Bab 4: Pertemuan Tak Terduga

1034 Words
"Apa itu kamu Fatin? apa kamu kembali? atau aku sedang berhalusinasi?" ucap Riko. "Ia aku Fatin." "Fatin!!!" desis gilang kaget. "Syukurlah ternyata kamu masih ingat sama aku." "Mana mungkin aku lupain kamu Fatin, aku senang sekali akhirnya kita bisa bertemu lagi," kata Riko. "Sama aku juga senang bisa ketemu kamu lagi. Sudah lama yah kita tidak berjumpa." "Kamu apa kabar? kenapa kamu ada di sini?" "Kamu sendiri ngapain ada disini? lagi ada masalah yah sama Tia?" tanya Fatin penuh selidik dengan mata lekat memandang wajah mantan kekasihnya. Riko menggeleng dengan memandangi wajah Fatin. Mereka berdua saling pandang dan saling tersenyum mengingat masa-masa indah dulu sewaktu mereka pertama kali bertemu dan akhirnya berpacaran. Tapi kemudian wanita cantik itu menghela nafas panjang dan menepis semua kenangan masalalunya. Dia tahu Riko sudah menikah sekarang. Jadi tidak ada gunanya lagi mengingat masalalu itu. "Aku dengar kamu dan Tia sudah menikah ya? selamat yah!" kata Fatin sambil menepuk pundak Riko. "Ya. Terimakasih." "Kamu bertengkar dengan istrimu?" "Ngga kok." "Terus kenapa kamu menyiksa diri kamu seperti ini? oh iya gimana kabar Tia?" Mendengar pertanyaan dari Fatin, Riko pun tidak kuat lagi membendung air matanya, begitu dia teringat nasib duka yang dialami oleh istrinya. Dengan air mata yang berlinangan, Riko pun menceritakan kisah dukanya pada mantan pacarnya itu. "Setelah kamu pergi meninggalkan aku," katanya membuka cerita. Dengan suara agak tersendat Riko pun menceritakan semuanya pada Fatin. "Akhirnya seperti yang kamu saranin, aku pun menerima Tia menjadi pengganti kamu. Kemudian setelah kami sama-sama lulus sekolah, kami pun menikah. Namun ternyata usia mayang tidak panjang. Setelah dia melahirkan anak kami, dia yang menderita penyakit leukimia harus pergi untuk selama-lamanya." Fatin pun tidak kuasa membendung air matanya setelah mendengar cerita atas kepergian Tia. Walau bagaimana pun juga Tia adalah sahabat baiknya, bahkan dia sudah menganggapnya sebagai sodaranya. Itu sebabnya Fatin rela menyerahkan Riko, laki-laki yang sangat dia cintai pada Tia. "Ternyata Tia mengidap penyakit leukimia," desis Riko. "Ia aku tahu kok," jawab Fatin. "Jadi kamu sudah tahu kalau Tia sakit?" "YA. Itu sebabnya, aku pikir lebih baik aku saja yang mengalah. Aku tahu Tia begitu mencintai kamu, selain itu juga umurnya tidak lama lagi. Aku harap dengan bersama kamu akan membuatnya bertahan hidup. Ternyata tetap saja penyakit ganas itu harus merenggut nyawanya." "Kalau saja Tia tidak memaksa untuk punya anak, mungkin dia masih hidup sekarang." "Oh jadi kalian punya anak? Bagaimana dengan anak kalian? Apa dia baik-baik saja?" "Ia dia selamat. Oh yah gimana dengan kamu? kamu sedang apa disini?" tanya Riko. Fatin tidak langsung menjawab. Dia menghela nafas panjang. Kemudian dengan wajah murung dia menceritakan perjalanan hidupnya, setelah berpisah dengan Riko. *** Meski Fatin sudah pindah ke Bekasi, daerah asal ayahnya, dan dia sudah berusaha merelakan Riko untuk Tia. Tetapi tetap saja dirinya masih sedih saat teringat kenangan manis bersama Riko, cinta pertamanya itu. Apalagi jika Fatin ingat kalau dirinya sudah dijodohkan dengan laki-laki pilihan ayahnya. Yang sama sekali tidak dikenalnya. Itu semakin membuatnya sedih saja. Dan kesedihan itu semakin terasa kalau Fatin sedang ada dirumah. Untuk melupakan kesedihannya dia mempersibuk diri dengan cara menulis novel atau membaca buku romantis kesukaannya. Hanya dengan cara itu, dia bisa melupakan Riko dan segala kesedihannya. Saking dinginnya sikap yang ditunjukan oleh Fatin, membuat dia akhirnya dikenal dengan sebutan "Putri Salju" atau "Cool lady". Sudah banyak laki-laki disekolah yang berusaha mendekatinya, namun tidak ada satu pun laki-laki yang berhasil mencairkan kebekuan hatinya. Bahkan sampe beberapa bulan dia tinggal di Bekasi, tidak juga ada perubahan sikap yang ditunjukan oleh Fatin. Sehingga cowok-cowok yang semula sangat rajin mendekati Fatin, satu persatu mundur teratur dan tidak lagi berani mendekatinya apalagi untuk mendapatkan cintanya. Sampai suatu hari. Di sekolahannya ada siswa baru pindahan dari kota semarang, namanya Andre. Seperti cowok yang lain, Andre pun terpesona melihat kecantikan Fatin. "Sempurna!!!" gumam Andre pada dirinya sendiri. Tapi kemudian Andre mengamati kembali wajah Fatin dan dia sadar kalau ada satu kekurangan pada diri Fatin. Apa itu? senyum. Ya. Andre tidak melihat senyum yang menghiasai wajah Fatin. Wajah itu begitu sendu. Bahkan kalau boleh dibilang murung dan berkabut. Tapi justru itu yang membuat Andre semakin tertarik. Ada apa dengan Fatin? "Siapa dia?" tanya Andre pada Didit teman sebangkunya. "Dia primadona di sekolah ini." "Oh pantas saja." "Apa kesan pertama kamu setelah melihat Fatin?" "Dingin kaya es batu haha." "Lo suka merhatiin dia yah?" tanya Andre. "Selalu. Malahan pernah gue jatuh cinta, sayang terbentur pada gunung es yang tidak mampu tercairkan oleh hangatnya senyum gue haha." Andre pun terbahak mendengar penjelasan Didit, teman sebangkunya itu. "Lo tahu ngga kenapa tuh cewek murung gitu?" "Hanya Tuhan sama dirinya sendiri yang tahu haha. Lagian satu sekolah ini ngga ada yang tahu dia kenapa broo. Misterius!" Setelah Pak Sutrisno masuk kelas. Beliau memerintahkan Andre untuk memperkenalkan diri didepan kelas. Ternyata diam-diam Andre humoris sehingga membuat suasana kelas dihujani tawa karena tingkah konyolnya. Cewek-cewek langsung terpesona melihat siswa baru itu. Saat itulah Fatin mendongakkan kepala, menutup buku diarynya dan mulai melempar senyum tipis pada Andre. Namun kemudian dia kembali lagi menulis dan menatap buku diary kesayangannya. "Astaga! dia tersenyum," ucap Andre sangat bahagia. Andre jadi bersemangat untuk menaklukan Fatin. Pelajaran Kimia pun dimulai. Setelah menjelaskan materi, Pak Sutrisno memberikan beberapa soal. Hebatnya Andre bisa dengan mudah mengikuti pelajaran meski dia hanya siswa baru. "Yuk siapa yang mau maju kerjakan soal nomor satu?" kata Pak Sutrisno. Hanya ada empat siswa yang mengangkat tangan yaitu Andre, Fatin, Didit dan Sirin. Andre pun maju lebih dulu dan jawabannya ternyata benar. Pa Sutrisno masih tidak menyangka kalau jawaban Andre benar, secara dia kan siswa baru masa langsung bisa. Karena Pa Sutrisno curiga kalau Andre mencontek, Akhirnya dia memberikan satu soal lagi yang lebih rumit pada Andre. "Coba kamu kerjakan soal itu Andre!" perintah Pa Sutrisno pada siswa baru itu. "Baik Pak." Andre mulai mengerjakan soal kimia yang rumit itu di papan tulis disaksikan oleh teman-teman satu kelasnya dan Pak Sutrisno pun mengamatinya dengan seksama. Ternyata memang benar. Andre memang bisa mengerjakan soal itu. "Betul Andre! sip! jawaban kamu benar. Kamu pintar juga yah," puji Pak sutrisno pada Andre. Saat Pak Sutrisno memujinya, seluruh siswa memberikan tepuk tangan meriah. Seketika cewek-cewek di kelas jadi kagum pada Andre, termasuk Fatin. Walau masih terlihat cuek, Namun dalam hati kecilnya dia mengakui kalau dirinya kagum pada kecerdasan Andre.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD