Tidak Ada Kabar

1130 Words
Malam sudah sangat larut ketika Alisha akhirnya tertidur. Napasnya pelan dan teratur, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya, sementara tangannya masih menggenggam ujung lengan baju Max, seperti anak kecil yang takut ditinggalkan. Dan Max tidak berusaha melepaskannya, ia duduk diam di kursi samping ranjang, sementara tubuhnya sedikit condong ke depan, membiarkan Alisha tetap memegangnya agar tidurnya tidak terganggu. Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka. Melisa masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir kopi. Ia sempat berhenti sebentar di pintu ketika melihat tangan Max dan Kakaknya yang masih saling menggenggam, lalu tersenyum tipis. “Syukurlah kalau kamu belum tidur,” ucapnya santai. Ia berjalan masuk dan meletakkan kopi di meja kecil yang ada di samping tempat tidur. "Aku bikinin kopi buat kamu.” Melisa sedikit membungkuk saat menaruh gelas itu, cukup dekat dengan Max hingga bahunya hampir menyentuh bahu pria itu. Namun hal itu seolah tidak disengaja. Sementara Max hanya mengangguk kecil. “Thanks.” Melisa tidak menjawabnya, ia hanya berdiri lagi lantas menatap kakaknya lalu duduk di kursi meja rias di sebrang Max dengan kakinya yang disilangkan santai. Beberapa detik kemudian ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Ngomong-ngomong,” katanya ringan, “aku hampir lupa bilang sesuatu.” Max mengangkat alis sedikit dan Melisa menatapnya lurus. “Kamu kelihatan beda banget malam ini.” “Beda gimana?” tanya Max. Melisa mengangkat bahu santai. “Ya gitulah," jawabnya sambil tersenyum. “Tapi biasanya kamu nggak kelihatan lagi mikirin sesuatu kalau lagi sama Kak Alisha...” Kalimat itu jatuh ringan di udara, namun cukup tajam untuk membuat Max terdiam sebentar. Tak lama Melisa segera tersenyum manis lagi. “Ah, mungkin cuma perasaanku aja, kali ya.” Ia lantas berdiri dari kursinya. Namun sebelum pergi, ia berhenti di samping Max dengan jarak yang terlalu dekat. Cukup dekat untuk membuat aroma parfumnya terasa. “Kamu juga harus istrirahat,” katanya lembut, sementara tangannya menyentuh bahu Max. Sekilas saja. Lalu Melisa menatapnya sedikit lebih lama dari seharusnya. “Kalau nanti kamu sakit… nanti siapa yang bakal jagain Kak Alisha?” ucapnya sambil tersenyum manis lagi. Setelah itu ia berjalan keluar dari kamar. Dan di dalam ruangan kembali sunyi. Sementara Alisha masih menggenggam tangan Max. Namun pikiran Max justru tertinggal pada satu hal kecil. Enntah mengapa Max merasa kehadiran Melisa di ruangan itu jauh lebih mengganggu daripada yang ingin ia akui. Keesokan harinya, pagi datang perlahan di rumah besar keluarga Donovan. Cahaya matahari menembus tirai tinggi di ruang keluarga, jatuh di lantai marmer yang dingin dan sunyi. Faith sudah bangun sejak lama, ia sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar tidur semalam. Di meja kecil di samping sofa, ponselnya tergeletak dengan layar yang sudah berkali-kali ia nyalakan. Chat terakhirnya dengan Max masih terbuka. Faith: "Sayang, kamu pulang jam berapa?" Pesan itu terkirim sejak tengah malam. Namun tidak dibaca. Faith menggulir layar lagi, meski ia tahu tidak ada yang berubah. Tidak ada centang biru. Tidak ada balasan. Tidak ada panggilan kembali. Sebelumnya ia sudah beberapa kali mencoba menghubungi Max, tapi semuanya berakhir sama. Tidak diangkat. Dadanya terasa berat dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan marah. Lebih seperti perasaan… ditinggalkan di tengah sesuatu yang belum selesai. Ditengah kegalauannya Faith menarik napas panjang dan menaruh kembali ponselnya di meja. Tepat saat itu terdengar langkah kaki kecil di