Waktu itu musim panas.
Hanya orang-orang bodoh yang terserang demam saat musim panas tiba. Jiel dan Julio, kedua sepupunya yang badung, terus-menerus mengejek Lucian yang terbaring sakit di atas ranjang. Wajah bocah laki-laki itu memerah. Matanya setengah terbuka tak kuasa menahan pusing. Napasnya terasa panas ketika diembuskan, begitu pula dengan seluruh kulit di tubuhnya.
Lucian yang malang. Sungguh tragis menikmati minggu pertama liburan musim panas tanpa kenangan yang berarti.
“Lucian! Turunlah dari kasur dan bermain bola tangkap di sini!”
“Sepupu Lucian? Oh, Kakak Jiel, kurasa dia tertidur bersama teddy bear pemberian Nenek.”
“Kak Julio, jangan berteriak! Kau bisa mengganggu Sepupu Luce!”
“Ssshhh, berhenti membela Lucian, Tara! Tampaknya kau lebih menyukai sepupumu dibanding kakak-kakakmu yang tampan ini. Katakan, siapa yang lebih tampan? Aku, Julio, atau Lucian?”
Berisik.
Lucian berguling ke sisi kanan dan kiri, berusaha menutupi telinganya dengan bantal. Sebuah kecupan di kening secara refleks membuat kelopak mata bocah itu terbuka lebar. Lucian mendapati ibu tengah mengganti kompres air hangat. Suara teriakan para sepupu di luar sana tak lagi mengusiknya. Bocah itu mengulurkan tangan menyentuh pipi ibu. Tak percaya pemandangan wanita berpenampilan sederhana di depannya adalah nyata.
“Apa ibu membangunkanmu, Luce?” tanya Marchioness Carnold seraya menempelkan kain basah di kening putranya.
Lucian hendak menjawab, tetapi tenggorokannya sakit dan suaranya tidak mau keluar. Menyadari hal itu, Marchioness segera mengambil segelas air di nakas dan memberikannya kepada Lucian. “Sudah lebih baik, Sayang?”
“Terima kasih, Ibu.”
Marchioness Carnold tersenyum kecil, meletakkan kembali gelas air tadi. “Ibu mencemaskanmu yang tidak bisa beradaptasi dengan cuaca ekstrim di Grimfon. Ini kedua kalinya kau terserang demam di musim panas saat berkunjung. Apa tahun depan kita tidak usah ke mari saja, Luce?”
“Lalu, bagaimana dengan Kakek dan Nenek? Paman serta Bibi? Dan para sepupu?” sahut Lucian cepat. Bocah itu menggeleng keras, tidak menyetujui keputusan Marchioness Carnold. “Saya akan cepat pulih, Bu. Kakek dan Nenek sudah tua, saya pun tahu Paman dan Bibi selalu menantikan kedatangan kita. Jangan memutuskan sesuatu yang membuat mereka sedih.”
“Tapi, Sayang. Kau—”
“Saya berjanji. Saya akan menjadi orang yang kuat sehingga tidak mudah sakit begini.”
“Kau adalah kesatria yang berani, Putra Kecilku.” Sekali lagi, Marchioness Carnold mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening Lucian. Ia terkekeh geli sambil menyibak poni pirang putranya yang basah karena keringat.
“Ibu tidak takut tertular demam saya? Sebaiknya Ibu menemani Nenek di teras belakang. Pasti beliau sedang menonton para tukang kebun menyiangi rumput.”
“Justru Nenek menyuruh ibu menjagamu, Luce. Bagaimana bisa ibu takut tertular penyakit putra ibu sendiri? Kau lupa berapa kali dirimu terserang demam dan siapa yang selalu baik-baik saja?”
“Ibu.”
“Anak pintar.” Marchioness menggenggam jemari mungil Lucian yang terasa hangat. Tawa Jiel, Julio, dan Tara meledak-ledak di luar sana. “Para sepupu memang anak-anak yang aktif, persis seperti Pamanmu semasa kecil.”
“Ceritakan masa kecil Ibu dan Paman. Saya ingin mendengarnya sebagai dongeng pengantar tidur.”
“Tapi, ini kisah sungguhan, Luce. Bukan dongeng.”
“Ibu.” Lucian memasang tampang memelas.
“Oh, baiklah, Sayangku.”
Akhirnya, Marchioness Carnold menempatkan dirinya di tempat kosong di samping Lucian. Ia memeluk bocah sakit itu sembari menepuk-nepuk perutnya pelan, melantunkan kisah panjang mengenai kenakalan-kenakalannya di masa lalu.
Lucian memejamkan mata ketika kantuk mulai mendera.
***
“Bibi, hiks!”
“Jiel, di mana Lucian?”
“Saya tidak tahu, Ibu.”
“Tara?”
“Sa-saya juga, hiks.”
“Julio, cepat cari Lucian! Katakan padanya pemakaman Marchiones akan dimulai sebentar lagi.”
Rasanya Lucian ingin waktu berhenti berputar saja. Pemandangan pertama yang indra pengelihatannya tangkap adalah orang-orang berpakaian serba hitam, air mata membanjiri aula rumah, dan para kerabat jauh yang berkumpul di tengah ruangan.
Lucian memperhatikan pantulan dirinya di kaca koridor. Penampilannya tidak jauh berbeda dari orang-orang itu. Kemeja hitam, dasi hitam, jas hitam, dan hanya sepasang sarung tanganlah yang satu-satunya berwarna putih. Kegelapan menyelimuti suasana di dalam maupun di luar Kediaman Carnold.
Saat Lucian merasakan tarikan di lengannya, barulah ia tersadar. Ia kembali pada hari kematian ibu tiga tahun silam. Jika ini adalah mimpi, maka Lucian tidak mau terus berada di dalam mimpi buruk ini.
“Sepupu Luce, kami mencarimu.”
Ternyata itu Julio, sepupunya yang paling cerewet. Lelaki itu menuntunnya mendekati kerumunan dan memperlihatkan peti putih berukir bunga taratai. Lucian menatap kosong peti itu, kehampaan seketika menyambangi hatinya.
Paman, Bibi, Jiel, dan Tara menangis tersedu-sedu di sisi lain peti. Sementara itu, Lucian tidak melihat ayahnya di mana pun.
Dasar pria itu.
Kapan dia pernah memperhatikan istri dan putranya?
Jika bukan karena Jacob dan keluarga pamannya, Lucian tidak akan bisa menghadapi ini seorang diri.
Kedua tangan lelaki itu terkepal erat, tak mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Ia tak sanggup merespon ucapan bela sungkawa yang mengalir dari para pelayat maupun membalas pelukan menenangkan Julio.
Wanita dalam peti, yang wajah cantiknyanya tertutupi sehelai kain transparan, telah beristirahat damai di pembaringannya.
Meninggalkan satu-satunya putra yang ia cintai untuk selama-lamanya.
***
Duke Laundrell menepati janjinya menemui ibu dan sang adik di jam sarapan. Kedua perempuan itu sedang menunggu bersama hidangan mewah yang tersaji di atas meja. Daging, berpiring-piring ikan, salad, dan semangkuk kuah kari menjadi hidangan utama pagi ini.
Ansel sudah bisa mengecap berbagai rasa makanan itu dari aroma sedapnya. Ketika ia memasuki ruang makan dan berjalan menuju meja paling ujung, seluruh perhatian sontak tertuju ke arahnya.
“Selamat pagi, Duke,” sapa Duchess Laundrell yang duduk di sisi kanan Ansel, berhadapan dengan Ionna yang tampak murung di kursinya.
Ansel tersenyum lebar membalas sapaan sang ibu. “Selamat pagi, Bu. Bagaimana perjalanan kalian? Maaf, aku tidak bisa menyambut kedatangan kalian semalam. Undangan rapat parlemen mendesakku untuk pergi.”
“Itu tidak masalah. Kau melakukan hal yang benar, Putraku.” Duchess Laundrell membeber sehelai serbet di pangkuan. Detik berikutnya, ia mengetukkan telunjuk ke permukaan meja untuk menegur Ionna.
“Ionna.”
“Iya, Mama?”
Manik cokelat Margareta Laundrell berguling ke arah Ansel. “Kau tidak mengucapkan salam kepada Kakakmu?”
“Oh, selamat pagi, Kakak.” Ionna tersenyum lemah. “Saya tidak menyadari kedatangan Anda. Mohon maafkan saya.”
“Tolong, berhenti membuat Ionna bersikap kaku di depanku, Ibu!” protes Ansel tak terima. Ia membiarkan pelayan menuangkan anggur ke gelas berleher panjang. “Ionna bersikap demikian karena dia merasa lelah. Itu adalah hal yang wajar. Benar 'kan, Ionna?”
“Jangan menormalisasi sikap kurang ajar gadis yang debut besok, Ansel,” tegas Margareta. Wanita itu melempar isyarat pada Ionna supaya menghentikan celotehan kakaknya.
“Kakak, sekarang waktunya makan.”
Suara gadis itu pelan, namun terdengar bergetar. Dalam jarak sedekat itu, Ansel dapat merasakan perasaan tersiksa yang samar-samar tergambar dalam ekspresi adiknya. Adiknya itu hanya tunduk kepada sang ibu, namun bukankah ini sudah kelewatan? Siapapun tahu ibu mereka terlalu ketat dan kolot, tidak memberikan Ionna kebebasan untuk memilih dan mengatakan yang dia suka. Ansel menyadari hal itu sejak lama, tapi ia tidak bisa membantah sang duchess yang telah bertanggung jawab atas nama baik keluarga semenjak duke terdahulu tiada.
Ansel serba salah. Di sisi lain, ia tidak ingin adiknya merasa terpenjara, di sisi lain ia juga memahami perasaan ibunya yang berusaha menjaga repurtasi keluarga. Terlebih, mengingat banyaknya rumor tentang Ionna—
“Ionna, bagaimana hadiahmu? Apa kau suka?” tanya Ansel, mengenyahkan pikiran konyol yang mulai melalang-buana. Ia mencoba mengalihkan atensi adiknya yang sibuk mencacah daging panggang. Ionna menyakitinya seolah daging itu telah berbuat salah.
Sang adik mendongakkan kepala kemudian menanggalkan garpu dan pisau. Padahal belum saatnya mereka selesai makan. “Saya menyukainya,” jawab Ionna seringkas mungkin, tanpa berterima kasih. Gadis itu mengunyah dan menelan pahit potongan daging yang terasa hambar. Perutnya yang kosong terasa penuh karena atmosfer berat di ruangan ini.
“Mama, bolehkah saya pamit?” ucap Ionna tiba-tiba, menginterupsi Ansel yang hendak memotong daging dan Duchess Laundrell yang menyesap teh. “Sepertinya saya memiliki gangguan pencernaan. Saya juga tidak bisa memakan makanan berat sementara besok adalah harinya.”
Duchess Laundrell meletakkan cangkir kemudian mengamati Ionna dengan pandangan menilai. Sebenarnya wanita itu tahu jika Ionna hanya mencari alasan supaya tidak berlama-lama di dalam situasi canggung. Padahal sudah lama keluarga mereka tidak berkumpul dab makan bersama. Apa anak itu tidak menghargai usaha Ansel yang telah berbaik hati meluangkan waktu untuk keluarga?
“Pergilah,” jawab Duchess Laundrell akhirnya. Ansel melotot kaget.
“Tidak, tunggu! Kau tidak boleh pergi, Ionna! Kenapa Ibu mengizinkannya? Dia bisa sakit!”
“Terima kasih atas sarapannya. Saya pergi, Kakak, Mama.”
Tanpa menghiraukan kehebohan yang diciptakan sang kakak, Ionna pun berbalik, melenggang keluar dari ruang makan, dan membiarkan Ansel terdiam menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu.
***
“Kau pasti terlihat cantik mengenakan gaun itu,” bisik Ansel, tepat di telinga Ionna yang duduk membaca buku di ayunan halaman belakang.
Ionna terkesiap, menggosok telinga dan tengkuknya yang meremang. Berterima kasihlah kepada Tuhan Ansel bisa selamat dari timpukan buku tebalnya. Ia sedang menata suasana hati setelah mendengar perkataan Duchess Laundrell beberapa hari ini.
Ansel pun duduk di sampingnya, menjaga jarak, takut-takut adiknya membalas dendam. Sepasang bola biru keunguan lelaki itu menyusuri seisi halaman belakang townhouse dengan teliti. Banyak kenangan masa kecil yang bertebaran di tempat ini. Saat itu semuanya masih baik-baik saja. Tiada amarah, kekhawatiran, dan rahasia di antara mereka. Seiring berjalannya waktu, rumah ini tidak lebih dari gudang kenangan yang tiada artinya bagi Ionna.
Ansel mengembuskan napas panjang, meletakkan sebelah tangan di puncak kepala adiknya, menyisipkan jari di antara helaian merah itu. “Kau suka hadiahnya?” tanyanya, lagi. Ia ingin mendengar secara langsung pendapat sang adik mengenai gaun pilihannya. “Aku tidak tahu warna favoritmu. Tapi, aku pikir kau akan terlihat cantik dengan gaun putih. Kau akan menjadi dewi di debutanmu.”
“Sejujurnya, kau punya selera yang bagus,” balas Iona seraya mengempaskan tangan kakaknya. Ia menyandarkan punggung ke sandaran ayunan. Kedua kakinya yang menapak tanah mendorong ayunan ke belakang, membiarkan ayunan itu mengayun lembut di udara. “Lagipula, kenapa kau di sini? Mengganggu acara membacaku saja.”
“Hah? Memang apa salahnya menghabiskan waktu bersama adikku? Jangan terlalu sinis, Ionna. Kau pun merindukan momen kebersamaan kita, bukan?”
Ionna mendecih, melirik kakaknya malas. “Sayang sekali tidak.”
“Seandainya aku tidak menjadi duke dan kau bukan seorang lady, apa hubungan kita akan berbeda?” gumam Ansel sambil mempercepat gerakan ayunan. “Tuntutan Ibu mengharuskanmu tampil sempurna setiap saat. Ionna, jika kau meminta, aku bisa berbicara pada Ibu agar beliau tidak menekanmu sekeras itu. Setidaknya, walau tidak bisa berbuat banyak, aku bisa mengurangi sedikit bebanmu—”
“Apa kau melupakan rumor adik Duke Laundrell tidak memiliki sopan-santun?” sela Ionna tanpa memandang Ansel. Ia menggeretakkan gigi mengingat kali pertama rumor itu beredar tahun lalu, tepat saat dirinya lulus dari Akademi Sanspearl.
Ansel mengibaskan tangan sekali, menggeleng tidak mengerti. “Sebenarnya darimana rumor itu berasal? Semuanya menjadi aneh sejak kau memasuki akademi. Apa kau memiliki masalah dengan orang-orang Sanspearl?”
“Entahlah, menurutmu?” Pandangan Ionna menerawang. Mendadak seseorang yang paling tidak ingin ia temui muncul dalam benaknya. Napas Ionna perlahan tercekat. Tanpa sadar, ia menurunkan lengan gaun yang sedikit terangkat ketika ayunan meluncur tdengan cepat. Sesuatu nyaris terlihat dan Ansel bisa menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan jika dia melihatnya.
“Terkadang, orang-orang memiliki kecenderungan untuk menghancurkan hidup orang lain tanpa alasan. Apa kau pernah bertanya-tanya apa kesalahanmu sehingga dirimu pantas dibenci? Kau terus menanyakan hal yang sama siang dan malam, tetapi Tuhan tidak memberimu jawabannya. Kau terjebak di dalam pertanyaan itu untuk waktu yang lama dan menderita karenanya.”
Ansel mengangkat sebelah alis mendengar adiknya yang tetiba banyak bicara. Apa gadis ini sedang melantur? “Apa maksudmu, Ionna?”
Ionna tersenyum miris. Percuma saja mengatakannya. “Perutku semakin sakit karena kau di sini. Aku akan beristirahat di kamar.”
Ia mengerem ayunan dengan sebelah kaki lalu beranjak berdiri. Sang kakak yang mengikuti gerakannya merapikan rambut dan jas biru panjang yang ia kenakan. “Beristirahatlah. Semoga kau cepat pulih.”
Ionna mengamati penampilan rapi Ansel dari ujung rambut hingga ujung kaki, bertanya-tanya ke mana pria itu pergi.
“Lucian,” jawab Ansel tanpa ditanya. Ia terkekeh geli melihat perubahan ekspresi sang adik kala menyebutkan nama karibnya. “Aku mendapat kabar Lucian baru datang pagi tadi. Kudengar dia sakit, jadi aku berniat menjenguknya. Separuh penyebab mengapa dia bisa sakit adalah aku.”
“Bolehkah aku ikut?”
“Kenapa? Bukankah perutmu sakit? Mana boleh begitu?”
Ionna memasang tampang memelas yang diam-diam membuat Ansel sedih. Sepeduli itukah adiknya terhadap Lucian? Ia menatap Ionna lurus. Jujur saja, nyeri tak tertahankan mendera dadanya dan ia benci merasakan sensasi menyebalkan itu.
“Aku tidak mau kau tambah membenciku,” kata Ansel setelah sekian lama. Ia berbalik dan meninggalkan Ionna yang tersenyum dengan mata berbinar cerah.
“Kutunggu kau di kereta kuda, Ionna.”
***
“Ibu?”
Entah sudah berapa kali Lucian memanggil-manggil ibunya dari luar pintu. Tangis yang terdengar dari dalam kamar menghiasi malam seperti yang sudah-sudah. Lucian yang tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan tangisan pilu ibunya terus-menerus mengutuk diri. Ia tidak bisa bertanya apa yang membuat wanita itu menderita. Ibunya selalu menyimpan kesedihannya seorang diri dan tersenyum seolah dunia selalu berlaku adil kepadanya.
Lucian menekuk lutut, menopang dagu di dalam keremangan. Sudah lebih dari tiga jam ia di sana, namun tiada tanda-tanda tangisan ibu akan berhenti. Dengan kekuatan kecilnya, Lucian tak mampu menendang maupun mendobrak pintu seperti yang dilakukan ayah ketika pulang dalam keadaan mabuk.
“Ibu.”
Cahaya lilin berangsur-angsur memudar. Lucian bangkit, kedua tangannya meraba-raba bufet untuk kembali menyalakan api di sumbu lilin. Kegelapan yang pekat membutakan pengelihatannya.
Semakin lama, kegelapan itu seakan menertawakann Lucian. Ia tak menemukan cahaya yang dapat membawanya keluar dan mengirimnya ke tempat sang ibu. Lucian tidak tahu di mana dirinya kini berada. Hingga pada satu titik, ia melihat seberkas cahaya menyilaukan datang ke arahnya.
Sepasang iris biru yang mengingatkan Lucian pada laut seketika menarik kesadarannya ke dunia nyata.
Sesaat, Lucian tidak bisa mengenali pemilik manik indah itu.
Namun, ia berysukur akan satu hal.
Untunglah kali ini ia bisa terbangun dari mimpi buruknya.
Bersambung