Sudut Pandang Bianca Aku terbangun kaget saat mendengar telepon berdering. Dengan mata yang masih buram, aku meraih ponsel di sampingku. Begitu nama Regar muncul di layar, aku langsung menolak panggilannya. Aku letakkan ponsel kembali di samping tempat tidur. Tapi begitu deringnya berhenti, telepon berbunyi lagi. Setelah lima kali panggilan, aku memblokir nomornya. Aku tau suatu saat harus bicara dengannya, tapi sekarang rasanya aku belum siap. Aku menyingkirkan selimut dari kakiku dan berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai, aku kembali dan mengecek jam di ponsel. Aku tidak percaya sudah jam lima sore. Sepertinya aku benar-benar butuh tidur setelah semua kejadian kemarin. Perutku mulai berbunyi, tapi aku masih merasa sedikit mual dari pesta es krim sebelumnya. Telepon kembali berderin