tangga. Kimberly muncul dengan rambut sedikit berantakan dan piyama yang masih kusut. Gadis kecil itu berhenti di anak tangga terakhir ketika melihat Faith duduk sendirian. “Kak Faith?” Faith langsung menoleh. Ia tersenyum cepat, meski tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan wajah lelahnya. “Hai, pagi, Kim.” Kimberly berjalan mendekat, matanya yang jeli langsung menangkap sesuatu yang tidak biasa. “Kakak belum sarapan ya?” Faith menggeleng pelan. “Belum lapar,” jawabnya sambil tersenyum. Kimberly memiringkan kepalanya. “Pasti Kak Maxi belum pulang ya?” Faith terdiam sebentar. Anak kecil memang sering terlalu jujur. Ia mencoba tersenyum lagi. "Mungkin dia lagi banyak kerjaan.” Kimberly yang duduk di sampingnya mengayun-ayunkan kakinya sebentar sebelum berkata pelan, “Kalau sampai Kak Maxi bikin Kakak sedih, aku lho bisa marahin dia.” Mendengar celotahan Kimberly, Faith tertawa kecil, meski matanya mulai terasa hangat. “Janganlah.” “Kenapa?” “Ya karena dia kakak kamu.” Kimberly langsung menggeleng keras. “Emang iya dia kakak aku, tapi Kak Faith juga keluarga aku sekarang.” Kalimat itu sederhana, namun entah kenapa membuat d**a Faith terasa sedikit lebih hangat. Kimberly menatap ponsel di meja. “Dia masih belum balas ya?” Faith tidak menjawab. Kimberly kemudian mengambil bantal kecil dan memeluknya. “Kadang Kak Max emang suka gitu,” katanya pelan. “Dia tuh, kalau lagi mikirin sesuatu, bisa sampai lupa kalau bumi berputar cuman 24 jam.” Faith menoleh sedikit, rasa penasaran menggelitik hatinya. “Kamu sering lihat dia kayak gitu?” Kimberly mengangguk. “Iya.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan suara lebih kecil. “Biasanya dia kayak gitu kalau dia lagi ingat sesuatu tentang masa lalu.” Faith tidak langsung bertanya lebih jauh, ia hanya menatap ponselnya lagi. Kimberly tiba-tiba berdiri dari sofa. “Tunggu bentar.” Faith mengerutkan kening, heran. “Mau ke mana?” Namun Kimberly sudah berlari kecil ke dapur, selang beberapa menit kemudian ia kembali dengan dua gelas s**u cokelat. Salah satunya hampir tumpah karena ia berlari terlalu cepat. “Nih,” katanya dengan bangga sambil menyerahkan satu gelas. Faith menatapnya bingung. “Apa ini?” “Obat.” “Obat?” Kimberly mengangguk serius. “Kalau aku sedih, Mama biasanya kasih aku s**u cokelat.” Seketika Faith tak kuasa menahan tawanya. “Terus itu berhasil?” “Kadang.” Kimberly kembali duduk di sebelah Faith dan meminum susunya. “Kakak jangan sedih ya.” Faith menatap gadis kecil itu. “Kenapa?” Kimberly mengangkat bahu. “Karena aku suka Kakak.” Kalimat itu diucapkan begitu saja, tanpa drama dan tanpa ragu. “Aku nggak pernah lihat Kak Maxi bawa orang ke rumah ini,” lanjut Kimberly. “Biasanya dia cuma kerja terus pergi lagi.” Ia menatap Faith dengan mata yang sangat jujur. “Tapi waktu Kak Faith datang… Kak Maxi kelihatan beda.” Faith menelan ludah kecil. “Beda bagaimana?” Kimberly berpikir sebentar. “Lebih… hidup,” jawabnya tanpa ragu. Perkataan Kimberly membuat Faith tidak tahu harus menjawab atau berkata apa. Suasana terasa sunyi beberapa detik. Lalu tiba-tiba Kimberly menyenggol lengannya pelan. “Kalau Kak Max bandel, Kak Faith jangan pergi ya.” Faith menatapnya dengan kening berkerut. “Kenapa?” Kimberly kembali memeluk bantalnya lebih erat. “Karena kalau Kak Faith pergi, rumah ini pasti jadi sepi lagi.” Di meja kecil, ponsel Faith masih tergeletak. Layar tetap gelap. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan masuk. Max masih belum membaca satu pun pesan darinya. Entah apa yang sedang dilakukan pria itu, semuanya sungguh membingungkan. "Kamu dimana Max."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD