12. The King's Trick

2409 Words
Ansel mengerti sekarang. Alasan kenapa Yang Mulia Raja tidak membiarkan dirinya mendampingi Ionna, juga kenapa beliau mengharuskan seluruh anggota parlemen hadir. Ketika Raja membawa kelima duke ke ruang perjamuan, Ansel mulai menaruh curiga. Ruang perjamuan hanya boleh dimasuki penasihat kerajaan, anggota keluarga kerajaan, dan kelima duke. Dan apabila Yang Mulia Raja menghendaki pertemuan di tengah debutan, pastilah itu merupakan sesuatu yang penting. Duke Ollardio menyambar gelas anggur dari baki pelayan, diam-diam menahan tawa sambil memandangi Ansel. Tampaknya Pak Tua itu menertawakan Ansel yang sedari tadi memasang tampang cemberut. “Bagaimana kau bisa tidak tahu?” ejek pria beruban itu, “tentu saja parlemen menginginkan Marquess Carnold. Aku sudah membuktikannya dengan penanganan rumor di Grimfon. Orang seperti itulah yang kita butuhkan.” “Anda kelewatan, Pak Tua,” tandas Ansel kesal, “Marquess Carnold sama sekali tidak berniat bergabung bersama kita. Luci—maksud saya, dia terlalu bersih. Dia tidak akan mau mengotori tangannya seperti saya maupun Anda. Marquess Carnold adalah sahabat saya, saya tidak mungkin membiarkannya.” “Itu artinya Anda menentang keputusan Yang Mulia Raja,” timpal Duke Barten, Ruford. Pria yang dua tahun lebih muda dari Ansel itu mematikan pipa, berkata santai seolah Ansel tidak menyimpan dendam kesumat. Dia menjadi lebih congkak setelah mewarisi gelar sang ayah. Ansel mendecih dalam hati. Ia menyesal memberi Ruford pengampunan tiga tahun lalu. Seandainya dulu ia sendiri yang menemui Ruford alih-alih Lucian, maka habislah sudah. Ansel dengar tahun ini Ruford juga mengirim surat permintaan dansa kepada Ionna. Dasar manusia bebal. “Kau yang termuda di sini, Ruford Barten. Jadi, tutup mulutmu.” “Laundrell, lampiaskan kemarahanmu padaku. Kau hampir membuat Duke Muda Barten kencing di tempat,” sela Yang Mulia Raja tenang. Ia membunyikan lonceng menyuruh pelayan menghidangkan seluruh makanan yang mereka punya. Aroma sedap bergantian memasuki ruang perjamuan. Ansel pikir mereka akan berbincang serius, nyatanya Raja justru mengadakan acara makan konyol di tengah debutan. Ansel mengembuskan napas panjang, memejamkan mata sesaat. “Benar. Seharusnya saya memarahi Anda, Your Majesty,” katanya terus terang, “Marquess Carnold adalah teman yang berharga. Saya mengerti ambisi Anda yang tertarik pada Marquess Carnold sejak lama. Tetapi, cara yang Anda lakukan sungguh salah.” “Kau selalu melebihi ekpektasiku, Laundrell. Kau memang favoritku.” Raja tersenyum lebar. Putra Antonio Laundrell memang tidak pernah mengecewakan. “Kau tahu, bukan? Belakangan ini, para pewaris tidak memiliki kemampuan yang patut dibanggakan meski keturunan langsung pemegang gelar terdahulu. Mereka cenderung payah, banyak mengeluh, dan licik. Bagaimana jadinya parlemen jika diisi oleh orang-orang seperti itu? Bisa-bisa kita hancur, Laundrell.” “Biarkan saya yang mengatasinya. Dengan kata lain, tolong lupakan mimpi Anda untuk mendorong Marquess Carnold ke dalam jurang. Kita bukan orang baik-baik, Your Majesty.” “Aku takut ketika Laundrell menyebut kata mengatasi.” “Your Majesty!” “Bocah.” Duke Ollardio akhirnya angkat bicara. Ia memandangi satu-persatu duke yang hadir; Duke Laundrell, Duke Barten, Duke Magnolia ddan Duke Vergan yang sedari tadi tak berkomentar. Ia berdeham pelan, membenarkan kerah blus, lalu mengangkat sebelah alis. “Dunia ini mempunyai dua sisi yang saling berdampingan, Duke Muda. Baik dan buruk tidak dapat dipisahkan, lalu—” “—saya tidak percaya Anda menceramahi saya—” “Apa kau yakin selamanya Marquess Carnold akan berada di jalan kebaikan? Duke Laundrell, kami lebih lama hidup darimu. Selama kami hidup, tidak banyak orang yang hidupnya lurus. Mereka berubah seiring berjalannya waktu. Dan kami membutuhkan kecekatan Marquess Carnold untuk menyelidiki minuman terlarang di Andasia. Kami memang memilikimu, tetapi jika kau yang pergi, lantas bagaimana dengan parlemen? Kami ingin kau tetap di sini dan mengirim Marquess Carnold ke Andasia.” “Kenapa bukan Anda sendiri yang pergi? Bukankah alkohol itu kali pertama ditemukan di Duchy Ollardio? Jangan bercanda, Pak Tua.” “Ya. Dan berkat Joe Dansley yang merupakan rakyat duchy-mu, kami mengetahui fakta bahwa semuanya berasal dari Andasia.” Ansel menggeram kesal. “Saya tahu, namun itu bukan berarti Marquess Carnold-lah yang harus bertanggung jawab!” “Hah, susah sekali memengaruhimu dan karibmu, Bocah,” keluh Duke Ollardio, menyesap anggur perlahan. “Dengar, apa jadinya seandainya kita mengirim Marquess Francaiss yang sudah tua atau Duke Barten yang penakut ini?” Sang duke berkata seolah Duke Barten hanyalah angin di ruangan itu. “Semuanya akan sia-sia, Anakku. Kami tidak menemukan cara lain selain membuatmu bersama kami selama debutan sehingga kau meminta Marquess Carnold mendampingi adikmu. Jika kami tidak melakukannya, maka kami tidak bisa membawa Marquess Carnold ke istana. Tiada cara lain. Dan anak itu harus pergi ke Andasia. Sudah kubilang tiada banyak orang yang hidupnya lurus, termasuk Marquess Carnold. Cepat atau lambat dia akan mengabdi ke parlemen, tidak seperti ayahnya yang pengecut itu.” Ocehan panjang lebar Duke Ollardio rupanya sukses membuat Ansel membisu. Pria itu mengepalkan tangan hingga urat-urat nadinya menyembul. Atmosfer di dalam ruang perjamuan mendadak menjadi sedingin es. Tidak ada yang berani menginterupsi suasana tegang itu, bahkan Raja hanya memandang Ansel melalui ekor matanya. Setelah cukup lama diliputi keheningan, Duke Magnolia berinisiatif menjatuhkan garpu ke lantai. Raja pun mendongak dan meletakkan cangkir teh. Menyadari kode yang diberiikan Duke tiga puluh tahunan itu, Raja mengeraskan suara menyuruh seluruh pelayan pergi. Ansel yang masih melamun sontak terkesiap. Ia belum memutuskan apakah dirinya akan membujuk Lucian bergabung atau tidak. Pak Tua Ollardio benar, namun ia tak mau memaksa Lucian melakukan hal yang tidak pria itu sukai. Karena jika Ansel yang meminta, Lucian pasti langsung menyetujuinya tanpa berpikir dua kali. “Laundrell?” “Ya, Your Majesty,” jawab Ansel lirih. Sepuluh menit berlalu tanpa pembicaraan yang berarti. Kelima duke menatap Raja yang duduk di kepala meja, menunggu kalimat yang selanjutnya dilontarkan pemegang kekuasaan tertinggi di kerajaan tersebut. Raja menautkan kedua tangan di atas meja, manik peraknya menyapu seisi ruangan dengan tajam nan tegas. “Laundrell, kau telah bersumpah setia kepadaku dan menunjukkan pengabdianmu sejak Antonio pergi enam tahun silam,” ucapnya sembari mengerling ke arah Ansel, ”dan kali ini, kuharap kau tidak menghalangi jalanku.” *** Ionna menatap kosong para lady yang menari bersama pasangan mereka di lantai dansa. Sementara dirinya masih harus menghadapi omelan ibu tentang siapa yang menjadi pasangan dansa pertamanya. Ketika wanita itu menyebutkan nama Jeremy Castiello, Ionna langsung mendelik kaget. Kepala gadis itu otomatis terdongak, menggeleng kuat menolak keputusan ibunya. “Tidak, Mama,” tolak Ionna tegas, “saya tidak mau berdansa dengan Lord Castiello! Saya benar-benar minta maaf karena sudah menentang Mama, tapi saya sungguh tidak bisa.” Benar kata Lucian. Hari ini seharusnya Ionna menunjukkan kebahagiaannya di depan orang lain. Namun yang ada, ia justru bertemu dengan orang-orang yang paling ingin ia hindari. Satu-satunya hal yang Ionna nantikan di hari istimewa ini hanyalah berdansa dengan Lucian dan pulang sebelum acara selesai. Sayangnya, Ionna lupa ibunya juga di sini. Duchess Laundrell akan melakukan seribu satu cara agar putrinya mendapatkan koneksi dan menerima lamaran dari peminang yang pantas. Dia tidak boleh menyia-nyiakan popularitas Ionna di pasar perjodohan. Duchess Laundrell memukul kipas lipat ke telapak tangan, berujar ketus, “Sejak semalam, aku memberimu dua pilihan; Duke Barten atau Lord Castiello. Keduanya adalah pria berperangai baik, Ionna. Mereka seorang jentelman sejati.” Berperangai baik? Jentelman sejati? Jangankan berdiri di depan mereka, sekadar mendengar namanya saja Ionna tidak sudi. Ionna menghela napas. Bagaimana bisa hidupnya serumit ini? Ia bahkan tidak bisa melakukan sesuatu sesuai keinginannya. “Kenapa mereka, Mama? Kenapa bukan orang-orang terdekat kita?” “Karena Ansel tidak memiliki waktu luang untuk berdansa, dan Ayahmu telah tiada. Kau mengertilah.” “Bukankah Marquess Carnold ada di sini? Beliau mendampingi saya, jadi kenapa saya tidak boleh berdansa dengan beliau?” Duchess Laundrell tampak terkejut mendengar penuturan putrinya. “Marquess Carnold? Ionna, apa kau tidak sadar dengan kata-katamu?” “Saya sepenuhnya sadar,” tekan Ionna. Gadis itu menoleh ke arah Lucian yang berdiri tak jauh dari mereka. Pemuda itu menghalangi pandangan orang-orang agar tidak memperhatikan mereka. Lucian sedikit memutar badan untuk memastikan apakah kedua perempuan itu selesai berdebat atau belum. Manik hijaunya bersirobok dengan iris biru muda Ionna. Ia hampir mendengar seluruh percakapan ibu dan anak itu. “Inilah alasan kenapa aku memilih partner dansamu. Semua orang akan berpikir rumor yang beredar benar adanya!” “Rumor?” Rumor apalagi? Alis Ionna bertaut bingung. Apa kaitannya rumor yang menyebutkan keliarannya dengan dansa pertama? Duchess Laundrell membasahi bibirnya yang kering. Ini salahnya Ionna hidup bagai burung di dalam sangkar. Duchess Laundrell selalu melarang putrinya pergi ke salon atau memenuhi undangan teh sore dengan keyakinan dapat mengurangi dampak dari rumor. Ionna hanya sesekali muncul bila Duchess Laundrell mengajaknya ke acara-acara amal. “Kau dan Marquess Carnold diam-diam berkencan di belakang Kakakmu.” kata sang duchess serak, susah- payah memelankan suara. “Aku tidak tahu kenapa orang-orang suka sekali menciptakan gosip tak senonoh. Tapi jika kau berdansa dengan Marquess Carnold, apa yang akan mereka katakan nanti?” Jiwa Ionna seolah melayang meninggalkan raganya. Darimana rumor itu muncul? Tidak. Di masa depan, bisa-bisa rumor semacam ini menjadi skandal besar dan menghancurkan nama keluarga Laundrell dan Carnold. Detik itu, Lucian akhirnya mendekat dan memutuskan ambil bagian. “Madame, sepertinya Her Ladyship tidak mengetahui apapun tentang rumor ini.” Duchess Laundrell menoleh ke arah Lucian. “Maafkan aku, Marquess. Ini salah Ansel yang memintamu mendampingi Ionna. Kau pun sebenarnya tidak ingin menghadiri debutan, bukan? Ansel mengabaikan risiko yang akan kita hadapi. Anak itu—” “Siapapun yang membicarakan rumor itu di sini, maka dia tidak akan pulang dengan selamat,” pungkas Lucian sebelum Duchess Laundrell sempat menyelesaikan kalimatnya. “His Grace tidak mungkin tinggal diam, Madame. Anda tidak perlu khawatir karena kenyataannya tidaklah demikian.” Duchess Laundrell memegangi kening dan pinggangnya, merasa letih seketika. Putrinya adalah malaikat yang banyak dibicarakan orang, sedangkan putranya yang tak sabaran selalu mengambil langkah gegabah. Wanita itu mendesah berat kemudian menatap Ionna lekat. “Padahal aku berniat menjodohkanmu dengan Duke Barten. Dia pemuda yang gigih dan tekun. Kau harus menjadi duchess di rumah keluarga bangsawan lain, Ionna.” Ionna menahan napas mendengar niatan sang ibu. Sakit sekali rasanya memendam keinginan seorang diri. Di akademi, teman-teman sering bercerita mengenai keakraban dengan ibu mereka. Namun, hal itu tentu tidak berlaku pada Ionna dan Duchess Laundrell. Margareta lebih mementingkan nama baik keluarga ketimbang keinginan putrinya sendiri. Wanita itu tampak berpikir keras, memikirkan keputusan dengan mempertimbangkan perkataan Marquess Carnold. “Baiklah, aku mengizinkan kalian berdansa.” Ionna mengangkat wajahnya yang berseri-seri. “Mama?” “Tapi, ingatlah, Ionna.” Duchess Laundrell membentangkan kipas saat Marchioness Francais berjalan menghampiri mereka. Begitu sang marchioness tiba, mereka saling bertukar salam. “Perkenalkan, dia adalah Marchioness Francaiss, bibi Lady Diana Thesav. Madame, ini adalah Marquess Carnold, putra Isabelle, dan ini putriku, Ionna.” “Salam kenal, Madame.” “Sa-salam kenal.” Marchioness Francaiss mengayunkan tangan sambil tersenyum ramah, menatap Lucian dan Ionna bergantian. “Astaga, kalian tumbuh menjadi anak yang manis. My Lord, mata hijaumu mirip dengan mendiang Ibumu. Dan kau, Young Lady, apa kau datang dari masa lalu? Kupikir aku melihat versi muda Duchess Laundrell dengan mata biru.” Ekspresi Ionna kembali mengeruh. Ia memaksakan seulas senyum kecut sebelum menyuarakan kata terima kasih. Duchess Laundrell maju selangkah lalu berbisik di telinga Ionna. “Aku telah mengabulkan permintaanmu. Setelah berdansa, cari dan temui Lady Diana Thesav. Aku akan pergi bersama Marchioness Francaiss ke ruang ganti. Apa kau mengerti, Ionna?” *** Ulang tahun dan debutan adalah hari yang terburuk. Sekilas Ansel dapat membaca kata-kata itu di kening adik perempuannya. Ia baru saja keluar dari ruang perjamuan dan berniat mengucapkan selamat kepada Ionna. Namun, apa yang ia lihat? Ionna berada di tengah-tengah gerombolan lady yang memuji penampilannya, dengan tampang kusut dan senyum manis yang dibuat-buat. Ansel pun melanjutkan perjalanannya, menepuk pundak Lucian yang juga meneladeni perkataan para lady. Decak kekaguman mengudara kala lady-lady itu menyadari keberadaan sang duke. “Salam bagi Anda, Your Grace,” sapa Lady Georgia sambil melebarkan senyum terbaiknya. Lady Ingrid merentangkan gaun dengan gerakan anggun. “Sebuah kehormatan bagi kami berhadapan dengan Anda, Your Grace. Semoga hari-hari Anda selalu menjadi hari yang luar biasa.” Ansel meraih punggung tangan Lady Ingrid kemudian mendaratkan ciuman singkat. Sang lady pun membelalakkan mata, merona karena perlakuan manisnya. “Setiap hari dalam hidup saya adalah hari yang luar biasa, terutama setelah saya bertemu para lady yang memesona ini. Bagi saya, kalianlah yang membuat hari-hari saya menjadi hari yang luar biasa, Ladies.” Lucian menggeleng malu saat para lady menjerit histeris karena rayuan maut Ansel. Pria itu pandai sekali menggoda para lady dengan gombalan andalannya. “Ladies, sebenarnya saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama kalian.” Tiba-tiba Lucian merasakan lengan Ansel melingkari pundaknya. Ia bergidik ngeri karena sentuhan itu. “Tetapi, tampaknya Marquess Carnold membutuhkan udara segar dan Lady Ionna sedang menanti kedatangan saya. Bolehkah saya pergi?” Lady Maria meletakkan tangan di pipi, mengerucutkan bibir kecewa. “Ah, sayang sekali.” “Saya harap di lain kesempatan kita bisa berdansa, My Lord,” timpal Lady April. Ansel mengedipkan sebelah mata jahil. “Dengan senang hati, Lady April,” ujarnya seraya menunduk, diikuti Lucian di belakangnya. “Saya menantikan pertemuan kita berikutnya, Ladies. Kami permisi.” Setelah menjauh dari kelompok itu, Ansel langsung mencekal dan menarik paksa lengan Lucian seenak jidat. Mereka berhenti di sudut tergelap tepat di bawah tangga. Ansel mengamati Ionna yang tampak kewalahan menjawab satu-persatu pertanyaan yang menyerbu dirinya. “Kau apakan Adikku?” tanya Ansel dingin, “aku bisa mebaca raut muka gadis itu. Dia tidak terlihat baik-baik saja.” “Semua orang tahu sang lady sedang tidak baik-baik saja,” balas Lucian datar. “Apa yang terjadi?” Kali ini Ansel mendesak. “Dia selalu terlihat marah di depanku. Kawan, katakan padaku, apa ketiga b******n itu mengusiknya lagi?” “Hampir. Ibumu hampir membuat Her Ladyship berdansa dengan Duke Barten dan Lord Castiello.” “Apa?” “Kau terlalu memikirkan perasaan Ibumu. Inilah akibatnya, Ansel. Adikmu menahan kesedihannya sendiri dan menerima tuduhan tidak pantas dari semua orang.” “Luce.” “Aku tidak menasihatimu. Aku hanya mengingatkanmu pada kesalahanmu,” tutur Lucian kemudian bersidekap, “sebelum semuanya terlambat, ada baiknya kau memberitahu sang duchess. Sebenarnya kau sadar bagaimana cara Her Grace memperlakukan adikmu. Tetapi, kau diam saja karena kau tidak bisa membantah maupun melawan keputusan Her Grace.” Tertohok, Ansel menggigit bibir. Ia merasa telah menjadi seorang kriminal dengan membiarkan adiknya menderita dan membawa Lucian ke istana. Ketika ia hendak membuka mulut untuk melontarkan pembelaan, sang sahabat telah menghilang dari jarak pandangnya. Ansel memang kakak dan teman yang tidak berguna. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD