14. Miserable Past

2322 Words
Sejak tadi Raja terus mengamati gerak-gerik Lucian. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya karena dengan memanfaatkan debutan dan Duke Laundrell, akhirnya dia bisa mengundang Marquess Carnold ke istana. Pria itu ikut bertepuk tangan ketika sesi dansa berakhir. Ia melihat Lady Ionna Laundrell melenggang pergi mendahului Marquess Carnold lalu memutuskan turun dari singasana untuk menghampiri pria itu. Tak peduli seberapa banyak bangsawan yang ingin bercengkrama dengannya, Raja menghindar dan berdalih memiliki urusan penting dengan Marquess Carnold. Ketika dirinya telah berdiri di hadapan pemuda dua puluh satu tahun itu, Raja pun menjentikkan jari di depan sang Marquess yang termenung di tengah-tengah meriahnya pesta debutan. “Marquess Carnold,” panggil Raja, menginterupsi lamunan Lucian Carnold. Mata tuanya yang menyipit tenggelam dalam lipatan kulit keriput. “Kenapa kau di sini? Di mana Lady Laundrell?” Lucian menerawang melewati pundak Yang Mulia Raja. Tatapannya kosong. Tiada Ionna di sana. Gadis itu lenyap di antara lautan bangsawan yang menghalangi pandangannya. “Salam bagi matahari kerajaan,” gumam Lucian, suaranya terdengar jauh. Ia menganggukkan kepala dengan gerakan kaku seolah-olah tubuhnya terbuat dari kayu. Ia terdiam sesaat untuk mengumpulkan fokusnya. Karena bayang-bayang sialan di masa lalu, Lucian nyaris kehilangan ketenangannya. “Saya berniat mengejar beliau, tetapi saya kehilangan jejaknya, Your Majesty,” katanya serak. Raja menyampirkan setarik senyum miring. “Kenapa Lady Laundrell meninggalkanmu di lantai dansa, Marquess?” “Mungkin kaki beliau terkilir.” “Oh, bukankah itu sangat buruk?” Raja merutuki diri karena suaranya tidak terdengar natural. “Ekhem, kasihan sekali sang lady. Pasti dia gugup karena ini adalah dansa pertamanya.” “Lady telah berusaha keras.” Kernyitan muncul di dahi Yang Mulia Raja. Tak salahkah dia mendengar kata-kata itu keluar dari mulut seorang Marquess Carnold? Dan lagi, kenapa pemuda ini terlihat linglung? Raja mengusap dagunya penasaran. Sebenarnya, bagaimana kepribadian anak ini? Karena dia tidak bergabung ke dalam parlemen, setiap perintah yang ditujukan padanya harus diketahui Duke Laundrell terlebih dahulu. Mereka tidak berhubungan secara langsung selain di luar urusan politik dan hukum. Raja menurunkan tangan lalu bersidekap heran. “Marquess, bagaimana pendapatmu tentang Lady Ionna Laundrell?” Lucian menatap mata silver pria itu lekat-lekat. Terdiam memahami ke mana arah pembicaraan ini. “Saya menganggapnya sebagai adik,” jawabnya datar. “Oh ya? Tapi, menurutku, kau menganggapnya lebih dari seorang adik?” Alis Lucian berkedut mendengar penuturan Raja. Apa rencana sang penguasa negeri dengan menemuinya di depan banyak orang? “Aku mengetahui segalanya, Marquess. Apa kau pikir aku tidak tahu rumor-rumor yang menerpa Lady Laundrell? Termasuk rumor itu? Rumor yang melibatkanmu?” Kali ini seluruh perhatian Lucian sepenuhnya terpusat kepada sang Raja. Raja tidak mungkin mengabaikan segala rumor yang beredar di kalangan bangsawan—baik itu rumor kecil maupun rumor besar yang dapat mengganggu kestabilan negeri, mengingat Yang Mulia Ratu memiliki informan di pergaulan kelas atas. Namun yang tidak Lucian pahami, kenapa Raja tiba-tiba mendatanginya dan membahas rumor ini? Apa yang pria itu inginkan darinya? Apakah Yang Mulia Raja mengira Ionna adalah kelemahannya? Setelah melewati ingatan masa lalu yang tak ingin dikenang, kini Lucian dihadapkan dengan Yang Mulia Raja yang tampaknya memiliki niat terselubung. Tangan Lucian terkepal erat. Ia mulai menyusun kepingan-kepingan puzzle kemungkinan dalam kepalanya. Dari Ansel yang berkata tidak bisa mendampingi adiknya di debutan, penanganan rumor di Grimfon, hingga kunjungan mendadak Duke Ollardio. Begitu puzzle-puzzle berkumpul menjadi satu-kesatuan yang utuh, Lucian pun tersenyum pahit. Jangan bilang semua ini hanyalah permainan Raja yang ingin menariknya ke dalam parlemen? Apakah Ansel terlibat di dalamnya? Raja melebarkan senyum saat Lucian menatapnya tajam. Ternyata Marquess Carnold lebih cepat menyadari situasi ketimbang Duke Laundrell. Apapun yang terjadi, Lucian harus bergabung dalam jajaran parlemen, memperkuat kekuatan politik sehingga tiada musuh yang berani menyerang Gouvern. Bergabungnya Marquess Carnold dalam parlemen tentu akan menjadi berita yang mengguncang kerajaan musuh. “Apa yang Anda inginkan, Your Majesty?” tekan Lucian yang mengundang gelak tawa Yang Mulia Raja. Dari ujung mata, Raja menangkap sosok Ansel yang menatap mereka kaget dari kejauhan. Pemuda itu tampak mencengkeram tembok pembatas lantai dua dengan kuat, ekspresinya memohonnya sama sekali tidak menghalangi Raja untuk mendekati Marquess Carnold. “Your Majesty,” Lucian memanggilnya tegas. Raja mengalihkan pandang, menyibak jubah merah kebesarannya. “Kau tahu persis apa yang kuinginkan, Marquess,” ucap Raja kemudian. “Yang kuinginkan adalah dirimu, pengaruhmu, dan kekuatanmu. Biarlah Duke Laundrell mengataiku terobsesi atau berambisi untuk mendapatkanmu. Aku membutuhkan orang-orang seperti kalian berdua di parlemen.” Lucian bungkam. Dadanya terasa berat untuk sekadar mengembuskan napas. Serasa ada api yang membakar hatinya. Ia benci dimanfaatkan. “Saya menolak,” tolaknya cepat. “Apa alasanmu untuk menolak, Marquess?” sahut Raja, “Aku menginginkanmu karena kau tidak seperti Ayahmu yang pengecut. Repurtasi bersih keturunan Carnold selama berabad-abad membuatku tertarik menarikmu ke dalam parlemen. Selain itu, apa kau tidak sadar bahwa sahabatmu telah mengkhianatimu?” Lucian menggeram tertahan. “Saya tidak keberatan seandainya His Grace benar-benar mengkhianati saya. Saya yakin beliau tidak ingin melakukannya.” “Ternyata ikatan persahabatan kalian sungguh rapuh. Sangat menyedihkan.” “Kalau begitu, Your Majesty, izinkan saya pergi. Saya harus berada di samping Lady Ionna saat ini. Salam bagi matahari kerajaan—” Buru-buru Raja mengangkat tangan menghentikan kalimat Lucian. Ia harus mendapatkan targetnya hari ini juga setelah menyiapkan banyak umpan. “Tunggu dulu, Marquess Carnold. Aku belum selesai bicara.” Ia mengedarkan pandang ke sekeliling lantas mencondongkan tubuh, berbisik di telinga pria bersurai pirang itu. “Kuyakin kau menyadari gelagat aneh Lady Ionna Laundrell sepanjang debutan. Apa kau tidak bertanya-tanya kenapa? Apa yang terjadi padanya?” “Apa yang ingin Anda katakan, Your Majesty.” Lagi-lagi Raja membisikkan sesuatu yang sontak membuat Lucian melebarkan mata. “Bagaimana? Haruskah kita berbicara secara pribadi, Marquess Carnold?” --- Ionna berjalan pincang ke arah ruang ganti. Ia pun menoleh ke belakang. Beberapa detik yang lalu, ia merasa Lucian masih menyusulnya, tetapi di mana pria itu sekarang? Denyut di kakinya tidak kunjung reda. Ionna mengangkat gaunnya sedikit dan memeriksa pergelangan kakinya yang terasa nyeri. “Kenapa Marquess Carnold tadi terlihat marah?” gumam Ionna sembari memutar-mutar pergelangan kakinya perlahan. Tidak biasanya Lucian kehilangan ketenangannya. Sekalipun Ionna menangis dan mengeluh di depannya, Lucian selalu diam dan menunggu hingga tangisan Ionna berhenti. Ini semua salah Ionna yang merusak suasana dansa. Seandainya dia tidak membahas hal itu, mungkin Lucian tidak akan merasa kesal. Setelah menghela napas panjang, Ionna pun mengedarkan pandang menelusuri setiap jentelman dan lady yang bercakap sambil meminum anggur. Para anggota parlemen memperhatikan semua orang di lantai bawah dari atas, sedangkan Ionna berdiri sendirian layaknya seorang putri yang dibuang. Gadis itu kemudian teringat kepada sang ibu. Omong-omong, sejak percakapan terakhir mereka, Duchess Laundrell seolah menghilang bak ditelan bumi. Apakah ibunya masih ada di ruang ganti bersama Marchioness Francaiss? Karena tidak memungkinkan baginya mencari Lucian di antara ratusan manusia itu, Ionna pun memutuskan memasuki ruang ganti. Ia mempunyai presentase perkiraan sebanyak empat puluh persen untuk menemukan sang ibu, dan lebih baik mendengarkan ceramah panjang lebar beliau dibanding sendirian seperti tadi. Ionna mendekati seorang Lady yang tengah menekuri refleksinya di cermin genggam, berniat menanyakan keberadaan sang ibu di ruangan ini. “Permisi,” sapa Ionna sambil menelan ludah. Sekilas ia bisa menangkap pantulan dirinya di belakang gadis itu. Lady berambut pirang tersebut menghentikan kegiatan meriasnya sesudah melapisi bibir dengan lipstik merah menyala. Keringat dingin membasahi telapak Ionna yang dibalut sarung tangan satin putih. Ah, apakah tidak sopan menyapa seseorang seperti ini? “My Lady, maaf saya menyita sedikit waktu Anda. Tapi, apakah Anda berpapasan dengan Duchess Laundrell? Mungkin secara tidak sengaja Anda melihatnya di sini.” “Duchess Laundrell? Ah, beliau bersama Marchioness Francaiss setengah jam lalu, Lady Ionna Laundrell.” Ionna menaikkan kedua alis, tersenyum polos. Gadis ini hebat sekali. Dia bisa mengenali seseorang hanya dengan refleksi kecil di cermin genggang. Ionna ingin bertanya lebih lanjut jika sepasang iris birunya tidak menangkap seringai di bibir gadis itu. Dunia seakan berhenti berputar. Ionna mengenali seringai itu. Seringai yang sampai tahun lalu menghantui hari-harinya di akademi. Gadis itu mundur selangkah—dua langkah, ingin berlari menyelamatkan diri dari tempat ini. Saat Lady itu sengaja menjatuhkan lipstik dari genggamannya, ia langsung memutar tubuh menghadap Ionna. Suara benda jatuh seolah menertawakan Ionna yang berdiri kaku seperti patung. Ionna menemukan dirinya terlempar ke masa lalu, di mana ia menatap gadis itu—Lady Veronica Wernest—dengan kepala terdongak dan ketakutan dalam matanya. Seketika, kaki Ionna menjadi selemas puding. Ia jatuh terduduk di lantai dengan jantung berdebar kencang. Wajah-wajah menyeramkan itu kembali terbayang dalam benaknya. Lady Veronica mengambil tiga langkah maju, berjongkok, lalu mendongakkan dagu Ionna dengan ujung kipas. Seringai gadis itu memaksa Ionna mengingat mimpi-mimpi buruknya selama di Sanspearl. “Lama tidak bertemu, Ionna. Bagaimana kabarmu?” ucap Verinica lantas memeluk Ionna. Semua perhatian tertuju pada mereka dan Veronica ingin melakukan adegan ‘membantu seorang lady yang jatuh’ dengan sedikit bumbu drama. “Kami sangat merindukanmu, Ionna Sayangku. Jadi, haruskah kita bersenang-senang dan menunjukkan pertemanan kita kepada semua orang? Lady Diana dan Lady Amanda menunggumu di suatu tempat.” --- Tiga tahun lalu merupakan awal dari penderitaan Ionna. Ia dikirim tepat sehari setelah upacara pemakaman Marchioness Carnold. Sang ibu memang menunda keberangkatannya ke akademi, tetapi tidak selangkah pun wanita itu mengizinkannya keluar kamar. Di hari kepergian Marchioness Carnold, Ionna juga kehilangan separuh hidupnya. Kini, tiada lagi tempat bagi Ionna untuk mengadu. Mulai sekarang Ionna akan menghadapi dunia kejam ini sendirian. “Sebentar lagi kita sampai.” Ionna tidak mengindahkan perkataan sang ibu. Manik birunya menerawang bangunan menakutkan nun jauh di sana. Bangunan itu tidak tampak seperti akademi kebangsawanan yang dimasuki sang kakak. Bangunan akademi menyerupai kastel di tengah hamparan padang rumput yang luas, mengingatkan Ionna pada padang rumput di bukit tempatnya menyendiri. Warna hijau lumut merambati bangunan itu. Sangat kuno, terasingkan, dan tertinggal. Namun Ionna tahu, itu hanyalah tampak depannya saja. Karena begitu kereta yang mereka tumpangi memasuki area akademi, belasan bangunan megah dan mewah berjajar mengelilingi sebuah monumen pendiri. Di hari pertamanya, Ionna diajak berkeliling oleh seorang senior bernama Amanda Laurens. Ia menunjukkan tempat-tempat rahasia yang jarang diketahui orang, menceritakan kisah-kisah mistis di Sanspearl, dan membantunya menata barang-barang di kamar asrama. Amanda bahkan mengenalkan Ionna kepada teman-teman sepermainannya, Veronica Wernest dan Diana Thesav. Di antara ketiga gadis itu, Ionna paling menyukai Diana, si gadis berdarah campuran Matria. Dia memiliki senyum yang memikat dan cara bicara yang santun. Selama bertahun-tahun mempelajari etika dan mempraktikannya, Ionna rasa sikapnya belum sesempurna Diana. Selain itu,candaan cerdas dan keanggunanya menjadi kualitas yang membuat Diana disukai banyak orang. “Jangan panggil kami senior, Lady Ionna. Bagaimanapun juga, kita ini sepantaran. Akan lebih baik kalau kita mulai memanggil nama masing-masing,” kata Diana di suatu siang mereka menghabiskan sisa jam makan siang di bawah pohon ek. Ionna berpikir sejenak. Mereka empat tahun lebih dulu mengenyam pendidikan di Sanspearl. Apa tak masalah bagi Ionna memanggil mereka tanpa embel-embel senior? Gadis itu memandang langit biru yang cerah. Sang ayah dan Marchioness Carnold pasti senang melihatnya sekarang. Ia mendapatkan teman baru dan itu semua berkat Lady Diana dan kedua temannya. Ionna pun mengangguk yakin. Canggung ia menyebutkan satu-persatu nama ketiga lady itu, berdeham kecil sebelum memanggil nama lady pertama. “Lady Veronica Wernest.” Ia menoleh ke arah Lady Veronica yang duduk di atas pohon mengayunkan kaki, kemudian menatap Amanda yang menunggu gilirannya disebut. “Lady Amanda?” “Ya, My Lady. Saya mendengar Anda.” Ionna tersenyum geli. Ia beralih pada Diana yang duduk di sampingnya. Semilir angin menerbangkan rambut keriting Diana yang selegam arang. Sesaat, mereka saling melempar senyum. “Lady Dia—” “Hah, ternyata aku lebih suka dipanggil senior, Lady Amanda,” sela Diana tiba-tiba, dingin dan ketus. Ia menyelipkan anak rambut di belakang telinga, memandang Ionna dengan ekspresi malas. Ke mana senyum lembut tadi pergi? Ionna mengibaskan tangan lalu menggeleng cepat. “Sa-saya tidak keberatan memanggil Anda senior, My Lady. Itu bukanlah sesuatu yang buruk. Benar ‘kan, Lady Veroni...” Suara Ionna menciut di akhir kalimat. Ketiga Lady itu memandangnya tajam, seolah mereka adalah sekelompok hewan buas sementara dirinya hanyalah seekor kelinci yang ketakutan di hutan. Ionna menahan napas, berusaha mencerna perubahan atmosfer yang tiba-tiba ini. Diana bangkit lalu memutar mata jengah. “Kita tidak boleh menyentuh ujung rambutnya karena dia adik seorang duke; seorang Lady yang terhormat,” sinis gadis itu, “dengar, Ionna. Kau memiliki segalanya dan aku bisa mengerti kenapa kau yang tidak tahu diri ini pantas dibenci. Kau bersikap sombong seakan-akan kau adalah satu-satunya manusia yang hidup di bumi. Mana bisa seorang gadis bangsawan memasuki akademi di usia empat belas tahun? Apa keluargamu menyuap petinggi akademi?” Ionna menatap Diana dengan mata bergetar syok. Apa? Apa katanya? Bermandikan kasih sayang sang kakak? Sombong? Tidak tahu diri? Ionna mencengkeram ujung rok seragam Diana, menggeleng tak membenarkan ucapan gadis itu. “Lady—tidak, Senior, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Saya terlambat masuk ke akademi karena awalnya Mama hanya berniat mengundang tutor ke kediaman kami. Tolong, jangan berkata seperti itu. Ini salah saya yang tidak bisa menjaga tata krama sehingga Mama memutuskan—” “Adik Duke Laundrell yang bisa mendapatkan segalanya memang berbeda.” Diana menendang tangan Ionna, mundur selangkah memandang gadis itu di bawah dagu. Dari sudut pandangnya, Ionna begitu kecil dan rapuh, seakan mudah baginya menghancurkan gadis itu dalam satu sentuhan. “Menjadi adik seorang Duke, disayangi oleh seorang Marchioness, dan mengusik kehidupan seorang Tuan Muda Carnold. Enak sekali hidupmu. Aku yang terlahir dari k***********n mana bisa menikmati semua itu. Dasar egois.” Sepasang aquamarine Ionna meredup. Kata-kata itu amat menyakitkan. Tidakkah mereka pernah membayangkan betapa sulitnya hidup sebagai adik seorang Duke? Aturan ketat membelenggu, beban repurtasi, prospek pernikahan masa depan, perjodohan, dan Ionna bahkan tidak bisa bernapas di dalam rumah yang berisi tatapan mengawasi para tutor dan tetua Laundrell. Haruskah ia memberitahu mereka? Ionna hendak melakukan pembelaan ketika ia merasakan helai merahnya ditarik dalam sentakan kuat. Ia tidak bisa membuka mulut dan merintih kesakitan saat tiga pasang mata itu sama-sama memenjarakannya. “Kami membencimu, Ionna Laundrell. Sangat-sangat membencimu. Camkan itu baik-baik.” To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD