“Selamat memperingati hari lahir, My Lady. Selamat ulang tahun!”
Rasanya Ionna seperti ditarik secara paksa dari alam mimpi.
Gadis itu terbangun dengan rambut mengembang. Matanya masih setengah terbuka ketika tubuhnya didorong ke kamar mandi oleh dua pelayan kamar. Ionna tidak ingat kapan dirinya melepas pakaian dan memasuki bathup. Ionna hanya ingat ketika aroma madu bercampur mint merasuki penghidunya dan cairan hangat membasuhi permukaan kulit tubuhnya yang halus. Gadis itu benar-benar membuka mata saat punggungnya digosok oleh Annie yang tangannya dipenuhi busa.
“Oh, halo, My Lady,” sapa Annie, sengaja mengucurkan air di atas kepala Ionna. “Senang melihat Anda pagi ini. Apakah Anda menyukai parfum mandi yang kami siapkan?”
Ionna mengernyit. Nyawanya belum terkumpul sempurna. “Tunggu, sejak kapan aku di kamar mandi?”
“Lima belas menit yang lalu, dan kami-lah yang membawa Anda ke mari,” jawab Annie seraya menunjuk pelayan lain di sisi lain bathup, “betapa susahnya kami membangunkan Anda. Sementara," Ia mendekatkan wajah dan berbisik di telinga nona mudanya, “saya berusaha meyakinkan sang duchess supaya tidak menyiapkan pasukan khusus untuk menyiksa Anda. Saya juga tidak mau pelayan-pelayan itu mengetahui rahasia Anda.”
“Kerja bagus.”
Di ujung lain bak mandi, pelayan baru bernama Ophelia mendongak. Ia sedikit mendengar bisikan Annie kepada Ionna. Annie melemparkan tatapan mengancam begitu menyadari tatapan penasaran Ophelia. Di rumah ini tiada yang berdiri di pihak Ionna selain Annie dan Raphael. Beruntungnya bulan lalu duke mengganti sebagian pelayan yang sudah berumur dengan pelayan-pelayan baru yang lebih muda. Annie jadi bisa mengendalikan situasi dan menyuruh mereka tutup mulut sebagai senior.
Ionna terbatuk-batuk. Aroma mint yang dominan menusuk-nusuk hidungnya tanpa ampun. “Aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih padamu. Tapi, aku tidak suka aroma ini.” Ia mengayunkan kaki sehingga Ophelia kesulitan memijat jari-jemarinya.
“Anda harus memberi saya penghargaan karena telah menyelamatkan hari penting Anda. Ah, dan lagi, Anda tidak sabar melihat hadiah sepatu Marquess Carnold, bukan?”
Mendengar nama Marquess Carnold disebut, Ionna sontak memutar badan menghadap Annie. Ia memegangi tepian bak mandi sambil menatap Annie dengan binar-binar seperti anak anjing kegirangan. Annie mengasihani Ophelia yang basah kuyup akibat cipratan air Ionna. Ia terkikik geli dan membiarkan Ophelia melanjutkan pekerjaannya.
“Benar. Omong-omong, kau sudah memastikannya, bukan? Tiada yang menyentuhnya selagi aku tidur?”
“Saya tidak melakukan apapun, My Lady. Sir Raphael-lah yang menjaga pintu kamar Anda semalaman.”
Dengan kata lain, Raphael rela begadang semalam suntuk agar tidak seorangpun memasuki kamar Ionna, termasuk ibu dan Ansel. Annie mengingat-ngingat ekspresi mengantuk Raphael subuh tadi. Kesatria penjaga Ionna itu langsung pamit tidur begitu Annie dan rombongan pelayannya datang.
“Apa Sir Raphael baik-baik saja?” tanya Ionma cemas.
Annie menganggukkan kepala sambil mencuci helai merah Ionna dengan telaten. “Ya. Para kesatria sudah terbiasa tidak tidur selama beberapa hari di medan perang. Tidak tidur semalam tidak akan membuat Sir Raphael pingsan atau tidur berjalan.”
Ionna mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagu. “Apakah aku harus memberi Sir Raphael hadiah?”
“Hanya Sir Raphael? Bagaimana dengan saya?” tanya Annie setengah bercanda. “Saya telah berusaha keras supaya rahasia Anda tidak ketahuan. Anda ingat?”
“Tidak ada hadiah untukmu.” Gelengan Ionna dihadiahi siraman besar oleh Annie. “Ugh, baiklah, baiklah. Lagipula, apa kau tidak ingin mendengar hal yang lebih menakjubkan? Ini tentang dansa pertamaku!”
Annie menelan ludah gugup. Mendadak ia merasa bersalah karena menyerahkan daftar nama jentelman yang mengirimkan surat permintaan dansa kepada Duchess Laundrell. “Saya menyesal atas apa yang terjadi. Di sisi lain, saya tidak mau mengecewakan Anda, tetapi saya juga tidak sanggup melawan perintah Her Grace.”
“Sudahlah, lupakan itu.” Ionna mengibaskan tangan santai. Annie menaikkan sebelah alis. Kenapa nona mudanya bisa setenang dan sesantai ini? Mendapati senyum di bibir gadis itu, Annie mendesah mafhum. Jelas Ionna telah melakukan sesuatu di luar dugaannya, lagi.
Ionna menjerit kesakitan. Ophelia menekan jempolnya terlalu kuat. “Maafkan saya, My Lady,” ucap Ophelia yang dengan polosnya meniupi ibu jari kaki Ionna.
Gadis itu tertawa pelan, menggelengkan kepala dan berkata bahwa ia hanya terkejut, kemudian kembali memfokuskan perhatiannya kepada Annie. “Aku tidak akan berdansa dengan siapapun kecuali dengan Marquess Carnold,” ujar Ionna. Ia pun menceritakan bagaimana caranya meyakinkan Lucian tentang dansa pertamanya.
Ionna menelan ludah, memainkan lipatan gaun gugup. “Saya berjanji tidak akan mengusik Anda dengan permintaan yang sama. Jadi, saya mohon.”
“Tidak pantas bagi seorang Lady memohon seperti ini, Lady Ionna,” ujar Lucian memperingatkan. Pria itu mengalihkan pandang dan menerawang lukisan kedua orang tuanya. Saat itu, Ionna sama sekali tidak bisa membaca maupun mengira-ngira apa yang tengah Lucian pikirkan. Lucian cukup mudah menebak isi kepalanya, namun sulit bagi Ionna menebak isi kepala pria itu. Ada banyak teka-teki yang sulit Ionna pecahkan tentang sosok di depannya.
“Saya memohon bukan untuk menurunkan derajat atau status kebangsawanan saya. Saya berbicara begini sebagai seseorang yang menyukai Anda, bukan sebagai adik Duke Laundrell.”
Rahang Lucian mengeras. Kenapa gadis ini sangat terang-terangan dalam mengungkapkan perasaannya? Bagaimana jika seorang pelayan yang kebetulan lewat mendengar percakapan mereka? Jika hal ini sampai terdengar ke telinga Ansel, pria itu pasti tidak akan memaafkannya.
Selama ini Ansel menganggap Lucian adalah sosok kakak yang selalu diidam-idamkan Ionna. Sang duke percaya sahabatnya tidak akan mengkhianatinya dan membiarkan Ionna berkeliaran di sekitar Lucian, walau berbagai rumor mengancam prospek masa depan sang adik.
Lucian menyugar surai pirangnya ke belakang, memejamkan mata sesaat. “Saya bukannya menolak, melainkan Lady pasti telah menerima banyak surat permintaan dansa. Akan lebih bagus bila Anda memilih salah satu di antara mereka.”
“Jeremy Castiello, Ruford Barten, Daniel Swenpard. Anda ingin saya berdansa dengan pria-pria itu?”
Lucian menahan napas. Tiga tahun lalu ia sendiri yang mengacungkan pedang di d**a para b*****h itu. Darimana mereka mendapatkan keberanian untuk mengirim surat permintaan dansa pada adik duke yang bisa membunuh mereka kapan saja? Tak ingatkah mereka pada surat-surat sampah yang mereka tulis? Lucian seharusnya menyerahkan masalah itu pada Ansel sendiri daripada membuat sahabatnya menahan hasrat membunuh yang sudah meledak-ledak.
“Apa hanya mereka yang mengirimkan surat permintaan dansa?” tanya Lucian memastikan, “di antara para pengirim surat, saya yakin ada satu yang tidak berniat buruk.”
“Jadi, Anda keberatan?”
“My Lady.”
“Tidak apa-apa, My Lord. Saya menghargai jawaban Anda,” ucap Ionna, menggigit bagian dalam bibirnya.
