Hari ini Rafael ke pabrik. Sejak awal ialah yang bertugas mengurus pabrik garmen milik keluarganya itu. Mungkin ia juga yang akan mewarisinya. Tetapi karena kondisinya yang lemah ayahnya jadi harus lebih sering turun tangan atau sesekali Lucas menggantikannya. Ya, walau dengan menggerutu.
Ia berdiri di dekat kaca besar di ruangannya. Dari kaca itu ia bisa melihat langsung proses produksi. Semuanya tampak sibuk terlebih pimpinan mereka ada di tempat kerja. Yang sedang tidak sibuk pun pura-pura sibuk supaya tidak kena marah kepala produksi yang lebih galak dari si pemilik pabrik.
Rafael memasukkan jarinya ke dalam saku celana. Matanya menelusuri semua orang yang ada di ruang produksi. Mulai dari kepala produksi, supervisor, sampai para operator jahit yang kejar-kejaran demi memenuhi target produksi.
Dan matanya berhenti di sana, seorang wanita yang tak asing lagi wajahnya. Aleah, yang sedang mengoperasikan mesin jahit jarum enam. Ia tampak serius memerhatikan laju jarum mesinnya yang menjahit strip pada kain. Oh, jadi dia bekerja di pabrik garmen milik keluarganya? Rafael pun tersenyum simpul kemudian duduk di meja kerjanya.
***
Jam 4.30 jam kerja Aleah sudah selesai. Ia bergegas membersihkan meja kerjanya dan berangsur menuju loker mengambil tasnya kemudian beranjak pulang.
Aleah melangkahkan kaki menuju ke depan gerbang pabrik untuk mencegat angkutan umum yang biasanya lewat di depan pabrik. Tetapi beru beberapa langkah ia menjauhi gerbang matanya menemukan Lucas datang mengendarai motor besarnya. Sayang sekali, saat akan berhenti pria tinggi kekar itu kehilangan keseimbangan dan, jatuh.
Melihat pria itu jatuh malah memancing tawa di wajah Aleah. Pria itu sama sekali tidak cocok dengan gaya jatuhnya yang seperti tidak biasa mengendarai sepeda motor padahal dia seorang pembalap kelas atas.
Lucas menoleh ke arah Aleah yang hanya berdiri saja sambil menertawakannya “aw,” gumamnya dengan wajah kesal.
“Angin apa yang membuatmu tiba-tiba ke sini?” tanya Aleah sambil membantu Lucas bangun dan mendirikan motornya.
“Aku akan mengantarmu pulang,” kata Lucas sambil meringis merasakan nyeri dikakinya.
Aleah melirik ke arah kaki Lucas yang sakit kemudian menyunggingkan senyum “sepertinya aku yang akan mengantarmu pulang,” simpulnya.
“Kenapa aku?” Lucas mengernyit.
Rafael baru saja keluar dari gedung pabrik. Ia berangsur menuju teras pabrik. Sopir pribadinya sudah menunggu dengan mengendarai mobil hitam mewah di depan sana. Sebelum ia sempat memasuki mobil itu mata Rafael menemukan Aleah yang tengah berdiri di depan gerbang tampak tersenyum-senyum di depan seorang pria. Dan pria itu adalah Lucas?
Melihat gelagat mereka sepertinya mereka cukup dekat, entah apa hubungan keduanya. Rafael tak ambil pikir panjang dan segera memasuki mobilnya. Mobil itu pun melaju pelan melewati dua orang itu, “itu Tuan Lucas, apa kita akan berhenti, tuan?” tanya sopirnya.
“Tidak, jalan saja,” jawab Rafael sambil matanya memandangi Aleah dan Lucas dari balik kaca hitam mobilnya. Mobil pun terus melaju menambah kecepatan meninggalkan gedung pabrik garmen itu.
Aleah segera mengambil alih motor besar itu dan menungganginya seolah sudah berpengalaman “kau pikir aku tidak bisa menunggangi kuda besi ini?”
Lucas mendelik “apa kau sungguh bisa mengendarainya?”
“Tentu saja, mau kubuktikan?”
Lucas tak habis pikir. Sebagai seorang perempuan sekaligus seorang ibu ia tak menyangka wanita itu punya sisi yang lain lagi. Sungguh mengagumkan. Tak hanya cantik dan seksi tapi juga berani dan menggoda. Sebenarnya ada berapa kejutan yang dimiliki perempuan itu?
“Ayo naik!” seru Aleah.
Lucas pun melangkah dengan gaya pincangnya yang masih tidak cocok dengan dirinya yang tampak gagah dengan kaos putih dan celana kargo panjang. Ia membonceng motor itu dengan hati-hati karena kakinya yang sakit.
Aleah menggelengkan kepala, masih saja dibuat terkekeh dengan gaya pincang itu. Beberapa orang yang masih berada di sekitar pabrik memerhatikan keduanya bahkan ada yang sampai tak berkedip. Tetapi keduanya tampak tak peduli. Pun Lucas yang tak merasa malu atau risih dengan pandangan-pandangan aneh itu.
***
Mereka sampai di depan rumah pribadi Lucas. Lucas turun dengan hati-hati sambil memegangi kakinya.
“Mau kubantu masuk ke dalam?” tanya Aleah.
“Itu sebuah pertanyaan retorik, Aurora,” kata Lucas sambil menghela napas.
Aleah tersenyum geli “baiklah, ayo masuk.”
Aleah memegangi Lucas dan membantunya berjalan. Ia membukakan pintu dan memapah pria besar itu ke sofa. Lucas langsung menjatuhkan diri di sofa sambil mengerang lirih merasakan kakinya yang nyeri.
Aleah berlutut di depan Lucas dan menyingkap celana kargo panjang yang dipakai Lucas. Tampak sebuah luka lebam yang membiru di sana. Ia pun mendelik “tampaknya ini cukup parah,” pekik Aleah kemudian menatap Lucas “apa kau butuh dokter?” tanyanya.
Lucas menggeleng “tidak, tapi mungkin sedikit pijatan bisa meringankannya,” pikir Lucas lalu melirik ke arah Aleah “apa kau bisa melakukannya?”
Aleah diam sejenak “aku pernah mengetahui teknik pijat tapi aku tidak pernah melakukannya, bagaimana kalau nanti aku malah memperburuk keadaan?”
“Lakukan saja,” putus Lucas.
Aleah tampak meragu sesekali memandangi wajah Lucas dan kakinya bergantian.
Lucas menatap Aleah serius “aku percaya padamu,” katanya.
Aleah menarik napas panjang “baiklah, akan aku coba, tapi jika setelah ini terjadi sesuatu kau harus menghubungi dokter atau setidaknya menemui ahli pijat yang sebenarnya.”
Dengan jari yang bergetar Aleah perlahan menyentuh kaki itu tetapi ia mencoba melakukannya dengan baik dengan pengetahuannya yang terbatas. Tak berapa lama pijatan itu selesai. Lucas mencoba menggerakkan kakinya, memutar pergelangan kakinya sedikit “sepertinya usahamu berhasil?” pikirnya.
“Benarkah?” Aleah mendelik.
“Sakitnya sudah lumayan berkurang, mungkin sebentar lagi akan membaik,” papar Lucas.
Aleah bernapas lega “syukurlah kalau begitu,” katanya sambil berdiri dan mengambil tasnya.
“Mau ke mana kau?” tanya Lucas sambil matanya mengikuti gerakan Aleah.
“Pulang, kenapa?” Aleah mengerutkan dahi.
“Tega sekali kau, kekasihmu sedang sakit dan kau mau pergi begitu saja? Setidaknya rawatlah dulu aku sebentar,” protes Lucas.
“Kau bilang sebentar lagi kakimu akan membaik.”
“Aw, oh tidak, kakiku sepertinya makin sakit, bagaimana ini?” teriak Lucas pura-pura kesakitan.
Aleah mengedarkan matanya sambil menghela napas “ya, baiklah, aku akan di sini sebentar.”
Senyum lebar mengembang di wajah Lucas “kau memang kekasih yang baik.”
“Apa itu pujian?” Aleah menjatuhkan diri di sofa dan duduk di samping Lucas.
“Kau hanya ingin duduk saja?” sindir Lucas sambil mengerutkan dahi
Aleah mengernyit “lalu aku harus apa?” tanyanya tidak mengerti.
Lucas menghela napas lalu menatap Aleah “kau bisa memasak, pasti bisa kan? Aku punya beberapa bahan makanan di dapur, bisa kau buatkan aku makanan?”
Aleah menghempaskan napasnya alih-alih mengeluh “ya, akan kubuatkan kau makanan,” katanya dengan malas melangkahkan kaki menuju dapur.