
Rafael tersenyum ramah “jadi di sini tempatmu bekerja?”
Aleah memerhatikan penampilan Rafael yang tampak rapi dengan kemeja dan sepatu kukitnya yang mengilat. Apa dia salah seorang elite perusahaan? Dengan cepat Aleah menundukkan kepala dan menjaga sikapnya “ah, iya, saya operator jahit di sini,”
“Apa setelah bekerja kau ada kesibukan lain?” tanya Rafael.
“Tidak ada,” jawab Aleah begitu saja.
Rafael tersenyum “kalau begitu bisa makan denganku? Anggap saja ini ucapan terima kasihku,” ajaknya.
Aleah mengerutkan dahi sejenak. Ucapan terima kasih? Memangnya kebaikan apa yang sudah ia berikan untuk pria itu?
“Bagaimana?” tanya Rafael lagi.
Aleah terkejut “ah, iya, saya bisa, pak,” jawab Aleah secara spontan.
Rafael tersenyum tampak menahan geli “bagus,” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Aleah. Sementara Aleah kembali sibuk dengan pikirannya mencoba mengingat-ingat lagi untuk apa Rafael berterima kasih kepadanya. Ah, sudahlah, jangan pikirkan apa pun. Pekerjaan semakin menumpuk dan ia harus menyelesaikannya.
Tiba-tiba Clara, operator mesin jarum dua di belakang Aleah memanggil Aleah “hei, Aleah, kenapa pria tampan itu tersenyum-senyum padamu? Kalian saling mengenal?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Aleah singkat. Ia tak ingin memberi jawaban lebih pada Clara mengingat gadis itu adalah biang gosip di tempat kerjanya. Berita macam apa pun tak pernah ia lewatkan. Akan jadi heboh jika dia tahu Aleah dan Rafael sudah saling mengenal sebelumnya.
“Kudengar dia adalah pemimpin perusahaan kita yang baru,” kata Clara “dia juga masih lajang dan ia tidak pernah terlihat menggandeng seorang wanita, kau beruntung kalau bisa mendapatkan pria itu,” tambahnya.
“Jangan ngawur, sudahlah kita bekerja saja,” Aleah mencoba tak menghiraukan ocehan si Clara padahal pikirannya sekarang terisi dengan Lucas dan juga Rafael. Bukankah waktu itu Lucas juga ada di pabrik ini? Jika Rafael adalah penerus perusahaan, lalu siapa Lucas di perusahaan milik Tuan Nathan itu? Bukankah kabar yang ia dengar Lucas adalah putra Tuan Nathan? Kalau Lucas adalah putra Tuan Nathan lalu siapa Rafael? Apa dia juga putra Tuan Nathan? Ah, sudahlah, itu tidak penting. Ia harus menghabiskan pekerjaannya yang semakin menumpuk sebelum kepala produksi melihat pekerjaannya yang menggunung lalu mengomelinya.
***
Pekerjaan Aleah akhirnya habis juga. Jam kerja pun juga telah berakhir. Aleah membereskan meja mesin jahitnya, membersihkan sisa-sisa benang yang tertinggal dan bergegas pulang. Setelah mengisi absen Aleah pergi keluar dari pabrik. Dan di depan sana sebuah mobil mewah dengan pintu terbuka tampak menunggunya. Rafael duduk dengan santai dan tersenyum ke arahnya. Karena Aleah tak ingin ada orang tahu ia mengenal Rafael Aleah berjalan terus dan pura-pura tidak melihat Rafael.
Melihat sikap Aleah, Rafael mengerti bahwa Aleah tidak ingin ada orang tahu mereka saling mengenal. Rafael pun menyuruh sopirnya melajukan mobil menjauh dari pabrik. Aleah melihat mobil mewah itu melaju melewatinya begitu saja. Ia bernapas lega. Syukurlah, Rafael mengerti maksudnya bersikap pura-pura tidak melihatnya.
Mobil itu berhenti cukup jauh dari pabrik dan segera membuka pintu setelah Aleah sudah dekat. Aleah celingak-celinguk memastikan tak ada siapa pun yang melihatnya termasuk Clara si biang gosip. Cepat-cepat ia memasuki mobil mewah itu. “Terima kasih atas pengertiannya, pak,” ucap Aleah setelah pintu mobil ditutup.
Rafael tersenyum ramah “santai saja,” katanya kemudian menyuruh sopirnya melaju.
Selama di perjalanan Aleah hanya diam dan tak berani menatap Rafael. Otot-otot dalam tubuhnya pun ikut menegang padahal jok mobil mewah itu amat sangat nyaman diduduki. Begitu pun Rafael sedari tadi hanya memainkan jari di atas pahanya menikmati alunan musik yang diputar.
Tak berapa lama mereka sampai di sebuah Cafe yang tampaknya hanya dikhususkan untuk kalangan atas. Mereka pun turun dan memasuki Cafe. Beberapa orang tampak memerhatikan Aleah.
Bagaimana tidak, wanita itu masih memakai seragam kerja yang sudah kotor dan bau dengan celana jeans lama yang warnanya bahkan sudah kusam. Ikatan rambutnya bahkan sudah kendor dan ada banyak anak rambut yang terlepas dari ikatan itu sehingga makin memperburuk penampilan Aleah.
Ia duduk dengan rikuh sambil menundukkan kepala menghindari tatapan-tatapan mencemooh orang-orang di sekitarnya. Seorang pelayan yang datang pun sempat melirik ke arah Aleah dan Rafael bergantian kemudian tampak sekali bibirnya menahan tawa.