Awal Dari Segalanya
Hujan turun sejak pagi, menetes perlahan di balik kaca besar ruang kerja Maximillian. Aroma kopi dingin bercampur dengan wangi hujan yang menembus celah jendela. Faith berdiri di ambang pintu, tubuhnya kaku, wajahnya datar dengan riasan seperti biasanya. Tangannya gemetar kecil saat meletakkan map cokelat di atas meja kayu itu.
“Ini… suratnya.”
Suara Faith nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk memecah keheningan di ruangan itu.
Maximillian mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mata abu-abu itu tajam, namun bibirnya tersenyum tipis, senyum yang membuat siapa pun tidak bisa menebak, apakah ia marah, terluka, atau sedang menghitung langkah berikutnya.
“Surat apa ini?” tanyanya pelan.
Faith tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah map di atas meja.
Max membuka map itu. Dalam diam, matanya menelusuri huruf-huruf dingin di atas kertas. Surat gugatan cerai.
Untuk beberapa detik, hanya ada suara hujan yang mengisi ruangan.
Lalu ia menutup map itu perlahan, menegakkan tubuhnya, dan menatap Faith dengan senyum lembut yang entah kenapa justru membuat udara di sekitar mereka membeku.
“Jadi ini keputusan kamu?”
Nada suaranya tidak meninggi. Justru tenang. Terlalu tenang.
Dan itulah yang membuat Faith sulit bernapas.
“Hm,” jawab Faith akhirnya.
Max tersenyum lagi. Ia berdiri, melangkah mendekat. Setiap langkah terdengar berat di lantai marmer.
“Kamu yakin?” bisiknya, lembut sekali. “Kamu serius, mau melepaskan semua yang udah kamu perankan dengan begitu indah?”
Faith mengerutkan kening.
“Aku nggak mengerti maksud kamu.”
“Ah, iya jelas aja enggak.” Max tersenyum samar, menatap wajahnya seolah tengah mengingat sesuatu yang manis. “Aku cuma mikir… betapa hebatnya seorang perempuan bisa masuk ke hidup seseorang lewat sebuah kebetulan kecil, sebuah kencan buta, misalnya… terus lewat kecerdikannya, dia menulis ulang seluruh naskah hidupnya dengan begitu meyakinkan.”
Faith menelan ludah, mencoba mempertahankan ekspresi datarnya.
Namun Max melangkah lebih dekat, jaraknya kini hanya sejengkal. Suaranya tetap tenang, tapi setiap katanya terasa seperti genggaman yang perlahan menjerat lehernya.
“Kalau perceraian ini benar terjadi,” ucapnya pelan, “mungkin banyak hal menarik yang akan muncul ke permukaan. Dunia bisnis paling suka cerita dramatis, terutama tentang perempuan misterius yang tiba-tiba muncul entah dari mana… dan menghilang begitu saja.”
Faith memucat. Ia bisa merasakan darahnya berhenti mengalir sesaat.
Max memiringkan kepala, masih tersenyum.
“Tenang aja, aku nggak akan menyebutkan apa pun. Aku cuman penasaran… apa yang akan terjadi kalau semua topeng itu pecah di depan publik? Apakah mereka akan lebih kasihan… atau justru menganggap kamu seorang penipu?”
Senyumnya lembut, tatapannya hangat, tapi kata-katanya adalah ancaman yang menetes perlahan seperti racun.
Faith tak sanggup menjawab. Ia tahu, Max tahu segalanya, tentang “Faith” yang sebenarnya, tentang kebohongan keluarga kaya, tentang setiap kebohongan kecil yang dulu ia pikir terkubur bersama masa lalu.
Max menepuk lembut map di atas meja.
“Jadi, kamu masih yakin mau menandatangani surat itu di depan aku?”
Faith hanya berdiri diam, matanya berkaca.
Dan Maximillian, dengan tenang, berbalik sambil berkata pelan,
“Oke, sayang. Aku akan kasih kamu waktu. Tapi ingat… topeng hanya bertahan selama orang lain memilih untuk mempercayainya.”
Hujan di luar mengguyur lebih deras, menenggelamkan suara napas Faith yang mulai tersengal.
2 Tahun yang lalu…
Faith tidak pernah merencanakan untuk menjadi istri seorang konglomerat.
Malam itu saja, ia datang ke sebuah restoran mewah karena satu alasan sederhana: kencan buta.
Ia bahkan hampir membatalkannya, karena pada saat itu hidupnya sedang berantakan. Uang tidak banyak, pekerjaan tidak memberikan cukup ruang untuk bermimpi.
Tetapi sahabatnya terus memaksanya.
“Sekali-sekali coba hidup kayak orang kaya.”
Faith hanya tertawa saat mengingat kalimat itu.
Sampai sebuah percakapan di dekat meja resepsionis membuat langkahnya berhenti.
“Kasihan ya, katanya perempuan yang harusnya datang buat blind date sama Max nggak jadi datang.”
“Max yang mana?”
“Maximillian Donovan.”
Faith menoleh, karena baginya nama itu tidak asing. Semua orang tahu keluarga Donovan.
Ia mengikuti arah pandangan kedua pelayan tersebut.
Seorang pria duduk sendirian di sudut restoran dengan menggunakan setelan hitam dan jam mahal.
Wajahnya tampak dingin dan tatapannya mampu membuat orang di sekitarnya tidak berani terlalu lama menatap.
Maximillian Donovan.
Faith menelan ludah tidak percaya, lalu salah satu pelayan berkata, “Namanya juga Faith, kan?”
Seketika Faith membeku. Faith.
Lalu ia melihat dirinya sendiri di pantulan kaca. Kemudian melihat pria di sudut restoran itu.
Sebuah pikiran gila muncul.
Kalau aku bilang aku Faith… siapa yang akan tahu?
Ia tahu itu salah dan ia juga tahu seharusnya pergi.
Tetapi hidup tidak pernah memberinya kesempatan seperti ini.
Faith menarik napas, lalu berjalan menuju meja pria itu. “Maaf."
Max mengangkat wajah, lalu tatapan mereka bertemu.
“Kamu Maximillian?” tanya Fauth dengan suara yang bergetar antara gugup dan yakin.
Max mengamatinya beberapa detik, lalu bertanya singkat, “Kamu Faith?”
Jantung Faith berdetak semakin cepat, lalu ia tersneyum kecil. Wajah tampan Max cukup membuatnya terpesona dalam sekali tatap, lalu dengan yakin ia menjawab, “Iya, maaf aku agak terlambat.”
Satu kebohongan, hanya satu.
Setidaknya, begitu yang Faith pikirkan malam itu.
Lalu Faith duduk tanpa diminta, ia menata napasnya agar tidak terlihat gelisah.
Tapi anehnya, Max tidak terlihat curiga.
Mereka mulai bicara, Faith menjawab dengan hati-hati setiap pertanyaan, menghindari hal-hal pribadi, menimpali dengan tawa kecil dan perlahan ia mulai menikmati kebohongan itu.
Max tampa tertarik. Ia memperhatikan cara Faith berbicara, cara ia menatapnya, bahkan diamnya terasa begitu menarik.
"Jadi kamu suka membaca?" tanya Max.
Faith tersenyum, lalu menjawab, "Iya, aku suka hal-hal yang tenang."
Dan ketika makan malam itu usai, Max mengantar Faith sampai ke luar restoran. Hujan rintik turun dan lampu jalan memantulkan cahaya di aspal basah.
"Senang akhirnya bisa bertemu," kata Max lembut. "Aku pikir kamu nggak akan datang."
Faith tersenyum samar, matanya menatap genangan air di bawah kakinya. "Ya gitulah, kadang hal-hal yang nggak direncakan justru membawa kita ke tempat yang benar."
Kalimat itu keluar begitu saja, tapi terdengar manis di telinga max.
Dan malam itu, adalah malam dimana Faith tidak tahu kebohongan yang ia buat itu akan membawanya masuk ke keluarga Donovan.
Membuatnya menikahi pria yang bahkan tidak pernah seharusnya ia temui.
Dan pada akhirnya… membuatnya menjadi perempuan yang harus mengajukan gugatan cerai kepada laki-laki yang paling ia cintai.
Karena ada satu hal yang Faith tidak tahu malam itu.
Maximillian Donovan juga datang ke kencan itu dengan sebuah rahasia.