Langit sudah gelap gulita di luar sana. Pendar cahaya lampu jalanan yang mereka lalui tidak bisa mengurangi suram yang terkesan. Padahal, ini adalah jalan yang Sofia lalui setiap kali menuju rumah, lebih tepatnya tempat dia tidur dan bertemu dengan sang anak.
Getaran pada ponsel mengalihkan perhatian Sofia. Segera dia merogoh tas tangan Prada-nya. Pukul 10 malam dan nama Carlos muncul di layar. Seketika wanita itu mengerang sebal. Ini bukan saat terbaik untuk dia menghadap pria enam puluhan itu.
Sayangnya, Sofia tidak memiliki pilihan lain. Terpaksa dia mengangkat panggilan dan suara tegas dan rendah khas Carlos langsung memenuhi rongga telinganya.
“Ada apa, Carlos?”
“Kau di mana?” todongnya. “Aku sudah di rumahmu sejak setengah jam yang lalu, tapi kau juga belum pulang.”
Sial! Tanpa sadar tangan Sofia mengepal kuat di atas pangkuannya. Inilah mengapa dia tidak lagi menyebut mansion Marchetti itu rumah. Salah satu alasannya adalah Carlos Sandres yang suka tiba-tiba datang hanya untuk sekadar mengkritis segala hal yang Sofia lakukan.
“Lima menit lagi kurasa sampai. Kenapa kau datang tanpa kabar lebih dulu, Carlos?” jawab Sofia sekalem mungkin. Mencoba tenang.
“Kenapa tidak? Aku ingin mengunjungi cucuku sekalian saja bertemu denganmu.”
Penjilat! “Karena kupikir … ini sudah sangat larut sekali untukmu, Carlos. Hanya saja kalau kau memaksa untuk bertemu, aku tak akan menolak.”
“Aku tunggu di ruang kerjamu, Sofia.”
Setelahnya, panggilan pun berakhir. Sofia mendongak, merasa menyesal karena tahu-tahu saja dia sudah sampai di mansion Marchetti. Rumah mewah dan besar ini bergaya georgia. Berdiri sejak abad 18. Memiliki puluhan kamar dan ruang. Banyak pelayan yang bekerja di sini. Berada di atas tebing dengan pantai pribadi di bawahnya.
Untuk sebuah tempat, mansion ini adalah impian. Indah, megah, dan terpencil. Sempurna dengan pangeran atau mungkin raja yang mengasingkanmu. Sayangnya, Sofia adalah ratu tunggal di sini. Menopang semua orang yang tinggal di sini dan di luar sana yang bekerja di bawah naungan Marchetti.
Alasan lain mengapa Sofia tak lagi merasa mansion Marchetti ini adalah rumah karena Lucas tidak ada. Suaminya meninggal dibunuh oleh musuh Marchetti selama puluhan tahun. Padahal usia pernikahan mereka baru masuk di tahun kedua dan anak mereka, Theo, baru saja lahir sebulan sebelum akhirnya Lucas terbunuh.
Walau sekarang sudah setahun pasca Lucas tidak ada, Sofia belum juga berhasil hidup dengan benar. Dia masih merawat Theo sebagaimana seharusnya Ibu. Menggantikan posisi sang suami di perusahaan maupun klan Marchetti, sebuah kelompok mafia yang menguasai Sisilia. Namun, semua berjalan tanpa arah karena Sofia seolah tak lagi berjiwa.
“Silakan, Mrs Marchetti.”
Suara ramah membuyarkan lamunan Sofia. Tahu-tahu saja supir pribadinya sudah membukakan pintu mobil. Dan beberapa meter di depannya, pintu mansion telah terbuka. Kepala pelayan juga menyambut dengan senyum ramah penuh kebapakan.
Bergegas Sofia turun. Berjalan anggun memasuki rumah. Menyapa sejenak kepala pelayan keluarga Marchetti yang mengabdikan hidup mereka di sini. Kemudian, baru naik ke lantai dua. Berbelok ke serambi kiri, tempat ruang kerjanya berada.
Tanpa repot-repot mengetuk, Sofia membuka pintu berbahan kayu tersebut. Carlos sudah ada di sana. Duduk di seberang kursi kebesarannya. Membakar rokok kesukaannya sambil memainkan ponsel.
Carlos Sandres, fisik pria itu bisa dikatakan masih sangat kuat. Walaupun agak berisi, tetapi dia tinggi besar. Rambut boleh beruban, tetapi tidak menghilangkan intuisi tajamnya. Carlos memang sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan klan Marchetti maupun Marchetti grup. Hanya saja, kadang pria itu masih berpikiran kolot. Hidup nyaris di dua abad yang berbeda tentu membuat banyak pandangan dia yang dipaksa berubah.
“Carlos,” sapa Sofia sembari melangkah menuju mejanya. Menaruh Prada-nya di atas meja, lalu menduduki kursi di seberang Carlos.
Sofia berusaha bersikap tenang dan dingin. Hal yang selalu Lucas ajarkan. Untuk menipu lawan-lawanmu, jangan pernah menunjukkan perasaanmu. Sofia boleh merasa panik, takut, dan juga sedih, tapi hanya dirinya yang tahu, bukan orang lain.
“Aku tidak menyangka Theo sudah sebesar itu.” Carlos membuka suara.
Sofia hanya membalas dengan senyum tipis. Basa-basi yang tidak dia butuhkan pukul 10 malam. Dia sudah rindu kasur dan Theo dalam pelukannya.
“Jadi, kurasa tujuanmu ke sini bukan untuk bertemu Theo kan, Carlos? Melainkan aku?”
Carlos mendengkus. Dihirupnya rokoknya dalam-dalam. Mengembuskan asap yang sejujurnya Sofia tidak sukai, tetapi sekarang sudah berteman dengannya. Barulah, pria enam puluhan itu menjawab. “Ya, aku ingin bertemu denganmu.”
“Ada apa?”
“Haruskah kita mencari Lorenzo sekarang, Sofia?”
Seketika kedua mata Sofia terbelalak. Cukup terkejut mendengar nama Lorenzo atau Sofia sering memanggilnya Enzo lagi ke permukaan.
“Kenapa kita harus mencari Enzo?” Sofia malah balik bertanya, menantang.
“Karena kurasa … pria jauh lebih cocok untuk memimpin Marchetti, bukan wanita.”
Gigi Sofia menggertak. Kedua tangan wanita itu mengepal di atas meja. Namun, dengan nada sedingin mungkin dan mengabaikan rasa tersinggung, dia menjawab, “Haruskah kita mempercayai orang yang sudah membuang Marchetti dari hidupnya, Carlos? Tiga tahun lalu Enzo menyatakan secara terbuka ke semua orang bahwa dia melepaskan semua atribut Marchetti; kekuasaan, uang, bahkan nama dalam hidupnya dan menyerahkannya pada Lucas. Bahkan saat Lucas meninggal, Enzo tak berkunjung ke sini.”
“Bisa saja Enzo tidak mengetahui bahwa adiknya sudah meninggal.”
“Dan itu bukan alasan untuk dia melepaskan tanggung jawab seenaknya.” Napas Sofia tersengal. Masih sakit hati akan keegoisan kakak kandung Lucas, Enzo. Pria itu melepaskan semua tanggung jawabnya pada Lucas. Seenak jidat tanpa memedulikan bahwa hidup Lucas menderita. “Dan harusnya Lorenzo lah yang terbunuh, bukan Lucas. Bukan Papa Theo, Carlos.”
“Kau tidak becus, Sofia. Aku memberitahumu.”
Tiba-tiba saja Sofia beranjak dari kursinya. Tatapan setajam elang dia miliki mengarah pada Carlos. Kemarahannya menjalar hingga ke ubun-ubun. Sofia berkata dengan tegas, “Dan Lucas mempercayakanku sebelum dia meninggal artinya ... mau kalian tidak setuju, akulah yang ada di sini memimpin kalian. Aku berusaha untuk tetap berdiri di sini dan tidak lari seperti Enzo. Pergi, Carlos. Pulanglah!”
Pria enam puluhan itu lagi-lagi mendengkus. Meskipun dia sangat kritis bahkan suka terang-terangan mengomentarinya, tetapi Carlos tak akan berani untuk membantah ketua. Bagaimanapun Carlos telah bersumpah akan menuruti siapa pun orang yang duduk di atas singgasana Marchetti ini.
Bergegas pria itu pergi. Keluar seraya menutup pintu ruang kerja ini dengan agak kasar. Begitu Sofia sendiri, wanita itu langsung memutar kursi menghadap dinding. Foto pernikahannya dengan Lucas terpampang di sana. Bahagia dan penuh cinta. Namun semuanya hilang karena sekarang, Sofia seorang diri.
***
Saat tengah malam sekali, Sofia baru melangkah keluar dari ruang kerja. Lorong mansion tampak sangat sepi dan beberapa lampu sudah padam. Pelan nan lambat dia berjalan menuju kamarnya yang berada di serambi yang berlawanan.
Kata-kata Carlos padanya cukup menggoreskan luka. Sofia tahu dia tidak becus. Bahkan, dia tidak secemerlang Lucas untuk membangkitkan perusahaan kembali pasca suaminya itu meninggal. Namun, dia berusaha dan semua orang seolah tak memedulikan itu.
Dulu, semua orang diam. Sekarang satu per satu bawahannya protes. Bisik-bisik menghina mulai terdengar di telinga Sofia. Apalagi saat pendapatan perusahaan turun jauh dari pendapatan sebelumnya. Sofia ingin marah-marah frustrasi.
Segera Sofia membuka pintu kamarnya. Di tengah tempat tidur, Theo sudah terlelap. Sedangkan di sudut terjauh ada wanita tua yang juga pulas. Mengenakan pakaian seragamnya. Tampak kelelahan, tapi dengan baik hati tak pernah meninggalkan anaknya sedetik pun.
“Grace,” panggil Sofia pelan.
Suster Theo itu langsung terjaga. Agak gelapan Grace berdiri dari kursinya. Memberi sebuah senyuman sopan dan keibuan. “Anda sudah kembali, Signora?”
Sofia mengangguk. “Kembalilah ke kamarmu. Istirahatlah. Sekarang Theo sudah bersamaku.”
Tanpa membantah, Grace bergegas keluar dari kamarnya. Sejenak Sofia ragu, memilih masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri atau menghabiskan beberapa saat dengan putranya.
Pada akhirnya, Sofia memilih melepaskan penat bersama Theo. Menaruh ponsel di nakas, kemudian pelan-pelan dia berbaring di sisi Theo. Memastikan putranya itu tak terbangun. Kemudian, mengusap pipi tembamnya.
“Theo,” bisik Sofia.
Jari telunjuknya bermain di permukaan kulit Theo. Menyentuh wajah yang sangat mirip dengan Lucas ini. Satu-satunya miliknya yang dimiliki Theo hanyalah mata hijaunya yang sebening jamrud. Berbeda dengan Lucas, suaminya itu memiliki mata biru secerah langit. Indah. Satu-satunya yang membuat Sofia jatuh cinta hingga menyerahkan segala hal pada Lucas, si ketua Mafia Marchetti.
Memikirkan Lucas kembali bersama miniatur pria itu, air mata Sofia menitik begitu saja. Dadanya sesak oleh kerinduan akan suaminya yang telah tiada.
“Mom merindukan Dad-mu, Theo,” lirih Sofia di sela-sela isakan. “Sangat rindu.”
Kemudian, Sofia terkekeh pelan saat mendapati Theo tiba-tiba saja bergerak. Meresponsnya. Wanita itu pun kembali mengeluh, “Kenapa Dad-mu mewariskan semuanya pada Mom, Theo? Mom ini bukan superman seperti Dad-mu. Mom … wanita biasa. Mom lelah, Theo.”
Sofia hampir saja terisak kencang, tetapi dering ponsel menghentikan wanita itu. Buru-buru dia menghapus air mata. Berdeham berulang kali, barulah mengambil ponsel di nakas. Nama sekretarisnya ada di layar.
Seketika jantung Sofia berdebar. Dia selalu memperingatkan Mona untuk tidak menghubunginya saat tengah malam, waktu dia untuk anaknya. Namun, Mona boleh menelepon jika sesuatu mendesak.
“Kenapa, Mona?” todong Sofia.
“Mrs Marchetti, bagaimana ini?” Nada suara Mona terdengar panik. Membuat jantung Sofia berdebar semakin tak keruan. “Kantor pusat di Roma kebakaran besar.”
Hati Sofia seketika mencelus. Petir seolah menyambarnya detik ini juga. Nyaris membunuhnya, sayangnya dia masih hidup dan bernapas.
“Bagaimana bisa?” Nada suara Sofia meninggi.
“Polisi sedang mencari sumber kebakarannya, Mrs Marchetti. Pemadam kebakaran juga sudah memadamkan api.”
“Apa ada korban jiwa, Mona?”
“Tidak ada, Signora.” Sofia menghela napas lega. “Hanya … kerugian materielnya saya rasa cukup fantastis.”
“Berapa?”
Mona menyebutkan perkiraan nominal kerugian dan Sofia hampir jantungan dibuatnya. Bukan hanya cukup fantastis, tapi sangat luas biasa fantastis.
Perusahaan yang sedang goyah. Karyawan yang pesimis. Sekarang ditambah dengan kebakaran besar, Sofia semakin tidak tahu apa yang harus dia lakukan demi menyelamatkan Marchetti grup.
“Mona,” panggil Sofia. Wanita itu menarik napas banyak-banyak. “Tidur dan pulanglah. Besok pagi baru kita pikirkan ini lagi.”
“Baik, Signora.”
Panggilan itu pun terputus. Tanpa bisa dicegah, air mata Sofia kembali mengaliri pipinya. Dia bukan hanya putus asa, sekarang dia berharap bisa ikut Lucas pergi. “Aku capek, Lucas. Aku … nggak sanggup. Bantu aku, kumohon.”
Sofia meredam tangisnya di antara kedua telapak tangan wanita itu.
Saat ini mundur bukanlah pilihan. Satu-satunya yang Sofia harus lakukan adalah menghadapi masalah dengan gagah berani sambil berdoa meminta bantuan Lucas. Mungkin saja suaminya itu mendengar. Mengirimkannya bantuan lewat apa pun atau siapa pun, Sofia tidak peduli. Sofia hanya butuh semua drama ini berakhir dan dia bisa istirahat sejenak. Dia merindukan Lucas.
***