6. The Promise

2075 Words
Para pelayan kamar marquess saling bertatapan. Mereka tidak bisa berhenti mengamati asisten pribadi sang marquess yang mondar-mandir di depan kamar tuannya. Sudah dua jam mereka di sana, menanti dentingan lonceng yang tak kunjung terdengar. Para pelayan yang terdiri atas dua wanita dan tiga pria itu amat-sangat memahami keresahan Jacob, pria tua itu. Semenjak dua marquess sebelumnya berkuasa, Jacob merupakan satu-satunya asisten pribadi yang bertahan bagaikan warisan turun-menurun. Usia Jacob hampir sama dengan mendiang kakek marquess saat ini. Ia juga yang menjadi pengasuh ayah dan Marquess Carnold sejak kecil. Tiada satu pun hal yang tidak Jacob ketahui tentang keluarga ini; kebiasaan-kebiasaan, makanan favorit, sampai pakaian mana yang sang marquess pakai di hari-hari tertentu. Ketiga marquess yang Jacob layani memiliki kebiasaan tidur yang sama. Mereka akan terlelap lebih awal dan bangun pada pukul lima untuk sekadar berburu atau berkuda. Tetapi, ini kali pertama dalam tiga tahun terakhir Marquess Carnold tidur selama ini. Jacob menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Lucian yang tiga tahun silam mewarisi gelar marquess menghadapi konflik keluarga dan pengikut. Saat itu rumah ini sedang berkabung karena kematian Marchioness Carnold. Tetapi di tengah duka, Marquess Carnold terdahulu, ayah Lucian, justru memperkeruh suasana dengan pergi berkelana dan meninggalkan wasiat berisi penyerahan gelar, kekuasaan, dan properti kepada putranya. Jacob tahu betapa terpukulnya Lucian waktu itu. Para pengikut mulai menunjukkan tanda-tanda pemberontakan, kecelakaan tambang emas yang melukai ratusan pekerja, hingga kekacauan lain yang timbul akibat kematian Marchioness dan menghilangnya sang marquess. Hebatnya, pemuda itu sama sekali tidak mengeluh. Ketenangan adalah kekuatannya dan dia memiliki Duke Laundrell yang senantiasa mendukungnya. Semua masalah itu terselesaikan kurang dari satu tahun. Semakin tak sabar, Jacob akhirnya memutuskan memasuki kamar Lucian tanpa izin. Ia memberi kode kepada para pelayan agar menunggu di luar, sebelum memutar kenop pintu, dan melangkah ke dalam kamar. Kamar Lucian adalah ruangan luas dengan ornamen-ornamen kuno dan hiasan klasik di setiap sudutnya. Belasan lukisan karya seniman favorit sang marquess menggantung di tembok berlapis beledu bercorak rumit. Gorden emas menghalangi sinar mentari yang berusaha menembus jendela kaca yang masih tertutup. Di atas ranjang besar itu, Lucian tertidur di balik selimut tebal. Ia tidur dalam posisi terlentang. Jemarinya bergerak-gerak gelisah dan keringat sebesar biji jagung menetes dari kening pria itu. Begitu Jacob berniat membangunkannya, Lucian tiba-tiba tersentak dan membuka mata dalam sekejap. Dengan napas yang terasa berat, Lucian memandangi langit-langit kanopi ranjang yang berwarna putih. “Kau di sini, Jacob?” tanyanya lirih. Jacob mengangguk. Saat ini Lucian tampak seperti manekin yang dipajang di etalase butik dengan wajah pucatnya. “Ya, My Lord.” “Pukul berapa sekarang?” “Sepuluh lewat enam belas menit.” Melalui kacamata tebalnya, Jacob melirik jam yang menempel di dinding timbul atas perapian. Pria itu memperhatikan Lucian yang beranjak duduk, berpindah ke tepian ranjang, lalu mengusap wajahnya kasar. Setelah mengapai segelar air dan meminumnya, Lucian mendongak menatap Jacob. Tatapan pria itu sayu. Air mukanya terlihat letih dan Jacob bertanya haruskah ia memanggilkan dokter. Lucian menggeleng sambil berkata bahwa dirinya baik-baik saja. “Itu tidak perlu,” katanya, “tampaknya aku sudah terlalu lama beristirahat. Kau sengaja melakukannya, bukan? Membiarkanku tidur selayak beruang hibernasi.” “Ya.” Bahkan Jacob tidak ingin meminta maaf. Ia merasa tindakannya ini benar. “Jika Anda mengkhawatirkan Young Lady dan sang duchess, saya telah mengirim Sir Robert ke Kediaman Laundrell dua jam lalu. Her Grace memaklumi kondisi Anda. Untuk itu, saya harap Anda beristirahat satu hari lagi dan menyusul mereka keesokan hari, My Lord.” Lucian tidak menghiraukannya. Ia bangkit dan berjalan menuju jendela besar yang mengarah ke balkon kamar. Angin sejuk berembus menerpa helaian pirangnya ketika gorden dan jendela terbuka. Di luar sana, pekerja taman telah memulai aktivitas mereka. Saat para pekerja yang membersihkan paviliun dan kolam ikan melihatnya, mereka langsung memberi hormat. Kolam ikan dan paviliun yang biasa ibunya gunakan untuk menikmati teh sore itu adalah tempat di mana Lucian dan Ionna kali pertama bertemu. "Terima kasih," gumam Lucian, seolah orang-orang di luar dapat mendengar suaranya. Lucian mungkin sedikit merasa bersalah karena tidak bisa berangkat bersama rombongan duchess. Namun, ia juga tidak mampu menahan rasa lelah yang semalaman menghujam tubuhnya. Ia sampai menyelesaikan kasus rumor di Grimfon dua hari lebih cepat demi menepati janjinya kepada Ansel. Ia tidak mau mengecewakan kepercayaan Ansel yang telah bersahabat dengan dirinya sejak kecil. Tidak. Meskipun bukan Ansel, Lucian akan mendampingi Ionna seandainya gadis itu sendiri yang meminta. “Ibu menyayangimu, Luce.” Marchioness Carnold membelai surai keemasan putranya sayang. Keduanya sedang berada di perpustakaan, menghabiskan waktu bersama setelah Lucian menyelesaikan latihan pedang. Kala itu sinar matahari yang lembut menerangi perpustakaan melalui celah-celah ventilasi. Lucian meletakkan kepala di atas pangkuan sang ibu. Aroma khas buku, kayu, dan debu bercampur menjadi satu. Aroma yang menenangkan, sehingga Lucian nyaris terlelap seandainya ibunya tidak berkata, “Maafkan ibu. Kau tahu ibu telah berjuang keras menjaga mereka. Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Ibu tidak bisa mewujudkan impian Ayahmu yang ingin memiliki seorang anak perempuan.” Lucian menggapai tangan kurus Marchioness Carnold. Ia menciumi telapak tangan yang mulai keriput itu lalu tersenyum menatap wajah sendu sang ibu. “Saya di sini bersama Ibu. Tak masalah saya tidak memiliki seorang adik, di samping usia saya yang sudah dewasa. Ibu, apakah karena itu Anda begitu memperhatikan Her Ladyship?” Segaris senyum terbit di kedua sudut bibir Marchioness. “Ibu menganggap sang lady seperti putri sendiri, Nak. Hukuman bagi seorang ibu yang tidak bisa menjaga anak-anaknya hanyalah kesedihan seumur hidup. Ibu ingin mencurahkan seluruh kasih sayang ibu kepada Ionna. Gadis itu sangat kesepian. Semenjak His Grace tiada, dia tidak memiliki teman untuk berbicara. Apa kau tidak keberatan ibu membagi kasih dengan seseorang yang bukan saudara kandungmu?” “Di sisi lain Ansel adalah sahabat saya,” balas Lucian kemudian beranjak duduk. Gadis ceria yang tak pernah absen mencari Lucian di setiap kunjungannya kini telah berusia empat belas tahun. Setelah peringatan kematian mendiang duke satu bulan lagi, kabarnya sang lady akan dikirim ke Akademi Sanspearl untuk melanjutkan pendidikan kebangsawanan. “Adik sahabat saya adalah adik saya juga, Ibu. Bukankah Anda mengajarkan bahwa ikatan persaudaraan tidak melulu soal hubungan darah?” “Anak pintar.” Marchioness menepuk puncak kepala putra semata wayangnya sekali. Sejenak wanita itu melupakan fakta bahwa Lucian bukan anak kecil lagi. “Luce, bolehkah ibu meminta satu hal darimu? Ibu janji ini akan menjadi permintaan terakhir ibu. Ibu tidak akan meminta hal lain lagi jika kau bersedia melakukannya,” kata sang ibu tiba-tiba. Lucian mengernyit. “Kenapa? Kenapa harus menjadi yang terakhir? Ibu bisa meminta apapun pada saya.” Senyum cerah tadi berubah pahit. Lucian menangkap adanya guratan misterius dalam ekspresi ibunya. “Jadi, kau tidak mau mengabulkannya?” “Bukan seperti itu, Bu.” “Maaf, Ibu tidak pandai bercanda.” Wanita itu tertawa canggung. “Luce, karena ibu gagal menjaga calon adik-adikmu, tolong jagalah Lady Ionna. Setidaknya sampai gadis itu menemukan orang yang dia cintai dan bisa melindunginya. Sampai hari itu tiba, maukah kau melakukannya untuk ibu, Nak?” Pandangan Lucian menerawang. Untuk kali pertamanya, lelaki delapan belas tahun itu merasakan perasaan tak menyenangkan yang menusuk-nusuk ulu hatinya. Demi Tuhan, kenapa perkataan sang ibu terdengar seperti pesan terakhir sebelum wanita itu pergi ke tempat yang sangat jauh? "My Lord?" Lucian sontak berbalik, menemukan Jacob berdiri di belakangnya. Memori sebelum ibunya meninggal sejenak berputar dalam benaknya. Walau sekilas, Lucian dapat merasakan sentuhan lembut tangan ibu yang selalu memanjakannya. "Maaf, aku tidak mendengarmu. Bisakah kau mengulanginya, Jacob?" "Ini tentang skandal, My Lord." Akhirnya Jacob memilih berterus terang. Pria yang mengabdikan diri selama lebih dari separuh hidupnya itu menatap Lucian lurus. "Sebelumnya, maafkan kelancangan saya. Namun, bagaimana pendapat bangsawan lain yang melihat Anda di debutan nanti? Selama ini Anda sangat menghindari pesta dan pertemuan sosial yang melibatkan banyak orang. Tetapi, tiba-tiba Anda muncul di istana bersama Her Ladyship? Jangan bilang Anda menutup mata dan telinga terhadap gosip yang beredar di kalangan bangsawan?" "Tidak ada yang salah dengan mendampingi adik seorang sahabat pada debutannya.” Lucian kembali menghadap pemandangan yang terhampar di bawah balkon. Jemari lentiknya bermain-main di atas birai. “Kau yang paling tahu bagaimana ibu menyayangi sang lady semasa beliau hidup. Aku dan His Grace pun terikat hubungan persahabatan yang rumit. Selain itu, pesan terakhir Ibu, bukankah kau juga ada di sana, Jacob? Saat beliau menyampaikan permintaan tak berdaya itu padaku?” “Saya memiliki firasat yang kurang baik, My Lord. Saya hanya ingin mengutarakan pemikiran saya.” “Kau bebas berpendapat. Aku menghormati setiap pendapatmu.” Sudut bibir Lucian tertarik samar ketika seorang tukang kebun tersandung kerikil dan tertawa keras. Ia pun menambahkan, “Tidak akan ada yang berani berkomentar. Lady Ionna merupakan adik Duke Laundrell yang dipercaya Yang Mulia Raja. Dan aku hanya mendampingi sang lady sebagai seorang kakak menggantikan His Grace. Tidak lebih.” Jacob mengangguk paham. Hatinya terus memperingatkan agar ia mencegah Lucian pergi. Walau demikian, sebagian sisi dari dirinya menyerah. Duke Laundrell tidak berhenti mengulurkan tangan di masa-masa sulit sang marquess, sementara Lucian merasa berhutang budi atas segala bantuan pria itu. “Saya percaya apapun keputusan yang Anda ambil, My Lord.” Ragu-ragu Jacob mengatakannya. “Kau tahu seharusnya kau tidak perlu mengkhawatirkanku,” kata Lucian sambil memutar badan. “Kau sudah tua, Jacob. Sudah saatnya untuk beristirahat. Kau bisa mengajukan pensiun kapanpun kau mau.” “Apa yang Anda katakan?” Jacob agak terkejut mendengarnya. Lucian tidak memiliki seorang pun di rumah ini. Ia mengasihani pria malang yang kesepian itu. Jacob sanggup bertahan sampai akhir hayatnya hanya untuk menemani Lucian seorang. “Bagaimanapun juga, saya tidak akan meninggalkan Anda, My Lord.” Yah, Jacob memang keras kepala. Lucian menggeleng kecil. Ia menghela napas panjang kemudian melepas dua kancing teratas pakaian tidurnya. “Segera beritahu pelayan agar menyiapkan kereta dan sarapanku. Aku akan turun satu jam lagi. ” *** Sepasang mata biru cemerlang itu tak berhenti melirik jendela kereta sejak perjalanan tiga hari lalu. Rasa gusar dan resah bergumul menjadi satu dalam benaknya. Ia selalu berharap kereta putih dengan ukiran teratai menyalip kereta pengangkut barang di belakang sana. Namun meski tiga hari telah berlalu, Lady Ionna Laundrell tak kunjung melihat eksitensi kereta yang dimaksud. Entah apa yang terjadi pada Marquess Carnold, seharusnya mereka bertemu di Alpion kemarin malam. “Mama.” Ionna memberanikan diri bertanya. Ia menatap Duchess Laundrell yang larut dalam buku bacaan di tangannya. Wanita empat puluh tahunan itu menaikkan pandang. Selain membaca buku, Margareta Laundrell memiliki kemampuan membaca ekspresi lawan bicaranya, terutama sang putri. Ia telah menghapal ribuan gelagat beserta perubahan air muka Ionna selama belasan tahun. “Katakan, Ionna.” “Apa Mama menerima kabar terbaru dari Marquess Carnold?” tanya Ionna terang-terangan. Annie yang duduk di sebelahnya berjengit. Bertanya-tanya darimana datangnya keberanian itu. “Kakak berkata Marquess Carnold akan menginap di Alpion bersama kita. Tetapi, saya bahkan tidak mendengar suara tapak kaki kuda di halaman penginapan.” Duchess Laundrell melepas kacamata tebalnya sembari menautkan alis tak suka. “Itu artinya kau terjaga sepanjang malam, Ionna,” sergah wanita itu dingin. Ionna merasakan seluruh sel tubuhnya bergetar ketakutan. “Mama, saya mencemaskan Marquess Carnold. Beliau akan menjadi pendamping saya ketika debut, jadi—” “Sifat egoismu tidak pernah berubah,” pungkas Duchess Laundrell seraya meletakkan pembatas buku di halaman terakhir yang ia baca. “Marquess Carnold bukan bayi lima bulan yang perlu kau awasi setiap saat. Jika kau khawatir dia absen sehingga para bangsawan mempermalukanmu, itu tidak akan terjadi.” Ionna menyeka dagunya yang berkeringat sambil menunduk menatap renda di ujung gaun. “Marquess Carnold pasti hadir. Aku tidak tahu kenapa dia tidak bermalam di Alpion kemarin. Tetapi, aku mengenal Lucian. Dia orang yang menjaga baik janji dan kata-katanya.” “Mama benar.” Senyum kecut terlukis di bibir mungil Ionna. “Maaf, saya tidak bermaksud meragukan beliau. Saya tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi.” Mama, benar. Aku tidak akan bertanya apapun mengenai Marquess Carnold. Aku merasa salah melontarkan pertanyaan itu karena terlalu cemas. Apa Mama pikir aku seegois itu? Tentu saja kalimat itu hanya sampai di ujung lidah. Duchess Laundrell meraba tumpukan buku di sampingnya, menyambar buku lain, lalu membuka halaman yang ditandai sebuah pembatas bewarna hitam. “Jaga tidurmu, Ionna,” katanya, tanpa memandang gadis itu. “Sejak kecil kau telah dianugerahi kecantikan. Sudah menjadi tugasmu menjaga berkah yang membuat gadis bangsawan lain iri padamu. Aku tidak mau melihat pembengkakan di wajah adik Duke Laundrell saat debutan.” “Baik, Mama.” Setelah Ionna mengangguk untuk yang kali terakhir, ia pun menempelkan punggung ke kursi kereta yang empuk. Baiklah. Mari kita tunggu dan bersabar sedikit lagi. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD