Menjadi seorang Bos Besar adalah keturunan dari sang ayah. Rama dulunya juga seorang Bos Banyak Perusahaan dan sekarang tahtanya di teruskan oleh putranya
"Ada apa denganmu? apakah gadis itu telah membuatmu lelah di atas ranjang?" tanya Galan yang sudah hafal dengan sifat Vino.
"Aku belum menyentuhnya sama sekali," balas Vino
"Tumben sekali?"
"Entahlah, aku benar-benar lelah saat ini."
"Apa kau ingin soju?" tawar Galan yang tengah menuangkan Soju ke dalam gelas kecil.
"Berikan padaku." Galan pun segera bangkit dan memberikan gelas itu kepada Vino.
Kedua pria itu pun meneguk soju bersamaan.
"Bagaimana dengan b******n itu? apakah mereka sudah menemukan jejaknya?" tanya Vino
"Untuk saat ini belum ada, tapi aku sudah menambah beberapa orang lagi untuk mencarinya hingga keluar negeri, karena aku yakin pasti dia bersembunyi di sana," jawab Galan
"Ku rasa dia sangat pintar untuk bersembunyi. Tapi aku tidak akan biarkan dia kabur begitu saja setelah membawa semua uangku."
"Aku janji akan membawa dia ke hadapanmu, tapi untuk saat ini kau harus bersabar dulu," ucap Galan
"Aku percaya kepadamu Galan."
"Kau memang harus percaya kepadaku, Vino Gastya."
"Berani sekali kau menyebut nama panjangku Galandito Pamungkas."
"Bukankah kau yang menyuruh ku untuk tidak memanggil tuan di saat kita sedang berdua?"
Vino hanya terkekeh menanggapi ucapan Galan.
tok! tok! tok!
Ketukan pintu terdengar jelas di indra pendengaran mereka berdua. Galan segara melangkah menuju pintu dan membukanya. Terlihat Hana yang tengah berdiri di hadapannya sambil membungkuk hormat.
"Ada apa Dewi?" tanya Galan .
"Makan malam sudah siap tuan," ucap Dewi sopan.
Galan menoleh, menatap Vino yang tengah meminum soju nya kembali.
"Tuan, makan malam sudah siap," ucap Galan.
"Baiklah, aku akan segera ke sana, dan kau Dewi tolong panggilkan kekasih ku, suruh dia turun untuk makan malam bersamaku," ucap Vino
"Baik tuan." Dewi pun segera melangkah pergi untuk menuju ke kamar Via.
Vino bangkit dari duduknya, lalu merapikan kemeja putihnya yang sedikit berantakan. Setelah itu, ia pun melangkah menuju meja makan yang di ikuti galan di belakangnya.
Galan duduk di salah satu kursi sambil menunggu kedatangan Via. Tak lama kemudian, terlihat Via yang tengah turun dari tangga diikuti oleh Dewi di belakangnya. Gadis itu segera menghampiri Vino yang tengah diam menatap dirinya.
"Ada apa?" tanya Via yang baru saja duduk di kursi.
"Kenapa masih memakai pakaianmu?" tanya balik Vino.
"Aku tidak mau memakai pakaian istrimu," jawab Via.
Vino menautkan kedua alisnya, apa maksud ucapan gadis itu. "Apa maksudmu?"
"Sudahlah, aku sangat lapar, bolehkah aku makan sekarang?"
Sebelum Vino menjawab, gadis itu sudah lebih dulu mengambil nasi dan juga lauknya, lalu ia pun makan dengan lahap. Vino yang melihat hanya bisa menggelengkan kepalanya.