“Apa yang membawamu ke mari, Kakak?”
Ansel tidak tahu apakah ide ini akan berhasil. Ia hanya mengiyakan perkataan Lucian tanpa berpikir panjang. Adik perempuannya tampak ingin melemparkan payung di genggamannya ke tanah. Walau samar, Ansel dapat melihat kemarahan dalam raut gadis itu.
Ketika Ionna bangkit dari pinggiran kolam, buru-buru Ansel menjawab. “Jangan salahkan Annie,” sambil mengeluarkan secarik surat dari saku jas. Kelopak mata Ionna melebar. Bila surat itu sampai ada di tangan kakaknya, kemungkinan Lucian sendirilah yang membawa pria itu ke mari. Kepala Ionna berputar ke kanan dan kiri, mencari Lucian yang ternyata berdiri di antara pilar serambi rumahnya. Hatinya mencelos kecewa. Apa Lucian pikir ia dan Ansel tengah bermain adu peran di panggung opera? Semenyenangkan itukah mempermainkannya?
Ionna membuang muka, memutus kontak mata dengan Lucian. Ansel maju mendekat kemudian berlindung di bawah payung bersamanya. “Aku datang atas kehendakku sendiri. Jadi, kumohon, tidak usah menyalahkan siapapun.”
Gadis itu menoleh menatap Ansel. “Bukannya kau akan pergi ke istana? Kenapa masih di sini?”
Jemari Ansel melingkari pergelangan tangan Ionna. Ia menarik sang adik berjalan-jalan mengelilingi taman. “Ada banyak hal yang ingin kukatakan. Tetapi, bisakah kau meluangkan waktumu? Sebentar saja, setidaknya sebelum kakakmu ini pergi.”
“Baiklah jika kau memaksa.”
Alih-alih menyentakkan tangan Ansel seperti biasa, kali ini Ionna mengalah. Gadis itu mengikuti setiap langkah sang kakak, mengitari taman bunga, melewati taman labirin, rumah kaca, hingga sampai pada jalan setapak yang membawa mereka menuju kebun apel. Terdapat sebuah gerbang besi yang lengkungan atasnya ditumbuhi tanaman merambat. Kursi kayu panjang, patung-patung kecil, serta lampu taman melengkapi sudut-sudut taman belakang Kediaman Laundrell yang indah. Mereka berhenti tepat di depan sebatang pohon maple yang dedaunannya rindang. Ionna mengenang ingatan di mana Ansel membandingkan dirinya dengan seekor monyet.
“Di sinilah awal penderitaanku,” gumam Ionna, melirik Ansel tajam. Sang kakak tampak berkeringat dingin, menunjukkan cengiran lebarnya. Benar. Pohon ini adalah kali pertama dan terakhirnya Ionna memanjat, sebelum ia terjebak dalam kelas menari dan tata krama Madame Grochie yang kejam.
Ansel melangkahi semak yang tumbuh di sepanjang jalan setapak lalu menyentuh batang pohon itu. “Aku minta maaf.”
Ionna menahan napas mendengar pernyataan yang tiba-tiba itu.
Tanpa melihatnya, Ansel pun melanjutkan, “Aku tahu kata maaf tidak akan cukup untuk membayar semua kesalahanku padamu. Seperti yang Lucian bilang, aku ini seorang pecundang. Aku bertanya-tanya alasan di balik keretakan hubungan persaudaraan kita. Namun, sekeras apapun aku mencarinya, Ionna, aku tidak menemukan jawabannya.”
Ionna merasakan oksigen menghilang dari paru-parunya. Sesak mendera ulu hatinya. Sebagian diri dari dirinya ungin memutar waktu dan kembali di masa tiada jarak yang memisahkan mereka. Namun, sebagian dirinya yang lain ingin kakaknya merasa tidak berdaya lebih lama lagi. Ansel boleh memiliki segalanya, tetapi tidak dengan hati adik perempuannya. Ionna merasa sakit tiap kali Ansel mendapatkan begitu banyak perhatian semenjak ayahnya pergi.
Gadis itu mengembuskan napas panjang. Genggamannya pada pegangan payung mengerat. “Omong kosong,” cemooh Ionna, mengusir suasana melankolis yang menyelimuti mereka. Ansel mendengus, memukul-mukul batang pohon malang itu.
“Kau selalu merusak suasana yang susah-payah kubangun. Betapa sulitnya aku mengutarakan kalimat memalukan itu di depan adikku.”
“Menyebalkan. Kau memang suka mendramatisir keadaan,” kata Ionna, memijit kening. Ia berbalik untuk memastikan apakah Lucian masih ada di tempatnya.
Pria itu balik memandangnya tanpa ekspresi, bersidekap tak jauh dari posisi mereka. Dalam kedua manik biru Ionna, semarah apapun gadis itu sekarang, ketampanan Lucian dan bunga warna-warni yang menyebar di seluruh penjuru taman merupakan pemandangan terbaik yang pernah ia lihat.
Tiba-tiba lonceng berbunyi. Ionna tersentak dan mendapati sebuah kotak besar menenggelamkan tubuh Philips yang keluar dari kebun apel. Pria dua puluh lima tahunan itu berlari kecil menghampiri mereka. Kotak itu berbungkus kertas emas dan tali merah mempercantik tampilannya.
Awalnya, Ionna tidak memiliki petunjuk tentang kotak di atas troli yang Philips bawa. Otaknya sibuk mencerna berbagai kemungkinan isi di dalamya. Hingga ia menangkap senyum misterius di bibir kakaknya, barulah ia tersadar. Permata sebiru lautnya langsung memunculkan binar-binar cerah. Wajahnya berseri-seri mengetahui kotak itu adalah hadiah yang selama ini ia tunggu-tunggu.
Gaun debutan, seperangkat aksesori, dan hiasan rambut. Ionna mengangkat gaun lantas mendekati kotak itu, memperhatikan setiap sisi kotak yang dibungkus dengan apik dan cantik. “Terima kasih, Sir Philips. Astaga, seharusnya aku menyadari tingkah aneh kakakku sejak awal. Apa dia merepotkanmu?” tanya Ionna.
Philips yang setengah tersengal-sengal spontan menegakkan tubuh. “Suatu kehormatan bagi saya melayani sang duke dan keluarganya, My Lady. Ini bukan apa-apa dibanding mengangkat kotak itu dari lantai dua. Saya senang bila Anda menyukai hadiahnya.”
Ansel mendelik. Takut-takut ia mengibaskan tangan di udara, panik. Kepala Pelayannya ini memang sedikit kurang ajar. “Sekarang kau berani membantahku?”
Philips menggeleng santai. “Setelah semua yang saya lakukan untuk Anda, Your Grace?” Dan jangan lupakan bonus akhir bulan yang kaujanjikan, Bodoh. Aku tidak dapat menjamin kapan mulutku akan membocorkan percakapanmu dengan Marquess Carnold kepada sang lady.
Duke Laundrell menelan ludah. Dalam hati mengutuk takdir. Kenapa ia hidup dikelilingi makhluk bermulut ember seperti Philips? Ia pun mengangguk pasrah, mengucapkan terima kasih, lalu membiarkan Philips berlalu begitu saja. Sebisa mungkin ia menghindari tatapan menuntut Ionna. Adiknya itu pandai sekali membaca situasi.
“Omong-omong, apa Lucian pernah mengatakan sesuatu? Seperti hadiah, sepatu, atau semacamnya?” tanya Ansel mengganti topik.
Ionna mengernyit. Apa maksudnya janji Lucian kemarin? “Kurasa, ya.”
Pria itu terbatuk-batuk. “Jadi, begitu.”
“Ada apa?”
“Sebenarnya kami membuat kesepakatan soal hadiah ulang tahunmu,” ujarnya, “aku kebingungan memilih model sepatu yang sesuai dengan gaun debutanmu. Dan meski kau memiliki puluhan sepatu di lemarimu, kau hanya menyukai sepatu pemberian mendiang Marchioness.”
Lagi-lagi, Ionna tidak dapat menahan diri untuk mengarahkan pandang kepada Lucian. Pria itu tak lagi di sana. Jalanan kosong-melompong, tergantikan para tukang kebun yang berdatangan untuk memotong bunga-bunga yang rusak. Sekarang Ionna mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Sembari menggigit bibir bawah, gadis itu memejamkan mata. Sungguh menyedihkan. Ia telah menaruh kekesalan tak beralasan terhadap Lucian.
“Kau harus berterima kasih padanya. Dialah yang menyiapkan sepatu debutanmu.” Ansel menatap Ionna sekilas, kemudian mengikuti arah pandang gadis itu. “Selain itu, dia memberitahuku cara memberikan hadiah secara langsung kepadamu. Terkadang aku merasa dia mengenalmu lebih baik daripada diriku, Ionna. Aku kakak yang tidak berguna.”
Perlahan, Ionna merasakan matanya memanas. Sesak kembali menyerang dadanya. Bagus, dalam satu waktu ia dibuat sedih oleh dua pria yang berbeda. Pertama, Lucian. Lalu sekarang Ansel. Apa mereka tidak tahu kalau Ionna sangat tersiksa dengan perasaan bersalahnya? Ionna benar-benar seseorang yang angkuh dan kekanakan.
“Ionna,” panggil Ansel. Suara beratnya melembut, begitu pula tatapannya. Pria itu bergerak menyingkirkan anak rambut yang menjuntai di dahi adiknya. Seraya tersenyum kecut, ia berkata lirih, “Aku tidak bisa mendampingimu saat debutan. Jadi, aku meminta Lucian untuk mendampingimu. Untuk yang kali terakhirnya, maafkan aku, Dik."
***
Setelah percakapannya dengan Ansel kemarin, Ionna tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan Raphael yang selalu ditemuinya dengan wajah muram, mulai mengintropeksi diri kalau-kalau ia berbuat salah. Apa aku menjadi salah satu penyebab buruknya suasana hati Her Ladyship? Itulah yang Raphael pikirkan dari sejak ia menjemput Ionna di kamar.
Pemuda itu membantu nonanya menaiki pijakan kereta yang tinggi. Di dalam kereta, sang duchess telah menunggu putrinya sambil berpangku tangan. Wanita empat puluh tahunan itu melirik Ionna sekilas, mengikuti gerakan putrinya beserta si pelayan pribadi, kemudian meniti penampilan gadis itu dari atas hingga bawah.
Saat kereta mulai berjalan, Ionna memutuskan membuka pembicaraan. “Mama.” Ionna memandang ibunya setengah menunduk. “Saya tidak melihat kereta Marquess Carnold. Di mana beliau?”
“Marquess Carnold akan menyusul,” jawab Duchess Laundrell singkat. Ia memperhatikan ekspresi putrinya yang terlihat kecewa, kemudian menambahkan, “Ionna, debutan adalah gerbang pembuka bagi gadis bangsawan sepertimu. Jadi, kuminta kau jaga batasanmu. Setidaknya lakukanlah demi nama baik Kakakmu. Aku tidak ingin mendengar omongan lain tentang sikapmu yang tidak sesuai dengan etiket bangsawan.”
Di depan ibunya, Ionna tidak berani membantah maupun sekadar mengangkat kepala. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengangguk dan menjawab “Saya mengerti, Mama”.
Ada banyak hal yang membuat Ionna takut kepada ibunya. Walaupun Annie tepat verada di sampingnya, hal itu tidak memberikan dukungan yang berarti.
“Annie, sekarang giliranmu. Jawablah pertanyaanku.”
Annie sontak terkesiap mendengar sang ducchess menyebut namanya. Ia melirik nona mudanya yang juga balik meliriknya. Mereka terdiam, seakan bertelepati melalui sorot mata. Hingga Duchess Laundrell menuturkan pertanyaannya, pelayan itu tidak bisa untuk tidak menahan napas.
“Maaf?” Saking terkejutnya, suara Annie terdengar seperti cicitan tikus. “Siapa saja yang mengirim surat permintaan dansa kepada Lady?”
“Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku, Annie,” ucap sang duchess, “seharusnya Philips yang bertugas menyaring setiap pesan yang Ionna terima. Tapi, kudengar, kau mengambil alih tugas itu tanpa seizinku maupun sang duke. Siapa yang menyuruhmu melakukan kelancangan itu?”
Mata Annie hendak mengerling ke arah Ionna, namun tampaknya Duchess Laundrell sudah mengetahui jawabannya. “Ionna pasti yang memaksamu, bukan? Anak ini, dia tidak pernah belajar dari kesalahan.”
“Maafkan saya, Madame.”
“Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu.” Duchess Laundrell menyandarkan punggung lalu membentangkan kipas. Tubuh mereka melompat kecil di atas kursi ketika kereta melewati jalanan berbatu. “Sebagai gantinya, tulis daftar nama pengirim surat dan berikan padaku sesampainya di penginapan. Aku yang akan memutuskan dengan siapa Ionna berdansa—”
“Mama tidak perlu—”
“Aku tidak sedang berbicara denganmu, Ionna Laundrell. Kau tidak ingat tentang menjaga batasan? Di mana kebijaksanaanmu?” tandas Duchess Laundrell marah.
Bahu Ionna merosot lesu. Ia telah menyusun strategi supaya hanya Lucian yang menjadi partner dansanya, terutama dansa pertama. Ia ingin menghindari pria yang disebut jentelman, padahal dulu pernah mengirim surat bertuliskan kata-kata menjijikkan kepadanya. Ionna yakin pada debutannya nanti, mereka tidak akan melepasnya dengan mudah.
Masih teringat jelas dalam benaknya siapa jentelman penulis surat-surat menjijikkan itu. Namun apabila ibunya yang mengatur partner dansa, Ionna tidak dapat menjamin dirinya bisa terhindar dari pertemuan dengan para hidung belang itu. Apalagi mereka berasal dari keluarga terpandang. Bahkan salah satunya merupakan pewaris tunggal Marquess Castiello. Ibunya yang sangat berambisi terhadap masa depan putrinya akan mengambil kesempatan sekecil apapun selagi bisa.
Ionna menghela napas panjang. Rencananya kacau dan ia harus membuat strategi lain sebelum hari debutan.
“Selain itu, karena kau tidak punya teman dekat, cobalah memulai pertemanan sederhana dengan seorang lady. Ketika kau terjun ke dalam pergaulan kelas atas, kau akan menyadari betapa pentingnya hubungan itu. Kau tidak boleh menjadi manusia individualis, Ionna. Acara sosial, jamuan teh, pesta dansa, dan pertemuan-pertemuan lain menunggumu.”
Ionna mendongakkan kepala. Netra birunya menatap manik cokelat sang ibu lelah. Ia bagaikan replika wanita itu. Warna kulit, rambut, bentuk wajah, semuanya ia warisi dari ibunya. Ionna pikir dengan kemiripan mereka, Duchess Laundrell akan lebih menyayangi dirinya. Sayangnya, angan-angan tetaplah angan-angan. Ionna selalu menjadi pihak yang tersingkir.
“Baik, Mama.”
“Satu lagi. Lady Diana, keponakan Marchioness Francaiss menitipkan salam padamu—”
Pupil Ionna bergetar samar. Seluruh tubuhnya menggigil mendengar nama itu disebut. Ia menggigit bagian dalam bibir guna menetralisir kecemasan yang tetiba menyerang, hampir sesak napas bila Annie tidak mengusap punggungnya lembut. Ia menoleh dengan wajah pucat, menggumamkan kata terima kasih dalam diam.
“Ada baiknya kau mendekati gadis itu. Katanya, dia anak yang sopan dan beretika.” Duchess Laundrell menutup kipas. Alisnya bertaut mendapati putrinya tidak mendengarkan. “Kau dengar, Ionna?” tanyanya, tajam dan tegas.
Ionna tersenyum tipis, memberikan anggukan patuh lantas mengeratkan cengkramannya pada lengan kiri.
Sejenak, ia melupakan fakta bahwa Lady Diana Thesav juga melangsungkan debutannya tahun ini.
***
“Cepat katakan!"
Sepeninggal Philips, Ansel langsung menyambar kerah baju Lucian. Pemuda itu tampak bersungguh-sungguh dengan niatnya menyenangkan hati sang adik. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke bawah, terlihat antusias. Amat-sangat menjengkelkan melihat wajahnya dari jarak sedekat ini. Embusan napasnya yang beraroma mint bercampur alkohol tercium tajam.
Lucian mendelik lalu mendorong bahu Ansel hingga punggungnya membentur pegangan sofa. Temannya yang sembrono itu sering sekali melakukan hal-hal ambigu. Apa yang akan dipikirkan orang lain seandainya mereka tertangkap basah dalam posisi tadi? Untungnya, Ansel tidak mengizinkan satupun pelayan maupun pengawal masuk ketika Lucian yang bertamu. Pria itu bahkan memakai ruang tamu khusus yang digunakan mendiang duke saat menerima tamu penting dari kerajaan. Kenyataannya, sebagian besar pembahasan mereka di ruangan ini tak seserius yang orang lain kira.
“Luce!” seru Ansel tak sabar. Ia menggosok bahu kanannya yang nyeri sambil mendengus. “Oh ayolah! Kau bilang tidak punya banyak waktu! Jika kau temanku—”
“Caranya mudah,” sela Lucian, merapikan kerahnya yang kusut. Ia mengambil koran di sudut meja kemudian mencari berita yang membahas rumor di Grimfon. “Ketulusan. Cukup dengan ketulusan lalu semuanya selesai.”
Ansel tertawa renyah, sedetik kemudian kegelapan menghiasi paras tampannya. “Berhenti memainkan kata, Lucian. Kau pikir selama ini aku tidak tulus memberi semua barang-barang mewah itu?”
“Menilai ucapanmu barusan, kau yakin itu sebuah ketulusan?”
Balasan Lucian membuat Ansel bungkam.
“Kau terlalu naif. Sejak lahir, Her Ladyship sudah ditakdirkan hidup dalam gelimang harta. Beliau punya segalanya; emas, perak, permata, gaun, sepatu, masa depan yang cerah, putri dan adik seorang duke, lalu apa lagi yang beliau inginkan?” Lucian menelan ludah membasahi tenggorokannya yang kering. Matahari masih beberapa jam di atas langit, namun ia sudah berbicara sebanyak ini. “Pemberian materil tidak seistimewa itu bagi Her Ladyship. Yang beliau butuhkan hanyalah ketulusanmu, ketulusan seorang kakak, Ansel Laundrell.”
“Kau menyebut namaku seolah aku ini seorang penjahat,” Ansel mendecih. Di satu sisi, ia menertawakan dirinya sendiri yang bisa-bisanya membiarkan b*****h ini mengenal adik perempuannya lebih baik. Mereka memang dekat; Lucian dan Ionna. Tetapi, Ansel tidak tahu kedekatan itu akan menyeretnya semakin jauh menggapai tangan sang adik.
Satu kenyataan pahit harus Ansel telan bulat-bulat. “Ionna bahkan tidak sudi melihatku.”
“Duke Laundrell kalah sebelum berperang,” cibir Lucian, “apa julukan pria ganas di padang pasir itu tidak berlaku ketika berhadapan dengan sang lady?”
“Aku lebih suka mengayunkan pedang dibanding menyodorkan hadiah.” Ansel bergumam, menerawang langit-langit ruangan murung. “Omong-omong, apa aku belum memberitahumu? Ionna pergi ke kediaman Carnold setengah jam yang lalu. Aku meminta orang-orang merahasiakan kedatanganmu agar kita berdua bisa membicarakan hal ini.”
Otomatis kepala Lucian tertoleh. “Kalau begitu, jangan coba melakukannya hari ini.”
“Maksudmu, menunjukkan ketulusan?” Melihat Ansel yang menggebu-gebu, firasat buruk menyambangi Lucian. Dari luar samar-samar mereka mendengar suara langkah kaki yang tergesa. Lucian buru-buru mengalihkan pandang dan melanjutkan acara membacanya.
Tidak. Kali ini Lucian tidak akan ikut campur dalam urusan kakak-beradik Laundrell. Ia telah memperingatkan Ansel. Sayangnya, pria tidak peka itu tidak mau memahami situasinya.
Begitu suara ketukan pintu yang nyaris seperti gedoran terdengar, bersemangat Ansel menghampiri papan putih besar itu. Ia tersenyum lebar, membusungkan d**a, lantas memperbaiki setiap detail penampilannya dalam gerakan cepat. Saat tangannya mencapai gagang pintu, Ansel kembali menatap Lucian dengan sorot seakan dirinya baru teringat sesuatu.
“Kawan, setelah kau pulang dari Grimfon, aku harus melaporkan penyelidikanmu terhadap Yang Mulia Raja.”
Lucian mengangguk dan membalasnya asal. “Ya.”
“Perjalanan menuju ibukota memakan waktu tiga hari, dan selama debutan, Yang Mulia Raja mengutus seluruh anggota parlemen berada di sisinya sampai pesta berakhir. Jadi—”
“Kau tidak bisa mendampingi adikmu,” potong Lucian, lagi, menarik kesimpulan sebelum Ansel sempat menyelesaikan kalimatnya. Temannya itu tersenyum muram. Awan mendung bergerumul di atas kepalanya.
“Karena kau sahabatku dan kakak bagi Ionna, bolehkah aku meminta supaya kau menggantikanku menjadi pendamping Ionna? Sepanjang hidup aku akan berutang padamu bila kau bersedia melakukannya, Luce.”
Pintu terbuka ketika Lucian hendak menjawab permohonan memelas Ansel, menampilkan Ionna dalam balutan gaun merah muda cerah dan sepatu silver pemberian mendiang ibunya. Saat ini pikirannya melayang jauh pada berbagai rumor yang menerpa Lady Ionna Laundrell. Lucian tidak peduli dengan repurtasinya di kalangan bangsawan, tetapi bagaimana tanggapan mereka seandainya ia yang menjadi pendamping Ionna?
Mendampingi gadis itu sama saja mendeklarasikan kebenaran rumor ‘itu’.
Bersambung