1. SAKIT
Tok, tok!
“Masuk,” sahut suara dari sang pemilik kamar yang terdengar lemas.
Pintu terbuka, menampilkan wajah seorang laki-laki yang langsung terkejut melihat wajah pucat sang adik.
“Dek, kamu kenapa?” sang kakak duduk di samping adik perempuannya yang tengah berbaring.
“Pusing, Kak,” jawab gadis itu pelan. Ia tidak berbohong karena kepalanya memang terasa sangat pusing sejak semalam.
“Ini pasti gara-gara tadi malem kamu lupa makan. Kamu itu kebiasaan. Kakak kan udah berulangkali bilang, makan Ivana. Perut kamu itu nggak boleh sok-sok’an kelaperan.” Gadis bernama Ivana itu terkekeh mendengar dumalan sang kakak. Semalam Morgan memang sudah menasehatinya untuk segera makan apalagi ia baru pulang dari menempuh perjalanan udara yang panjang, tetapi karena ia terburu mengantuk maka Ivana memilih untuk langsung tidur.
“Ya gimana, Vana ngantuk banget, Kak.” Gadis itu menyahut dengan polosnya hingga membuat sang kakak jengah.
“Jangan salahin Kakak kalau habis ini Papa bakal marahin kamu.” Morgan beranjak bangkit dari tempat tidur sang adik, namun Ivana dengan cepat menahan pergelangan tangan kakaknya itu.
“Jangan bilang Papa, dong,” pintanya dengan memelas.
Morgan menggeleng pelan, “Percuma, Dek. Papa pasti bakal nanyain.” Laki-laki yang kini duduk di semester 5 itu kemudian melangkah keluar dari kamar yang penuh nuansa torquoise tersebut. Tujuannya, tentu saja meja makan di mana orang tuanya sudah menunggu.
Sementara di dalam kamarnya, Ivana hanya bisa menggigit bibirnya karena merasa takut. Sebenarnya Abraham tidak akan memarahinya dengan semenyeramkan itu, akan tetapi tetap saja Ivana akan merasa bersalah kalau sampai Abraham marah karena sakitnya. Bukan marah, lebih tepatnya khawatir.
Ivana ingin sekali bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke ruang makan. Tetapi ia sadar, semakin ia mencoba, akibatnya akan semakin buruk nantinya. Rasa pusingnya pagi ini merupakan kombinasi dari 2 hal sekaligus yaitu lapar dan kelelahan.
Saat ini, Ivana duduk di kelas 12 di sebuah SMA Internasional. SMA yang sama dengan tempat Morgan menimba ilmu sekitar 3 tahun yang lalu. Selain dikenal sebagai siswa yang cerdas, Ivana juga sangat aktif di berbagai kegiatan sekolah. Mulai dari OSIS hingga Ekstrakurikuler. Ekstakurikuler yang diikuti oleh Ivana adalah ballet dan musik yang berfokus pada alat musik violin.
Beruntung hari ini Ivana sedang libur. Bukan libur secara umum melainkan ia mendapatkan kompensasi dari pihak sekolah setelah seminggu lamanya pergi ke Roma untuk mengikuti kompetisi musik di sana. Ivana dan tim orkestra dari sekolahnya berhasil menyabet piala juara 3 dan juga sebagai pemenang favorite berdasarkan voting pengunjung. Oleh karena itu, tim voice choir dan orchestra mendapatkan ekstra libur selama 1 hari guna memulihkan kondisi mereka.
Ivana meraih gelas yang terletak di atas nakas kemudian meneguknya hingga habis. Setelahnya, ia lebih memilih untuk tidur terlebih dulu. Saat orang tuanya sudah berangkat ke kantor dan sang kakak sudah perg ke kampusnya nanti, barulah Ivana akan memanggil asisten rumah tangganya untuk meminta makan.
“Loh, Adik kamu mana?” tanya Abraham setelah melipat surat kabar yang baru selesai dibacanya.
“Masih di kamar, Pa. Paling kecapek’an atau nggak masih jetlag,” jawab Morgan santai seraya menghempaskan pantatnya di atas kursi. Lebih baik ia memberikan jawaban diplomatis karena wajah sang ayah mulai terlihat khawatir.
“Kenapa nggak kamu ajak turun, Kak? Biar dia sarapan dulu baru setelah itu sambung tidur lagi,” tegur Riana yang baru datang dari dapur. Ia sudah membawa 2 gelas ssusu hangat kesukaan kedua anaknya itu.
Morgan menatap sang ibu dengan wajah datar, “Mama kayak nggak tahu gimana Ivana. Siapa yang bisa misahin dia sama gulingnya itu? Apalagi kalau lagi loyo kaya gitu,” ucapnya sarkastik yang membuat kedua orang tuanya saling tersenyum miring.
“Kak Rafa belum pulang, Ma?” tanya Morgan celingukan mencari keberadaan kakak sulungnya itu.
Riana menggeleng, “Kakak kamu bilang semalam nginep di tempatnya Dion. Mungkin habis ini baru pulang.”
Rafael Alex Wiratama, Morgan Albert Wiratama serta Ivana Aleesya Wiratama merupakan anak dari Abraham Wiratama dengan Mariana Elvi Rahajeng. Abraham adalah seorang pengusaha sementara Mariana adalah bekerja sebagai konsultan hukum dan memiliki kantornya sendiri. Kantor yang sebenarnya juga hanya akal-akalan Abraham agar istrinya itu berhenti mengoceh untuk diizinkan bekerja secara mandiri.
Awalnya, Mariana merupakan seorang staff bidang legal di perusahaan Abraham yang pada waktu itu masih dipegang oleh ayah Abraham, Erwin. Sepeninggal Erwin, Abraham yang pada saat itu menjabat sebagai direktur operasional langsung ditunjuk oleh dewan komisaris untuk menggantikan posisi sang ayah. Tentu saja karena Abraham selama ini dinilai sudah mampu dan kompeten untuk menangani perusahaan sebesar itu.
Abraham merupakan sosok yang begitu sempurna yang digilai banyak wanita. Hanya saja, saat itu ia sudah jatuh cinta pada sosok karyawan sang ayah yang baru bekerja selama 2 tahun di kantor tersebut. Abraham ingin mendekati Mariana namun peraturan di perusahaan melarang jika ada pegawai yang memiliki hubungan cinta. Hal itu juga berlaku untuk Abraham sebagai pimpinan. Di samping Mariana juga masih bersikeras menolaknya, karena ketatnya aturan tersebut.
Karena itulah, Abraham kemudian membantu Mariana untuk mendirikan sebuah lembaga konsultasi hukum. Lembaga itu akhirnya juga menjadi partner dari perusahaan Abraham setelah ia menikahi Riana. Awalnya Abraham berpikir setelah menikah, Riana tidak akan meminta untuk bekerja. Tetapi ternyata saat Ivana sudah memasuki usia sekolah, Riana merengek kepada Abraham agar kembali diizinkan untuk bekerja. Ia beralasan akan bosan jika hanya diam di rumah dan tidak memiliki agenda apapun.
Jadilah kantor konsultan yang sudah berada di bawah naungan perusahaan Abraham itu ia serahkan kepada sang istri. Abraham tidak pernah tega menolak permintaan wanita yang sudah 3 kali mengandung benih darinya itu.
Anak pertama mereka Rafael, kini berusia 26 tahun dan sudah menyesaikan pendidikan S1 sebagai seorang dokter umum. Kini Rafa sedang dalam proses untuk menyelesaikan Masternya di bidang penyakit dalam. Rafa bekerja di rumah sakit milik sang kakek yang merupakan paman dari Riana, yaitu Bimahendra Raharja. Bersama pamannya yang bernama Dionisius Rega Raharja, anak dari Bima.
Anak keduanya, Morgan kini duduk di semester 5 dan mengambil konsentrasi pendidikan Ekonomi. Morgan memang memiliki nilai lebih di bidang ekonomi, sama seperti sang ayah. Morgan awalnya juga berencana untuk mengambil jurusan kedokteran seperti sang kakak, apalagi ia sama-sama diterima oleh kedua jurusan tersebut. Tetapi ia merasa tidak tega jika harus membiarkan sang ayah mengurus perusahaan sendiri nantinya. Meskipun Abraham sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
Dan si bungsu yang terkenal paling manja tetapi sebenarnya sangat mandiri yaitu Ivana, masih duduk di kelas 12. Tahun depan Ivana akan memasuki bangku kuliah dan berencana untuk mengambil konsentrasi hukum. Pilihan yang membuatnya menjadi semakin dimanja oleh sang ibu karena merasa memiliki penerus.
“Gimana dengan kuliah kamu, Kak?” tanya Abraham kepada Morgan yang sedang asyik menikmati roti bakarnya.
“Lancar, Pa. Liburan semester nanti Morgan punya rencana untuk magang dulu di perusahaan. Supaya Morgan lebih terbiasa, apalagi Morgan ambilnya Mikro Ekonomi.”
“Kamu magang di kantor Papa kamu aja, Kak.” Riana memberikan saran tetapi dengan cepat Morgan menggeleng, artinya ia menolak saran yang diberikan sang ibu.
“Morgan nggak enak, Ma. Kalau harus magang di kantornya Papa. Apalagi udah banyak yang kenal Morgan. Morgan akan ngajuin proposal mandiri di perusahaan lain. Kalau di kantor Papa, Morgan nggak yakin bisa maksimal di sana,” terangnya mengenai alasan ia menolak usul sang ibu.
“Ya sudah kalau itu mau kamu.” Abraham menatap sang istri dan mengangguk menenangkan wanitanya itu. “Kamu juga nggak berniat untuk magang di perusahaan kolega-kolega Papa?” Abraham beralih memandang sang putra. Morgan kembali menggeleng. Menjalani praktik di perusahaan milik kolega orang tuanya, sama saja dengan di perusahaan orang tuanya sendiri.
“Morgan udah dapet pandangan, Pa. Dan sepertinya perusahaan yang Morgan tuju nggak ada relasi apapun dengan perusahaan Papa,” jawabnya yakin.
“Oh, ya? Perusahaan mana?” Dalam hati Abraham tersenyum penuh arti. Sebab sudah hampir semua perusahaan yang ada di kota ini memiliki relasi dengan perusahaannya. Meskipun tidak memiliki relasi pun, mereka sudah pasti saling mengenal.
“Shinee Corp, Pa.”
“Shinee Corp bukannya perusahaan di bidang kecantikan? Kamu yakin mau magang di sana?” Riana bertanya dengan alis betaut.
“Yakin, Ma. Emangnya kenapa kalau Morgan magangya di perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan? Morgan butuh ilmunya, Ma. Apalagi Shinee Corp tergolong baru tapi udah bisa menembus pangsa pasar Asia Tenggara, padahal usia perusahaannya belum ada 10 tahun,” jawab Morgan mantap. Sebenarnya selain Shinee Corp, ia juga sudah memiliki pandangan lain yaitu S. J. Corp yang bergerak di bidang ekspor impor. Tetapi sejauh ini, Shinee Corp lebih menarik perhatiannya.
“Biarkan lah, Sayang. Biar Morgan memilih mau ke mana. Asalkan dia mampu dan senang menjalaninya,” ucap Abraham menengahi. Ia benar-benar puas karena sang putra memilih perusahaan tersebut. Sepertinya Morgan belum mengerti jika perusahaan yang ia bidik baru saja melakukan kerjasama dengan hotel milik perusahaan Abraham.
Di tengah acara sarapannya, terdengar suara mobil memasuki pekarangan depan. Ketiga orang itu saling melempar senyum menyadari kedatangan sang sulung. Teriakannya yang terdengar begitu membahana nyaris membuat Morgan hendak melempar sendok ke hadapan kakaknya yang tidak sopan itu.
“Apa? Lempar kalau berani,” tantang Rafael begitu melihat gelagat sang adik.
“Lo bisa nggak jangan berisik kalau di rumah. Gaya lo di rumah sakit sok berkarisma, tapi kalau di rumah jelalatan.” Rafael melotot tidak terima dengan perkataan sang adik yang mengatainya jelalatan.
“Kalau gue suka gonta ganti cewek, baru lo boleh bilang kalau gue ini jelalatan,” balasnya seraya menghempaskan pantatnya di atas kursi yang biasa ia tempati.
Baru saja Morgan akan mendebat sang kakak, terdengar suara lain yang sudah sangat ia kenal. Dion, dengan wajah yang sama cerahnya dengan Rafa menyusul dan menduduki kursi yang biasa ditepati Ivana.
“Morning, Tante, Om,” sapa Dion ramah seraya meraih gelas di atas meja untuk menuangkan minum.
“Selamat pagi, Sayang,” balas Riana mewakili sang suami. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan mengambil piring untuk dua laki-laki yang baru saja bergabung itu.
“Gue bisa tebak, pasti Om Bima sama Tante Novi lagi liburan, makanya ini orang nebeng sarapan di sini,” ucap Morgan yang membuat Dion terkekeh. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan laki-laki yang berstatus keponakannya itu karena memang begitu adanya dan hal seperti sudah sangat terbiasa.
“Iya, Bokap sama Nyokap lagi ke Ke Paris. Biasa, honeymoon mulu kan mereka sukanya.” Dion tidak memiliki saudara kandung, oleh karena itu ia sangat dekat dengan Rafael dan keluarganya.
“Kok cuma bertiga? Si bontot mana?” tanya Rafael yang celingukan karena tidak mendapati keberadaan sang adik.
“Belum pulang dia dari Roma?” sambungnya bahkan ketika Morgan berniat untuk menjawab.
“Lo jadi Abang bener-bener, deh. Bisa-bisanya nggak tahu kegiatan adeknya,” sahut Morgan jengah.
“Wajar gue nggak tahu, kan gue jarang di rumah. Lo kan lebih sering di rumah sama dia,” balas Rafael tak mau kalah.
“Ivana masih di kamarnya. Mungkin masih jetlag. Kamu kayak nggak ngerti aja gimana adik kamu,” sahut Riana seraya meletakkan piring di hadapan kedua dokter muda itu.
“Thanks, Tante,” ucap Dion seraya tersenyum.
Mendengar jawaban sang ibu membuat Rafael melotot, “Dia udah makan?”
“Hari ini?” tanya Morgan memperjelas. Rafael mengangguk.
“Semalem aja dia nggak mau makan.”
Rafael menggeleng pelan mendengar dumalan adik pertamanya itu, “Itu anak bener-bener deh. Bandel banget.”
Mereka berlima melalui sarapan dengan ceria. Tentu saja dengan sesekali membicarakan si bungsu. Setelah sarapannya selesai, Abraham dan Riana bergegas untuk menuju tempat kerja mereka dan Morgan akan berangkat ke kampus. Sementara Rafael mengajak Dion untuk mengecek keadaan sang adik di kamarnya.
Saat berada di depan kamar Ivana, ponsel Rafael berdering. Laki-laki itu meminta Dion untuk melihat keadaan adik bungsunya. Dion tentu saja menyanggupi permintaan Rafel. Memangnya ia punya alasan untuk menolak?
Suara lembut Ivana terdengar ketika Dion mengetuk pintu kamarnya. Ivana yang tengah berbaring membelakangi pintu kemudian berbalik. Matanya membola melihat siapa yang datang membuka pintu kamarnya.
“Om Dion!”
****