Lucian berpikir sejenak. Ansel telah memberinya tugas untuk menjaga Ionna sepanjang acara, dan apakah ini termasuk menjadi partner dansa gadis itu?
Masa bodoh dengan rumor, sedari awal Lucian memang tidak punya piliha lain. Sebuah anggukan pun mengakhiri perbincangan sekaligus pertemuan mereka hari itu.
Annie memakaikan jubah mandi pada Ionna kemudian mengikat tali pinggangnya. Ia menyuruh Ophelia menyiapkan gaun saat Ionna hendak keluar dari bathup. “Jadi, percayakanlah urusan debutan pada kami. Saya yakin Anda adalah bintang utamanya.”
“Aku sungguh tidak berminat menjadi pusat perhatian,” kata Ionna. Bisa ia lihat tiga orang pelayan mengeluarkan gaun debutan dan seperangkat aksesori dengan hati-hati. Pandangannya lantas beralih pada sebuah kotak di atas ranjang. Sesuai janji Lucian, Jacob datang membawa hadiahnya sehari, tepatnya di malam hari, sebelum hari debutan. Ionna sengaja tidak mengintip isi di dalam kotak karena biarlah itu menjadi kejutan.
Annie menyeringai. Ia bertepuk tangan sekali, memanggil semua pelayan agar berkumpul dan menunjukkan deretan korset yang digantung di rak dorong. Korset-korset itu merupakan pilihan terbaiknya di antara puluhan korset baru yang dibeli sang duchess. Ia harus menyesuaikan bentuk tubuh serta mengutamakan kenyamanan Ionna, ketimbang membuat gadis itu kesulitan bernapas dan terlihat kurus seperti kerangka berjalan.
“Lady Ionna.”
Ionna menoleh, menemukan wajah Annie berubah mengerikan. Gadis itu menelan ludah membayangkan serangkaian persiapan yang akan dilaluinya setelah ini.
“Apakah Anda siap tampil bersinar dan memukau hati Marquess Carnold?”
***
Sebenarnya kapan ini akan berakhir?
Ionna terkulai lemas di sofa. Ia sudah tidak memiliki tenaga untuk bangkit dan mematut dirinya di cermin. Persetan dengan bujukan para pelayan yang memintanya berdiri dan memutar badan, gaun apik yang dikaguminya ternyata lumayan berat. Berlapis-lapis kain yang menyusun gaun itu semakin membuatnya berpikir betapa sulitnya hidup sebagai gadis bangsawan.
Erny yang bertugas menata rambut Ionna mundur selangkah, menggaet lengan Annie dan menunjukkan hasil karya terbaiknya. “Bagaimana komentar Anda, My Lady?” tanya Erny. Annie membungkam mulut kagum. Cahaya seolah menyinari sang lady walau gadis itu terlihat lesu.
“Aku lelah dan lapar,” jawab Ionna asal. Antusiasmenya hilang entah ke mana.
Para pelayan saling bertatapan dalam kecanggungan. Bukan salah Ionna jika merasa seluruh energi kehidupannya terkuras habis. Kurang lebih enam jam gadis itu dikeroyok enam orang pelayan dan berulang kali berpindah tempat setiap selesai mengerjakan sesuatu. Mandi, merawat kuku, mencoba satu-persatu korset, merias dan menata rambut, sampai mengenakan gaun dan memasang semua aksesori; Ionna benar-benar tidak sanggup untuk sekadar berkata-kata.
Setidaknya sebelum Annie muncul dengan kotak sepatu yang sedikit dibuka. “Anda akan terus seperti itu? Tidak mau memakai sepatu pemberian Marquess Carnold?” Ia memaju-mundurkan kotak tersebut seakan Ionna adalah anak kecil yang dapat dibujuk dengan sebuah permen.
“My Lady?”
Menegakkan punggung, Ionna spontan merebut kotak dari Annie. Ia pun meletakkannya di pangkuan. “Tentu saja aku akan memakainya.”
Annie tersenyum lebar. “Silahkan.”
Dengan semangat yang kembali menggebu, Ionna memandangi kotak sepatu di pangkuannya dengan antusias. Keningnya berkerut saat memusatkan seluruh atensi pada kotak tersebut. Jantungnya berdebar tak karuan ketika secara perlahan ia menyentuh dan mengangkat tutup kotak sepatu. Persis saat mata Ionna membulat takjub, detik itu pula Ophelia yang berdiri di dekat jendela menyerukan nama Marquess Carnold.
“Kereta Marquess Carnold telah tiba!.”
***
Lucian melompat turun dari kereta. Townhouse Laundrell adalah salah satu yang termegah dan terbesar di kerajaan ini. Luasnya hampir sama dengan Istana Bulan, tempat tinggal selir raja. Koleksi tanaman langka dan pasokan senjata militer disimpan di gudang bawah tanah kediaman ini. Tak heran Putra Mahkota sering menginap walau Ansel tidak sedang dinas di ibu kota.
Lucian menghampiri Duchess Laundrell yang sedang bercengkrama bersama Paul, kepala pelayan townhouse, kemudian menunduk hormat. “Selamat sore, Madame. Gaun dan anting zamrud itu sangat cocok dengan Anda,” sapa Lucian, menyanjung wanita itu.
Duchess Laundrell tersenyum di balik kipasnya, memeluk Lucian sesaat. “Syukurlah kau kembali sehat, Marquess. Kudengar dari Ansel, kau sempat tidak bisa bangkit dari kasurmu. Apa kau baik-baik saja?”
Perempat siku imajiner muncul di kening Lucian. Apa Ansel pikir dirinya sedang sekarat? “Sungguh memalukan mengatakan hal ini, Madame. Namun, kondisi saya tidak separah yang His Grace tuturkan. Saya merasa sangat baik.”
“Haruskah aku memukul anak itu?” seloroh Duchess, tertawa pelan dan sinis. “Dia memang selalu merepotkanmu. Aku minta maaf karena kau, yang antipati terhadap suasana di pergaulan kelas atas, menggantikannya mendampingi Ionna. Kuharap acara ini tidak menggangu kesibukanmu.”
Lucian tersenyum kecut. Duchess Laundrell baru saja menyindirnya, huh? “Meskipun saya menolak, His Grace akan terus mengejar saya sampai ke ujung dunia.”
“Kau benar. Dia memang pembuat onar.” Manik cokelat Margareta Laundrell menilai penampilan Lucian yang berbalut setelan putih bersih. Ternyata dia memadankan dengan warna gaun debutan Ionna. “Aku berterima kasih atas hadiah sepatu yang kauberikan pada putriku. Tapi, mengenai rumor itu, apa kaupikir penampilanmu tidak berlebihan? Mereka bisa mengira dirimu benar-benar berkencan dengan Ionna, Marquess.”
“His Grace bilang, kita tidak perlu memedulikannya. Anda tahu betul rumor itu sangat tidak berdasar, Madame.”
“Kuharap begitu.”
Wanita itu berbalik ketika pelayan pria yang berdiri di samping pintu utama mengumandangkan nama Ionna. Semua orang yang mendengarnya refleks mengambil posisi di tempat, menantikan wujud sang lady yang berhiaskan aksesori mahal dan riasan cantik. Lucian melihat pintu raksasa perlahan-lahan terbuka lebar. Dalam fantasi teranehnya, sosok Ionna berlari menghampirinya dalam balutan gaun putih gading dan sepatu kaca pemberiannya.
Pemuda itu menyibakkan jubah lalu memperhatikan air muka Duchess Laundrell yang tampak senang sekaligus was-was. Derap sepatu yang mengetuk-ngetuk lantai semakin dekat. Para pelayan mulai menunduk dan menekuk lutut, sementara para kesatria menempelkan pedang di d**a kiri mereka. Lucian mencegat Raphael, kesatria pribadi Ionna, untuk melangkah maju dan berkata dirinyalah yang akan menjemput sang lady di depan pintu. Maka, ia pun berjalan. Melewati Duchess Laundrell serta barisan kesatria dan pelayan di halaman depan.
Kian jelas suara tapak sepatu gadis itu, Lucian mengulurkan tangan untuk menyambutnya. Digenggamnya jemari mungil sang lady kemudian menariknya keluar dari ambang pintu. Bagaikan malaikat yang jatuh dari langit, seperti orang-orang menjulukinya, paras ayu Ionna langsung menampilkan senyum bahagia begitu menangkap siluet Lucian di pintu depan.
Lucian membalas senyuman itu lantas mencium punggung tangan Ionna yang bersinar bak mentari pagi.
“Hari ini adalah hari yang cerah dan saya harap hari secerah ini akan terus bersama Anda. Selamat ulang tahun dan selamat merayakan hari kedewasaan Anda, Lady Ionna Laundrell.”
Bersambung