#4

516 Words
"Itu tidak penting, yang terpenting saat ini kau harus mencarikan aku satu kamar untukku tidur malam ini, kamar maid juga tidak apa–apa, asal aku tidak tidur bersamamu," ucap Via. "Apa aku sejelek itu di matamu?" "Tidak ada hubungannya dengan wajahmu." "Apa kau tahu? di luar sana banyak sekali wanita cantik yang mengantri untuk tidur denganku, tetapi kenapa kau malah menolaknya?" tanya Vino dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya. "Jangan samakan aku dengan mereka, jelas–jelas aku berbeda dengannya," jawab Via kesal. "Intinya aku tidak ingin tidur denganmu!" "Why?" Via diam, gadis itu tampak berfikir. "Tidak tahu," ucapnya cemberut. Vino hanya diam, pria itu menghela nafas sabar. "Sudahlah, sebaiknya kau mandi sekarang, lalu turun kebawah untuk makan malam bersamaku," ucap Vino yang setelah itu melangkah keluar dari walk-in closet. "Ah, Penjahat," panggil Via yang mengikuti langkah Vino. Vino menoleh. "Apa?" "Aku tidak membawa pakaian—" "Pakailah pakaian yang ada di lemari," ucap Vino yang setelah itu keluar dari kamar, meninggalkan Via yang masih diam mematung. Gadis itu kembali masuk ke dalam walk-in closet, menatap beberapa lemari yang berisi pakaian mahal dan aksesoris lainnya. Gadis itu melangkah menuju ke salah satu lemari yang terdapat berbagai pakaian wanita. Mulutnya terbuka sedikit, kala melihat berbagai pakaian dan gaun yang bagus dan tentunya dengan harga yang sangat mahal. "Apakah pria itu sering membawa wanita–wanita lain kesini? kenapa banyak sekali pakaian wanita yang ia beli?" "Atau jangan–jangan, dia sudah memiliki seorang istri? dan semua pakaian ini milik istrinya? Tapi, kemana istri pria itu?" "Ah, apakah dia sedang pergi ke luar negeri? Apakah pria itu mencari kesempatan untuk menyuruhku tidur dengannya? lalu aku akan di perkosa olehnya dan setelah itu aku di buang begitu saja seperti seorang jalang? Dasar pria b******k, aku tidak akan sudi di sentuh dengannya." "Tapi, bukankah aku barusan di sandera dengannya karena Riki memiliki hutang? Ah, tidak–tidak, pasti itu jebakannya saja agar aku mau ikut dengannya." "Yak, kenapa kau bodoh sekali Via, kenapa kau tidak melarikan diri saja tadi?" Tak ada henti–hentinya gadis itu mengoceh dan merutuki dirinya sendiri hanya karena pria itu menyimpan banyak pakaian wanita di lemarinya. •••• Disisi lain, kini Vino menghempaskan tubuhnya ke kursi di ruang kerjanya, di sana juga terdapat Galan yang tengah berdiri di hadapannya. Pria itu memijat pangkal hidungnya karena merasa lelah. "Sepertinya tuan sangat lelah, apakah kau ingin minum, tuan?" tawar Galan. "Galan, harus berapa kali aku bilang? jangan panggil aku seperti itu di saat kita sedang berdua," ucap Vino malas. Galandito terkekeh, lalu melangkah ke sofa dan menghempaskan tubuhnya begitu saja. Galan adalah teman baik Vink sejak kecil. Dulu, saat kedua orang tua Galan sudah tiada karena kecelakaan maut, pria itu di asuh oleh kedua orang tua Vino Dan semenjak itu, Vino menganggap Galan sebagai saudaranya sendiri. Alasan Galan menjadi tangan kanan Vino karena keinginan Vino. Pria itu ingin Galan selalu ada di sampingnya, Galan bisa saja mengurus perusahaan orang tua Vino yang sempat di tawarkan hari itu, namun Galan menolaknya dan memilih untuk menjadi bawahan Vino saja sesuai keinginan pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD