Sudut Pandang Bianca Aku tidak menyangka Tony akan terus membawa makanan ke meja kami. Dia sendiri yang mengantarkan setiap hidangan, dan rasanya menyenangkan melihat Tony dan Dimas bercanda sambil melayani kami. Semua makanan terasa enak, mulai dari antipasto sampai ayam piccata. Perutku sudah seperti mau meledak dan Tony tetap bersikeras agar kami mencoba hidangan penutup. Untungnya rasa mual yang aku alami beberapa hari terakhir sudah mulai hilang. "Kamu menikmati makan malamnya, Bianca?" tanya Dimas, dan aku tersenyum. "Luar biasa, tapi kayaknya aku enggak sanggup makan lagi deh." Dia tertawa, dan senyumnya makin lebar menampakkan lesung pipit di wajahnya. "Aku baru sadar kamu punya lesung pipit waktu kita kerja bareng di rumah sakit." Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku,

