Lucian sampai di Kota Grimfon tatkala hari menjelang sore. Di sebuah bangunan tua yang tampak seperti bekas penginapan, belasan kesatria berjaga di luar berbaris memberikan penghormatan. Lucian melompat dari kuda, melepas tudung jubah yang menutupi paras tampannya. Ia datang tanpa pengawalan, menghindari kerumunan yang tercipta seandainya penduduk menyadari kedatangannya.
Sebelumnya, ia telah berpesan supaya Komandan Hailey memberitahu penduduk bila mereka hanya melakukan patroli biasa. Namun yang sebenarnya terjadi, Lucian telah mengirim seorang utusan menyelidiki markas pemberontak sejak minggu lalu. Ia dan pasukannya baru bergerak setelah menerima laporan bahwa semua rumor yang beredar adalah palsu. Akhirnya Lucian mengutus Komandan Hailey menangkap pelaku penyebar rumor dan menahannya di tempat yang diduga menjadi sarang pemberontak.
“My Lord!”
Komandan Hailey bernapas lega. Marquess Carnold sampai tanpa kekurangan apapun. Pria empat puluh tahunan itu hampir terkena serangan jantung saat sang Marquess berkata akan menyusul setelah menyelesaikan urusan dengan Duke Laundrell. Ia memanggil salah satu anak buahnya untuk mengamankan Ian, kuda jantan sang Marquess yang kelelahan berlari selama enam jam.
Lucian mengamati keadaan sekitar. Bangunan itu sudah roboh sebagian. Reruntuhannya berceceran di antara tanaman liar dab pagar kayunya reot. Beberapa barang di dalam bangunan terlihat dari luar. Selain itu, terdapat pula sebuah papan bertuliskan ‘Chloetel’ yang menggantung di lantai tiga bangunan. Papan itu hampir jatuh sehingga Lucian memperingatkan para kesatria agar lebih waspada terhadap sekitar.
“Semuanya berkat Sir Jaden,” ucap Komandan Hailey, menimalisir ketegangan Lucian. “Paman Anda, Baron Rosette juga di sini. Kami menjemput beliau karena rumor ini ada hubungannya dengan Baron.”
Mendengar itu, kernyitan tak suka bersarang di kening Lucian. “Kenapa kalian menjemput Paman tanpa seizinku?”
“Situasinya sangat mendesak, My Lord. Kami tidak menyangka Joe Dansley akan menyebut nama beliau di tengah-tengah interogasi."
Komandan Hailey membimbing Lucian menuju ruang tahanan pelaku. Sarang laba-laba, debu, udara lembab, serta penerangan yang minim adalah perpaduan yang buruk bagi Lucian yang menyukai kebersihan.
Lucian terbatuk sekali. Tenggorokannya gatal dan debu-debu yang beterbangan menggelitik indra penghidunya. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu berjendela besi. Sisi kanan dan kiri pintu dijaga oleh dua kesatria berpedang. Sebuah obor berukuran sedang menempel di pintu kayu tersebut.
“Silahkan masuk.”
Komandan Hailey membukakan pintu. Dalam ruangan minim ventilasi itu, terduduk seorang pria tambun bertopi fedora dengan kaki dan tangan terikat kuat. Sementara di depan pria itu, sang paman berdiri memunggunginya. Baron Bastian Rosette tengah melemparkan pertanyaan intimidasi mengenai tujuan dan motif kejahatan si pelaku.
“Joe Dansley.”
Pamannya berlutut, melepas kain yang menutupi wajah pria bernama Joe itu. Sepertinya Baron Rosette belum menyadari keberadaan Lucian.
Komandan Hailey mendekat selangkah lalu berbisik, “Jangan salah paham, My Lord. Beliau tidak terlibat dalam kasus ini.” Mendengarnya, Lucian bernapas lega. Rupanya Komandan Hailey belum mengetahui alasan pamanya sampai dilibatkan dalam masalah ini. “Namun, tampaknya pelaku memiliki dendam terhadap Baron Rosette dan keluarga. Baik Baron maupun saya telah berusaha memancing Joe Dansley. Sayangnya, pria itu sama kerasnya dengan batu. Haruskah saya mengancamnya dengan pedang?”
“Tak perlu, Komandan Hailey.”
Lucian pun berjalan ke tengah ruangan, di mana cahaya terang langsung menyinari wajahnya. Joe Dansley yang awalnya terfokus pada Baron Rosette, refleks beralih menatapnya. Lucian merasakan keanehan dari gelagat pria itu. Kedua pupilnya bergetar tak terkendali seperti sedang dirasuki—dipengaruhi oleh sesuatu.
“Serahkan pada saya, Paman,” ucapnya sambil berlutut, mengambil alih sesi interogasi. Telunjuk Lucian menyentuh dagu Joe kemudian mendongakkannya dalam satu sentakan keras.
“ARGH!”
Seisi ruangan sontak dipenuhi erangan kesakitan Joe Dansley. Baron Rosette yang panik berniat menghentikan Lucian yang justru menaik-turunkan dagu Joe dengan kasar. Ia tidak terbiasa menyaksikan penyiksaan semacam ini.
“My Lord!”
“Ah, Paman.” Lucian menoleh, menyunggingkan seulas senyum simpul. Setiap erangan Joe Dansley memekakkan telinga mereka. “Maaf, saya tidak menyapa Anda dengan benar. Tetapi, apapun yang menyangkut keluarga saya, bila itu adalah penghinaan, saya tidak bisa memaafkannya, Paman.”
Di balik suara rendah dan ketenangan keponakannya, mata Lucian berkilat marah. Dewi Fortuna telah menyelamatkan nyawa Joe Dansley hari ini. Seandainya Duke Laundrell sendiri yang menangani kasus ini, maka selesai sudah hidup Joe di kursi kayu itu. Kepalanya akan terlempar ke sudut ruangan atau yang lebih buruk, menjadi bahan tontonan penduduk Grimfon di tiang gantung.
“M-my Lord.” Baron Rosette menelan ludah, mengumpulkan keberanian untuk mengakhiri penderitaan Joe. Bagamanapun juga, mereka belum mendapatkan informasi yang berarti. Jangan sampai pria itu pingsan sebelum penyelidikan berakhir. “Sekarang yang terpenting, mari kita dengarkan pengakuannya. Sedari tadi pria ini hanya meracau tanpa mau menjawab pertanyaan saya.”
“Karena Anda yang memintanya, maka baiklah.”
Satu sentakan lain dan kini mata mereka saling bertatapan. Napas Joe Dansley tersengal-sengal. Pria itu terkekeh pelan meski rasa sakit menghujam tulang lehernya.
“Marquess Carnold? Benar kau Marquess Carnold?” Tawa serak Joe mengudara. Lucian menautkan alis. Ada apa dengannya? “Akhirnya kau menampakkan batang hidungmu. Selamat datang di Grimfon, Lord Lucian Carnold! Kota kelahiran Ibu yang kaucintai!"
“Berani-beraninya kau!”
“Komandan Hailey, tenanglah.” Lucian mengangkat tangan ketika William Hailey hampir menebas leher Joe Dansley. Pemuda itu tiba-tiba membenturkan dahi mereka, membuat Baron Rosette dan Komandan Hailey berjengit kaget. Napas Lucian dan Joe berderu menjadi satu. Sembari menatap Joe dari jarak dekat, Lucian berbisik dingin, “Apa yang Anda inginkan, Mr. Dansley? Katakanlah.”
Joe menahan napas. Adrenalinnya berpacu cepat dan keringat dingin perlahan membasahi tubuhnya. Saat ini ia tidak dapat bernegosiasi dengan otaknya yang tak mampu berpikir jernih. Suasana yang kian mencekam membuat lidahnya semakin kelu.
“Anda pikir saya tidak tahu, Mr. Dansley?” bisik Lucian sekali lagi. Joe merasakan perasaan terancam yang luar biasa, seolah sang marquess tengah menunggu waktu untuk membunuhnya. “Apa yang Anda lakukan kepada Lady Tara Rosette, Anda pikir saya tidak tahu?”
Kelopak mata Joe melebar seketika. “Hah? B-bicara apa kau—”
“Hm?”
“T-tidak! A-aku tidak—”
“Lalu, kenapa Anda tidak menjawab pertanyaan Baron Rosette? Dendam apa yang Anda miliki pada paman dan sepupu saya?”
Samar-samar Lucian mencium bau alkohol dari mulut pria itu. Buru-buru ia menjauhkan tubuhnya. Campuran alkohol yang sengaja diracik untuk mengacaukan ingatan dan emosi manusia. Belakangan ini alkohol itu sedang marak di kerajaan dan diselidiki oleh Duke Ollardio. Lucian pernah mencium aromanya sekali. Dan ia yakin bila Joe Dansley berusaha menutupi sesuatu dengan menenggak minuman itu sebelum dirinya tertangkap.
Jadi, mengintrogasinya sekarang bukanlah ide yang bagus.
“Percuma,” geram Lucian, bangkit lalu berbalik menghadap Baron Rosette dan Komandan Hailey.
“Ada apa, Anakku?” tanya Baron Rosette kebingungan.
Lucian menggeleng, rahangnya mengeras menahan amarah. “Semuanya percuma, Paman. Sepertinya pria ini sengaja mengonsumsi alkohol yang dilarang kerajaan. Kita tidak akan mendapatkan apapun dengan menahannya di sini.”
“Apa? Bagaimana dia mendapatkannya?”
“Saya tidak tahu,” jawab Lucian, “lebih baik kita menyerahkannya kepada Duke Ollardio. Ini sudah bukan ranah penyelidikan saya.”
Komandan Hailey menyahut, “Berikan perintah Anda selanjutnya, My Lord.”
Mendesah berat, Lucian memang tidak punya pilihan lain selain membawa Joe kepada Duke Ollardio. “Mungkin hari ini kita gagal, tetapi saya yakin Joe Dansley dapat membantu Duke Ollardio menemukan pengedar minuman itu. Paman, tolong kirim surat kepada Duke Ollardio. Komandan Hailey, pastikan sepuluh kesatria terpilih mengawalnya dan jangan sampai berita ini bocor ke masyarakat. Saya mengandalkan kalian berdua.”
***
“Oh, Lucian, Putraku!”
Baroness Rosette menyambut Lucian dengan pelukan hangat. Wanita tua itu menyampirkan jaket tebal ke pundaknya, menitahkan seluruh pelayan supaya memberi salam, dan menyiapkan hidangan hingga kamar terbaik bagi keponakannya untuk bermalam. Pamannya, Baron Rosette, melarang Lucian pulang karena hari sudah malam. Beliau bahkan menyediakan pelayanan khusus bagi kesatria Carnold di kediamannya yang sederhana. Setidaknya dengan begini Lucian dapat mengenang masa kecilnya barang sejenak. Ia merindukan suasana ramai saat kakek dan neneknya masih hidup.
Baron Rosette merupakan kakak kedua mendiang ibu. Setiap musim panas, ibu selalu mengajak Lucian berlibur ke Grimfon dan membiarkannya bersenang-senang bersama ketiga sepupu. Jiel, Julio, dan Tara, anak-anak badung itu biasa menyeret Lucian ke tembok perbatasan dan bermain-main di sekitar sana. Sekadar menjahili prajurit yang bertugas atau menangkap ikan di sungai kecil yang alirannya deras. Di Grimfon, Lucian tidak penah khawatir kulitnya akan terbakar. Suhu di kota ini sangat ekstrem ketika malam hari. Sedangkan di siang hari, seakan ada pohon besar yang menaungi Grimfon sehingga udaranya menjadi sejuk.
Sesudah menyantap habis makanannya, Lucian pamit menemui Lady Tara Rosette yang malam itu tidak muncul di ruang makan. Menurut penjelasan Bibinya, dua bulan terakhir Tara lebih suka menyendiri di ruang gambar. Gadis itu memilih tidak menemui siapapun meski Baroness memberitahu jika sepupu kesayangannya berkunjung setelah enam tahun. Untuk itu, Lucian memutuskan menyapanya lebih dulu. Selain ada satu-dua hal yang perlu mereka bicarakan mengenai Joe Dansley.
“Aku memahami posisimu, Tara.”
Lucian memejamkan mata, menautkan kesepuluh jari, lalu menumpukannya di atas paha. Ia memandangi punggung mungil sepupunya yang sibuk menempa warna di permukaan kanvas. Tara Rosette adalah putri bungsu pasangan Baron dan Baroness Rosette. Hobinya adalah melukiskan sesuatu sesuai dengan isi hatinya. Sayangnya, Tara tidak melukis apapun selain pemandangan langit malam dengan satu titik putih sebagai bintang dua bulan ini. Kanvas bewarna hitam yang sudah tak terhitung jumlahnya berjajar rapi di sisi lain ruangan.
“Terima kasih telah menolong saya, My Lord,” gumam Tara, tanpa sedikitpun berbalik dan menatap sepupunya. Tangan gadis itu bergerak acak mengoleskan warna seperti anak kecil mencorat-coret tembok. “Saya tidak ingin merepotkan Ayah dan Ibu yang sudah tua. Jiel sudah menikah dan berbahagia karena Kakak Ipar mengandung bayi pertama mereka. Sementara Julio, kakak saya yang bodoh itu tidak pernah menunjukkan kepeduliannya terhadap keluarga. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, sampai saya mengingat Anda. Saya minta maaf telah menyeret Anda ke dalam masalah ini.”
“Aku sepupumu, Tara. Jangan lupakan itu.”
“Tetapi, Anda seorang marquess sekarang.”
“Kalau begitu anggapanmu, jadi ini adalah tanggung jawabku.”
Lucian bergerak menuju jendela, merentangkan bingkainya, lali menyilangkan tangan di d**a. Ia memperhatikan tubuh kurus Tara yang bagaikan tulang dalam balutan kain putih. Matanya digantungi kantung hitam, daging di pipinya mengkerut, dan rambut cokelatnya menipis. Baroness menyebut putrinya sendiri seperti mayat hidup.
“Lagipula berkatmu, aku lebih cepat menyelesaikan pekerjaanku. Jadi, kumohon, berhentilah berterima kasih. Siapa sangka pria yang melecehkan adik sepupuku adalah penyebar rumor konyol itu. Sir Jaden juga menitipkan ucapan terima kasih karena kau mempermudah tugasnya.”
“Anda memang jentelman sejati.” Senyuman Tara kembangkan begitu pandangan mereka bertemu. Apa gadis ini tersenyum selebar ini semenjak Joe Dansley merenggut harga dirinya? Tiada seorangpun yang mengetahui rahasia kelam Tara, mengingatkan Lucian pada Ionna yang juga menutupi segalanya dari keluarga.
Tara menanggalkan kuasnya, memejamkan mata menikmati sentuhan angin malam. Ia telah mengumpulkan keberanian sejak mendengar Lucian sendirilah yang akan mengurus kasus Joe Dansley. Ia mampu bertahan dalam penderitaan hanya untuk hari ini.
Setelah yakin dirinya benar-benar siap, Tara membuka mata, memulai ceritanya. “Sejak orang gila itu menghadiri pernikahan Jiel musim gugur tahun lalu, dia tidak berhenti mengusik saya dengan surat-surat menjijikkannya. Orang itu sampai berbohong anak laki-lakinya ingin menikahi saya dan membuat Ayah memercayai kata-katanya.”
Suara gadis itu memelan di ujung kalimat. Lucian memainkan jemari di kosen jendela, menghela napas panjang. “Dan kau memperingatkan Ayahmu. Tetapi, Baron Rosette tidak mendengarkan.”
“Benar.”
Lucian masih menanti kelanjutan cerita Tara. Gadis itu sedikit ketakutan dan gemetar ketika membuka mulutnya. Angin malam kembali berembus lembut, menetralisir kekalutan gadis dua puluh tahun itu. “Dia terus-menerus mengirimkan surat atas nama Paul Dansley, putranya, My Lord. Hingga dua bulan lalu, dia meminta bertemu, dan dengan bodohnya saya menuruti permintaan orang itu. Kemudian kami bertemu dan dia—”
“Cukup, Tara. Tidak usah kauteruskan.” Lucian menggeleng, menghentikan ucapan sepupunya. Tara sudah sesenggukan dan Lucian paling tidak bisa melihat seorang gadis menangis. Ia mengalihkan pandang. Sialnya, lagi-lagi ia teringat pada tangisan Ionna.
“Saya tidak tahu Anda berniat menyelamatkan saya sebagai sepupu atau sebagai seorang marquess. Saya sangat berterima kasih. Orang itu pasti sengaja menyebarkan rumor untuk menekan saya. Ayah dan keluarga, keduanya merupakan kelemahan terbesar saya, My Lord.”
“Sudah kubilang kau tidak perlu berterima kasih.” Lucian memandang Tara tanpa ekspresi. “Kau, bebaskan dirimu, Tara. Aku bersyukur kau berbagi penderitaanmu denganku. Tanpa suratmu, mungkin aku hanya akan menangkap seorang penyebar rumor palsu. Aku akan melindungi privasimu. Dan Joe Dansley, dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal di bawah pengawasan Duke Ollardio.”
Air mata makin deras membanjiri pipi Tara. Inilah yang Tara tunggu, kata-kata yang membela, yang tidak menghakiminya. Beban di dadanya seolah terangkat. Batu besar yang mengganjal tenggorokannya lenyap seketika. Ia pun menyeka air matanya, meraih palet dan kuas, mencampurkan cat bewarna hijau dan biru, kemudian melukis lengkungan di atas lengkungan lain yang hampir mengering. Ketika sebuah pertanyaan terlintas di dalam benaknya, Tara tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Saya penasaran.” Tara menatap Lucian lurus di kedua matanya. Ia mengganti kuas lalu mengoleskannya pada cat berwarna kuning. “Apakah seseorang pernah mengalami hal yang sama seperti saya? Sorot mata Anda mengatakan, Anda melihat orang lain di dalam diri saya, My Lord.”
Kali ini Lucian tidak menjawab. Ia menegakkan punggung, menyelimuti tubuh kurus sang sepupu dengan jaket, lalu berjalan keluar ruangan. Biarlah Tara menyelami pikirannya seraya mewarnai kanvas dengan warna-warna cerah. Gadis itu berhak mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari ini, begitu pula Lady Ionna Laundrell.
Karena di usianya yang keempat belas, sang lady juga pernah menerima jenis surat yang sama seperti yang diterima Tara.
***
“Annie, kira-kira apa yang sedang Marquess Carnold lakukan sekarang?”
Annie Jam, pelayan pribadi Ionna menatap jam yang menunjukkan pukul delapan malam. Seharian ini, ia tidak ada di rumah karena menemani Duchess Laundrell menjenguk Lady Rebecca. Mereka berangkat pada subuh hari dan pulang begitu hari menjelang malam. Saat baru turun dari kereta, betapa terkejutnya Annie ketika pelayan lain mengadukan pergelangan kaki Ionna terluka, meski fakta itu sedikit dilebih-lebihkan.
Namun setelah mendengar cerita lengkapnya, Annie tidak lagi merasa bersalah meninggalkan nonanya tanpa pamit. Ia justru ikut merayakan kebahagiaan Ionna yang berbunga-bunga karena perlakuan Marquess Carnold.
Annie tersenyum geli sambil memisahkan kepangan terakhir Ionna, menyisir rambut merah itu dengan kehati-hatian penuh. “Tidur?” balasnya asal.
Ionna mendengus. “Mustahil sang marquess tidur sedini ini.” Melalui cermin meja rias, Annie mendapati nona mudanya merengut sebal. “Yah, apapun yang dilakukannya, semoga beliau tidak melupakan hadiah yang dijanjikannya. Aku tidak sabar memberitahu Marquess Carnold warna gaun debutanku, Annie.”
Bersambung