bc

Cinta Palsu maximillian

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
drama
bxg
office/work place
naive
civilian
like
intro-logo
Blurb

Lelah atas semua penghinaan dan sering diabaikan. Di dunia yang kejam, ketika sebuah kesempatan datang, Faith mengganti identitasnya, Ia menanggalkan masa lalu sebegai gadis desa yang kerap diremehkan keluarganya, ia menjelma menjadi perempuan kalangan terpandang, cukup sempurna untuk menjadi pasangan kencan buta Max. Kebohongan itu berhasil. Faith memenangkan hati Max, memenangkan status, dan akhirnya memenangkan nama besar Donova.

Di balik pesona dan kekuasaan Max, tersimpan rahasia yang tak kalah kelam. Ia pun mengenakan topeng, menyembunyikan aib dan kebobrokan demi satu tujuan : warisan keluarga dan nama baik.

Dalam dunia jetset yang gemerlap, dimana identitas bisa dibeli dan cinta seringkali dinegosiasikan, siapa sebenarnya yang paling jujur?

Dan Ketika topeng terbuka… apakah cinta masih punya tempat untuk bertahan?

chap-preview
Free preview
Awal Dari Segalanya
Hujan turun sejak pagi, menetes perlahan di balik kaca besar ruang kerja Maximillian. Aroma kopi dingin bercampur dengan wangi hujan yang menembus celah jendela. Faith berdiri di ambang pintu, tubuhnya kaku, wajahnya datar dengan riasan seperti biasanya. Tangannya gemetar kecil saat meletakkan map cokelat di atas meja kayu itu. “Ini… suratnya.” Suara Faith nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk memecah keheningan di ruangan itu. Maximillian mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mata abu-abu itu tajam, namun bibirnya tersenyum tipis, senyum yang membuat siapa pun tidak bisa menebak, apakah ia marah, terluka, atau sedang menghitung langkah berikutnya. “Surat apa ini?” tanyanya pelan. Faith tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah map di atas meja. Max membuka map itu. Dalam diam, matanya menelusuri huruf-huruf dingin di atas kertas. Surat gugatan cerai. Untuk beberapa detik, hanya ada suara hujan yang mengisi ruangan. Lalu ia menutup map itu perlahan, menegakkan tubuhnya, dan menatap Faith dengan senyum lembut yang entah kenapa justru membuat udara di sekitar mereka membeku. “Jadi ini keputusan kamu?” Nada suaranya tidak meninggi. Justru tenang. Terlalu tenang. Dan itulah yang membuat Faith sulit bernapas. “Hm,” jawab Faith akhirnya. Max tersenyum lagi. Ia berdiri, melangkah mendekat. Setiap langkah terdengar berat di lantai marmer. “Kamu yakin?” bisiknya, lembut sekali. “Kamu serius, mau melepaskan semua yang udah kamu perankan dengan begitu indah?” Faith mengerutkan kening. “Aku nggak mengerti maksud kamu.” “Ah, iya jelas aja enggak.” Max tersenyum samar, menatap wajahnya seolah tengah mengingat sesuatu yang manis. “Aku cumin mikir… betapa hebatnya seorang perempuan bisa masuk ke hidup seseorang lewat sebuah kebetulan kecil, sebuah kencan buta, misalnya… terus lewat kecerdikannya, dia menulis ulang seluruh naskah hidupnya dengan begitu meyakinkan.” Faith menelan ludah, mencoba mempertahankan ekspresi datarnya. Namun Max melangkah lebih dekat, jaraknya kini hanya sejengkal. Suaranya tetap tenang, tapi setiap katanya terasa seperti genggaman yang perlahan menjerat lehernya. “Kalau perceraian ini benar terjadi,” ucapnya pelan, “mungkin banyak hal menarik yang akan muncul ke permukaan. Dunia bisnis paling suka cerita dramatis, terutama tentang perempuan misterius yang tiba-tiba muncul entah dari mana… dan menghilang begitu saja.” Faith memucat. Ia bisa merasakan darahnya berhenti mengalir sesaat. Max memiringkan kepala, masih tersenyum. “Tenang aja, aku nggak akan menyebutkan apa pun. Aku cuman penasaran… apa yang akan terjadi kalau semua topeng itu pecah di depan publik? Apakah mereka akan lebih kasihan… atau justru menganggap kamu seorang penipu?” Senyumnya lembut, tatapannya hangat, tapi kata-katanya adalah ancaman yang menetes perlahan seperti racun. Faith tak sanggup menjawab. Ia tahu, Max tahu segalanya, tentang “Faith” yang sebenarnya, tentang kebohongan keluarga kaya, tentang setiap kebohongan kecil yang dulu ia pikir terkubur bersama masa lalu. Max menepuk lembut map di atas meja. “Jadi, kamu masih yakin mau menandatangani surat itu di depan aku?” Faith hanya berdiri diam, matanya berkaca. Dan Maximillian, dengan tenang, berbalik sambil berkata pelan, “Oke, sayang. Aku akan kasih kamu waktu. Tapi ingat… topeng hanya bertahan selama orang lain memilih untuk mempercayainya.” Hujan di luar mengguyur lebih deras, menenggelamkan suara napas Faith yang mulai tersengal. 2 Tahun yang lalu… Malam itu Faith sebenarnya datang ke restoran yang sama untuk menjalani kencan buta kalangan atas, sebuah ide gila yang ia ambil setelah dibujuk sahabatnya. Ia datang sedikit lebih awal, gugup, sambil merapikan rambut dan menatap pantulan dirinya di dinding kaca restoran mewah itu. Saat menunggu, telinganya menangkap percakapan dua pegawai restoran di dekat meja resepsionis. Lalu, ia mendengar sesuatu yang mengubah segalanya. Dua pelayan berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk, berbicara dengan nada pelan tapi cukup jelas terdengar. “Kasihan ya, katanya ada anak yang punya Donovan Grup katanya pasangan kencan butanya malam ini nggak jadi datang.” “Oh iya? Namanya siapa?” “Itu lho, yang dulu sempet digosipin sama artis Alisha Mathhew, Max, Maximillian R Donovan, yang ujung, yang paling ganteng.” “Ohh… terus pasangannya?” “Faith, katanya. Aku juga nggak tau pasti alasannya dia mendadak batal tanpa alasan jelas.” Faith membeku. Nama itu… Faith. Dalam sepersekian detik, pikirannya berputar. Ia juga bernama Faith. Dan di depannya… . Ketika ia melihat dengan jelas, melihat wajahnya dan mendengar nama “Max.” Nama yang sangat dikenal di berita bisnis: pewaris muda dari Donovan Group, perusahaan raksasa di bidang properti dan media. Duduk sendiri, menunggu seorang wanita yang tidak akan pernah datang. Mungkin Tuhan sedang bercanda. Atau mungkin… memberi kesempatan yang tidak datang dua kali. Darahnya berdesir. Rasa penasaran, sedikit keberanian, dan naluri isengnya berpadu dalam satu dorongan nekat. “Gimana kalau... aku jadi Faith yang itu?” pikirnya dengan senyum licik muncul di sudut bibirnya. Ia menarik napas panjang, memeriksa pantulan dirinya di kaca jendela. “Ayo Faith, siapa tau hoki,” bisiknya pelan. Lalu dengan langkah pelan tapi pasti, ia mendekati meja itu. “Maaf,” katanya lembut, suaranya bergetar antara gugup dan yakin. “Kamu Maximillian?” Max menoleh. Tatapan matanya tajam, seolah sedang menilai seseorang. “Kamu Faith?” tanyanya singkat. Faith tersenyum kecil. Wajah tampan Max cukup membuatnya terpesona dalam sekali tatap. “Iya. Maaf, aku agak terlambat.” Ia duduk tanpa diminta, menata napasnya agar tidak terlihat gelisah. Dan anehnya, Max tidak terlihat curiga. Malam itu pun berubah menjadi awal dari permainan identitas dan perasaan yang tidak pernah Faith bayangkan sebelumnya. Mereka mulai berbicara. Faith menjawab dengan hati-hati setiap pertanyaan menghindari hal-hal pribadi, menimpali dengan tawa kecil, dan perlahan, ia mulai menikmati kebohongan itu. Max terlihat tertarik. Ia memperhatikan cara Faith berbicara, cara ia menatap, bahkan diamnya terasa menarik. “Jadi, kamu suka membaca?” tanya Max. Faith tersenyum. “Aku suka hal-hal yang tenang,” jawabnya samar. Di balik senyum itu, ia menahan jantungnya agar tidak meledak. Ia tahu ia sedang memainkan peran yang bukan miliknya. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang seperti Maximillian menatapnya dengan sungguh-sungguh, tanpa tahu siapa dia sebenarnya. Ketika makan malam usai, Max mengantar Faith sampai ke luar restoran. Hujan rintik turun, dan lampu jalan memantulkan cahaya di aspal basah. “Senang akhirnya bisa bertemu,” kata Max, lembut. “Aku hampir berpikir kamu nggak akan datang.” Faith tersenyum samar, matanya menatap genangan air di bawah kakinya. “Ya gitulah, kadang hal-hal yang nggak direncanakan justru membawa kita ke tempat yang benar.” Kalimat itu keluar begitu saja, tapi terdengar manis di telinga Max. Malam itu, Faith berjalan pulang dengan sepatu yang basah dan hati yang penuh perasaan aneh, bersalah, tapi juga… bersemangat. Ia tahu, ia baru saja membuka pintu menuju dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupannya yang sederhana. Dan meski langkahnya gemetar, di dalam hati kecilnya ia berbisik: “Aku nggak bermaksud menipu. Aku cuman nggak mau kehilangan kesempatan.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.7K
bc

TERNODA

read
199.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.7K
bc

Kali kedua

read
218.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
76.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook