5. Murid Baru

1617 Words
Bian bersama kedua temannya segera meninggalkan atap Sekolah karena sebentar lagi bel akan berbunyi untuk menerima materi berikutnya. Mereka melewati sekelompok murid perempuan yang sedang berbincang di depan ruang kelas. Satu-satunya gadis yang terlihat paling menarik perhatian membuat ketiga pria populer ini termasuk Bian terpana. Sempat gadis bersinar bak bidadari itu beradu pandang dengan Bian saat melewati mereka. Tatapan yang memiliki arti saling menaruh minat. Bian berhenti hanya untuk menoleh sekali lagi, dan di sana gadis itu melakukan hal yang sama lalu kembali meladeni teman-temannya. "Who is the girl?" tanya Bian yang tidak bisa mengalihkan tatapannya dari gadis itu. Vino yang merasa yakin siapa yang ditanyakan Bian lekas menjawab, "Kudengar dia murid baru." "Sial! Belum pernah aku melihat perempuan secantik itu," puji Alex. Sementara Bian mulai sibuk dengan pemikirannya. Dan kita tahu apa yang ada di otak pria bastard sepertinya. Jangan panggil dia Bian Lee jika tidak bisa mendapatkan murid baru itu dalam waktu singkat. *** Entah kebetulan atau Bian memang ditakdirkan agar keberuntungan selalu berpihak padanya. Di tepi jalan saat Bian sedang menyetir pulang, dia melihat gadis yang menarik perhatiannya di Sekolah tadi sedang bermasalah dengan mobilnya yang mendadak mogok. Tentu saja Bian segera menepi untuk menghampirinya. "Kenapa dengan mobilmu?" Gadis itu sempat terdiam melihat kemunculan Bian lalu tersenyum canggung. "Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja mogok." Bian mencoba untuk memperbaikinya. Dalam hal ini tidak ada yang tidak bisa dia lakukan. Tidak sampai menghabiskan waktu lama, masalah itu pun berhasil dia atasi. "Oke. Coba nyalakan." "Gadis itu menyalakan mobilnya." Menyala. Dia tersenyum takjub pada Bian. Lalu keluar dari mobil untuk menghampirinya. "Terimakasih." "Tidak masalah. Omong-omong, Bian Lee." Bian mengajaknya berkenalan sambil mengeluarkan tangan. "Chou Tzuyu." Mereka saling berjabat tangan. "Ini pertama kalinya aku lihat kamu di Sekolah." "Iya. Ini memang hari pertamaku masuk Sekolah. Aku pindahan dari Jepang." Bian harus berterima kasih pada Tuhan yang telah mempermudahkan urusannya untuk dapat berkenalan dengan gadis itu tanpa harus menggunakan cara licik seperti biasanya. Memang benar dalam urusan seperti ini baginya tidaklah sulit untuk mendapatkan mangsa baru. Bian yang tidak suka basa-basi atau kebanyakan gaya, apalagi gombalan receh untuk memikat lawan jenisnya. Cukup mengandalkan tatapan, senyuman, bahkan kehadirannya yang tiba-tiba muncul sudah mampu membuat lawan jenisnya terpikat. Dia memang si berengsek yang sangat mahir. "Walau baru satu hari di Sekolah. Mungkin kamu pernah dengar tentangku?" Bian sekedar memastikan agar Tzuyu tahu dengan siapa kini dia berhadapan. He's dangerous boy. "Tentu saja. Di manapun aku berada semua membicarakanmu. Dan mereka bilang aku harus berhati-hati denganmu." Bian melepas kekehan renyah. Sikapnya yang menyenangkan membuat Tzuyu betah berinteraksi dengannya. Terlebih dia tampan. Ternyata si berengsek ini punya cara bicara yang bisa membuat lawan jenisnya betah berinteraksi dengannya. "Kalau begitu kamu harus berhati-hati denganku, bukan?" Tzuyu menggeleng. "Bukan aku. Tapi kamu yang harus berhati-hati denganku." Wah. Apakah gadis ini mencoba bercanda dengannya? "Benarkah? Kenapa aku?" "Karena sepertinya kamu memang berusaha mendekatiku." Cara bicara Tzuyu benar-benar tenang. Tidak takut sama sekali. Kesannya justru menantang Bian. "Omong-nomong, kamu sendirian?" Tzuyu memecah lamunan laki-laki itu. "Menurutmu?" "Siapa tahu pacar kamu menunggu di dalam mobil." Dia bicara sambil melirik mobil Bian di sana. Pengumuman Bia tadi yang mengklaim Haruna Yemi sebagai Pacarnya, Tzuyu juga mengetahuinya. "Aku punya banyak pacar, kalau kau tidak tahu," aku Bian tidak tahu malu. Tzuyu tertawa cantik. "Sungguh kamu tidak takut padaku?" Bian sekali lagi memastikan. "Kenapa harus takut? Kamu orang yang menyenangkan." Tzuyu bicara berdasarkan fakta. Kecuali Bian terkenal suka membunuh, maka Tzuyu harus ekstra hati-hati. Lagipula Bian terlalu pintar menyentuh hati perempuan. "Aku tidak percaya." Untuk meyakinkan Bian, Tzuyu mempersempit jarak di antara mereka lalu mengarahkan bibirnya pada telinga pria itu. Dengan berani membisikkan alamat rumahnya. Setelah itu dia kembali ke posisi semula. Bian agak terkejut akan keberanian gadis ini. Di mana biasanya dia lah yang selalu membuat lawan jenisnya masuk dalam perangkap. Kini sebaliknya. Tzuyu tidak tahu, bahwa apa yang dia lakukan barusan telah membangkitkan sisi lain dalam diri seorang Bian Lee. Aroma tubuhnya saat dia mendekatkan diri menusuk birahi. Boleh saja dia meremehkan Bian, tapi jika suatu saat dia jatuh terlalu dalam sampai tergila-gila, Bian tidak menjamin akan bertanggung jawab. *** Sesuatu yang Yemi tidak pernah bayangkan akan dia lakukan. m********i. Gara-gara perlakuan tidak senonoh Bian yang terlalu sering, Yemi jadi kebiasaan terangsang tanpa sebab. Dia membutuhkan sentuhan yang dia sendiri jijik untuk mengakuinya. Parahnya, dia akan membayangkan wajah si b*****t itu. "Yemi! Cepat turun untuk beli persediaan sayuran!" teriak Ibu dari lantai bawah. Minta bantuan atau sedang emosi vokalnya terdengar sama saja. Menggemparkan. Selalu berisik hingga membuat tetangga-tetangga terusik. Yemi yang nyaris mencapai pelepasan kini mengeluh. Mau tidak mau dia harus menghentikan hal tidak benar ini sebelum Ibunya mengamuk karena keterlambatannya menghadap. Yemi belanja di minimarket terdekat sesuai suruhan Ibunya. Pada bagian salah satu rak, dia melihat berbagai jenis kondom yang seketika mengingatkannya pada Biqn. Hanya tidak menyangka jika Yemi kembali teringat bahwa dia tidak akan pernah menggunakan benda semacam ini jika tidak mengenal seorang Bian Lee. "Ayo beli satu!" Yemi merinding saat mendapat bisikan lembut di telinganya. Dua tangan kekar yang memeluk pinggangnya dari belakang. Kemudian dagu yang menempel di pundaknya. Aroma tubuh yang sangat familiar ini, membuatnya seketika bergidik. "Bian, apa yang kamu lakukan?" Yemi berusaha menjauhkan pria itu yang malah semakin menempel seperti magnet. Heran deh. Dimana-dimana selalu muncul. "Kenapa? Kita kan pacaran." "Pacar bohongan. Jangan lupa itu!" "Ya sudah. Mulai sekarang kita pacaran sungguhan." "Jangan main-main! Lepas, Bian! Orang-orang melihat!" "Tidak usah pedulikan orang-orang." Yemi tidak mau munafik pada dirinya sendiri, bahwa apa yang Biaun lakukan sekarang membuat perasaannya Singh jauh lebih baik. Untuk membuatmu merasa nyaman, kamu tidak harus jatuh cinta pada orang itu. Begitulah yang Yemi rasakan. Kegelisahannya terobati oleh kehadiran si berengsek ini. "Aku mau rasa Banana. Kita beli satu, ya?" Bian menjangkau benda itu dengan satu tangan dalam posisi masih memeluk Yemi dengan tangan yang lain. "Kita?" Jangan bilang Bian menginginkan itu lagi. "Iya. Kamu dan aku." Saat itu juga Yemi ingin menjauh tapi Bian lebih cepat menghalanginya. "Mau kemana, hm!" "Bian, Ibuku menunggu di rumah. Jadi aku harus cepat pulang." "Bilang saja antrean di kasir panjang. Buatlah alasan!" Semudah itu Bian menyuruhnya berbohong. "Tidak, Bian. Aku lebih takut pada Ibuku." "Tidak takut padaku?" Ketika Yemi berhasil lolos, Bian menangkap lengannya. "Astaga, Bian! Kenapa kamu selalu menyusahkan hidupku, hah?" Bian menyeringai jahil. Sementara raut wajah Yemi sudah melewati batas kesabaran. "Lepas tidak?" "Tidak." "Serius. Aku tidak punya waktu untuk ini." Yemi terpaksa menginjak kakinya. Karena hanya dengan begitu dia bisa lepas. "Maaf, ya. Aku terpaksa." Dia pun bergegas berlari terbirit-b***t menuju kasiran untuk mempercepat proses pembayaran agar dia bisa segera pulang. Untuk menghadapi hari esok bisa dia pikirkan nanti di rumah. Yemi sangat terburu-buru saat keluar dari minimarket. Dia tidak akan tenang sebelum tiba di rumah. Atau tidak akan cepat tiba di rumah seperti yang dia harapkan ketika sebuah mobil menghadangnya saat ingin menyeberang. "Aku akan memaafkanmu soal kakiku yang kamu injak jika kamu masuk ke mobil sekarang!" Itu jelas terdengar memerintah. "Jika kamu menolak, aku bisa memberimu hukuman yang tidak pernah kamu bayangkan." Bian tersenyum super tenang. Sementara Yemi menelan ludah karena ancaman itu. Dasar biadab! Yemi membatin kesal. Berusaha tidak menggubris dengan berjalan kaki di sepanjang trotoar. Tentu saja Bian tidak berhenti mengikutinya dengan mobil. Layaknya p****************g yang sedang menggoda mangsanya. "Jangan membuatku menculikmu, Haruna Yemi." "Kupikir malam itu terakhir kalinya kita berhubungan," jawab Yemi ketus tanpa menghentikan langkah juga dengan pandangan lurus ke depan. "Tidak ada yang berani melarangku melakukan sesuatu yang aku sukai. Masuk. Mumpung aku masih bersikap lembut, Yemi sayang." "Persetan denganmu!" Mobil yang mendadak berhenti dengan suara ban menggesek aspal membuat Yemi terkejut dengan wajah panik. Itu adalah kode untuk memberitahu Yemi kalau sekarang Bian sudah muak menggunakan kata-kata halus. "Katakan, apa salahku salahku sampai kamu harus memperlakukanku seperti ini?" Gadis itu melirih. Walau itu tidak akan mencairkan hati Bian yang beku. "Kesalahanmu ... Aku masih mencari jawabannya kenapa aku tidak bisa tenang jika tidak mengganggumu sehari saja." Jangan percaya dia Yemi. Dia palyboy. Dia b******n. Dia berengsek. Dia iblis yang menyerupai dewa. Bian yang berkuasa. Bian yang selalu mendapatkan apa yang dia mau. Sehingga kini dia berhasil menempatkan Yemi di kursi samping pengemudi. Dalam perjalanan tanpa ada interaksi. Bian dengan pemikirannya, dia teringat akan kebersamaannya bersama Tzuyu. Ada sedikit penyesalan ketika dia menolak ajakan gadis itu untuk singgah di rumahnya. Jika tidak ada urusan yang lebih penting, tanpa ditawar pun Bian pasti dengan mudah melancarkan serangannya malam ini. Dia menghela nafas lalu menghadap ke samping. Mendapati Yemi yang masih betah menatap ke luar jendela. Gadis itu juga punya pikiran, isinya tentang Ibunya yang pasti sedang mengomel tentang ia yang pulang terlambat. "Kamu kenapa harus setakut itu padaku?" Lamunan gadis itu buyar. "Tanyakan itu pada diri kamu. Jika kamu punya hati. Kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan, apa yang tidak seharusnya kamu lakukan." Yemi berani bersumpah. Dia tidak tahu bagaimana kalimat itu bisa keluar dari mulutnya. Mungkin karena dia terbawa perasaan. Yang tidak mungkin bisa mungkin dia ucapkan. "Setidaknya cari cara untuk membuatku menyerah mengusikmu." Yemi memilih menyerah. Debat dengan Bian tidak akan pernah membuatnya menang. Yang ada malah makan hati. Dan sekarang gadis itu melanjutkan kegundahan hatinya tentang keadaan di rumah. Sementara Bian mendapat panggilan telepon dari Alex. "Kamu di mana? Rencana kita jadi, kan?" Pria di seberang sana menagih kesepakatan mereka siang tadi. Bian sesekali memperhatikan Yemi. Raut wajah gadis itu terlihat seperti akan menghadapi kematian. Tangannya pun tidak berhenti saling memilin. "Hei, Bian? Kamu dengar tidak, sih?" "Ya. Dengar, kok. Aku dalam perjalanan ke tempat biasa." "Oke. Aku akan meluncur sekarang." Yemi yang tidak ingin tahu dengan siapa Bian menelpon atau apa yang mereka rencanakan. Yemi yang terlanjur polos, penurut, serta gampang dibodohi. Dia tidak tahu hal apa yang akan menimpanya sebentar lagi.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD