4. THREESOME? (18+)

1456 Words
TIBA PADA WAKTUNYA. Di mana Bian mendapatkan apa yang dia mau. Dua jam lebih. Dan itu baru saja foreply. Tetapi Yemi sudah dibuat o*****e berkali-kali. Sedangkan Bian yang sering bercocok tanam tidak semudah itu mencapai puncaknya. "Buka selangkanganmu," perintahnya terdengar lembut di telinga. Yemi malah semakin merapatkannya. Dia masih malu serta enggan menunjukkan daerah paling berharga itu. Sekali lagi berpikir waras, memangnya siapa laki-laki ini sehingga dia berhak bagian paling berharga dari dirinya. Namun seberapa lama Yemi memasang pertahanan, Bian tetap akan mendapatkannya dengan cara egois. Dan di situlah Bian membalas kemarahannya terhadap perlakuan Yemi mulai dari yang kemarin hingga hari ini. Yemi yang sudah tidak mengenakan apapun, sedangkan Bian masih lengkap dengan pakaiannya. Mulutnya dengan brutal memberikan hisapan jilatan pada keintiman gadis itu. Seperti Harimau kelaparan, setiap cairan yang keluar, Bian dengan senang hati menjilatnya. Sementara Yemi sedang bertaruh menahan jeritan agar tidak terdengar sampai ke telinga Ibu atau adiknya. Seandainya ini di hutan, dia sudah berteriak. Yemi menginginkan lebih dari sekedar memasukan lidah. Dia membutuhkan kejantanan Bian memasukinya. Karena sekarang dia amat sangat tersiksa. Karena keinginannya belum terpenuhi, Yemi tanpa sadar menjerit keras. "Kak? Kakak kenapa?! Kenapa berteriak?!" Membuat Juna di luar sana mengetuk pintu kamarnya karena khawatir. "Berhenti dulu...," pinta Yemi sambil menggigit bibir bawahnya. Namun Bian sudah terlanjur kesetanan. "Bian..., berhenti..., atau kita akan ketahuan...," Dia sedikit bicara lebih keras. Tapi Bian benar-benar tidak bisa diganggu. "Kak Yemi!" "Tidak ada apa-apa, Juna! Hanya sedang nonton film horor!" Setelah itu Yemi membekap mulutnya yang tak bisa menahan desahan lebih lama. "Sejak kapan dia suka nonton horor? Bodo amat ah. Yang penting dia bilang baik-baik saja." Bian membuka seluruh pakaiannya. Cairan keringat melumuri tubuhnya yang sixpack. Rambutnya pun setengah basah. Bian berengsek! Kenapa kamu jadi setampan ini? Mungkin karena efek terangsang sehingga Yemi sangat bernafsu memuja ketampanannya. Kini saatnya 'milik' Bian mengambil alih. Dia mengangkat tubuh gadis itu untuk mempermudah penyatuan. Di saat Bian memaju mundurkan miliknya, hidung Yemi sempat dimanjakan oleh aroma memabukkan yang bersumber dari rambut Bian. Dia pun tersihir untuk membenamkan wajah di cerukan leher lelaki itu sambil mengerang kenikmatan. Ada perasaan bangga ketika Yemi mendengar laki-laki itu menyerukan namanya dengan desahan seksi terus-menerus. Untuk hari ini saja. Yemi akan menjadi orang lain, seperti bersikap tidak tahu malu. Atau mengikuti apa kata hati nuraninya. Jangan harap akan ada moment indah ketika mereka selesai melakukannya, atau ketika Yemi membuka mata saat menjelang pagi. Karena lelaki itu menghilang tanpa jejak. Mereka tidak memiliki hubungan spesial. Jadi, untuk apa Bian harus pamit dengan ucapan mesra? *** Yemi berdiri di tengah-tengah gerbang Sekolah yang terbuka lebar. Seolah sepatunya berubah menjadi batu sehingga langkahnya menjadi berat ketika ingin masuk ke dalam. Ini karena tersebarnya video kemarin sehingga membuatnya takut ke Sekolah. "Bolos jangan, ya?" Dia sedang berpikir. "Tapi nanti jadi kebiasaan. Ah, bodoh amat!" Yemi berbalik hendak meninggalkan Sekolah. Tapi Bian yang berada di belakangnya menghentikan rencana gadis itu, lantas menarik tangannya membawanya masuk ke dalam. Yemi panik karena hal ini akan membawa masalah baru padanya. Sambil berusaha melepas cengkraman Bian, matanya jelalatan melihat sekitaran yang sekarang sudah ada banyak murid sedang memperhatikan kebersamaan mereka. Bian tidak perlu berteriak untuk meminta semua murid berkumpul. Sekarang pun mereka datang dengan sendirinya mengerumuni keduanya. "Dengar semuanya! Mulai sekarang, jika ada yang mengganggu gadis ini. Dia akan berhadapan denganku!" Semuanya terkejut termasuk Yemi. "Jika ada yang keberatan langsung saja bilang padaku." Semua murid dari kalangan gadis-gadis sudah pasti keberatan. Namun mereka lebih tidak berani protes. "Kalau boleh tahu, apa alasanmu bilang begitu? Apa dia pacar kamu?" tanya seseorang dari kalangan murid laki-laki. "Iya." Tanpa pikir panjang Bian mengiyakannya. Yemi menatap Bian sambil melotot. "Sekarang apa lagi yang kamu rencanakan?" Karena tidak mendapat respon Bian, Yemi kini menatap murid-murid itu untuk mengklarifikasi, "Itu tidak benar. Kami tidak pacaran. Dia ber—" "Sekarang sudah jelas, ya? Kalau begitu, terimakasih." Semua kembali pada urusan masing-masing sambil ada yang berkasak-kusuk karena tidak keberatan atau tidak percaya dengan pengumuman yang disampaikan Bian. Sementara Yemi sedang mengikuti jejak laki-laki tu. "Kamu tidak seharusnya bilang begitu. Pacar apaan?!" "Iyakan saja. Toh itu demi keselamatan kamu juga." Yemi berhenti sambil menggaruk kepalanya, berpikir. "Iya juga sih." Dia kembali mengikuti langkah Bian yang agak jauh di depan. "Tapi kan...," Yemi berhenti lagi dengan helaan nafas panjang. Sementara di sana jarak Bian semakin menjauh hingga menghilang dari pandangannya. "Yasudahlah." "Kamu beneran pacaran dengannya?" Yemi berbalik dan menemukan Dinda yang sejak tadi mengikuti mereka. "Hai? Syukurlah kamu datang hari ini..." Yemi sejenak melupakan masalahnya saat melihat gadis itu. Dia berhambur memeluknya. "Jawab aku, Yemi!" "Tidak, kok. Hanya pacar bohongan." Dinda menghela nafas. "Sehari tidak masuk sekolah sudah ketinggalan banyak informasi. Dan semua itu rumor tentang kamu sama si berengsek itu." "Maaf, Dinda. Aku bukan bermaksud tidak mau berterus terang. Aku hanya mencari waktu yang tepat memberitahumu. Pokoknya hari ini aku akan menceritakan semuanya." Dinda mengangguk tidak semangat. "Lalu bagaimana denganmu? Kok bisa sakit mendadak?" "Semua ini gara-gara Daniel." "Daniel? Memangnya apa yang sudah Daniel lakan padamu sampai kamu jatuh sakit dan tidak masuk Sekolah?" *** (Flashback On) Dinda tanpa henti menatap pantulannya di cermin sambil menunggu Daniel yang sedang berada dalam perjalanan untuk menjemputnya. Mendengar deruman mesin mobil di halaman rumahnya, Dinda lekas keluar menghampiri dengan wajah ceria. "Cantik banget." Dinda tersenyum malu-malu. "Iya, dong. Kapan aku pernah jelek." Sambil memelet dan di balas tawa renyah dari Daniel. Kedua anak remaja itupun lekas pergi ke tempat yang dijanjikan Daniel. Jantung Dinda tidak berhenti berdebar. Dia tidak sabar sesuatu apa yang ingin ditunjukan lelaki itu. Daniel adalah teman masa kecil Dinda. Mereka pernah satu Sekolah saat di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Dan mereka harus pisah Sekolah saat memasuki Sekolah Menengah Atas. Adanya hubungan friendzone membuat Dinda menyukai lelaki itu secara diam-diam. Rasa suka yang setiap hari semakin tumbuh secara berlebihan membuat Dinda sulit melirik laki-laki lain. Tak apa jika dia menjomblo lama-lama, asalkan bisa bersama Daniel setiap hari. Dia berharap lelaki itu adalah takdirnya agar usaha serta penantiannya tidak sia-sia. Mereka tiba di tujuan semacam Kafetaria. Tempat ini sangat cocok untuk kencan. Menuju sebuah meja yang sudah dibooking Daniel. Dan di sana terlihat seorang gadis sebaya Dinda sedang duduk sendirian bersama segelas minuman dingin. Gadis yang belum diketahui namanya itu lekas berdiri melihat kedatangan Daniel bersama Dinda. "Hai...," Dia tersenyum cantik menyapa Dinda. "Hai...," Dinda yang tidak tahu apa-apa membalasnya dengan senyuman tak kalah menawan. "Ini teman kecilku yang pernah kuceritakan." Daniel berkata pada gadis itu. "Oh. Hai. Apa kabar. Aku Yulia. Senang bertemu denganmu. Daniel sudah banyak cerita tentang kamu." "Oh ya? Aku Dinda. Senang bertemu kamu juga." Mata Dinda melirik Daniel. Siapa sebenarnya gadis ini? Daniel yang mengerti tatapan itu segera bilang, "Seseorang yang sedang kukencani." Mendengar bisikan itu, Yulia lantas menyenggol bahu Daniel dengan malu-malu. "Aku harap kamu tidak merasa diduakan ya, Dinda. Daniel bilang kalian sangat dekat. Untuk itu aku memintanya untuk mempertemukan kita berdua." Dinda tiba-tiba linglung. Kenapa situasinya jadi begini? Tidak. Bukan ini yang Dinda inginkan. Bahkan memikirkan Daniel akan menyukai gadis lain pun tidak pernah. Kenapa harus dia? Daniel bilang Yulia adalah penyemangatnya. Lantas apa arti kehadiran Dinda selama ini? Sejak malam itu, Dinda jadi tidak bersemangat melakukan apapun. Kerjaannya hanya menangis mengurung diri di kamar. Perasaannya hancur hingga demam melanda karena patah hati yang berlebihan. (Flashback Off) Gadis itu menangis di akhir usai menceritakan semuanya pada Yemi. "Aku tidak harus benci dia, kan? Tapi aku tidak ingin melihat wajahnya karena itu hanya akan membuatku menangis. Lagipula ini terlalu mendadak. Kan aku jadi tidak siap kalau harus tersakiti...," Yemi memeluk temannya yang sesenggukan. "Daniel tidak akan melukai kamu kalau dia tahu kamu menyukainya." "Pokoknya untuk sementara aku tidak mau melihat wajahnya." "Baiklah kalau itu yang membuat perasaan kamu lebih baik." *** "Gila kamu, Bian. Yemi kamu 'habisi' juga. Memangnya tidak ada gadis lain apa?" komentar salah satu teman tongkrongan Bian yang sedang menonton video panasnya di ruang UKS bersama Yemi. Panggil dia, Vino. "Kamu akan tahu jika sudah melihat bagian dalamnya." "Apa isi dalamnya?" "Montok." Bian terkekeh kurang ajar. "Serius? Boleh dong dicoba." Alex menyahut semangat setelah menghembuskan asap rokok ke udara. "Jangan dulu. Tunggu aku bosan. Kapan lagi bisa dapat perawan." "Sekarang dia sudah tidak perawan lagi karena kamu," sahut Vino. Bian tertawa tanpa dosa lalu meneguk minuman kaleng bersoda di tangannya. "Nanti kalau sudah bosan, gilir ke aku, ya?" "Beres." Bian menyanggupi keinginan Alex dengan jawaban mantap. "Eh, kenapa kita tidak threesome saja? Sudah lama kan kita tidak melakukannya?" Di situ Vino ber-wow ria. Sementara raut wajah Bian berubah drastis menjadi datar. Threesome? "Bagaimana, Bian?" Alex menepuk bahu Bian yang hanya bengong. Lelaki itu menunjukkan reaksi yang tidak bisa mereka tebak. Bukan Bian Lee namanya jika tidak bisa menyanggupi sebuah tantangan. Seringaian nakal itu. Dia menunjukkan sosok Bian Lee yang mereka kenal. "Ide bagus," sahutnya kemudian.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD