11. Debutant

2018 Words
“Duchess Laundrell, Marquess Carnold, dan Lady Ionna Laundrell memasuki Hall of Sun.” Begitu ketiga nama yang paling diantisipasi disebut, semua orang di dalam Hall of Sun sontak memusatkan atensi ke pintu masuk. Duchess Laundrell yang kali pertama menampakkan diri. Dengan gaun hijau tua dan serangkaian aksesori permata zamrud, wanita itu berjalan sambil menebarkan senyum dengan anggun. Dari balkon lantai dua, Ansel mengangkat gelas anggur menyambut kedatangan sang ibu. Manik biru gelap pria itu bergetar tak sabar menanti sosok sang adik dalam gaun debutannya. Kecantikan yang dipadukan dengan gaun putih gading dan safir biru akan mengguncang kepercayaan diri para lady di hall ini. Ansel sangat ingin melihat wajah-wajah angkuh yang diam-diam menyebarkan rumor buruk tentang adiknya ternganga takjub. Di kerajaan ini, sekalipun itu ketujuh putri, tiada seorangpun yang mampu menandingi kecantikan Ionna. Musisi orkestra mengurangi tempo alunan instrumen menjadi lebih lembut. Ketika bunyi tapak sepatu Ionna beradu dengan melodi teratur orkestra, setiap manusia di dalam Hall of Sun menahan napas, tak terkecuali Ansel. Adik perempuan Duke Laundrell itu memang seorang malaikat. Surai merah bergelombangnya disanggul dalam untaian-untaian rumit. Anak rambut yang menjuntai di kening sengaja disingkirkan menggunakan jepit bulu berukuran sedang. Mutiara-mutiara mungil disematkan di sela-sela rambutnya bak butiran salju di musim dingin. Tanpa menghilangkan kesan polos dan segar seorang Laundrell, bibir Ionna yang penuh dilapisi pewarna bibir berwarna merah muda lembut. Perona pipi gadis itu dibuat tidak terlalu tebal, pun dengan kelopak matanya yang hanya diberi sentuhan glitter dan eyeshadow silver. Riasan sederhana itu disempurnakan oleh sepasang sepatu kaca berhiaskan kristal ambordian biru milik tambang keluarga Carnold. Bisik-bisik mulai membanjiri Hall of Sun. Ada sebagian bangsawan yang hanya fokus pada kecantikan Ionna, ada juga yang bertanya-tanya apakah benar pria yang menggaet lengan adik Duke Laundrel itu adalah Marquess Carnold. Ionna merentangkan gaunnya saat ia dan Lucian menghadap Yang Mulia Raja dan Ratu. Di depan mereka, Duchess Laundrell dengan anggunnya menghanturkan salam. “Salam bagi matahari dan rembulan kerajaan, cahaya yang selalu menyinari Kerajaan Gouvern.” “Selamat datang Duchess, Marquess, Young Lady Laundrell. Sejak tadi kalian-lah yang kutunggu-tunggu,” ucap Raja, menyipitkan mata tuanya pada Ionna. Awalnya, ia sama sekali tidak bisa membedakan Duchess Laundrell dan putrinya sebelum menangkap manik biru Ionna. Sepasang aquamarine itu mengingatkannya pada mendiang duke terdahulu. “Putri Laundrell, kau memiliki wajah ibu dan bola mata ayahmu. Malaikat kecil yang sempurna.” Ionna tersenyum menundukkan kepala. “Terima kasih atas sanjungan Anda, Your Majesty.” Kini Yang Mulia Ratu yang angkat bicara. “Selagi kau di sini, Lady. Aku ingin bertanya, aku telah berulang kali mengundangmu ke perjamuan teh bersama para putri dan lady Gouvern. Tetapi, kenapa kau tidak pernah memenuhi maupun membalas undanganku?” “Maaf?” Sekilas ratu dapat membaca keterkejutan di wajah Ionna. Gadis itu terlihat gelagapan. Ibunya tidak mengizinkannya keluar setelah lulus dan dirinya pun tidak mempunyai kenalan di kalangan atas. Ratu Anastasia tergelak pelan. Tingkah lucu Ionna sedikit menghiburnya dalam acara membosankan ini. “Aku teman lama Ibumu, Nak,” kata wanita itu. Ia dan Duchess Laundrell saling bertukar senyum. “Aku tahu kenapa kau tidak bisa leluasa pergi. Ibumu terlalu memuja peraturan kolot keluarga Laundrell. Walaupun aku telah memaksa His Grace untuk mengubahnya, tetapi tampaknya kekuasaan tertinggi di rumah ada di tangan ibumu, bukan?” “Saya tidak pergi atas kemauan saya sendiri, Your Majesty. Saya perlu belajar banyak hal sebelum memasuki pergaulan kelas atas.” Tidak, sebenarnya Mama mencemaskan rumor yang beredar. Mama tidak mengizinkanku agar aku dapat terhindar dari pertanyaan tentang rumor. “Apa Duchess Laundrell yang mengajarimu jawaban itu?” tanya Ratu. Ionnna menggeleng pelan. “Tidak. Saya bersungguh-sungguh dengan jawaban saya.” Ingin sekali rasanya ia mengangguk dan berseru ‘ya’ sekeras mungkin. Sayangnya, Iona tidak memiliki keberanian untuk membela diri dan membuat Lucian malu karena tingkahnya. Lucian melirik Ionna yang terlihat lelah berlama-lama memasang senyum. Pria itu mengggerak-gerakkan lengan, membuat Ionna menoleh dan menyunggingkan segaris senyum cerah. Sampai kapan gadis ini akan terus berpura-pura? “Baiklah. Selamat ulang tahun di hari debutmu, Lady Ionna Laundrell,” kata Raja mengakhiri perbincangan mereka. Pria itu menganggukkan kepala ke arah Lucian, menyisipkan secuil harapan agar pemuda itu mau mempertimbangkan permintaannya. Lucian menarik Ionna menepi di dekat meja panjang yang dihiasi puluhan kudapan dan anggur. Sengaja berpisah dari Duchess Laundrell yang berjalan menuju kumpulan para madame di sudut hall. “Anda baik-baik saja?” tanya Lucian sambil memandangi Ionna. Ionna termenung, tak menanggapi perkataannya. Gadis itu menyentuh dadanya yang seakan dientak-entakkan oleh ratusan ekor gajah. Melebarkan mata tak memercayai apa yang dilihatnya barusan. Sepasang mata abu-abu gelap mengawasinya di antara kerumunan bangsawan. “Y-ya, saya baik-baik saja,” jawab Ionna dengan suara gemetar. Lucian mengambil segelas air putih dari baki pelayan yang melintas, menyangka gadis itu merasa gugup karena berhadapan dengan Raja dan Ratu. “Untuk Anda.” “Terima kasih.” Ionna meneguknya dengan cepat, terbatuk-batuk nyaris tersedak. Ia beringsut ke belakang tubuh Lucian seperti sedang mencari perlindungan. Lucian menyahut gelas kemudian membalikkan badan. “Lady Ionna, ada apa?” tanya Lucian, lagi. Cengkraman Ionna pada lengan bajunya mengerat. Gadis itu gemetaran tanpa sebab. Merasa bingung, Lucian mengikuti arah pandang Ionna dan tak menemukan apapun yang perlu gadis itu takuti. “Lady Dia—” “Maksud Anda Lady Diana Thesav? Keponakan Marchioness Francaiss?” Lucian memastikan pendengarannya. “Anda ingin menyapa beliau? Saya melihatnya bersama Lady Veronica.” Ionna menggeleng panik. “Tidak!” “My Lady?” “To-tolong.” Napas Ionna tersekat. Wajahnya memucat dan tubuhnya menggigil hebat. Menyadari itu, Lucian segera mencari kursi kosong dan mendudukkan gadis itu di sana. “My Lord, bisakah Anda tetap di sisi saya? Tidak peduli Anda sedang berbincang dengan bangsawan lain atau menemui kenalan Anda, tolong bawalah saya bersama Anda.” “Itu memang tugas saya sebagai pendamping. Tapi, apa yang terjadi?” Bibir Ionna menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Gadis itu memalingkan muka, cairan bening menggenang di pelupuk matanya. Belakangan ini, Lucian terlalu sering melihat Ionna menangis. “Jika Anda begini, riasan dan penampilan Anda bisa rusak. My Lady, apa yang harus saya lakukan supaya Anda tenang?” tanya Lucian, berjongkok di hadapan Ionna untuk mensejajarkan tinggi mereka. “Pertama, tariklah napas dalam-dalam.” Ionna menuruti instruksi Lucian. Detik berikutnya, ia menghela napas panjang. “Maafkan saya.” “Tiada yang patut dimaafkan. Apa Anda sudah merasa baikan?” “Ya.” Lucian mendesah lega. “Acara selanjutnya adalah sambutan Yang Mulia Raja dan Ratu. His Grace ada di lantai dua memperhatikan Anda sejak tadi. Beliau akan turun mendampingi Yang Mulia Raja. Tidakkah Anda ingin melihat beliau dari dekat?” Ionna termenung, memikirkan hal lain. Sementara Lucian menggenggam tangannya dan membantunya berdiri. “Mari,” bisik pria otu, lalu membimbing Ionna bergabung dalam lautan bangsawan di tengah-tengah hall. *** “Ionna.” Ansel melambai ketika menuruni tangga bersama anggota parlemen lain. Sekilas gadis itu tak mengacuhkannya, namun pada akhirnya dia melampirkan senyum hangat. Ribuan kupu-kupu seolah beterbangan dalam d**a Ansel. Ansel meremas cravat lalu memasang ekspresi berlebihan seakan terkena serangan jantung. Duke Ollardio di belakangnya menangkap dirinya yang hampir limbung. Sekuat itukah pesona senyum adik perempuannya? Ionna berdeham pelan, membuat Lucian menengok ke arahnya. “Sepertinya His Grace bersemangat sekali hari ini. Seharusnya Anda mengusir awan mendung di kepala Anda. Bukankah ini hari yang istimewa bagi Anda, My Lady?” Dalam iris aquamarine Ionna, penampakan dua makhluk paling menjijikkan yang pernah ia temui tercermin sebagai iblis. Tanpa Lucian, debutan dan ulang tahunnya hanyalah sebuah neraka. Ia lebih suka menghabiskan waktu di bukit sampai malam ketimbang bertemu dua b*****h di depan sana. Bagaimana bisa kakaknya tahan menghirup udara yang sama dengan kedua b*****h itu? Mereka berdiri di barisan parlemen paling ujung, di mana Ansel tidak bisa menjangkau dan membahayakan mereka. “Saya tidak akan merasa senang karena keberadaan mereka, My Lord.” Lucian memandang siapa yang Ionna maksud, Duke Ruford Barten dan Count Daniel Swenpard. Mereka baru saja memasuki parlemen setelah mewarisi gelar yang diturunkan duke dan count terdahulu. Walaupun Ansel ada di sana, tampaknya sikap congkak dan tamak mereka kian menjadi. Apa mereka harus diancam menggunakan pedang lagi agar tidak melemparkan tatapan menjijikkan pada Ionna? Telapak tangan Lucian terangkat menghalangi pandangan Ionna. Gadis itu mendongak, menatapnya bingung. “Apakah ini yang sedari tadi Anda cemaskan, My Lady?” tanya Lucian. Ionna diam tak merespons. Bukan karena kedua pria itu, ditambah satu pria lain, Jeremy Castiello di antara para bangsawan. Melainkan seseorang yang menusuknya dengan tatapan dingin di belakang sana. Ionna tahu seseorang sedang mengawasinya. Bukan sang ibu, bukan pula kakak laki-lakinya yang telah berdiri di samping Yang Mulia Raja. Keringat dingin meluncur bebas dari kening Ionna. Ia tidak berani berbicara maupun mengadu kepada Lucian. Meskipun Lucian menyadari keanehan dalam dirinya, Ionna lebih memilih bungkam. Lucian menghela napas. Ionna menjadi lebih pendiam hari ini. “Saya tidak akan membiarkan mereka mengganggu Anda. Selama His Grace dan saya di sini, mereka tidak akan berani mendekati Anda. Bahkan Anda tidak perlu menanggapi rumor itu.” “Anda salah. Bukan itu masalahnya,” sahut Ionna linglung. Ketika Raja membuka sambutan, Ionna memutuskan mengalihkan pikirannya kepada sang kakak. Ansel terus-menerus menerbarkan senyum terbaiknya. Kewibawaan terpancar dari setelan merah dan jubah kebanggaannya. Jika dia terus bertingkah seperti itu, kewibawaannya akan hilang, dan orang-orang tidak akan percaya lagi pada julukan pria ganas di padang pasir. Akhirnya, Yang Mulia Raja mengangkat gelas anggur tepat saat matahari tenggelam dan orkestra memperdengarkan melodi yang meriah. Malam debutan pun tiba. *** “Lady Diana, lihat siapa yang datang.” Veronica Wernest mengacungkan ujung kipas ke arah Ionna yang baru saja memasuki hall. Sambutan meriah dan bisik-bisik bernada penasaran mengiringi setiap langkah Si Malaikat Laundrell. Lady Diana Thesav menyembunyikan setengah wajahnya di balik kipas. Ia telah melewati setengah hari dengan bercermin dan mengenakan korset serta hiasan terbaik yang ia punya. Namun, apa ini? Kenapa Ionna justru yang menjadi pusat perhatian? Tatapan tak sukanya berubah menjadi benci mengetahui siapa yang sedang menggaet lengan gadis itu. Ia membola tak percaya. Diana Thesav merasa harga dirinya diinjak-injak saat itu juga. Marquess Carnold yang tak peduli pada pesta hadir sebagai pendamping Ionna. Ternyata gosip yang Diana dengar benar. Duke Laundrell dan seluruh anggota parlemen akan mendampingi Raja sampai akhir acara. Sementara itu, sang duke menyerahkan tugas pendampingan adiknya kepada sang sahabat. Ionna benar-benar memiliki segalanya. Diana berjalan maju menyerobot barisan terdepan. Dapat ia lihat Duchess Laundrell membungkuk di depan Raja dan Ratu. Tak lama kemudian, Ionna dan Marquess Carnold menyusul melakukan hal yang sama. Diana yakin Ionna menyadari kehadiran, atau paling tidak tatapan menusuknya. “Ternyata kau masih memiliki keberanian menampakkan diri di istana, Ionna,” geram Diana marah. Veronica dan Lady Amanda Laurens mengintip di belakangnya. Mereka mengamati betapa halus dan anggun setiap gerakan yang Ionna buat. Diana menyunggingkan senyum misterius. “Lady Veronica, bukankah hari ini adalah ulang tahun Lady Ionna?” Veronica menoleh dan mengangguk ke arah Diana. “Ya, My Lady.” “Kita ini teman baiknya.” Amanda menimpali antusias. “Sebagai teman baiknya, kita harus memberinya kejutan. Sudah lama juga kita tidak bermain bersama Ionna. Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan, Lady Diana?” “Bagaimana dengan memberi sang lady kejutan? Lady Veronica, apa kau punya saran yang bagus? Ingat poin pentingnya, kejutan; kenangan yang tak terlupakan.” Sejenak Veronica terlihat ragu. Duke Laundrell dan Marquess Carnold jelas akan memasang mata ke mana pun gadis itu pergi. Sebaiknya sementara waktu ini mereka tidak mengganggu Ionna. Tetapi, satu tahun tidak bersenang-senang membuat Veronica dan dua lady di sebelahnya mati kebosanan. Semenjak lulus musim semi tahun lalu, mereka tidak bisa menghabiskan waktu seperti saat masih di akademi. Apakah memberi Ionna kejutan di hari ulang tahunnya merupakan ide yang bagus? Veronica masih menimang-nimang jawabannya di dalam kepala. Di sisi lain, Diana semakin berapi-api ketika Ionna berjalan melewati mereka dan menatapnya dengan ekpresi kaget. Wajah gadis itu memucat, netra biru cemerlangnya bergetar saat bersirobok dengan manik abu-abu Diana. Diana pun menarik kedua lady di sampingnya pergi ketika Ionna mulai mencari perhatian Marquess Carnold yang berbalik memeriksa keadaan. Baiklah. Telah diputuskan. Mari kita buat Ionna sadar akan posisinya dengan kejutan yang mereka berikan nanti. Diana benar-benar tak sabar menantikannya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD