Faith menatap layar laptop di mejanya. Baris-baris huruf dan angka berjejer rapi di layar komputernya, grafik naik-turun membentuk pola yang biasanya bisa ia baca dengan mudah, tapi hari itu, semuanya tampak seperti ombak yang membingungkan.
Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya jauh dari sana.
Rencana. Kebohongan. Max.
Setiap kali nama itu muncul di kepalanya, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena cinta, tapi karena sesuatu yang lebih samar dan lebih menakutkan.
Ia menarik napas dalam, mencoba fokus kembali.
“Faith, kalau artikel Astra udah siap?” suaranya terdengar lembut tapi tegas datang dari arah belakang.
Dia adalah Clara, atasannya, perempuan paruh baya yang selalu rapi dan nyaris tidak pernah salah menyimak berita.
“Sebentar lagi, Bu,” jawab Faith cepat, matanya tetap menatap layar.
“Oke. Jangan lupa dikirim sebelum jam tiga, ya.”
Saat langkah Clara menjauh, Faith kembali menatap artikel yang dia susun di layar. Tapi bukan berita yang ia lihat, melainkan wajah Max malam itu.
Sebagai jurnalis, Faith tahu benar caranya menggali tanpa meninggalkan bekas. Ia membuka arsip lama, laporan bisnis, potongan berita ekonomi yang sudah menguning oleh waktu. Lalu Donovan Corp muncul berulang, ekspansi properti, akuisisi strategis, yayasan filantropi keluarga. Semua terlihat bersih, nyaris terlalu bersih.
Faith mencatat cepat, rapi.
Donovan Corp: properti, perhotelan, investasi energi.
Keluarga Donovan: garis darah lama, nama yang sering muncul di gala amal dan forum ekonomi.
Maria Donovan: dokter, filantropis, sosialita, disiplin, reputasi tajam.
Maximillian Donovan: pewaris tunggal, reputasi dingin, jarang diwawancara.
Faith berhenti sejenak, menarik napas. Ini bukan obsesi, ia meyakinkan dirinya. Ini hanya sebuah riset, hanya kebiasaan kerja.
Dan di sela waktunya, ia berpindah ke meja kopi kecil di sudut kantor, mendekati Nia teman lama yang pernah bekerja sebagai analis komunikasi di salah satu anak perusahaan Donovan Corp. Faith tidak langsung bertanya. Ia memulai dengan obrolan ringan, cuaca, proyek lama, rumor kantor yang sebenarnya tidak penting.
“Eh Nia, dulu kamu sering lembur, ya?” kata Faith santai. “Bosnya tipe perfeksionis, gitu kan?”
Seketika Nia tertawa mendengarnya. “Di sana? Emang iya, semua perfeksionis. Tapi yang beda cuman Pak Maxi doang.”
Faith mengangkat alis, pura-pura tertarik setengah hati. “Hah, beda gimana?”
“Ya beda dari yang lain, dia itu tenang. Pendiam. Tapi kalau rapat, dia bisa motong pembicaraan tanpa suara meninggi, beda dari yang lain.” Nia menyeruput kopinya. “Dan kamu tau, semua orang langsung patuh, nggak ada tuh yang ngebantah dia.”
"Wow..." Faith mengangguk, menyimpan kalimat itu. Lalu ia melanjutkannya, “Eh, terus kamu tau nggak dia suka nongkrong di mana?”
Nia berpikir sebentar. “Pak Maxi biasanya sih suka nongkrong di coffee shop kecil di Jalan Senopati. Yang sudutnya menghadap taman. Dia tuh sering datang sendiri, duduk deket jendela. Kalau sama rekan bisnisnya, biasanya sorean dia kesananya.”
Faith tersenyum kecil. “Kedengarannya… biasa aja.”
“Justru itu,” balas Nia. “Dia itu paling suka ama yang nggak berisik.”
"Oh..." Puas dengan informasi yang dia dapatkan, Faith kembali ke mejanya, lalu ia menyusun potongan-potongan itu seperti peta. Ia membuka catatan lain hobi Max: lari pagi, kopi single origin, jam tangan klasik. Tidak mencolok, tapi mahal. Konsisten.
Siang itu, ia menyelesaikan satu artikel dengan cepat. Jam di pergelangan tangannya berdetak, ia menatapnya sejenak, lalu menutup laptop.
Plants Coffee, coffee shop itu tidak besar. Faith datang dengan langkah yang sudah ia ukur, mengenakan blus krem sederhana dan celana hitam rapi. Tidak terlalu rapi. Tidak terlalu santai juga. Di sana ia memesan kopi yang sama seperti catatan Nia, tanpa melihat menu terlalu lama, seolah ini adalah sebuah kebetulan.
Dan ia memilih meja dekat rak buku, membelakangi jendela. Cukup dekat untuk melihat pantulan di kaca. Dan ia menunggu.
Max datang sepuluh menit kemudian. Akurat!
Faith denngan cepat mengenalinya, dari cara ia membuka pintu tanpa tergesa, tanpa ragu. Jasnya sederhana, jam di pergelangan tangan memantulkan cahaya singkat. Dengan cepat Faith menunduk, membuka catatan kecil, pura-pura sedang membaca.
Katika langkah Max berhenti di antrean untuk memesan. Faith mengangkat cangkirnya, menyesap, lalu berdiri tepat saat Max berbalik.
“Oh maaf, maaf, ” katanya cepat, ia hampir menyenggol bahu Max
Max menatapnya, terkejut sepersekian detik sebelum mengenalinya. “Faith?”
“Max,” jawabnya, nada suaranya tulus, sedikit kaget. “Ya ampun, kebetulan banget.”
Ia menyingkir memberi jalan, lalu tertawa kecil. “Aku sering ke sini kalau lagi butuh tenang.”
“Aku juga,” kata Max. Senyumnya muncul tipis. “Kamu sendirian?”
“Biasanya gitu.” Faith mengangkat bahu. “Kebiasaan kerja.”
Mereka berdiri canggung sesaat. Ketika barista memanggil nama Max, ia mengambil cangkirnya, lalu menoleh. “Mau duduk?”
Faith ragu sepersekian detik cukup untuk terlihat alami. “Oh iya, boleh.”
Keduanya duduk di meja dekat jendela. Cahaya sore menyusup, memantul di gelas. Jam dinding berdetak pelan dan Faith menyadari simbol-simbol kecil itu, lalu menyingkirkannya dari pikiran.
“Kamu jurnalis,” kata Max, membuka percakapan.
“Ya,” jawab Faith ringan. “Mencari cerita. Kadang ceritanya yang menemukan kita.”
Max tersenyum. “Kedengarannya seperti kamu udah tau apa yang kamu cari."
“Nggak juga,” katanya. “Tapi aku tau bagaimana mendengarkan.”
Saat itu Faith tidak bertanya tentang bisnis. Tidak tentang keluarganya. Ia hanya bercerita tentang pekerjaan, tentang membaca pola, tentang mengamati detail yang sering diabaikan orang. Tentang bagaimana satu angka yang salah bisa mengubah keseluruhan cerita. Dan ia berhenti sebelum terlalu jauh.
Sementara itu Max mendengarkan, pria itu sama sekali tidak memotong dan tatapannya tetap.
“Keren ya, kamu menyusun hidup kamu kayak sebuah laporan,” kata Max akhirnya.
“Biasa aja, kalau kamu?” tanya Faith, nada suaranya lembut.
“Aku sih lebih suka menyusunnya seperti kontrak,” jawab Max. “Semuanya harus jelas.”
Mendengar hal itu Faith tersenyum, senyum yang ia latih untuk momen seperti ini. “Kadang, yang nggak tertulis justru yang paling menentukan.”
Ada jeda sejenak diantara keduanya. Max menatapnya lebih lama dari yang perlu.
“Kita sering ‘kebetulan’ bertemu,” katanya pelan.
“Bukannya itu menyenangkan?” balas Faith. “Kebetulan yang memberi ruang.”
Max mengangguk, memutar cangkirnya. “Atau membuka pintu.”
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, mereka beranjak pergi, saat itu Faith merasakan getaran kecil di dadanya campuran kemenangan dan kecemasan.
Faith melangkah keluar lebih dulu, membiarkan Max menahan pintu untuknya.
“Faith,” panggil Max. “Besok sore, aku biasanya ke sini lagi.”
Ia menoleh, pura-pura berpikir. “Kalau nggak ada liputan mendadak.”
Senyum Max mengembang sedikit. “Aku harap nggak ada.”
"Oke, aku duluan ya..." Faith berjalan menjauh, napasnya teratur. Dan di balik ketenangannya, ia tahu satu hal:
jejak yang ia susun mulai membentuk lingkaran. Dan lingkaran itu perlahan menutup.