Ionna terbangun tepat ketika kereta yang mereka tumpangi berhenti. Setengah mengantuk ia mengedarkan pandang ke sekeliling, menemukan ibu dan Annie bersiap turun. Annie membantu Ionna melemaskan punggung dan leher yang kaku, memperbaiki riasan dan tatanan rambut, lalu berkata bahwa mereka telah sampai di Townhouse Laundrell.
Duchess Laundrell memberinya nasihat singkat sebelum pintu terbuka, dan Raphael di sana membantu wanita anggun itu menuruni pijakan kereta. Ionna mengerjapkan kelopak matanya berulang kali, menatap pantulan dirinya di cermin genggam. Ini adalah kali pertama dalam sepuluh tahun terakhir Ionna menampakkan diri di hadapan penghuni townhouse. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di rumah properti Celeton. Sang ibu tidak menyukai keramaian ibu kota sehingga mendiang duke menuruti permintaan istrinya agar pindah ke Celeton.
Annie tersenyum penuh arti kemudian merebut cermin genggam dari tangan Ionna. “Penampilan Anda selalu sempurna, My Lady,” ucap Annie, menyadari kegelisahan Ionna terhadap penampilannya. Ia tahu nonanya terlalu takut mengecewakan sang duchess. Seolah tak cukup mengkhawatirkan Marquess Carnold yang tak kunjung memberi kabar, juga Lady Diana Thesav yang—ah, Annie tidak mau membahasnya lagi, Duchess Laundrell semakin menambah tekanan Ionna dengan berbagai t***k-bengek yang memusingkan.
Ionna diam tidak menjawab. Ketika gilirannya tiba, ia dapat melihat para pelayan berjajar menyambut kedatangan mereka. Lilin-lilin cantik, kelopak mawar yang bertebaran, dan karpet merah digelar di sepanjang jalan menuju teras depan. Ionna menerima uluran tangan Raphael yang menuntunnya memijakkan kaki ke karpet beledu yang lembut. Sesaat Ionna merasa takjub. Pemandangan indah di bawah temaram sinar rembulan dan kerlipan bintang menghapus kegundahan hatinya barang sejenak.
Paul, si kepala pelayan townhouse, datang memberi hormat lalu diikuti pelayan lain di belakangnya. Pria itu membisikkan sesuatu kepada lima pelayan laki-laki kemudian tersenyum lebar. Raut terkejut tak bisa ia sembunyikan tatkala mata tuanya bersirobok dengan aquamarine sang lady. Kecantikan Duchess Laundrell sepenuhnya diwarisi gadis enam belas tahun itu.
“Selamat datang, Your Grace, Young Lady,” sapa Paul. Pandangannya masih melekat pada Ionna yang hanya tersenyum malu. “Saya tidak menyangka akan bertemu versi dewasa Anda, My Lady. Saya turut berbahagia atas ulang tahun dan debutan Anda.”
“Aku tersanjung menerima doa tulusmu, Sir Paul,” ucap Ionna.
Duchess Laundrell berdeham menginterupsi perbincangan mereka. “Di mana Duke? Kenapa dia tidak ada di tempat saat ibu dan adiknya tiba?” tanyanya. Paul mengalihkan pandang ke arah sang duchess.
“His Grace sedang ada di istana, Madame. Beliau berkata akan kembali esok subuh dan menemui kalian di jam sarapan,” jawab Paul seraya membimbing langkah keduanya. Baik Ionna maupun Duchess Laundrell sadar akan betapa banyak perubahan yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir.
Ansel memang berniat membangun bangunan baru di samping bangunan utama untuk tamu kerajaan yang menginap, terutama Putra Mahkota. Di antara kelima duke di Kerajaan Gouvern, Duke Laundrell merupakan tangan kanan Raja sekaligus karib Putra Mahkota. Itu sebabnya Ansel harus mendampingi keluarga kerajaan selama debutan bersama anggota parlemen lain.
Duchess Laundrell menutup mulutnya dengan kipas, diam-diam tersenyum memperhatikan gerak-gerik Ionna. Gadis itu berjalan sambil menumpuk tangan di depan, menghantarkan senyum pada yang pelayan lewat, dan berbicara dengan suara rendah. Seperti yang Duchess Laundrell harapkan. Tutor-tutor pilihannya tidak menghasilkan ajaran yang mengecewakan.
Setelah melewati tangga, Paul berbelok menunjukkan kamar sang lady. Pria itu menghentikan langkah, berbalik, lalu mengajukan tanya dengan berani, “Your Grace, mengingat dua hari lagi Lady Ionna berulang tahun, haruskah saya menyiapkan sebuah pesta?”
Ionna terbatuk, tersedak ludahnya sendiri. Apa ia salah dengar? “Maaf, Sir?”
Paul terkekeh pelan. “His Grace bercerita, Anda tidak pernah meminta sebuah perayaan di hari ulang tahun. Beliau ingin setidaknya tahun ini bisa membuat pesta kecil-kecilan untuk Anda, My Lady.”
“Kakak mengatakan itu?”
Sebenarnya, kepada siapa lagi Ansel mengeluhkan hal tersebut? Kenapa dia suka sekali mengumbar-umbar rahasia keluarga? Ionna tidak keberatan jika orang itu Lucian, namun sampai terdengar telinga pelayan townhouse, bukankah itu keterlaluan?
“Benar, My Lady.” Paul mengangguk. Tersirat harapan yang begitu besar, namun Ionna membuang muka tak sanggup mengiyakan usulan itu. “Akankah kali ini Anda berubah pikiran? Saya bisa menyiapkan semuanya dalam waktu singkat.”
“Sir Paul, itu tidak perlu—”
“Sia-sia saja, Paul.” Duchess Laundrell lagi-lagi menginterupsi. “Dia tidak pernah menghargai usaha Kakaknya, sedikitpun tidak. Anak ini hanya peduli pada hadiah debutan dan kabar terbaru Marquess Carnold.” Hati Ionna mencelos mendapati pundak Paul merosot. “Dia bahkan takut Marquess Carnold mempermalukannya di debutan nanti. Jadi, jangan mengharapkan apapun dari Ionna.”
Itu tidak benar! Ionna berseru dalam hati. Tetapi, ia justru menampilkan senyum masam alih-alih menyanggah ucapan ibunya.
***
“My Lady, Anda sudah berusaha keras,” kata Annie, memijat pundak Ionna yang termenung di balkon kamar. Cahaya lilin bagaikan lautan kunang-kunang di halaman depan, tercermin dalam sepasang manik biru laut Ionna.
Gadis itu mengeratkan pakaian hangat yang ia pakai. Angin malam di ibu kota bisa membekukan tubuhnya kapan saja. “Aku bisa menerima semua kata-kata pahit Mama. Egois, tidak memikirkan perasaan Kakak, dan takut dipermalukan. Tapi, tidakkah Mama memahami perasaanku? Annie, di manapun aku berada, aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Aku seperti berbicara di dalam laut yang gelap dan menyesakkan. Mama menghakimiku tanpa ingin menanyakan pendapatku.”
“My Lady—”
“Tidak usah menghibur. Kau pun merasa tertekan bukan?” tanya Ionna lembut.
Pandangan Annie berangsur-angsur mengabur. Ia membisu, tak mungkin juga dirinya yang dipekerjakan sebagai pelayan pribadi pantas menyumpahi orang-orang di keluarga Laundrell. Ia tifak punya posisi penting di rumah ini. Seandainya bisa, Annie ingin membawa gadis ini pergi dari Kediaman Laundrell dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk Ionna.
Memeluk sang lady dari belakang, Annie menangis tersedu-sedu. “Ugh, naafkan saya yang cengeng ini. Kenapa Anda tidak mendahulukan kepentingan Anda saja dan melupakan segalanya?”
“Terkadang aku bingung siapa yang lebih tua dan dewasa, Annie. Ingatlah usiamu.” Ionna menyentuh jemari si pelayan. “Dan kau menyuruhku melupakan segalanya? Apakah itu termasuk Marquess Carnold?”
“Beliau adalah pengecualian!”
Gelak tawa mengudara. Ionna menyeka cairan bening di pipi Annie lalu melepaskan pelukannya. Pandangannya kemudian beralih pada kotak hadiah besar di atas ranjang. Omong-omong, Ionna sama sekali belum mengintip hadiah daru Ansel. Haruskah ia membukanya sekarang?
“Ayo, My Lady!” Annie belari menarik tangan nona mudanya menghampiri kotak besar itu. Riang Annie menatap Ionna dan hadiah tersebut bergantian, ikut tak sabar mengetahui isi di dalamnya.
“Suasana hatimu mudah sekali berubah, ya,” ucap Ionna. Meski begitu, ia menelan ludah gugup. “Baiklah, mari kita lihat.”
Perlahan, Ionna melepas ikatan pita merah yang menghiasi bagian atas kotak, mengangkat tutupnya, dan mendapati kotak-kotak lain yang berukuran lebih kecil. Ionna mendengus sambil mengeluarkan satu-persatu kotak, hingga ia sampai pada kotak yang dihiasi kelopak tulip kering. Ionna mengerutkan kening memandangi kotak tersebut. Kegelisahannya terhadap Lucian mendadak lenyap, tergantikan rasa penasaran yang tinggi.
Ketika tutup kotak dibuka, hal pertama yang Ionna tangkap adalah sehelai kain berwarna putih gading yang dilipat rapih bersama kelopak-kelopak tulip. Ionna dan Annie saling bertukar pandang. Keduanya sama-sama berdebar akan wujud gaun debutan Ionna. Benak Ionna mulai menghitung mundur ketika mengangkat kain berat itu ke udara dan menghadap cermin berdiri di dekat pintu ruang ganti. Annie sontak memekik kegirangan saat Ionna menempelkan gaun itu di badannya.
“Astaga! Cantik sekali!”
Gaun itu tampak seperti mawar mekar di musim semi dengan tiga lapis kain bewarna putih mengembang, aksen rumit di bagian d**a, dan pita berbentuk kupu-kupu yang melingkari pinggang. Safir biru mungil melekat di bagian d**a dan dua buah tali menjuntai untuk diikatkan ke belakang leher. Sementara itu, kotak-kotak yang lebih kecil berisikan aksesori, sarung tangan satin, serta hiasan rambut.
Annie dapat membayangkan bagaimaana reaksi para lady di istana saat Ionna muncul. Duke Laundrell benar-benar serius saat ingin menjadikan adiknya gadis tercantik musim ini.
Annie terkesiap saat merasakan kibasan gaun di wajahnya. Ia menoleh dan menemukan nonanya menari-nari bagai kupu-kupu yang berterbangan di taman bunga. Sesekali gadis itu melompat, menarikan balet mengitari kamar dengan senyum di paras ayunya. Sudah lama Annie tidak melihat Ionna sebahagia ini. Ia rasa kali ini Duke Laundrell berhasil memenangkan hati adik perempuannya.
“My Lady, berhati-hatilah!”
Annie berlari mendekati Ionna yang hampir meresapi khayalannya.
Ionna memberengut, memeluk gaunnya erat, tak mengizinkan Annie menyentuhnya. “Kau merusak suasananya, Annie!”
“Saya justru takut gaunnya yang rusak, My Lady! Yang benar saja! Apa Anda tidak bisa bersabar sedikit, huh?”
“Kau tahu betapa sabarnya diriku selama ini, My Dear.”
Sekali lagi, keduanya tergelak. Akhirnya Ionna menyerahkan gaun itu kepada si pelayan dan memutuskan duduk di tepi ranjang. Diliriknya jam tugu yang berdiri tak jauh dari sana. Entah sudah berapa kali Ionna mencoba mengalihkan pikiran dari Lucian Carnold, bayang-bayang pria itu tetap saja menghantuinya.
***
Lucian mengembuskan napas panjang, sekujur tubuhnya terasa remuk. Perjalanan yang memakan waktu tiga hari ini terasa panjang dan memuakkan. Ia bertanya-tanya kapan kereta kuda sampai di ibu kota sehingga dirinya bisa tidur dan beristirahat barang sejenak.
Karena Lucian bukan anggota parlemen seperti Ansel, hanya sekali, dua kali Lucian mengunjungi istana sejak menyandang gelar marquess. Lucian menolak tawaran Raja untuk bergabung karena parlemen merupakan tempat berkumpulnya jenis manusia yang Lucian benci. Dalam berpolitik, mereka akan menggunakan segala cara demi mencapai tujuan. Lucian tidak mau mencoreng nama baik keluarga Carnold yang sejak dulu dikenal sebagai keluarga yang bersih dan netral.
Kereta kuda putih yang membawanya menuju ibukota akhirnya berhenti. Lucian mendongakkan kepala, menyadari tidak seharusnya mereka berhenti sekarang. Perjalanan kurang lebih tinggal setengah hari dan untuk apa mereka menunda-nunda lagi?
Lucian hendak membunyikan lonceng seandainya sosok Jacob tidak muncul di jendela. Pria tua itu mengetuk pintu kereta, menunjuk sebuah penginapan elit di sebelah kanan jalan.
“My Lord!”
“Ada apa, Jacob?” Lucian membuka pintu dan terkejut karena suaranya yang kering.
“Anda harus beristirahat, My Lord. Dua hari kita di kereta dan Anda menolak bermalam di Alpion. Duchess Laundrell dan Her Ladyship pasti menunggu Anda di sana kemarin.”
“Aku baik-baik saja.”
“Sadarkah Anda seberapa buruk rona wajah Anda?” Nada bicara Jacob sedikit meninggi.
Lucian menyangga kepala dengan sebelah tangan, mengangkat tangan yang lain untuk memberikan penolakan. “Lanjutkan perjalanannya.”
“My Lord, saya mohon. Kasihanilah pria tua yang mengkhawatirkan Anda ini. Anda bisa tumbang saat hari debutan.”
“Itu tidak akan terjadi.”
“My Lord!”
Buru-buru Jacob menangkap Lucian yang limbung dan hampir jatuh keluar kereta. Teriakannya barusan membuat kusir melompat dan langsung membantu Jacob menahan tubuh sang marquess. Keduanya diselimuti rasa panik ketika tak sengaja menyentuh kulit tuannya. Dengan sigap, si kusir masuk lalu menyusun bantalan di sudut kursi kereta, menyandarkan Lucian yang nyaris tak sadarkan diri di sana.
“Sungguh ironi dengan apa yang Anda katakan tadi, My Lord. Kenyataannya, Anda tidak sedang baik-baik saja,” omel Jacob yang akhirnya memilih menemani Lucian di dalam kereta.
Lucian memegangi keningnya yang panas. Bintik kuning bagai kunang-kunang memenuhi pandangannya. “Aneh. Kapan kali terakhir aku sakit? Sepertinya ini karena aku kurang melatih tubuh.”
“Anda kelelahan, bukan karena kurang berlatih.” Jacob menyahut cepat. Kereta yang mereka tumpangi kembali bergerak. Kusir sengaja memacu kuda selambat yang ia bisa. “Kita telah melewati penginapan. Jika Anda terus keras kepala, saya tidak yakin Anda dapat menepati janji kepada His Grace.”
“Itu tidak akan terjadi.”
Jacob mendesah berat. “Benar. Anda sudah mengatakannya dua kali, tetapi lihatlah, My Lord. Justru inilah yang terjadi.”
Bersambung