“Hati-hati, Nak.”
Lucian memeluk Baron dan Baroness Rosette dalam satu dekapan erat. “Terima kasih atas semuanya, Paman, Bibi. Maafkan saya yang tidak memiliki waktu untuk mengunjungi kalian. Saya sungguh menyesal.”
“Apa yang kaukatakan, Luce?” Pria itu merasakan usapan lembut di punggungnya. “Kami yang seharusnya meminta maaf. Kau telah memenuhi tugasmu sebagai marquess dengan baik. Kuharap kau selalu dalam lindungan Tuhan. Isabelle beruntung memiliki putra sepertimu.”
“Paman terdengar seperti mendiang Kakek. Anda tidak perlu secemas itu.”
“Meski tubuhku masih segar, tetapi usiaku sudah tua, Nak. Menantuku sedang mengandung cucu pertama kami dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang kakek.”
“Tara telah memberitahu saya,” kata Lucian seraya melepas pelukannya. Sinar kebahagiaan tergambar jelas di wajah paman dan bibinya. “Tolong, kirimi saya surat ketika bayinya lahir. Saya akan mengirimkan hadiah untuk Sepupu Jiel dan istrinya. Saya bahkan tidak bisa menghadiri pernikahan mereka tahun lalu.”
“Itu tak masalah. Paman tahu sesibuk apa dirimu mengurus keamanan wilayah.”
Tiba-tiba Baroness Rosette yang tidak lebih tinggi dari pundak Lucian berjinjit, berusaha menggapai bagian teratas kepala keponakannya. Lucian pun membungkuk, mensejajarkan tinggi mereka, dan mendapatkan kecupan singkat di kening. Baroness Rosette tersenyum malu sambil menyikut lengan suaminya.
“Suamiku, aku tak menyangka anak ini sudah tumbuh besar. Rasanya baru kemarin aku melihatnya bersembunyi di istal dan kabur bersama sepupu-sepupunya. Semakin dewasa, kau semakin mirip dengan Ibumu, Luce.”
“Anak-anak memang tumbuh sangat cepat, Istriku. Kita sebagai orang tua hanya bisa memantau pertumbuhan mereka.”
Lucian menyentuh keningnya dengan senyum tipis. “Usia saya sudah dua puluh satu tahun, Bibi. Kenapa Anda terus memperlakukan saya seperti anak kecil?”
“Karena aku tidak rela kehilangan anak-anak manis itu, Luce,” lirih Baroness Rosette. Wajahnya diselimuti awan gelap dan pelupuk matanya digenangi cairan bening. Wanita itu meraih kedua bahu tegap Lucian kemudian meremasnya. “Jiel, Julio, Tara, dan kau, kalian sangat berharga bagiku, Nak. Namun entah mengapa, takdir yang buruk menimpa dirimu dan Tara. Aku tidak tahu apa yang membuat Putriku semenderita itu. Tetapi, terima kasih, Anakku, kau telah mengembalikan senyumannya.”
Lucian hendak berucap, namun sepasang manik hijaunya lebih dulu menangkap siluet Tara di ambang pintu depan. Gadis itu mengenakan gaun kuning bermotif bunga dan membiarkan rambut cokelatnya terurai indah. Ia mendatangi Lucian dan orang tuanya, didampingi Kesatria Jaden yang mengekor di belakangnya.
Bukan tanpa alasan Kesatria Jaden mengikuti Tara seperti anak ayam dan induknya. Lucian memindahtugaskan pria itu ke kediaman Rosette sebagai kesatria penjaga Tara setelah menyadari sesuatu di antara mereka. Lucian menduga membaiknya kesehatan mental Tara bukan karena percakapan mereka semalam ataupun penangkapan Joe Dansley. Mungkin ada faktor lain yang mendorong gadis itu memulai lembaran baru dalam hidupnya. Dan kemungkinan itu bisa terjadi karena kehadiran Kesatria Jaden. Tampaknya selama Tara membantu Kesatria Jaden dalam penyelidikannya, diam-diam mereka menaruh perasaan satu-sama lain.
“Anda akan pulang sekarang, My Lord?” tanya Tara. Wajahnya yang tak terlihat berbeda dari semalam menunjukkan perubahan pada ekspresinya.
Lucian mengangguk pelan, menatap Kesatria Jaden penuh arti. “Benar, dan Kuharap kau menyukai kesatria pilihanku. Jika tidak, aku bisa mengganti Sir Jaden dengan kesatria lain, Tara.”
“Oh, ayolah, jangan bercanda, My Lord.”
Semburat merah seketika menggerayangi pipi Tara. Baron dan Baroness Rosette tertawa geli melihat tingkah putrinya. Sungguh mengejutkan menemukan Tara berada di ruang makan pagi ini, menanti kedatangan orang tua dan sepupunya. Gadis itu telah membebaskan dirinya dari kekangan belenggu hingga membuat Baroness Rosette menangis haru.
Berulang kali paman dan sang bibi mengutarakan rasa terima kasih, namun Lucian merasa tidak pantas menerimanya.
“Kalau begitu, saya pergi.”
Jubah bepergian terpasang. Lucian berjalan menghampiri Ian, kuda putihnya yang menunggu si pemilik bersama kuda kesatria lain di luar pagar. Delapan orang kesatria yang sebelumnya sibuk memeriksa perlengkapan berkuda mengangguk kepada keluarga Baron, pun menyampaikan salam perpisahan kepada Kesatria Jaden. Setelahnya, Lucian meraih punggung tangan Tara dan Bibinya, mencium keduanya secara bergantian.
“Jaga diri kalian baik-baik, Paman, Bibi, Tara. Sampai bertemu di lain kesempatan.”
***
Setelah berhasil membujuk pengawal yang berjaga di depan ruang kerja sang duke, Annie menempelkan kuping ke permukaan pintu. Ia tak mungkin menanyakan siapa tamu Duke Laundrell kepada kedua pengawal tadi, maupun pelayan lain yang bekerja di sekitar sana. Bisa-bisa mereka mencurigai Annie dan mengetahui tujuannya mencuri dengar.
“Bagaimana?” desak Ionna.
Terlebih orang yang menyuruh Annie adalah nonanya sendiri. Jika ia bertanya, itu sama saja mengumumkan kepada seisi rumah bahwa Lady Ionna Laundrell mulai menaruh penasaran terhadap aktivitas kakaknya. Padahal yang gadis itu inginkan hanyalah mencari tahu Marquess Carnold sudah kembali atau belum.
Annie menarik tubuhnya dari pintu. Desahan kecewa Ionna mengiringi gelengan pelayan itu. “Yang saat ini ada di dalam bersama His Grace adalah Sir Philips. Mereka sedang membahas persiapan keberangkatan kita besok.”
“Benar, besok kita harus berangkat menuju ibu kota.” Ionna menggigit ibu jari sehingga Annie menjauhkan tangannya dan memperingatkan agar tidak merusak kuku yang baru dicat. “Sebelum pergi, setidaknya aku ingin berbicara dengan Marquess Carnold. Beliau tidak tertarik dengan segala hal yang berbau pesta, jadi beliau tidak mungkin menghadiri debutan walau yang mengundang adalah Yang Mulia Raja. Kuyakin Marquess Carnold akan membuat alasan dengan menciptakan kesibukan lain.”
“Apakah Anda tidak mengirim surat, My Lady? Bukankah biasanya kalian sering bertukar surat ketika His Lordship sedang bertugas di luar kota?” tanya Annie, setetes keringat meluncur melewati pipinya. Melihat nona mudanya gelisah tanpa sadar Annie juga ikut gelisah.
“Tidak.” Ionna menggeleng seraya meninggalkan Annie sekembalinya dua pengawal tadi. Ia melanjutkan kalimatnya begitu Annie berlari kecil menyusulnya. “Kupikir karena Celeton dan Grimfon tidak terlalu jauh, Marquess Carnold bisa kembali dalam waktu sehari. Namun sepertinya, masalah di sana benar-benar serius. Kuharap His Lordship baik-baik saja.”
“Tenanglah, My Lady. Apa yang Anda khawatirkan?”
Janjinya, batin Ionna. Gadis itu menggeleng keras kemudian. Tidak, bukan janjinya. Mendengar penuturannya kemarin, aku takut dia pulang dalam keadaan terluka. Seandainya dulu aku belajar berpedang, alih-alih mengikuti kelas menari, aku pasti bisa lebih berguna baginya.
Ionna mempercepat langkah. Suara ketukan sepatu memantul-mantul di dinding koridor yang sepi. Barisan jendela besar dan dekorasi dinding di sisi kanan-kiri koridor berlalu cepat dalam pandangannya. Beberapa pelayan yang sibuk membersihkan patung, kosen jendela, maupun yang mengepel lantai mengalihkan perhatian dan memberi salam. Sayangnya, Ionna tidak memiliki niat untuk sekadar membalas salam mereka. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia juga tidak memedulikan Annie yang sejak tadi mengoceh di sampingnya.
Seakan ada sesuatu yang membisikinya, secara otomatis Ionna pun mengerem langkah. Mata gadis itu melebar tiba-tiba. Napasnya tersekat dan ia langsung memutar tubuh menghadap salah satu jendela yang mengarah langsung ke halaman depan. Sepasang manik sebiru lautnya berbinar ketika menemukan sosok yang menjadi sumber kegelisahannya. Kedua tangannya bergerak membuka jendela, angin pagi menerbangkan helaian merahnya yang sebagian tergerai.
Oh, Ionna ingin meneriakkan nama sosok itu sekarang. Namun, ia juga tidak bisa mempermalukan dirinya di depan begitu banyak orang. Delapan kesatria berkuda keluarga Carnold, para pelayan yang menyambut kedatangan mereka, serta Komandan Pasukan Kesatria duke yang menuntun Lucian menuju teras depan; saat ini Ionna hanya bisa memperhatikan pria itu dari lantai dua kediamannya. Dirinya yang terlihat kecil dari jarak sejauh ini pasti tidak disadari oleh Lucian.
Begitu sosok sang marquess menghilang, seulas senyum lebar Ionna kembangkan, membuat Annie ikut melukiskan lengkungan yang sama di bibirnya. “Sekarang, apa kekhawatiran Anda sudah hilang, My Lady? Syukurlah, sang marquess pulang dengan selamat. Tidakkah Anda ingin menyapa beliau?”
“Kau bercanda? Orang pertama yang berhak beliau temui adalah Kakakku, bukan aku,” kata Ionna sambil menutup daun jendela. Pemandangan di luar kini hanya menyisakan kesatria beserta kuda-kudanya. Ionna nyaris mematahkan engsel jendela saking semangatnya. “Aku akan menunggunya di taman air mancur. Jadi, bisakah kau melakukan sesuatu untukku, Annie Sayang?”
“Saya akan melakukan apapun untuk Anda, My Lady!” sahut Annie bersungguh-sungguh. Sudut-sudut bibir Ionna semakin tertarik ke atas. Senyuman selebar lima jari menghiasi paras ayunya yang dipoles riasan tipis. Ia pun mengangkat gaun, berlari menuju perpustakaan seperti kuda pacu terlatih.
Sesampainya di perpustakaan, Ionna meraih secarik kertas serta pena bulu, dituliskannya sepenggal kalimat di atas kertas. Selesai menulis, Ionna menekuk kertas itu dalam lipatan kecil. Ia menyerahkannya kepada Annie, meletakkan jari di mulut, lalu tersenyum jahil. Ionna melangkah maju mendekati telinga Annie kemudian berbisik, “Kupercayakan ini padamu.”
“Aye, My Lady.”
Keduanya mengangguk dan berjabat tangan, seolah telah menyusun sebuah kesepakatan paling menguntungkan di dunia.
***
Duke Laundrell sedang menjelajahi dunia antah-berantah ketika suara Philips menginterupsi lamunannya.
“Your Grace, Marquess Carnold ingin bertemu.”
Pria itu terperanjat. Ia berbalik untuk merapikan rambutnya yang acak-acakkan lalu berdeham pelan. “Biarkan dia masuk.”
Detik berikutnya, Lucian memasuki ruang kerja sang sahabat dengan langkah lebar. Ia melihat siluet Ansel yang tampak murung walau cahaya mentari di belakangnya bersinar terang. Tanpa melewatkan sapaan formal, Lucian menyerahkan gulungan laporan yang semalam ia tulis hingga mengurangi jam tidurnya.
“Kau kembali lebih cepat dari dugaanku. Apa kau tidak lelah dua belas jam berada di atas pelana?” tanya Ansel, suaranya terdengar ketus. Pria itu pura-pura membolak-balik lembar buku yang ia baca, sementara pandangannya berkonsentrasi pada sederet huruf yang memusingkan.
“Buku yang kaubaca terbalik, Kawan,” timpal Lucian tak acuh. Ia maju selangkah, merebut buku di tangan Ansel, kemudian mengacungkan gulungan laporan seperti mengacungkan pedang di depan musuh. “Lebih baik baca ini dan segeralah temui Yang Mulia Raja. Rumor pemberontakan di Grimfon semuanya palsu, tetapi pelakunya berhubungan dengan peredaran minuman terlarang. Jika kau tidak bergegas sekarang juga, biarkan aku yang melemparmu ke kereta kuda.”
“Aku sudah punya firasat buruk tentang ini.” Ansel mengerang frustasi. Ia membaca laporan itu kemudian menekan-nekan dahinya yang terasa berat. “Bagus, kau langsung mengirimnya kepada Duke Ollardio. Aku menghargai kerja kerasmu dan para kesatriamu, Lucian. Terima kasih.”
Sebelah alis Lucian terangkat. Tak biasanya Ansel tidak menanyai kasus yang ia tangani sampai ke akar-akarnya. “Ada yang kaukeluhkan?”
Ansel mengangguk lesu. Matanya berkaca-kaca selayak anak anjing yang minta diberi makan. “Berkat rumor sialan itu, di saat seharusnya aku menemani adikku sampai hari pentingnya, aku jadi harus ke ibu kota lebih awal. Sementara kau, kau mendapatkan keuntungan dengan mengunjungi kota kelahiran ibumu. Kenapa dunia begitu tidak adil padaku?”
“Jadi, itu masalahnya.” Lucian mendesah letih. Lagi-lagi kisah rumit kakak-beradik Laundrell. “Lalu, apa yang akan kaulakukan?”
“Masih bertanya? Tentu aku harus mengutamakan kewajibanku kepada Yang Mulia Raja. Kenapa kau lamban sekali?”
“Aku tidak lamban, kau yang lamban mengambil keputusan,” cela Lucian.
Oh ayolah, tubuhnya hampir remuk setelah berkuda dari Celeton ke Grimfon dan kembali dalam satu hari. Pada malam hari, Lucian harus menyusun laporan untuk Ansel sampaikan kepada Yang Mulia Raja. Lucian baru tidur ketika ayam berkokok dan sinar mentari mengusik acara tidurnya. Ia hanya sempat memejamkan mata selama setengah jam sebelum bergegas, dan turun ke lantai bawah untuk sarapan.
Awalnya, Lucian pikir ia bisa langsung beristirahat di rumah setelah menyerahkan laporannya. Namun, ternyata ia salah. Keluhan Ansel memaksa Lucian tetap diam di tempatnya berdiri. Ansel tidak akan membiarkannya pergi sebelum menamatkan cerita drama-tragedi persaudaraannya.
“Jangan bilang ini tentang masalah kemarin. Kau belum memberikan hadiahnya?” tanya Lucian penuh selidik. Perubahan ekspresi Ansel memberitahunya segalanya. “Sudah kuduga akan begini. Dasar pecundang.”
Ansel melotot tak terima. “Tch, cobalah kau berada di posisiku, Teman Sialan. Bukannya kau sendiri yang berkata tidak punya saudara? Mana mungkin kau tahu rasanya diabaikan oleh adikmu—”
Ketukan pintu nenbuat atensi kedua pria itu sontak teralihkan. “Siapa?” tanya Ansel setengah menggerutu.
Suara lembut di luar pintu menyahut sopan. “Annie, My Lord. Saya membawakan teh.”
“Aku tidak lama di sini. Kenapa kau menjamuku?”
Kali ini Lucian yang bertanya. Ansel mengedikkan bahu, bahkan dia belum membunyikan lonceng dan memanggil pelayan ke mari. Apa yang pelayan pribadi Ionna lakukan dengan membawakan mereka teh?
Mempersilahkan pelayan itu masuk, Annie pun menampakkan diri dengan dua cangkir teh yang asapnya masih mengepul. Sejenak Ansel melemparkan tatapan curiga. Ia memercayai semua pelayan di rumah ini tanpa terkecuali. Akan tetapi, sikap Annie sanvat mencurigakan hari ini. “Siapa yang menyuruhmu?” tanyanya dengan mata memicing.
Annie menghindari kontak mata dengan sang duke. “Ah, Your Grace, ini adalah teh yang baru datang dari Frindel, pesanan Her Grace. Saya menyeduhnya karena ingin mendengar pendapat Anda sebelum membuatkannya untuk sang lady.”
“Artinya, kau menjadikan seorang duke sebagai kelinci percobaan?” tukas Lucian dingin.
Panik, Annie menggeleng cepat. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya yang mencengkeram erat pegangan nampan. “Bu-bukan seperti itu, My Lord. Astaga, apa yang Anda katakan?” Ia meletakkan satu cangkir di meja kerja Ansel kemudian memberikan cangkir lain kepada Lucian. “Karena His Grace adalah kakak Lady Ionna. Apabila beliau menyukai teh itu, saya yakin Her Ladyship juga menyukainya.”
Tampaknya, Marquess Carnold menyadari rencana terselubung Annie yang berusaha memanfaatkan kelemahan sang duke. Demi menyelamatkan diri, buru-buru Annie menghanturkan kata permisi dan berlari kecil meninggalkan ruangan.
Lucian berniat mengutarakan isi kepalanya seandainya tidak menangkap raut terharu sang sahabat. “Menggelikan. Apanya yang mendengar pendapat,” gumamnya seraya mengangkat cangkir, dan menemukan selembar kertas yang dilipat di tatakan. Lucian menatap Ansel sekilas, berpaling memandang perkamen itu, membaca tulisan di dalamnya;
Apakah Anda bekenan menemui saya di taman air mancur, My Lord? –Ionna Laundrell.
Selesai membaca, Lucian kembali melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam saku mantel. Ia menyesap teh beraroma mint di cangkirnya santai, berpura-pura tidak mengetahui apapun. Segaris senyum misterius mampir, bersamaan dengan ide yang digunakannya untuk mengakhiri penderitaan sang sahabat.
“Ada seseorang yang menunggumu di taman air mancur, Kawan. Tidak mau menemuinya?”
***
Berkali-kali Ionna mencelupkan ujung jari ke permukaan kolam, menciptakan riak yang bergerak perlahan sebelum menghilang saat bertabrakan dengan riak lainnya. Ia duduk di tepian kolam, menggenggam payung renda berwarna pastel sambil bersenandung kecil. Kaki-kaki kurusnya yang dibalut perban berayun-ayun di udara.
Gadis itu memperhatikan gemericik air yang jatuh dari guci yang dipikul patung Dewi Air. Begitu mendengar suara krasak-krusuk rerumputan hijau yang tumbuh di sekitar taman, refleks Ionna menoleh, mendapati orang yang sama sekali tidak ia harapkan eksitensinya muncul tanpa rasa malu.
Apakah ia harus menghukum Annie atas kekeliruan ini?
“Apa yang membawamu ke mari, Kakakku?”
Bersambung