15. The Scar

1721 Words
Ketika Lady Veronica menyeretnya menuju balkon lantai dua, Ionna sama sekali tidak bisa berkutik. Ionna sedikit berharap setidaknya Ansel yang berada di barisan parlemen melihatnya. Namun, semua atensi tertuju pada pasangan di lantai dansa. Mereka menikmati pertunjukan yang disuguhkan, sementara ia dan Veronica menghilang di sisi lorong tergelap. Balkon tujuan mereka cukup jauh. Koridor yang mereka lewati memiliki pencahayaan tipis dari sinar rembulan yang menembus jendela-jendela besar. Bayangan mereka berdua perjalan di sepanjang dinding koridor. Berbagai ruangan dengan pintu tinggi, lilin-lilin yang menyala redup, Ionna merasa horor terlebih saat Veronica mempercepat langkah mereka. Di Sanspearl, Ionna memiliki seorang teman bicara yang dua tahun di bawahnya. Putri bungsu Duke Vergan, Patricia Vergan. Gadis itu sering bercerita mengenai tempat-tempat horor di istana seperti Hall of Sun, aula kebesaran yang hanya digunakan bila ada acara besar seperti debutan dan ulang tahun anggota keluarga kerajaan. Sisi koridor bagian timur jarang dilewati karena konon, arwah Putri Reanna yang meninggal tiga tahun silam bergentayangan di koridor itu. Terlebih balkon ketiga dari selatan adalah tempat yang kali terakhir Putri Rea kunjungi sebelum ia tiada. Namun di balkon itu, Diana dan Amanda telah menanti mereka. Kini Ionna mengerti mengapa Veronica memilih balkon itu sebagai tempat pertemuan. Tidak akan ada orang yang menyadari keberadaan mereka di sana. Hingar-bingar pesta di aula belum mencapai puncak. My Lord, ke mana Anda pergi? Diana dan Amanda berbalik begitu mendengar tapak kaki yang saling bersahutan mendekat. Tirai yang mentupi balkon tersibak dan Veronica langsung mendorong Ionna hingga tersungkur di hadapan kedua lady tadi. Bisa didengarnya sibakan tirai dan jendela yang kembali ditutup. Ionna tertunduk gemetaran tak mampu lagi mengenali kondisi di sekitarnya. “Apa kabar, Sayang?” sapa Diana dengan nada senang yang dibuat-buat. Gadis itu berjongkok mensejajarkan tinggi mereka, menarik rambut Ionna hingga mata mereka saling bertemu. Kedua aquamarine Ionna bergetar menangkap manik abu-abu Diana yang malam itu terlihat pekat. Ketakutan terlukis jelas di dalam mata Ionna. “La-lady Diana—” “Aku merasa sakit hati kau tidak memanggilku senior lagi, My Lady.” Diana menyela dengan tampang bosan. “Apa karena kita sudah lulus ataukah karena di sini kedudukanmu-lah yang paling tinggi? Apa kau ingin kami sadar di mana tempat kami seharusnya?” Amanda yang berdiri di belakang Diana menampakkan diri. Gadis itu berkulit eksotis itu menggeleng-gelengkan kepala kemudian berdecak sebal. “Sudah lama kita tidak bersua, bagaimana bisa kau melupakan kami, Ionna?” katanya ketus. “Ah, bosan sekali rasanya mendengar pujian-pujian tentangmu di sini. Apa kata mereka? Dewi cinta? Malaikat yang jatuh dari langit? Telingaku terbakar mendengarnya.” “Sepertinya anak ini menjadi besar kepala, Lady Amanda,” sahut Diana. “Setelah dipikir-pikir, ternyata Duchess Laundrell sama sekali tidak mempedulikanmu. Apa kau akan terkejut bila aku bertemu sudah bertemu dan berbicara dengan Ibumu?” Ionna membelalak, napasnya tertahan di d**a. Gadis itu mengangkat sebelah tangan berusaha melepaskan jambakan Diana yang semakin kuat. “Lepaskan aku, Lady!” ucap Ionna dengan suara bergetar. Beberapa aksesorinya rusak dan hiasan mutiaranya berjatuhan di lantai. Ia tak boleh lebih kacau dari ini. “Aku berjanji tidak akan pernah muncul di hadapan kalian. Setidaknya ini adalah yang terakhir kali. Kumohon, My Lady, lepaskan aku—” “Kau yakin? Sepertinya kau mengatakan halyang sama tahun lalu, tetapi lihat sekarang! Kau justru datang bersama Marquess Carnold!” Erangan kesakitan Ionna tak menghentikan Diana yang memaksa Ionna berdiri. Diana membawa gadis itu ke tepi balkon, di mana semak-semak belukar di bawah sana seolah cukup untuk melukai tubuh indah Ionna. Namun, sayang sekali Diana tidak bisa melakukannya. Sekalipun dia ingin, semua orang akan langsung menunjuk Lady Veronica sebagai tersangka. Tak mungkin tak seorangpun tidak melihat Ionna bersamaVeronica. Selain itu, namanya dan Amanda juga akan ikut terseret. Tanpa sadar, Ionnaa memutar kepala menghadap bawah. Permukaan tanah dan rerumputan di bawah sana tidak cukup empuk menangkap tubuhnya yang jatuh. Belum lagi kerikil dan duri dari semak-semak itu— Ionna pun dirundung panik. Ia tidak bisa berpikir jernih. Satu hal yang dapat dilakukannya adalah menumpukan heels sepatu di tembok pembatas lalu mendorong dirinya beserta Diana menjauh. Diana mundur beberapa langkah berkat aksi nekatnya barusan. Heels sepatu gadis itu copot dan sikunya membentur vas bunga yang terbuat dari keramik. Diana langsung membungkuk dan menjerit kesakitan. Sikunya yang berdarah menimbulkan sengatan yang menyakitkan. Persendiannya seakan lepas dan tulang sikunya seakan remuk. Setitik air mata perlahan menggenangi kelabunya sementara mulutnya mengeluarkan geraman marah. Ionna yang berusaha bangkit berjalan pincang menghampiri Diana. “M-my Lady, maafkan aku. Aku tidak berniat melukaimu. Aku hanya tidak ingin kita berdua jatuh, jadi—” PLAK Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kanan Ionna. Lady Veronica mencengkeram lengan atasnya kemudian menamparnya sekali lagi di pipi kiri. “Apa yang kaulakukan!” sentaknya keras. “Lady Diana bahkan belum melakukan dansa pertamanya dengan Duke Barten, Ionna! Apa kau sengaja melukai tangannya agar dia tidak bisa berdansa?” “D-duke Barten?” Ionna mencicit seperti tikus got yang ketakutan. Ia memegangi pipinya yang berdenyut-denyut. Kenapa Lady Diana menerima tawaran dansa Duke gila itu? Sembari meremas tembok pembatas yang menopangnya, Ionna menggeleng panik. “Tidak, My Lady! Kumohon jangan biarkan Duke Barten menyentuhmu! Siapapun—kau boleh berdansa dengan siapapun asal bukan Duke Barten, Count Swenpard, atau Young Lord Castiello! Mereka bukan pria terhormat, Lady!” Diana mendelik marah. Dengan wajah merah padam, ia memandang Ionna dengan amarah mendidih. “Jaga bicaramu, Ionna!” hardiknya. “Kau telah mencampakkan ketiga pria itu lalu berkata mereka bukan pria terhormat? Lady Ionna Laundrell, sebenarnya kau menantikan momen di mana aku berdansa dengan pria yang kautolak, bukan? Satu-satunya cara agar aku bisa menyaingimu adalah dengan mendapatkan hati Duke Barten dan menjadi seorang duchess. Bagaimanapun juga, kau bisa memilih deretan jentelman yang kaumau. Tapi, tidak denganku!” Ionna memejamkan mata. Kepalanya dipenuhi oleh kata-kata kotor yang pria-pria itu tulis dalam surat-surat mereka. Saat ia ingin menenangkan diri, tiba-tiba cengkeraman Veronica turun lalu memutar tangannya kasar. Ionna berontak, berulang kali menyentak genggaman Veronica Wernest. Gadis itu menarik-narik sarung tangan satinnya, mencoba membukanya secara paksa. Detak jantung Ionna menggema di telinga, seakan menghitung mundur tersingkapnya sesuatu yang bersarang di lengan kirinya. Ionna sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Seluruh organ di tubuhnya seolah mati rasa. Ia tak peduli lagi ketika Veronica berhasil melepas sarung tangannya dan menariknya ke arah Diana dan Amanda. Tawa puas gadis itu meledak saat memperlihatkan sesuatu yang sontak merenggut atensi kedua lady. “My Lady, lihatlah ini!” Sesaat, baik Diana maupun Amanda membola tak percaya. Mata kedua gadis itu terpaku memandang lengan Ionna dengan mulut ternganga lebar. Bekas luka sayat yang mengerikan terlihat kontras di permukaan kulit putih Ionna. Luka-luka itu tidak tampak seperti luka lama yang telah mengering bertahun-tahun lalu. Beberapa di antaranya masih menunjukkan garis kemerahan yang kentara. Diana pun mendongak, menatap Ionna seolah gadis itu adalah hantu. Apa itu sebabnya selama ini Ionna selalu mengenakan sarung tangan dan gaun-gaun berlengan panjang? Hebat sekali gadis itu menjaga rahasianya sehingga Duke maupun Duchess Laundrell tidak tahu. “Apa-apaan ini? Ionna, apa kau sudah gila?” Tatapan Ionna berubah kosong. Air mata menetes-netes, berjatuhan dari pelupuk matanya yang basah. Selama ini, Ionna pikir dirinya telah menutupi luka-luka itu dengan baik. Namun, sebaik apa ia menutupinya sehingga Lady Veronica bisa mengetahui hal ini? Ionna itu tidak dapat memikirkan apapun. Otaknya terasa penuh, akal sehatrnya terbang terbawa angin malam yang dingin. Gadis-gadis itu membuat luka di tangannya seolah menjadi sesuatu yang pantas ditertawakan. Usahanya selama ini sia-sia. Bukan pula keinginannya menggoreskan benda tajam yang merusak kulit putihnya. Jika semuanya memang berakhir di sini, maka ini adalah ulang tahun dan hari terburuk yang pernah ada dalam hidupnya. “Aku melihatnya mengambil pisau surat Madame Angeline di kelas bahasa, My Lady,” ungkap Veronica setelah puas dengan tawanya, “aku mengikuti Ionna sampai ke kamar dan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Kau tidak akan percaya dengan pengakuanku ini, My Lady, tapi aku benar-benar melihat Ionna menyayat pergelangan tangannya sendiri hari itu. Lady Ionna Laundrell, malaikat kecil yang sempurna, ternyata merupakan seorang lady yang cacat.” Ionna mengedipkan mata berulang kali, merasa pusing. Ia mulai sulit memfokuskan pandangan. Sayup-sayup, ia dapat mendengar Lady Amanda menimpali. “Lady Veronica, bagaimana bisa kau menemukan rahasia yang menakjubkan ini? Jika kita menyebarkannya, itu akan menjadi berita yang besar. Bahkan lebih besar dari rumor-rumor lawas dan berita masuknya Marquess Carnold ke dalam parlemen!” Marquess Carnold? Parlemen? Ionna menggeleng sekaliuntuk menajamkan pendengaran. “Marquess Carnold?” Lady Diana terkesiap, mengabaikan nyeri hebat di sikunya. “Apa akhirnya beliau menerima tawaran Yang Mulia Raja? Apakah kenetralan keluarga Carnold akhirnya goyah? Ini merupakan berita yang sungguh mengejutkan.” “Benar, Lady Diana. Saya dengar beliau pergi bersama Raja ke ruang perjamuan setelah berdansa dengan Lady Ionna. Bukankah itu tandanya beliau sudah menjadi bagian dari parlemen? Tak seorang pun yang bergelar marquess bisa memasuki ruangan itu.” Jadi, apa itu alasannya Lucian tak kunjung menemukannya? Pria itu lebih mementingkan parlemen dibanding dirinya? Veronica menyeringai lebar. Awalnya, ia merasa ragu dengan rencana ini. Tetapi, rupanya menyenangkan juga bermain dengan Ionna setelah satu tahun. Ia melirik Ionna dengan manik semerah darah yang berkilat mengerikan. “Dan sepertinya Marquess Carnold hadir di debutan bukan untuk mendampingimu. Apa kau malu pada dirimu sendiri, Ionna?” Amanda mendecakkan lidah menatap Ionna yang bertahan dengan kesadaran yang kian menipis. “Gadis malang. Apa kau tahu alasan mengapa Raja sangat mendambakan Marquess kesayanganmu? Itu karena Marquess Carnold adalah anjing His Grace Duke Laundrell yang patuh.Yang Mulia Raja menginginkan anjing itu dan menariknya ke dalam parle—” Sudah! Berhenti! Ionna sudah tidak kuat lagi! Ocehan ketiga lady mulai terdengar seperti dengungan lebah yang menggelitik dan memenuhi telinga. Mata Ionna setengah terbuka saat ia merebut sarung tangan dari Veronica dan kembali memasangnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ionna tidak bisa lagi merasakan kakinya. Pendengarannya menumpul dan pengelihatannya semakin berkunang-kunang. Ionna khawatir dirinya akan pingsan di tempat ini dan ditinggalkan seorang diri. Ketiga lady itu jelas tidak akan mau bertanggung jawab, sementara Mama yang gelisah mencari akan mengadu pada Ansel lalu— BRAK Ah, siapa? Pintu didobrak dengan keras. Samar-samar, Ionna mendapati siluet seorang pria bersurai pirang yang terengah-engah di ambang jendela. Ketiga gadis tadi tersentak, seketika menoleh ke arah sang pria. Dan sebelum semuanya menjadi gelap, Ionna merasakan sepasang tangan besar mendekap tubuhnya yang limbung. Ionna berharap ini hanyalah satu dari sekian mimpi buruknya. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD