9. First Dance Request

2677 Words
Sepasang aquamarine itu basah karena air mata. Pandangan Lucian yang kabur berangsur-angsur menampakkan wujud seorang gadis berambut merah di atas wajahnya. Kedua tangan gadis itu membeku di dadanya, memegangi tali blus yang entah sejak kapan sudah terlepas. Lucian sendiri memerlukan waktu untuk memroses apa yang terjadi selama dirinya tidur. Selama beberapa saat, mata mereka saling bertumbukan. Iris biru jernih itu telah menariknya keluar dari serangkaian mimpi dan memori masa lalu. Iris sebiru laut yang familiar. Iris yang sama seperti aquamarine milik Lady Ionna Laundrell. Lucian mengerjapkan mata, sekali, dua kali, mengumpulkan setengah nyawa yang masih bergentayangan di alam mimpi. Setelah sepenuhnya bangun, Lucian sadar aquamarine itu memanglah milik sang lady. Bagaimana bisa dia ada di sini? “Apa yang Anda lakukan, My Lady?” tanya Lucian ketika berhasil menemukan suaranya. Secara otomatis Ionna mengangkat tangan, seolah telah tertangkap melakukan hal tam senonoh. Dengan suara sumbang, ia menjawab, “Saya tidak punya niat buruk, My Lord. Sepanjang tidur napas Anda berat dan pendek-pendek. Saya hanya ingin membuat Anda lebih nyaman dengan melepas ikatan tali pakaian tidur Anda.” “Saya bisa melakukannya sendiri.” “Ma-mafkan saya. Saya tidak bermaksud lancang.” “Tidak, jangan terlalu dipikirkan.” Lucian menyeka sudut matanya yang berair. Pusing di kepalanya masih belum hilang. Ionna terdiam memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan. Pria itu baru saja bangun, jadi haruskah ia memanggil Jacob? Ionna hendak melaksanakan perintah di dalam otaknya seandainya Lucian tidak mencegahnya pergi. Gadis itu menatap bingung tangan besar Lucian yang melingkari pergelangan tangannya. Apakah ini efek dari demam yang mendera sang marquess? Pria itu bertingkah tidak biasa. Genggaman tangan Lucian mengendur. Ionna dapat merasakan panas di tempat yang pria itu sentuh. “My Lady, saya uhuk—” “Tunggu sebentar.” Ionna lekas menuangkan air ke dalam gelas. Ia membantu Lucian duduk lalu menyodorkan gelas tadi. Dihapusnya biji keringat di kening Lucian menggunakan kompres yang jatuh ke kasur. Ia menggantungkan kain tebal itu di bibir baskom begitu Lucian menghabiskan minumannya. “Bagaimana perasaan Anda?” Lucian mengembuskan napas panjang. Sungguh memalukan menunjukkan sisi lemahnya di depan Ionna. “Terima kasih, saya merasa lebih baik,” ujarnya. Matanya berguling ke pintu kamar yang sedikit terbuka. “My Lady, maaf saya menanyakan hal ini, tetapi sejak kapan Anda datang?” “Setengah jam yang lalu bersama Kakak.” Ionna menelan ludah, takut Lucian berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya. “Sa-saya begitu terkejut ketika Kakak berkata ingin menjenguk Anda. Saya sudah mendengarnya dari Sir Jacob, alasan keapa kalian tidak berhenti di Alpion. My Lord, bukankah Anda meminta saya supaya tidak memaksakan diri? Kenapa Anda justru melakukan yang sebaliknya?” “Ini bukan masalah besar, Lady Ionna. Bila Anda khawatir soal debutan, saya akan mendampingi Anda hingga akhir.” “Kenapa Anda keras kepala sekali? Bukan itu maksud saya.” Mata Ionna berkaca-kaca. Setetes cairan bening tumpah di pipinya. Gadis itu menunduk berusaha menyembunyikan ekspresi yang selama beberapa hari terakhir ia tahan. Ia menumpahkan segala emosi yang berkecamuk di dalam hatinya, seolah sedang mengadu betapa tersiksa dirinya menunggu kabar pria itu. Lucian membuka laci nakas, meraih sehelai sapu tangan beraroma kayu manis, lalu mengulurkannya pada Ionna. “Silahkan.” Ionna menerima sapu tangan itu dengan tangan gemetar. “Saya benar-benar tidak bisa melihat Anda sakit seperti ini. Apakah ini salah saya, My Lord? Anda menyelesaikan pekerjaan di Grimfon lebih cepat supaya tidak melewatkan hari debutan saya.” “Tidak, My Kady, dengar.” Lucian menatapnya lembut. “Pertama, besok adalah hari penting Anda. Anda tidak boleh merusak penampilan Anda dengan wajah bengkak.” Itu adalah hal yang sama seperti yang ibunya katakan ketika mengetahui Ionna sengaja terjaga demi menanti kedatangan Lucian. Namun, ada perbedaan besar pada cara penyampaian Duchess Laundrell dan Lucian. Tiada satupun di antaranya yang menunjukkan kasih sayang seorang ibu. Bahkan sejak hari semakin dekat dengan debutan, rasanya kata-kata menyakitkan ibu kian menjadi. Lucian menangkap senyum ironi di bibir Ionna. Dalam sekejap, ia dapat mengetahui apa saja yang telah gadis itu alami selama dirinya maupun Ansel tiada. “Kedua, jika saya tidak ingin, maka saya tidak akan melakukannya. Jadi, hentikan pikiran bahwa ini adalah kesalahan Anda, My Lady. Kelelahan merupakan hal yang lumrah bagi saya, apalagi kakak Anda yang merupakan seorang duke.” “Itu tidak—” “Berhentilah menangis. Saya mohon,” sela Lucian lalu memalingkan muka. Dada Ionna perlahan diselubungi perasaan hangat. Seulas senyum lega mengembang dan ia segera menghapus jejak air mata yang mulai mengering. Dengan suasana hati secerah mentari pagi, Ionna bangkit, berlari kecil meninggalkan ruangan untuk memberitahu Jacob bahwa sang marquess telah bangun. *** Setelah Lucian menghabiskan sarapannya, Ansel muncul bersandar di bingkai pintu. Pemuda itu bersidekap, memandangnya dengan tatapan mengejek. Merupakan suatu kesenangan tersediri bagi Ansel menemukan Lucian berdiam di atas ranjang seperti orang sakit—yah, dia memang sakit. Hari ini Ansel memiliki banyak kesempatan membalas sinisme yang selalu Lucian pada dirinya. “Your Grace.” Ansel tersenyum bangga, memasang tampang menyebalkan andalannya. Ia tertawa puas seakan telah berhasil menaklukan sebuah negara. Hingga Duke Ollardio yang berdiri di belakangnya muncul, barulah Ansel tersadar. Sapaan kehormatan itu tidak ditujukan kepadanya. Kenapa juga Pria Tua nyentrik ini terus mengekorinya di sepanjang jalan menuju kamar Lucian? Hans Gilbert Ollardio geleng-geleng kepala menemukan marquess kesayangan duke muda di sebelahnya tumbang. “Padahal kau sangat cekatan menyelesaikan masalah di Grimfon, tetapi sekarang kau bahkan tidak bisa berdiri dengan kakimu sendiri, Marquess,” ejek Duke Ollardio ketika Lucian mempersilahkan mereka masuk. Ia menyibakkan jubah kebanggaannya sebelum duduk bersilang kaki di sofa bundar. “Bagaimana kabarmu, Marquess Kecil? Apa demam ini menyusahkanmu?” “Saya baik-baik saja, Your Grace. Terima kasih atas kunjungan Anda,” balas Lucian. Ansel yang kesal diabaikan pun menyahut, “Kau jadi lemah dan menyedihkan. Sekarang kau tidak bisa melakukan apapun, Kawanku yang malang. Bahkan mengejekku karena—” “Omong-omong, aku ingin membicarakan perkembangan penyelidikan minuman terlarang denganmu, Nak. Berkatmu, kami menemukan sedikit petunjuk.” Duke Ollardio tersenyum jenaka setelah sengaja menyela ucapan Ansel. Mata abu-abunya melirik Ansel yang masih membeku di ambang pintu. Ia melempar isyarat agar pemuda itu bergabung bersama mereka. Dengan langkah gontai, Ansel yang tidak bersemangat menyeret kakinya mendekati Lucian. Ia menjatuhkan diri di tepi ranjang dengan tampang masam. “Ah, sudahlah. Suasana hatiku sangat buruk.” “Anda ingin segelas anggur atau brendi?” tawar Lucian. Hapal betul dengan kebiasaan Ansel. Menggeleng lesu, tiba-tiba Ansel merasakan bulu halus di lehernya meremang. “Aku tidak mau didorong dari kereta kuda karena mulut bau alkohol. Ionna tidak suka ruangan sempit dengan aroma menyengat,” tolaknya kemudian berpaling ke arah Duke Ollardio. “Baiklah, baiklah. Ini saatnya kita membahas b*****h Joe Dansley. Sekarang giliran Anda, Pak Tua.” Duke Ollardio mengangguk kecil. “Hukuman Joe Dansley akan ditentukan dalam sidang Pengadilan Tinggi Istana,” katanya memulai penjelasan. “Joe dalam pengaruh kuat alkohol sehingga orang-orangku kesulitan menginterogasinya. Kami memutuskan menyerahkannya kepada Pengadilan Tinggi Istana, sedangkan eksekusi akan diurus oleh Duke Laundrell. Bagaimanapun, Joe Dansley adalah rakyat duchy Laundrell, Marquess.” “Apa dia mengatakan sesuatu selain penyebaran minuman terlarang itu, Your Grace?” tanya Lucian dengan jantung berdebar. Duke Ollardio menangkap kecamuk emosi yang samar dalam suara parau pria itu. “Ya, dia berulang kali menyebut nama Lady Tara Rosette dan mengumpati keluarga Baron Rosette, Pamanmu. Tapi, kau tidak usah memikirkannya. Dia aman di bawah kendali Duke Laundrell. Penjara bawah tanah dan kesatria Laundrell akan membekukan mulut dan lidahnya.” Lucian mendesah lega, tersenyum berterima kasih. "Your Grace, jika Anda berkenan, bisakah Anda merahasiakan ini dari keluarga Paman dan mencegahnya bocor ke publik? Ini demi kehormatan Lady Tara dan keluarga Rosette. Saya harap Anda mau melakukannya.” “Aku suka ketika kau memohon padaku, Anak Pintar.” Ansel tergelak penuh kemenangan. Harga dirinya seoah berada di puncak tertinggi. Ia merangkul pundak tegap Lucian lalu mencengkeramnya erat. Detik berikutnya, ekspresi Ansel berubah seratus delapan puluh derajat. Lucian rsa Ansel tengah merencanakan pengajuan eksekusi mengerikan di dalam kepalanya. Skenario terburuk akan nasib Joe Dansley yang malang ada di tangan sahabatnya. “Duke, ternyata kau orang yang menakutkan,” komentar Duke Ollardio, mencairkan atmosfer di antara mereka. “Sahabatmu sedang sakit dan kau malah memikirkan hal lain. Kau sungguh keterlaluan.” “Entahlah? Kenapa saya merasa semarah ini?" ucap Ansel ketus. "Mungkin karena saya memiliki adik perempuan sehingga saya menjadi emosional. Saya berencana memotong tangan dan lidahnya sehingga b*****h itu tidak bisa berteriak lagi. Mau digantung atau dipenggal, dia akan memohon ampun tanpa suara.” “Itu sebabnya aku berkata Joe Dansley memiliki keberuntungan yang mengesankan. Jika sedari awal kau yang menangani rumor Grimfon, aku tidak akan mendapatkan petunjuk berharga itu, Duke Muda.” “Tapi, dia tetap tidak bisa dimaafkan, Pak Tua!” “Tiada pengampunan bagi pendosa seperti Joe di dunia ini, Nak. Ketahuilah itu.” Kemarahan Ansel dapat dimengerti. Saat itu pun Lucian ingin langsung membunuh Joe Dansley di tempat. Masa depan Tara telah dihancurkan dan sedikitnya Lucian memahami perasaan dan amarah Ansel. Ia menatap sekilas karibnya yang dirundung amarah kemudian kembali menoleh ke arah Duke Ollardio. “Jadi, Your Grace, petunjuk apa yang Anda temukan?” Duke Ollardio tertawa keras, mengusak surai keemasan Lucian hingga berantakan. “Aku belum bisa mengatakannya. Orang-orangku masih melakukan interogasi akhir untuk memvalidasi keterangan Joe Dansley. Dan lagi, aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu. Aku hanya mampir karena Duke muda ini memberitahu kau jatuh sakit.” Ia berdiri, membetulkan posisi bros yang sedikit miring. “Omong-omong, kemunculanmu di debutan akan membuat semua orang di istana kaget. Hahah, aku tidak sabar melihat reaksi orang-orang itu. Sampai jumpa di debutan, Marquess Kecil.” Sepeninggal Duke Ollardio, Ansel yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. Sahabatnya itu mendengus lalu memandang Duke Ollardio yang melenggang dari kamar dengan langkah lebar. “Dasar menyebalkan. Semua orang di parlemen membicarakanmu dan rumor sialan Ionna.” Lucian mengernyit. “Apa maksudmu?” “Maksudku, mereka tidak bisa menutup mulut walau aku ada di sana. Aku sudah memikirkannya belakangan ini. Semua menjadi aneh sejak Ionna lulus dari Akademi Sanspearl.” “Kau terlambat menyadarinya,” sinis Lucian. Ia membunyikan lonceng dan memanggil seorang pelayan untuk menyediakan buah dan anggur. “Tapi, apa yang kaulakukan? Selama ini kau membiarkannya begitu saja. Sudah satu tahun semenjak Her Ladyship lulus dan baru kali ini kau memperhatikan rumor itu.” “Itu karena Ionna memintaku mengabaikan rumornya. Dia bilang, rumor itu tidak akan berpengaruh pada repurtasinya. Lihat ‘kan? Adikku adalah seorang malaikat. Bagaimana bisa orang-orang t***l di luar sana menyebutnya liar?” Ansel mendengus saking kesalnya. Sifat kekanakan pria itu muncul lagi. “Lalu, bagaimana dengan rumormu dan Ionna? Kemunculanmu di debutan akan disangkut-pautkan dengan hubungan konyol kalian. Dasar.” “Cuma orang bodoh di negeri ini yang memercayai rumor itu. Itulah yang tidak kusukai dari pergaulan kelas atas, Kawan. ” Ansel merengut ketika seorang pelayan masuk dan membawakan botol dan gelas anggur untuknya. Ia memelototi Lucian, sejenak lupa telah meneriaki orang sakit. “Sudah kubilang Ionna benci aroma menyengat! Kau memang menyebalkkan, Teman Sialan!” *** Lukisan itu adalah kali pertamanya Ionna melihat sang marchioness begitu muda dan segar. Menurut Sieger, kepala pelayan rumah ini, lukisan itu dibuat satu tahun sebelum Lucian lahir. Ionna memandangi figur cantik Marchioness Carnold seolah wanita itu sedang berdiri di hadapanya. Rasa rindu membuncah dalam benak Ionna. Ia menyesalkan dirinya yang tidak dapat menghadiri pemakaman sang marchioness. Ionna dengar, bahkan di saat-saat terakhirnya, wanita itu masih memikirkannya. Ionna meraba bingkai lukisan dengan tatapan sendu. “Marchioness, tidak, Bibi.” Air mata menggenang, hidung Ionna mampet menahan tangis. “Sangat disayangkan Anda tidak bisa menyaksikan debutan saya. Seandainya waktu bisa diputar, saya tidak akan menuruti Mama pergi ke neraka itu. Saya menyesal tidak sempat mengucapkan perpisahan terakhir kepada Bibi. Maafkan saya, Bi. Saya sungguh menuesal.” Ionna mengarahkan jemarinya ke tangan Marchioness Carnold. Tangan itu selalu mengelus kepalanya dan mengobatinya ketika ia terluka. Senyum menawan dan iris hijau yang Ionna rindukan membawa kembali memori kebersamaan mereka. Ada sejuta hal yang ingin Ionna sampaikan kepada wanita itu, namun kini ia hanya bisa berbicara dengan seonggok lukisan yang terpajang di ruang tengah rumah ini. “Apa Anda merindukan Ibu saya?” tanya suara yang sangat familier di telinga Ionna. Ionna menoleh ke samping, mendapati Lucian berdiri di sebelahnya menatap lurus lukisan sang ibu. Ionna membelalak saking kagetnya. “Astaga, My Lord! Kenapa Anda turun dari kasur?” sentak Ionna tanpa sadar. Ia membekap mulut karena sikap tidak sopannya. “Maaf, tapi tolong perhatikan kesehatan Anda. Beristirahatlah dan dapatkan lebih banyak waktu tidur.” “Semua orang yang saya temui hari ini memperlakukan saya seperti pasien sakit keras,” balas Lucian. Matanya tidak bisa lepas dari sosok ibu yang tersenyum lebar di lukisan itu. “My Lady, apa Anda tidak berniat menjawab pertanyaan saya?” “Ya?” “Apakah Anda merindukan wanita dalam lukisan ini?” ulang Lucian. Suara paraunya terdengar tenang dan ringan seperti biasa. Ionna menunduk, mengangguk pelan. Ia balik mengajukan pertanyaan yang sama kepada Lucian. “Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga merindukan Marchioness Carnold, My Lord?” Senyuman tulus Lucian pancarkan. Pemuda itu menaruh telapak tangan di puncak kepala Ionna, mengusapnya selembut yang biasa ia lakukan. Ionna meraih tangan besar itu lalu menangkupkannya di wajah mungilnya. Kehangatan yang dihantarkan panas tubuh Lucian membuatnya tenang. Ia mendesah lega karena demam pria itu berangsur-angsur turun. “Bukankah saya tidak perlu menjawabnya, My Lady?” Lucian menarik kembali tangannya. Tidak mau orang-orang salah sangka. “Sama halnya dengan Anda yang setiap saat merindukan mendiang Duke, saya pun merindukan Ibu.” “Marchioness Carnold sudah seperti ibu bagi saya. Akankah beliau memaafkan saya yang tidak menghadiri upacara pemakaman beliau, My Lord?” “Ibu pasti mengerti.” “Anda benar. Bibi adalah orang yang penyayang.” Lucian menyoroti sepasang aquamarine Ionna. Di balik senyum dan binar-binar matanya, ada luka yang tidak bisa dilihat orang lain. Duchess Laundrell selalu menuntut kesempurnaan pada putrinya, sementara Ansel selalu dibutakan kasih sayang sehingga hanya memberikan kebutuhan materil kepada gadis itu. Sedari dulu Lucian mengasihani Ionna. Belum genap usianya tujuh belas tahun, tetapi dia harus bertahan dalam lingkungan dan keluarga palsu. Kenapa kau justru mengasihaninya?, benaknya tiba-tiba berbisik. Kaulah yang seharusnya dikasihani karena hidup sebatang kara. “Itu lebih baik,” gumam Lucian tanpa sadar. Ionna mengernyit, bergeser selangkah ke samping ketika lima pelayan ruang tengah lewat menyapa mereka. “Ada apa, My Lord?” “His Grace sedang menunggu Anda di ruang baca.” Lucian menggeleng, memijit keningnya yang mendadak pening. “Beliau bilang, kalian harus segera pulang dan bersiap-siap untuk debutan besok.” “Ah.” Ionna tersenyum getir. Secepat inikah mereka berpisah? Ia teringat hadiah sepatu dan strategi baru yang ia susun. Strategi yang akan menyelamatkan dansa pertamanya di debutan nanti. “Eum, My Lord?” “Ya, My Lady.” “Untuk hadiah sepatunya, saya telah mendengarnya dari Kakak.” Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, “sejujurnya, saya tidak menyangka Anda telah menyiapkan sepatu debutan saya jauh-jauh hari. Saya akan menantinya. Terima kasih.” Oh, jadi Ansel memutuskan mengungkapkan kejutannya lebih awal? “Itu adalah hadiah untuk ulang tahun dan debutan Anda. Saya tidak bisa memberikan Anda apapun karena bahkan His Grace mampu memetik bintang di langit demi adiknya.” “Terima kasih. Itu adalah pujian yang berlebihan untuk Kakak.” Ionna terkekeh geli. Sayangnya, gurauan tadi tidak berlangsung lama karena pada detik berikutnya, Ionna kembali dilanda perasaan gugup. “Se-sebelum saya pulang, izinkan saya menyampaikan satu permintaan egois saya. Apakah itu tidak masalah?” Sesaat Lucian tampak menimang-nimang jawabannya, namun pria itu mengangguk dan menjawab, “Ya, dengan senang hati saya mendengarnya.” “Saya—” Ionna menggigit bibir bawah ragu. Malam ini Duchess Laundrell akan menentukan dengan siapa dirinya berdansa dari daftar pengirim surat yang disetorkan Annie. Ionna tidak mau jika pilihan ibunya jatuh krpada salah satu bangsawan rendahan itu. Akhirnya, dengan keberanian yang hanya sebesar biji jagung, Ionna pun mendongak, menatap mata hijau Lucian sungguh-sungguh, lantas berkata, “Saya, saya ingin Marquess Carnold-lah orang pertama yang memiliki dansa pertama saya! Bukan yang lain!” Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD