"Tapi kenapa nak Riko?"
"Riko kan harus bertanggung jawab atas Tia, Pah. Riko sekarang sudah beristri dan harus memberi nafkah pada Tia."
Papah dan Mamah Tia tersenyum.
"Papah mengerti. Ya anggaplah kamu sedang berhutang sama Papah dan Mamah. Biarlah selama kamu kuliah, masalah rumah tangga kalian biar kami yang menanggung. Yang terpenting sekarang kamu harus fokus memikirkan masa depan kamu. Jangan karena nikah muda, kamu malah tidak punya masa depan yang cerah."
Karena istri dan kedua mertuannya terus mendorongnya, akhirnya Riko pun nurut. Dia bekerja sambil kuliah.
***
Meski di kampus banyak mahasiswi cantik yang mendekatinya, Namun Riko tidak tergoda sedikitpun. Cinta dan kesetiaannya hanya dia berikan untuk istrinya. Terlebih kalau ingat istrinya menderita penyakit ganas, jadi Riko selalu berusaha menjaga perasaannya.
Tia dan kedua mertuanya sudah banyak berbuat baik pada dirinya, jadi tidak sepantasnya Riko membalasnya dengan perbuatan buruk yang membahayakan nyawa istrinya. Karena itulah, kepada cewek-cewek teman kuliahnya yang naksir Riko dan berusaha mendekatinya, Riko pun mengatakan hal yang sebenarnya tentang dirinya.
"Maaf saya sudah punya istri."
"Masa sih?" kata Anita.
"Ngga percaya aku," kata Rini.
"Kalau gitu, besok saya akan bawa foto dan buku nikahnya, biar kalian percaya!"
"Boleh ... kami jadi penasaran hihi," nada para mahasiswi itu penuh ledekan.
Suasana di kampus, dimana banyak cewek-cewek yang menggoda Riko tidak dia pendam sendiri. Sebagai suami yang baik, Riko tentu saja bercerita pada istrinya.
"Kamu memang pantas dipuja banyak gadis cantik sayang," tutur Tia.
"Tapi kamu tenang saja, aku pasti setia kok karena di hatiku hanya ada kamu, istriku," sambil memeluk erat tubuh mungil istrinya dan mengecup keningnya.
"Aku punya kejutan loh," kata Tia.
"Apa?"
"Aku hamil."
Perlahan Riko melepaskan pelukannya. Riko sebenarnya senang, tapi disisi lain dia takut karena kehamilan Tia akan membahayakan nyawanya.
"Tapi kata dokter kan kamu ngga boleh hamil sayang, itu bahaya untuk kesehatan kamu."
"Aku ngga peduli! pokoknya aku mau punya anak."
Kabar kehamilan Tia pun terdengar sampai telinga mamahnya dan tentu saja mamahnya menyuruh Tia untuk menggugurkan kandungannya.
"Sebaiknya kamu gugurkan saja sayang kandungan kamu!" saran mamahnya.
"Apa?!" kedua mata Tia terbelalak mendengar saran dari mamahnya.
"Kenapa mamah tega sekali menyuruh Tia membunuh darah daging Tia?"
"Semua demi keselamatan kamu sayang."
"Nggak!!! apapun yang terjadi Tia akan tetap jaga kandungan Tia. Ngga apa-apa kalau Tia harus mati demi anak ini, asal Tia bisa punya anak sebagai bukti buah cinta Tia dan Riko!" tegas Tia penuh emosi.
Riko dan kedua orangtuanya pun tidak bisa mencegahnya. Tia akhirnya mengandung dan kondisi fiksiknya semakin memburuk. Hal ini mebuat Riko dan kedua orangtua Tia sangat cemas.
***
Selama mengandung memang tidak terjadi apa-apa pada kehamilannya. Hanya saja, semakin besar kandungan kondisi Tia semakin memburuk. Dia semakin melemah.
Sembilan bulan berlalu, akhirnya Tia harus melahirkan bayi yang dikandungnya. Malam itu Riko dibangunkan oleh rintihan dan keluhan Tia.
"Riko tolong! perutku sakit sekali, melilit, sepertinya aku akan melahirkan," rintih Tia menahan sakit.
Kedua orangtua Tia pun mendengar kegaduhan itu. Jadi mereka semua langsung membawanya ke rumah sakit. Di dalam mobil Tia terus merintih menangis kesakitan.
"Aduh mah, sakit ... sakit sekali rasanya."
"Ia mamah tahu, dulu juga mamah ngerasain sakit yang luar biasa waktu ngelahirin kamu. Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampe rumah sakit. Ayo kita banyak-banyak berdoa!"
Akhirnya merekapun sampai di pelataran rumah sakit. Tim medis segera menyambut kedatangan mereka. Dengan dibantu dua orang tim medis, Riko membopong istrinya ke ranjang dorong. Namun setelah berada di depan pintu ruang bersalin, oleh bidan Riko dan Kedua orangtuanya dilarang ikut masuk. Akhirnya mereka semua menunggu di ruang tunggu depan kamar persalinan.
Oprasi cesar pun dilaksanakan.
Setelah oprasi dilaksanakan lebih dari dua jam, akhirnya suster membawa bayi perempuan menemui gilang dan kedua mertuannya. Mereka menyambut kedatangan malaikat kecil itu kedunia ini penuh haru, bahagia namun juga sedih.
Haru dan bahagia karena mereka telah dikaruniai anak dan cucu. Sedih karena sebentar lagi Riko akan kehilangan istrinya untuk selama-lamanya. Orangtuanya pun lebih-lebih sedih karena harus kehilangan putri semata wayangnya.
Bayi yang dikandung Tia memang selamat. Namun nyawa Tia tidak bisa diselamatkan. Tia harus pergi selama-lamanya meninggalkan Riko dan anaknya.
Dan sebagaimana yang diinginkan oleh Tia. Dia ingin meninggal dalam pelukan suaminya. Dan diakhir hayatnya Tia hanya ingin melihat senyuman terakhir dari suaminya yang sangat dia sayangi.
"Makasih suamiku, atas pengorbananmu, kesetiaanmu dan kasih sayang kamu pada diriku. aku ... bahagia ... melihat ... kamu ... tersenyum ... tolong ... jaga ... anak kita yah! Laaailla ... haillaullah."
Tia pun menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan Riko, suaminya. Yang seketika meraung histeris.
"Tia!!! bangun ... sayang!!! ayo bangun!! buka mata kamu sayang!! aku mencintai kamu, aku mohon jangan tinggalin aku!!! bangunlah sayang!!! ayo kita besarkan anak kita sama-sama. Ya Allah kuat kan aku!!!"
Kedua orangtua Tia pun turut ikut meratapi tangis, sambil menggendong cucu mereka yang juga ikut menangis. Seakan bayi itu mengerti kalau dia telah ditinggalkan oleh ibunya.
***
Kematian Tia sangat membuat Riko bersedih. Riko yang selama ini terkenal kuat dan tabah dalam menghadapi apapun. Tapi kali ini dia benar-benar terpuruk dan sangat lemah. Setiap hari dia selalu menangis teringat istrinya yang sudah meninggal.
Riko terus saja hanyut dalam kesedihannya, gairah dan semangat hidupnya hampir saja musnah. Untung dia ingat kalau Tia meninggalkan buah hati untuk Riko. Kalau tidak, Riko tidak akan peduli dengan kehidupannya.
Untuk menghilangkan kesedihannya, Riko melarikannya dengan cara mabuk-mabukan. Hingga dia lupa kewajibannya sebagai seorang ayah. Untungnya ada baby sister dan mertuanya yang baik hati yang merawatnya.
Malam ini lagi-lagi Riko pergi ke diskotik. Dia menghabiskan malamnya dengan mabuk-mabukan. Gelas demi gelas yang berisi minuman keras dia tenggak tanpa sisa. Sudah enam gelas minuman beralkohol itu masuk kedalam perutnya. Namun sepertinya dia tidak ingin berhenti untuk meminumnya. Ketika Riko hendak mengangkat gelas yang ketujuh, seketika sebuah tangan halus menangkap tangannya.
"Riko!!! inikah Riko yang aku kenal dulu? pemberani, sabar dan tabah?" terdengar suara merdu menegurnya, membangunkannya dari lamunan panjang.
Perlahan Riko mengangkat wajah dan tubuhnya yang tidak berdaya itu. Dia berusaha ingin melihat siapa perempuan yang mengenalinya. Sesaat dia terperangah ketika melihat gadis cantik dihadapannya.
"Fatin!!!" desis Riko sangat kaget.
Riko menampar-nampar dirinya. Dia yakin ini hanya halusinasi. Karena dia sadar dirinya sedang mabuk. Fatin, mantan pacarnya itu tidak mungkin selarut ini ada di tempat klabing. Tidak mungkin.
***